Nabi Muhammad Berulang Tahun di Hari Valentine

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

KATA siapa perhitungan tahun kelahiran berdasar shio hanya ada dalam budaya Cina? Di tanah Arab sana, di masa silam, ada juga tahun memakai nama binatang. Bedanya di Cina, shio dengan karakter binatang ikut menentukan ciri orang yang lahir pada tahun bershio binatang tersebut. Sedangkan tahun di semenanjung Arab, tidak ada kebiasaan mencocokkan tahun kelahiran dengan shio binatang.
 
Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad lahir pada Tahun Gajah. Kok bisa? Kala itu belum ada sistem penanggalan yang sistematik untuk mencatat suatu peristiwa. Untuk mencatat dan mengingat suatu peristiwa, dibantu oleh memori sebuah kejadian penting. “Bang Bokir lahirnya waktu talenan (koin) masih bolong”. Artinya, Bang Bokir lahir sekitar tahun 1930-an, sewaktu uang koin yang beredar di Indonesia, masih bolong tengahnya. Teman saya ada yang namanya Muhammad Ganefi. Dia memang lahir saat berlangsungnya GANEFO di Jakarta (olimpiade tandingan) sekitar tahun 1963.
 
Nah, Nabi Muhammad yang sedang berulangtahun saat ini, juga lahir pada Tahun Gajah. Tahun kelahirannya terjadi penyerbuan yang gagal pasukan gajah yang dikomando oleh Raja Abraha dari Yaman. Dia adalah gubernur atau wakil negus (kaisar) yang berkuasa di Ethiopia (dulu namanya Abyssinia). Abraha marah karena katedral megha berlapiskan emas dan perak yang dibangunnya di kota San’a, Yaman, diruntuhkan oleh sekelompok orang dari sebuah klan di semenanjung Arab. Katedral yang untuk menyaingi Kabah itu, diruntuhkan hanya dalam semalam. Abraha bersumpah membalas menghancurkan Kabah dan gagal. Kejadian itu terjadi pada tahun-tahun kelahiran Nabi Muhammad.
 
 
Setelah dihitung-hitung, Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 bulan ketiga dalam penanggalan Islam. Atau sekitar tahun 570 dalam kalender Gregorius. Tepatnya tidak diketahui persis, hanya kalau dihitung-hitung, sang Nabi itu lahir bersesuaian dengan hari 21 April 570 masehi.
 
Memang tidak penting merayakan ulang tahun Nabi Muhammad. Dalam ajaran Islam, hanya ada 2 hari yang harus dirayakan, Idul Fitri dan Idul Adha. Atau lebaran kecil (Idul Fitri) dan lebaran besar (Idul Adha). Dalam budaya Jawa ada istilah bulan Apit, atau bulan kejepit, yaitu bulan kesebelas dalam sistem penanggalan Jawa. Kenapa disebut apit? Karena kejepit antara dua bulan besar, yaitu bulan Sawal atau bulan besar (bulan ke 10) dan bulan hajI (Dulkangedah, atau bulan ke 12).
 
Tidak ada perintah merayakan hari lahir Nabi Muhammad (beberapa kalangan dalam pemeluk Islam, menganggap bid’ah atau menyimpang merayakan hari lahir Nabinya). Juga tidak ada perintah merayakan hari Isra’ Miraj (dalam bahasa Inggris Asuncion Day) atau hari-hari lain yang memang tidak dilakukan oleh Nabi semasa hidupnya. Hanya karena banyak manfaatnya boleh dilakukan dan dirayakan.
 
Hari Maulid atau hari ulang tahun Nabi Muhammad memang tidak pernah dirayakan oleh Nabi sendiri. Kebiasaaan merayakannya terjadi setelah 600 tahun kematiannya, yang dilakukan oleh Sultan Saladin hingga menjadi sebuah tradisi (bukan ajaran) yang dilakukan sampai sekarang.
 
Pada hari ulang tahun Nabi Muhammad tahun 1995, ada sebuah tulisan kolom kecil di halaman depan sebuah surat kabar nasional. Isinya sangat sederhana dan mudah dibaca serta dicerna oleh yang mau membaca. Tapi sedikit mengejutkan. Artikel yang ditulis oleh Irwan Kelana itu bercerita tentang romantisme yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Wah, jarang-jarang nih saya dapat artikel lucu dan unik.
 
Sebenarnya saya sudah tahu isi yang ditulis dalam kolom kecil itu, hanya saja baru kali ini ada yang berani menulisnya secara terbuka tentang ajaran romantisme yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Betapa indahnya, bila semua orang pengikutnya sedikitnya (tak usah banyak-banyak) mengikuti yang dilakukannya, dalam hal romantika.
 
Bagaimana sang Nabi sering memuji-muji istrinya, Aisha yang pipinya menor kemerah-merahan, dengan sapaan mesra Ya Humaira (wahai yang kemerah-merahan). Tahun 2008 ada sebuah buku yang ditulis seorang wanita bernama Sherry Jones. JudulnyaThe Jewel of Medina, terbitan Random House. Bercerita fiksi tentang kehidupan Aisha. Pada sampul depannya, ada ilustrasi imajinasi wajah Aisha, yang cantik.
 
 
“Jika kamu bercinta dengan istrimu, jangan lupa melakukan permainan pendahuluan, agar kalian sama-sama meraih puncak kenikmatan”, sabda sang Nabi. Memang lebih 80 ayat dalam Quran menyinggung soal cinta kasih dan perkawinan. Nabi Muhammad juga mencela pria muslim mencari-cari kesalahan isteri. “Jangan mengecam masakan, pakaian maupun dandanannya. Jangan mengeluh di hadapannya. Jangan membentaknya, apalagi di hadapan orang lain. Jangan mudah percaya kalau ada orang lain yang membicarakan kekurangan/kesalahan isteri, bahkan orang lain itu orang tua atau saudara sendiri”, pesan Nabi Muhammad.
 
Aspek kasih sayang yang pada diri Nabi Muhammad, sangat jarang dan mungkin tabu dikemukakan atau dibicarakan oleh sebagian besar umat Islam. Ketika artikel ini saya perlihatkan pada teman-teman saya, mereka menolak dan tidak mempercayai bahkan meragukan cerita-cerita berkisar romantika Nabi Muhammad. “Ah, itu sih penulis gendheng (gila)”, kata seorang teman saya tentang tulisan itu.
 
Sejak itu, saya mulai menyadari betapa pemahaman banyak orang Islam di Indonesia, hanya menyentuh hal-hal kulit saja. Tetek bengek dan hal-hal sepele yang kulitnya saja, bukan esensi ajaran Islam. Mereka terlalu tunduk pada hal-hal fiqh (ketentuan hukum) saja. Dari masa ke masa, yang dibicarakan hanya aspek halal-haram tanpa bosan dan itu-itu saja. Mungkin ini yang menyebabkan umat Islam selalu duduk di gerbong belakang dalam roda kemajuan jaman. Beda dengan semangat yang pernah bergelora ketika Islam berjaya gemilang dengan limpahan kreatifitas pengetahuan saat berkuasa di Spanyol selama 800 tahun.
 
Saya bisa mengerti, mengapa orang di luar Islam, sangat sumbang dan miring melihat, menilai dan mengenal sosok pribadi Nabi Muhammad. Stereotipnya sangat negatif di dunia barat. Bila membaca hujatan-hujatan mereka, saya agak merinding dan mungkin tertawa. Dari mulai julukan tukang poligami, nabi palsu, penyebar kekerasan sampai dengan julukkan “renegade bishop”. Weleh, weleh… pemahaman mereka seperti itu adalah wajar, karena memang tidak mengenal dan tidak tahu tentang sosok Muhammad. Dan itu sangat wajar.
 
Yang saya sedih, orang Islam sendiri tidak menyukai bila ada cerita-cerita tentang romantika yang dipraktekkan atau diperintahkan oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya. Banyak umat Islam hanya punya imajinasi tunggal tentang Nabi Muhammad. Lelaki perkasa dengan sebuah pedang terselip di pinggang. Ya, wajarlah kalau orang non-muslim punya imajinasi negatif tentang Nabi Muhammad. Lha, wong orang Islam sendiri juga begitu.
 
Mereka kaget dan terkejut, kalau mengetahui bahwa Nabi Muhammad melarang seorang suami mencela istrinya. “Kalau tidak senang dengan satu sifat istrimu, mungkin ada sifat lain yang disukai”, sabda Nabi. Nabi Muhammad juga mengajarkan bagaimana seorang suami harus merawat penampilan istrinya. Dan itu perlu modal. Muhammad mengajarkan agar suami membelikan parfum, perawat tubuh, kosmetika, gaun tidur, pakaian dalam, gaun mandi atau pakaian sehari-hari yang cocok untuk istri. Bahkan menyediakan perkakas agar tubuh fisik istri tetap cantik dan sehat.
 
 
 
Ketika membaca tentang romantisme Nabi Muhammad, saya teringat bagaimana seorang raja di India mewujudkan kasih sayangnya kepada istrinya. Hingga matipun dia tetap mencintainya dengan membuat makam istrinya menjadi megah kelewat fantastik dalam imajinasi manusia. Wujud kisah cintanya bias kita saksikan pada bangunan Taj Mahal di kota Agra, India. Itulah kuburan terindah dalam sejarah manusia. Sebuah monumen kasih sayang.
 
Memang menyedihkan, banyak umat Islam hanya melihat Islam hanya kulitnya saja, hanya halal-haram saja. Tak lebih dari itu. Bagaimana mereka bisa menerima, bila mengetahui bahwa Nabi Muhammad mengajarkan dan memerintahkan agar setiap suami yang romantis harus tahu warna kesukaan istrinya, apa makanan favoritnya, bacaan yang disukainya. Seorang suami, perintah Nabi Muhammad, harus tahu suasana hati dan mood istrinya, pandai membangkitkan perasaan indahnya. “Seorang suami harus tahu di mana letak tahi lalat pendamping hidupnya”, kata Nabi Muhammad.
 
Saya membayangkan, bila itu dilakukan oleh setiap muslim, mungkin tak akan ada poligami dalam Islam. Memperlakukan satu istri saja sudah membutuhkan usaha yang begitu serius, untuk menyebar benih kasih dalam keluarga. Bagaimana lebih dari satu?
 
Saya juga sangsi, setiap pria muslim yang sudah beristri hafal tanggal lahir istrinya… Hahahaha…. Sisi kasih sayang Nabi Muhammad banyak disembunyikan oleh umat sendiri. Entah mengapa… Sosok seperti Muhammad, memang perpaduan kasih sayang Jesus (ajaran Kristiani) dan kekerasan tekad Musa (ajaran Yahudi). Seorang seperti Nabi Muhammad seharusnya berulang tahun tanggal 14 Februari. Tahun depan saya akan merayakannya hari lahirnya tepat pada Hari Kasih Sayang. Salam cinta untuk Nabi Muhammad. (*)

45 Comments to "Nabi Muhammad Berulang Tahun di Hari Valentine"

  1. ilhampst  13 February, 2012 at 20:06

    Waktu nikah, ada guru istri yang menghadiahi buku tentang pernikahan dan adab dalam berhubungan suami istri. Seru juga bacanya
    Makin cinta dengan beliau

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 February, 2011 at 20:52

    Danke schon Hennie… Gagu ya? Hahahahaha…

    Salam sayang 4-3

  3. HennieTriana Oberst  14 February, 2011 at 17:00

    Lieber Iwan, nggak bisa komentar banyak nih…(kehabisn kata-kata), sangking sukanya dengan tulisanmu…
    Happy Birthday Nabi Muhammad.
    Happy Valentine..dan…
    Danke schön, Iwan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.