Levi-Strauss dan Masalah Bangsa

Junanto Herdiawan – Tokyo

Claude Levi-Strauss meninggal dunia di Paris akhir Oktober 2009 lalu. Usianya 100 tahun. Bagi dunia filsafat, kematiannya adalah sebuah kehilangan besar. Di Paris, kematiannya menjadi duka yang mendalam. President Sarkozy menyebutnya sebagai pejuang humanis yang tak kenal lelah, sementara Menlu Kouchner mengatakan bahwa Perancis kehilangan seorang visioner. Dirjen UNESCO, Koichiro Matsuura, menyebutnya sebagai salah satu “raksasa pemikir” abad 20.

Pemikiran Levi-Strauss dianggap mampu mengubah cara berpikir manusia terhadap manusia lain, menerabas konsep rasis dan perbedaan, menuju kesamaan visi yang menyatukan kemanusiaan.
Levis-Strauss adalah seorang sosiolog, antropolog, dan dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri aliran Strukturalisme dalam filsafat. Nama Levi-Strauss ini tidak berhubungan dengan nama Levi-Strauss yang menjadi merek celana jeans terkenal. Tapi Claude Levi-Strauss sering bergurau bahwa kesamaan nama tersebut menyebabkan dalam satu tahun selalu saja ada order celana jeans yang nyasar ke alamat rumahnya.

Saya bukanlah ahli pemikiran Levi-Strauss, namun memahami melalui beberapa pemikirannya, khususnya terkait dengan aliran Strukturalisme. Beberapa tugas kuliah dan buku teks dari Levi-Strauss, seperti Mythologies (1964), menambah kekaguman saya terhadap pemikirannya. Satu hal yang paling menonjol adalah kritik Levi-Strauss terhadap kaum eksistensialis, terutama Jean Paul Sartre. Kaum eksistensialis menganggap manusia adalah subjek yang otonom dan mampu memberi makna pada dirinya. Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya. Namun dalam pemikiran Levi-Strauss, yang kemudian menjadi ciri pemikiran Strukturalis, manusia ternyata tidak seotonom yang dibayangkan kaum eksistensialis.

Levis-Strauss mengatakan bahwa manusia memang selalu bertindak sadar dan membuat pilihan-pilihan dalam kebebasan total, tetapi ada “struktur” yang diam-diam, tanpa disadari, menentukan pilihan individu tersebut. Oleh karenanya, tugas ilmu pengetahuan adalah mempelajari “struktur terdalam” yang tersembunyi di balik pengambilan keputusan individual tersebut. Struktur di balik kesadaran itu kadang kacau dan tidak berpola sama sekali sehingga sulit ditebak. Intinya, Levi-Strauss ingin meminggirkan manusia sebagai subjek, dan mencari penyebab struktural di balik subjek itu. Pemikiran meniadakan manusia sebagai subjek ini dikenal dengan sebutan “decentering the subject” (peminggiran atau pemarjinalan subjek).

Levi-Strauss kemudian memusatkan pemikirannya pada upaya mencari makna di balik apa yang tampak. Iapun dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx, Freud, dan ilmu-ilmu geologi. Di mana kesamaannya? Satu kesamaan, bahwa di balik detail-detail kondisi permukaan dalam masyarakat yang bisa terlihat rapi, teratur, ataupun kacau balau, sesungguhnya apabila dirunut ke dalam mata rantai sebab akibat, di bawah permukaannya menyimpan sumber dari segala masalah di permukaan tadi.

Dalam pandangan Karl Marx misalnya, di balik pemogokan dan kemiskinan, masalahnya adalah kepemilikan kapital dan struktur kelas. Dalam pandangan Freud, di balik kegelisahan manusia, mimpi buruk, ketidakbahagian, masalah di baliknya adalah id, ego, dan superego. Dalam ilmu geologi demikian pula. Di balik permukaan tanah yang nampak indah, di dalamnya tersembunyi struktur-struktur bebatuan. Gempa bumi bisa terjadi karena pergeseran apa yang di balik permukaan. Nah, semua struktur di balik permukaan tersebut dianggap Levi-Strauss mampu menjelaskan yang ada di permukaan.

Dengan demikian, Levi-Strauss menyimpulkan bahwa fenomena yang tampak di permukaan ditentukan oleh struktur terdalam (di bawah permukaan) yang kurang lebih bersifat tetap dan teratur. Di bidang antropologi, pemikirannya tak jauh berbeda. Dalam penelitiannya di hutan tribal Brazil pada tahun 1950-60 an, yang kemudian terkenal di bukunya La Pensee Sauvage (Pemikiran Liar, 1962), Levi-Strauss mengatakan bahwa masyarakat primitif pada dasarnya tidak memiliki perbedaan intelektual yang berarti dengan manusia modern. Secara permukaan memang kita melihat banyak perbedaan antara manusia modern dan primitif. Namun apabila dilihat dari “struktur terdalamnya”, semua komunitas manusia memiliki kesamaan perilaku, pemikiran, dan kadang ekspresi mistis, yang juga memerlukan kerja otak.

Dihutan Brazil

Pemikiran Levi-Strauss ini sungguh menarik, khususnya apabila dikaitkan dengan kondisi dan carut marut bangsa saat ini. Betapa mudahnya pemikiran kita berhenti pada “struktur permukaan” tanpa menukik lebih jauh mencari makna struktur dan statis yang selalu ada di balik permukaan itu. Akibatnya, kita menjadi lelah berpindah dari satu “permukaan” ke “permukaan” lainnya tanpa meninggalkan arti dan makna.

Kalau kita coba renungkan, di bidang politik dan hukum, di bidang ekonomi, bidang sosial, bahkan bidang pendidikan, banyak sekali terdapat penafsiran hubungan yang sewenang-wenang antara apa yang ada di permukaan dan apa yang ada di bawah permukaan. Banyak sekali kasus-kasus merebak dan pemikiran melelahkan yang berhenti di permukaan, untuk kemudian pindah ke permukaan lainnya, bahkan kadang secara sewenang-wenang.

Meninggalnya Levis-Strauss adalah sebuah kehilangan besar. Namun ia mengingatkan, bahwa untuk memahami apa yang terjadi, kita perlu menerobos makna. Segala sesuatu yang telah termanifestasikan secara jelas dan pengalaman personal seseorang, kiranya bisa menjadi sarana bagi kita untuk dapat melihat apa yang ada di balik penghayatan makna tersebut.

Salam…


Picture : LA Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.