Badai Dalam Kehidupan Part 2

Syanti – Sri Lanka

“Cinta serta dukungannya yang mendorong saya untuk cepat sembuh….sehingga kami dapat merajut benang-benang kehidupan bersamanya.”

Ternyata begitu banyak yang masih harus kami selesaikan, selain pemeriksaan lab, X Ray dan sebagainya, kami juga harus mepersiapkan segala keperluan di rumah selama saya berada di rumah sakit, terutama untuk si kecil putri kami ……Akhirnya kami memutuskan untuk menitipkan putri kami di day care. Hampir di setiap sekolah di Sri Lanka mempunyai fasilitas hostel dan day care, semua ini sangat membantu untuk para orang tua yang mempunyai banyak kesibukan. Terutama untuk keluarga kami yang dalam keadaan emergency.

Malam itu saya tidak dapat tidur dengan nyenyak, masih terbayang oleh saya, muka si Kecil putri kami yang tampak agak murung, pada waktu kami tinggalkan. Ini adalah yang pertama kali saya meninggalkan si kecil di rumah …… selain itu kadang-kadang terdengar suara tangisan bayi dan langkah-langkah kaki yang berjalan kesana kemari disertai suara orang yang bercakap-cakap walaupun suara mereka tidak keras….tetapi tetap terasa begitu mengganggu.

Common ward tempat saya dirawat, adalah ward khusus untuk obstetrics and gynaecology. Ward tersebut terdiri dari 10 ruangan yang cukup besar yang hanya dibatasi oleh tembok setinggi tembok pagar rumah, sehingga kita bisa melihat pasien lain walaupun berbeda ruangan. Setiap ruangan terdapat sepuluh tempat tidur, setiap baris terdiri dari lima tempat tidur yang diatur berhadapan. Tujuh ruangan dikhususkan untuk ibu-ibu yang melahirkan dan sisa nya untuk penderita berbagai penyakit kandungan, Ruang pemeriksaan dan dokter serta perawat berhadapan dengan ruangan tersebut, di sudut kiri dan kanan ward tersebut terdapat kamar mandi umum yang menjadi satu dengan toilet.

Baru saja saya dapat tertidur pulas…tiba-tiba ada yang membangunkan saya, ternyata perawat yang sedang bertugas dan perawat tersebut membangunkan semua pasien di ruangan tempat saya tidur sambil berkata dalam bahasa Sinhala yang tidak dapat saya mengerti. Tetapi saya melihat semua pasien satu persatu pergi ke kamar mandi umum…….saya pikir mungkin kami semua disuruh untuk bersiap-siap menantikan kunjungan dokter. Sayapun mengikuti mereka , dan melakukan morning duty. Pada waktu saya keluar dari kamar mandi saya melihat botol kecil-kecil dengan nomer yang diletakan pada sebuah nampan dekat wastafel….saya tidak memperdulikannya dan kembali ke tempat tidur. Tak lama kemudian datang perawat lain menghampiri saya menanyakan urine sample….oh my God rupanya pagi itu kami semua dibangunkan untuk memberikan urine sample. Malangnya saya sudah tidak mempunyai lagi, karena harus first urine !!!!!

Malam kedua saya sudah mulai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, semua pasien yang akan dioperasi keesokan harinya, sudah harus berpuasa dan pagi-pagi sekali kami sudah dibangunkan, kami ada 12 orang yang akan dioperasi. Sejak pagi kami sudah harus mengenakan baju dan topi untuk operasi dan sudah tidak boleh mengenakan pakaian dalam. Satu persatu pasien yang akan dioperasi dijemput oleh petugas untuk dibawa ke kamar operasi, yang berada di lantai lain. Saya adalah pasien terakhir , karena sesungguhnya saya tidak terdaftar untuk hari itu. Saat menunggu giliran untuk dijemput , perasaan saya bercampur aduk. Seandainya di Indonesia menjelang operasi seperti ini tentunya ada keluarga yang mendampingi kita yang memberikan dukungan…….tetapi saya hanya seorang diri, saya jadi teringat akan bapak dan ibu nun jauh disana! Peraturan di rumah sakit ini, untuk pasien yang dirawat di common ward hanya dapat dikunjungi oleh keluarga jam 12.00 siang dan 5.00 sore.

Setelah menunggu dari jam 4.00 pagi, sekitar jam 11.30 siang saya baru dijemput. Sebelum dibawa ke kamar operasi saya ditempatkan di koridor dekat kamar operasi, ini untuk pertama kalinya selama hidup saya, ditusuk oleh jarum infuse. Saya masih ingat bagaimana perawat laki-laki yang bertugas, memberi contoh kepada saya, untuk mengepalkan jari-jari tangan saya dengan bahasa tarzan, karena mereka tahu saya tidak dapat berbahasa Sinhala dengan baik…oh poor me!

Sekitar satu jam kemudian baru mereka membawa saya memasuki kamar operasi, saat itu saya sudah benar-benar menyerahkan diri saya pada Tuhan, apa yang akan terjadi, terjadilah….saya tahu Tuhan akan selalu menyertai saya dan memberikan yang terbaik pada umatnya!
Perawat wanita yang menangani saya berkata : “After a while you will go to sleep!”

Hanya beberapa detik kemudian saya sudah tertidur, tampa sempat melihat bagaimana keadaan dan peralatan di kamar operasi tersebut…….Setelah beberapa saat, saya terbangun dan saya merasa banyak orang yang memperhatikan saya, ternyata saya telah kembali berada di common ward, di tempat tidur saya dan saya mulai merasa sakit dibagian perut bawah. Sayapun tersadar bahwa saya telah menjalani operasi, dan saya sudah tidak mempunyai rahim lagi….oh betapa menyedihkan!

Tak lama kemudian saya melihat suami saya memasuki ruangan bersama salah seorang teman. Pada waktu saya melihat mereka saya langsung bertanya “Dimana si Kecil ?” pandangan mata saya mencari si kecil dari kerumunan pengunjung di ruangan itu.
Saya masih belum benar-benar tersadar, karena peraturan di rumah sakit tersebut, tidak mengijinkan anak diawah 12 tahun untuk berkunjung dan setiap pasien hanya diberikan kartu kunjungan untuk dua orang. Saya mengira pada waktu itu baru jam 12.00 siang ternyata sudah jam 5.00 sore waktu kunjungan sore hari.

Setiap hari, pagi-pagi suami saya harus mempersiapkan si Kecil untuk berangkat ke sekolah dan segala keperluan si Kecil selama berada di day care. Kemudian mempersiapkan dirinya sendiri untuk berangkat kerja dan siang hari dia harus mengunjungi saya di rumah sakit. Selesai bekerja dari kantor, menjemput putri kami dari day care, kemudian berkunjung ke rumah sakit lagi, malam harinya masih harus mempersipakan makan malam untuk mereka berdua, membersihkan rumah mencuci pakain dan sebagainya, dan sebagainya….oh suamiku sayang, suami ku malang!

Hari minggu adalah hari pertama saya masuk rumah sakit, hari senin saya menjalani berbagai pemerikasaan untuk operasi. Hari selasa saya menjalankan operasi, hari rabu saya masih terkapar dia atas tempat tidur tidak berdaya. Tetapi hari kamis pagi dokter mengatakan bahwa pada hari itu saya sudah boleh pulang ke rumah!…..karena begitu banyak pasien yang menunggu untuk dirawat di common ward. Sehingga bila keadaan pasien sudah memungkinkan, merekapun dipulangkan.

Pada waktu kunjungan makan siang, saya memberitahukan suami bahwa saya sudah boleh pulang ke rumah. Siang itu juga, setelah diperiksa oleh dokter yang bertugas diberikan obat-obatan, oppointment untuk kunjungan berikutnya dan semua pembayaran diselesaikan. Kami meninggalkan rumah sakit. suami saya tidak tahu saya bisa pulang pada hari itu, kebetulan mobil dinas kami sedang diservice, siang itu suami saya datang dengan jeep Pajero…..dapat dibayangkan saya yang baru saja dioperasi, jalanpun masih tertatih-tatih harus memanjat jeep yang cukup tinggi. Dan ternyata suami meninggalkan kunci rumah di kantor, dengan keadaan tubuh yang masih sangat lemah saya harus berkeliling ke kantor dulu baru pulang ke rumah…oh nasibku!

Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, suami saya memutuskan untuk tidak memberitahu baik keluarga kami yang berada di Indonesia maupun keluarga mertua kami yang berada di Sri Lanka. Karena apabila keluarga kami di Indonesia mengetahui keadaan kami, tentu mereka akan merasa cemas. Begitu juga dengan keluarga mertua kami yang berada dikota lain, tentunya mereka akan merasa cemas dan berusaha untuk datang mengunjungi kami. Hal ini yang kami hindari, karena bila mereka datang setidak-tidaknya kami harus menyediakan okomodasi untuk mereka, akan menambah problem untuk kami.

Betapa berat pekerjaan yang harus diselesaikan oleh suami saya, tetapi dia selalu menunjukkan wajah yang cerah dan selalu tersenyum….tidak pernah nampak lelah ataupun mengeluh. Selain harus merawat putri kami, dia masih harus merawat saya yang terkapar tak berdaya di atas tempat tidur. Setelah semua pekerjaan di rumah selesai, dia berangkat ke kantor dengan mengunci pintu dari luar , sementara saya terbaring di tempat tidur seorang diri. Pada siang hari suami saya pulang ke rumah untuk makan siang bersama, kemudian kembali bekerja ke kantor. Sore hari menjemput putri kami, belum lagi semua pekerjaan rumah tangga …….melihat bagaimana suami saya dengan semangat dan penuh kasih sayang merawat saya, secara psikologis semua itu mendorong saya untuk cepat sembuh dan sehat seperti sediakala.

Akhirnya secara berangsur-angsur kesehatan saya mulai pulih……Saya bersyukur pada Tuhan, karena telah diberikan suami yang begitu supportive dan sangat mencintai keluarganya.
Tuhan juga telah menyediakan rumah sewaan untuk kami tepat pada waktunya…dan ternyata Tuhan telah memilih wanita tua pemilik rumah tersebut, untuk membantu merawat saya…karena wanita itu selalu menyediakan makan siang untuk kami, selama saya terbaring di atas tempat tidur.

Badaipun berlalu, beberapa tahun kemudian kami pindah ke rumah kami sendiri, walaupun pada waktu itu rumah kami, belum selesai dengan sempurna. Sekarang rumah kami telah selesai, putri kami telah berkembang menjadi gadis dewasa .
Melalui semua itu, saya melihat bagaimana Tuhan membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.