Pare, Si Pahit pembunuh sel kanker

admin Monday, 1 March 2010

| Viewed 1269 times, 3 times today | 82 Comments |

Kornelya – Amerika

Pare atau dalam bahasa inggris ada yang menyebut bitter ground, African cucumber, atau balsam pear. Tanaman menjalar ini mudah dipelihara dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Di mana biji dipendam di situ ia akan tumbuh, kecuali dalam perut. Dipupuki syukur dicuekin do’i tetap mencari jalan untuk menjalar.

Dulu jika pulang sekolah, ketika membuka tudung saji, lihat sayur pare duduk pahit di tempatnya, aku suka protes ke mama. Beliau hanya menjawab, hanya itu yang bisa disajikan hari ini, ya mau tak mau dari pada kelaparan, dengan bantuan ikan asin sayur pahitpun harus ditelan .

Setelah dewasa, sayur pare malah menjadi sayur kesukaan, apa itu yang dipakai untuk membalut siomay atau sekedar ditumis bersama teri halus putih. Setelah menetap di N .York Parepun senasib dengan sayur genit Lenggang Kangkung, mahal dan langka.

Terakhir saya memakan Pare bulan Juli lalu, saat mengunjungi adik perempuanku yang sedang berjuang melawan kanker payudara. Saya masakin sendiri, karena mudah didapat, mereka makan tidak seantusias aku. Adikku yang juga teman akrabku sempat nyeletuk, menjalani kemo aja, sudah sengsara, masa’ kepahitannya harus ditambah pare.

Adikku menjalani teraphy hormone agar bisa hamil, setelah delapan tahun akhirnya berhasil. Saat memasuki kehamilan bulan ketiga, tiba-tiba benjolan sebesar kacang hijau muncul di payudaranya dan segera dibiopsi. Bulan keempat, benjolan-benjolan kecil, bertebaran dan dokter memastikan kankernya menyebar dan harus segera dioperasi dengan catatan bayi harus digugurkan.

Namun dia memilih pertahankan kandungan. Bulan ketujuh anaknya dilahirkan melalui cesar, dan diikuti pengangkatan payudaranya dua bulan kemudian. Proses kemoteraphy yang menyengsarakan, rambutnya gundul, tulangnya menyusut, badannya jadi pendek.

Sehari setelah kemoteraphy, dia selalu mengerang menahan sakit. Sebelum saya kembali ke N.York, dia dalam keadaan sakit, berdua kami keliling Jakarta naik taksi. Jika naik mobil sendiri, otomatis misua dan kurcaci-kurcaci kecil minta ikut. Dalam taksi kami saling curhat, adikku menceriterakan bahwa sesungguhnya, dia sudah tidak bisa bertahan hidup.

Kemoteraphy hanya menambah penderitaan, sel kanker sudah menjalar sampai ke paru-paru. Dengan bercucuran air mata, saya katakan, jika sesuatu terjadi padanya, demi Tuhan saya akan memperhatikan dan mengasuh anak-anaknya. Sayalah ibu mereka. Kami berdua berpelukan, sopir taksi ikut nangis.

Liburan selesai kami harus kembali ke habitat di N.York, dengan hati yang terluka dan tangis yang ditahan saya memberi pelukan dan ciuman mesra terakhir sebagai perpisahan dengan adikku yang cantik. I’knew what’s coming. Dia membisikan “titip anak-anakku”.

Dua bulan di N.York, tengah malam telp berdering, kabar yang kutakuti menjadi kenyataan. Saya merasa ada sebagian hidup saya yang hilang. Hidup saya tidak sempurna lagi. Kepergian adikku membuat saya sedih, sekaligus bersyukur. Saya percaya Tuhan memberi yang terbaik.

Adalah tidak adil, hanya untuk memuaskan emosi kita yang sehat, penderita penyakit yang tak mungkin sembuh harus bertahan “hidup” dalam penderitaan yang tak tertahankan.

Sejak ditinggal pergi adik tercinta, saya rajin mengikuti perkembangan riset mengenai pengobatan kanker payudara. Journal terakhir yang saya ikuti adalah riset yang dipimpin oleh Prof. Ratna Ray Ph.D, Professor Pathology di Universitas St. Louis. Berikut ini adalah kutipan dari hasil researchnya:

“Lead researcher Ratna Ray, Ph.D., a professor in the department of pathology at Saint Louis University, uses bitter melon in her stir fries but was surprised to find the vegetable’s extract also appears to “kill” breast cancer cells and prevent them from multiplying.

“To our knowledge, this is the first report describing the effect of bitter melon extract on cancer cells,” Ray said in a statement. “Our result was encouraging. We have shown that bitter melon extract significantly induced death in breast cancer cells and decreased their growth and spread.”

Pare sayur pahit yang mematikan sell kanker. Harapan baru, berita bagus yang harus kita syukuri.

Salam

Source : Aol Health

Categories: Info
Tags:

82 Comments to “Pare, Si Pahit pembunuh sel kanker”

Pages: « 9 8 7 6 5 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    Kornelya Says:

    Lani, nanti aku kirim Japri lewat suhu. Salam!!

  2. 29
    Handoko Widagdo Says:

    Ada satu jenis pare yang tidak pahit. Namanya pare welut (belut) karena bentuknya panjang kayak belut.

  3. 28
    Lani Says:

    Kornelya : walaaaaaaaaaaaah…..le mbengok buanterrrrrrrrrrrr tenan sampai meh kejungkel aku saking kaget-e…….kamu aja ke Hawaii piye???????? udah pernah belon ke hawaii? no telp? gmn klu JAPRI? apa aku kasih tau lewat JC??????????? klu mau bs telp saiki?????? pie aku kasih tau JC skrg jg ya

  4. 27
    Imeii Says:

    Kornelya Says:
    March 1st, 2010 at 08:14
    O ya, cara memotong pare supaya tidak pahit. Potong 1/2 cm dari ujung, either dari stem atau pucuk. Lalu gesekan bagian yang terpotong dan dipotong selama satu menit. Cuci bersih, baru dipotong siap masak. Rahasia ini kudapatkan dari ibu temanku encim penjual Syomai dipetak kecil. Salam!!

    kayak aku potong timun, ngilangin pahitnya / getahnya timun, boleh nih dipraktekin kalo beli pare nanti…

  5. 26
    Kornelya Says:

    Laniiiii!! Kemarin waktu ada warning Tsunami, aku ingat dikau., bagi no telp.nya Summer main ke N.York ya!! Salam

  6. 25
    Lani Says:

    JC : lwhy not ice cream rasa pare??????? krn wis ono ice cream rasa bawang putih lo, aku ingat ktk ada GARLIC FESTIVAL di kota GILROY, CA……….semua makanan, jajanan semua terbuat dr bawang putih……..semua bau bawang putih……aku suka olive yg dimasukin bawang ditengahnya syedaaaaaaaaaaap

  7. 24
    Kornelya Says:

    Bernadette terima kasih, sudah mampir. Just precause. Dokter tidak akan menginformasikan kekita, alternative pengobatan secara alami, karena itu akan mengurangi komisi farmasinya. Salam!!

  8. 23
    J C Says:

    Kornelya, wah, terima kasih banget, kebetulan barusan beli pare lilin putih…bisa dicoba teknik ini…

  9. 22
    Lani Says:

    KORNELYA : ikut berduka cita atas dipanggil NYA adikmu RIP. Hari ini aku baca 2 artikel……yg membawa kenanganku balik ke almarhum suami……sedih……..dan bangga………karena never give up…..don’t quit……till the end!

    JC : pare pait???????? aku podo karo kowe SAPA TAKUTTTTTTTTTT???????? bahkan almarhum suami jg makan pare tuh……biasanya aku masak bawang merah, putih, kdg pakai udang, kdg ground beef……uenaaaaaaaaaaaaak rek! ato plain pare, tp setelah matang ditabur sama ikan teri medan/nasi…….opo meneh nek puedessssssss…..

    di Hawaii jg banyak pare…..

    Imeii: bener utk ngurangi paitnya dikasih garam, di-remas2……..

  10. 21
    Kornelya Says:

    O ya, cara memotong pare supaya tidak pahit. Potong 1/2 cm dari ujung, either dari stem atau pucuk. Lalu gesekan bagian yang terpotong dan dipotong selama satu menit. Cuci bersih, baru dipotong siap masak. Rahasia ini kudapatkan dari ibu temanku encim penjual Syomai dipetak kecil. Salam!!

Pages: « 9 8 7 6 5 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com