Panik Sehari, tsunami alert di Hawaii

Lani – Kona, Hawaii

Kona Sabtu, February 27 2010

Pagi itu seperti biasanya aku sarapan rutin dengan lari sebelum melakukan hal lainnya.

Begitu keluar dari apt langsung bingung, karena tidak biasanya jam 5:00 pagi mobil sebanyak itu di jalanan, pada antri beli bensin.

Sambil lari otak masih mencari jawaban, apalagi di tiap perempatan jalan yang ada sign “you are entering tsunami zone” Dipasang bendera merah, sepertinya sudah sedikit mendapatkan gambaran, walau belum 100% mendapatkan jawaban yang ku inginkan.

Dalam perjalanan pulang sempat ketemu beberapa orang termasuk teman yang biasa berolahraga pagi, aku tanyakan ada apakah sebenarnya pagi ini? Karena sangat berbeda dengan hari-hari biasa?

Temanku mengatakan dengan adanya gempa di Chile sebesar 8.8 skala richter, dampaknya akan terjadi Tsunami di New Zealand, Australia dan Hawaii. Diperkirakan akan sampai di Hawaii jam 11:00 pagi.

Mendengar jawabannya jantung langsung mau copot, apalagi ditambahkan jam 6:00 pagi, sirene tsunami warning bakal dibunyikan.

Dengan perasaan bingung, deg-deg-an, tidak bisa berpikir focus, tujuan hanya satu lari secepatnya balik ke apt, kaki terasa semakin berat sepertinya diganduli dengan rantai besi, jarak yang biasanya sangat dekat malah jadi semakin jauh.

Begitu masuk ke apt, pertama yang aku lakukan telpon kontak teman-teman yang punya mobil, minta bantuan salah satu dari mereka untuk ikut ngungsi. Aku sendiri tidak punya mobil dengan alasan kompleks apt aku tinggal lokasinya di downtown, jadi dekat dengan supermarket, restoran, pertokoan, bisa jalan sekalian ambil manfaat olahraga. Lokasi apt cuma 5 menit dr laut, termasuk dangerous zone oleh karenanya harus mengungsi jika ada berita tentang Tsunami.

Ternyata semua lines telpon mati, komplit-lah sudah penderitaanku, tidak bisa telpon keluar, juga tidak bisa menerima telpon, dunia serasa kiamat!

Akan tetapi secara reflek aku ingat resident manager di building apt-ku ini, tanpa pikir panjang aku naik ke lantai 3, kuketok pintunya, ternyata dia baru saja bangun tidur. Tanpa ditanya aku langsung nyerocos bagaikan kereta api express: Apakah tadi dengar sirene Tsunami warning? Apakah kamu tahu, baca, liat dengar berita tentang gempa di Chillie dan dampaknya bakal ada Tsunami di Hawaii? Apakah ada rencana ngungsi, karena aku coba telp kamu gak bisa masuk, karena kamu punya mobil, jangan lupakan diriku jika kamu ngungsi.

Resident manager ku Cuma ndlongop, mlongo, sambil kucek-kucek mata. Mungkin berpikir… Ini pertanyaan apa interogasi? Dia menjawab dengan kalemnya.

"Lani, I just got up you know, and of course I heard the Tsunami serene, please don’t get panic ok, and don’t worry I’m going to take you if I’m leaving this building".

Karena merasa belum puas dengan jawabannya (tapi bukan ngeyel), aku susuli dengan: "please turn on your TV/radio and find out more the news about the earth quake and Tsunami. I don’t have TV and I only heard from friends when I went out for my running this morning".

Segera aku balik ke apt, sambil mengepak yang paling penting, yaitu semua surat-surat seperti, ID, paspor, laporan taxes.

Total 1 koper kecil full of papers, kuanggap paling penting seperti hidup dan matiku, kemudian back pack yang kuisi keperluan sehari-hari, barang-barang lainnya kutinggal.

Selesai dengan packing aku mandi, kemudian mencoba telpon teman lagi, kali ini aku merasa sangat beruntung, satu teman sedang menuju ke Kailua Kona, untuk mengambil semua barang dagangannya karena tidak ingin hilang diterjang Tsunami.

Sejam kemudian Khanita dan sang pacar telpon agar aku menemui mereka di tempat parkir, karena semua jalan sudah dijaga polisi, mobil diarahkan untuk menjauh dari danger zone, jadi dengan terpaksa aku harus jalan menemui mereka dengan menarik koper di tangan, back pack di punggung dan tas plastic di tangan kiri, untung lagi (orang Indonesia selalu ngomong begitu), mereka parkir tidak jauh dari apt ku, di perempatan jalan dijaga polisi, di jalan juga dipasang flare, malah dapat service diseberangkan sama polisinya yang masih muda dan ganteng lagi hohoho….what a lucky day dalam keadaan kebingungan.

Singkat cerita, dengan dibantu oleh pacar temanku, koper yang kecil tapi oaaaaaaaaju billah beratnya, diangkat dimasukin ke bagasi, kemudian kami melaju menuju kompleks pertokoan lokasinya tinggi, walau tidak begitu jauh dari laut.

Ternyata oh ternyata banyak orang berkumpul ngungsi ke tempat ini, mereka memusatkan pandangan ke arah lautan, yang terhampar di hadapan dibawah kami, dengan penuh harap-harap cemas menunggu detik-detik jam menunjuk angka 11.

Sirene masih meraung-raung tiap ½ jam sekali. Tibalah jam 11:00 pagi, lautan masih tenang, ¼ kemudian masih tenang, ada salah satu penonton yang aktif saling tukar berita lewat facebook via handphone.

Jam 11:30 lautan masih nampak adem ayem, dari salah satu penonton tadi mendapat berita bahwa di Hilo kurang lebih 2 ½ jam dari Kailua Kona, ombak meninggi, akan tetapi tidak bisa dikatakan membahayakan. Tsunami pernah menerjang Hilo beberapa tahun yang lalu, sebagian downtown Hilo lenyap dan ada korban meninggal.

3 jam berlalu tidak ada tanda-tanda Tsunami, orang mulai meninggalkan lokasi, walau belum ada berita yang menyatakan aman dan boleh meninggalkan tempat untuk menuju downtown atau daerah pinggiran pantai.

Akhirnya kami tinggalkan kompleks pertokoan, untuk menghabiskan waktu berkeliling ke perkebunan kopi, sambil mendengarkan radio, kemudian santai duduk di halaman depan toko buku “Border book store”, tepat jam 14:30 kami dengar berita dari radio, bahaya telah berlalu, Tsunami tidak jadi mampir ke Hawaii pada umumnya dan khususnya Kailua Kona.

Rasanya lega sekali, karena setelah didera rasa cemas dan ketakutan sejak jam 6 hingga 11 pagi, dibuat sport jantung. Kepanikan yang hanya beberapa jam itu, telah menguras tenaga, pikiran, badan lemah, lemas, otot leher serasa kaku semua, langsung kepikiran betapa asyiknya kalau bisa pijat hahahhaha, tapi ini Hawaii sekali pijat bisa utk makan 3 minggu, jadi cukup diganti dengan mandi kungkum dengan air hangat saja.

Itulah sekilas cerita kepanikan penduduk Kona kemarin, termasuk diriku. Kesan yang paling melekat adalah, pemerintah selalu memperhatikan safety, tiap tanggal 1, peralatan Tsunami warning selalu di test. Kedua pemerintah selalu up-date dari waktu ke waktu jika ada perubahan atau terjadi gempa di belahan dunia lain, hingga cepat terdeteksi, apakah dampaknya akan sampai ke Hawaii, dengan begitu bisa segera disiagakan dengan peringatan dini, memberitahukan kepada masyarakat sesegera mungkin agar mereka bisa mempersiapkan diri untuk mengungsi, perkara Tsunami jadi datang atau tidak yang penting berita telah disampaikan.

mahalo,
Lani-Kailua Kona

 

Picture : Blognetnews

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.