Saturday, 27 February 2010
Osa Kurniawan Ilham
Setelah hari pertama berlalu dengan mengunjungi Pasar Tomohon, Waruga dan Taman Nasional Tangkoko, inilah hari yang kami tunggu-tunggu. Bagaimana tidak, pada hari Minggu itu kami akan mengunjungi obyek wisata yang sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Apa lagi kalau bukan Bunaken ?
Jam 7 pagi kami meninggalkan Onong Palace menuju pantai Manado. 1,5 jam perjalanan kami pun sampai pula ke pantai Manado yang sudah dipenuhi dengan kapal-kapal yang siap disewa untuk membawa kita ke Bunaken. Nah di sinilah masalahnya. Kalau kita tidak mengenal betul Manado, Anda lebih baik minta tolong kepada teman-teman yang memang sudah tinggal lama di Manado untuk mencarikan kapal yang bisa dan layak dipercayai untuk membawa Anda ke Bunaken dengan nyaman.
Seingat saya harga sewa kapal ke Bunaken memang sudah distandarkan, sayang saya sudah lupa harga sewanya karena saat itu sudah diatur semuanya oleh pemilik vila tempat kami menginap. Kalau tidak salah sih kira-kira sekitar Rp 300 – 400 ribu. Tapi ini ada tips dari kami kalau mau ke Bunaken:
Singkat cerita, kami pun berangkat ke Bunaken. Kira-kira butuh 1 jam untuk sampai ke Bunaken. Dalam perjalanan kami singgah ke sebuah pulau resort yang bernama Siladen. Pantainya indah dengan pasirnya yang putih. Ada resort di sini kalau Anda mau tinggal beberapa hari di sana. Setelah berjalan-jalan di pantainya dan mengambil beberapa gambar sebagai bukti sudah pernah menginjakkan kaki di Pulau Siladen, kami pun melanjutkan perjalanan.
Dari kejauhan kami melihat tinggi menjulang Gunung Menado Tua, kalau nggak salah gunung ini masih aktif, berada di Pulau Menado Tua, salah satu jajaran pulau di wilayah Bunaken. Semakin dekat ke area penyelaman dan snorkeling, semakin banyak kami melihat para penyelam sedang menikmati keindahan bawah laut Bunaken.
Tapi terus terang, di Bunaken inilah penyesalan saya menjadi semakin sempurna. Saya sebenarnya tidak bisa berenang dan melihat surga bawah laut yang sekarang tepat di bawah saya rasanya kok bodoh sekali kalau melewatkannya begitu saja. Akhirnya dengan semangat 45 saya menyewa 2 set peralatan snorkeling, untuk saya dan untuk Laksmana. Sementara isteri saya cukup melihat bawah laut lewat kaca di dasar kapal saja katanya.
Benar saja, baru pertama kali nyemplung ke laut, air laut pun sudah masuk ke mulut dan hidung he…he….Untungnya pak operator kapal mau memegangi tangan saya untuk membawa saya snorkeling melihat keindahan bawah laut bahkan sampai tepat di pinggir jurang laut. Wah indah sekali, kayak yang di tivi-tivi itu lho he..he…
Isteri saya tertawa melihat suaminya dipegangi saat berenang, persis sama dengan anaknya yang juga dipegangi operator kapal lainnya saat berenang. Bapak dan anak sama saja, tidak bisa berenang tapi ngotot mau berenang he..he…
Puas menikmati pemandangan bawah laut kami pun memesan ikan bakar di salah satu rumah makan di Bunaken, setelah itu membeli beberapa T-shirt bergambar Bunaken.
Daripada buru-buru pulang ke Manado, Anda pun masih bisa menikmati arena edukasi kelautan yang ada di sana. Anak-anak senang melihat gambar-gambar ikan yang sebelumnya tadi sudah mereka lihat di bawah laut.
Menjelang sore kami pun memulai perjalanan pulang. Beberapa meter meninggalkan pantai Bunaken terlihat 2 ekor lumba-lumba sedang melintas di belakang kapal kami, seakan-akan mau mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih kami sudah mau mengunjungi habitat mereka.
Memang, di wilayah Bunaken ini nelayan dilarang melakukan aktivitas menangkap ikan. Sebagai kompensasi, mereka diijinkan untuk mengelola obyek wisata ini dan tentu saja mendapat persentase pendapatan dari pengelolaan obyek wisata ini.
Menjelang Magrib, kami pun sampai di Manado kembali. Sementara di kapal, tampaknya para operator sedang berdebat keras mengenai pembagian pendapatan hari itu, hasil mengantar kami seharian.
Sayang, mungkin inilah anomalinya. Saya tidak menyelam di surganya para penyelam. Ya gimana lagi, wong memang tidak bisa berenang he..he….
Balikpapan, 11 Feb 2010
Picture : OsaKI, Rod A, Vince
March 7th, 2010 at 11:31
Oom Osa..mohon referensi ttg derawan dong….
hehehehe….
trim’s liputannya…menghibur lho….
March 6th, 2010 at 10:07
Makasih Dewi,
Waktu mau kerja sih, di selat Makassar, 60 km dari Balikpapan. Ombak sekarang memang lagi gila-gilanya sampai 2-3 meter, plus anginnya kuueeeenceng lagi. kemarin ada human error crew kapal sehinggal air memenuhi ruang mesin jadinya kapalku separuh badannya aja yang di permukaan. Waktu laporan ke bos kalau kamis emua sudah berkumpul di buritan kapal yang agak ndongak ke atas, bosku masih sempetan guyon, kayak film titanic ya he..he…
Salam,
Osa KI
March 5th, 2010 at 18:13
Osa: kalau begitu mulai hari ini belajar renang di sungai he he he….
Syukurlah, tidak terjadi apa-apa, pas dimana pak Osa, kenapa mau tenggelam? Kena ombak atau gimana, ada angin badai..?
March 5th, 2010 at 18:08
Harap maklum, wong saya ini turis bonek, bondho nekad. Walaupun nggak bisa renang, senangnya mengunjungi laut dan kerjaannya juga di laut. Beberapa minggu yang lalu kapal saya juga udah nyaris tenggelam
bayangan anak istri sudah di depan mata. Bersyukur Tuhan masih melindungi.
salam,
Osa KI
March 4th, 2010 at 16:54
Aku paling takut suasana bawah laut, ngga tau, takut banget rasanya, kayanya kok gelap gitu. Klo snorkling ngga ahh, pernah pakai kapal selam waktu di Bali, lihat2 alam bawah laut, pengennya cepet2 udahan, kalau ngga demi anak.
March 2nd, 2010 at 18:33
Jadi inget pas snorkling disini sambil gandengan sama suami. Hihihi. (yg masih single jangan ngiri ya. Tunggu aja waktunya ya. Hihihi)
March 2nd, 2010 at 18:08
hahahaha; makanya sebelum ke Bunaken, melapor dulu ke suhunya

Bung Osa: 300-400 rb utk perahu kecil ya? Biasanya utk yg muat 15 orang bisa, di atas 600 rb.
Pak Dj: Kok ke Kupang si Pak? Ingat lho janjinya tahun kemarin