Leidy – Anywhere
Hai Sahabat Baltyra, cerita ini adalah rahasiaku yang aku utarakan untuk pertama kalinya. Semoga berkenan untuk dibaca.
Terima kasih dengan tanggapan yang masuk dari sahabat-sahabat semua di tulisanku beberapa waktu yang lalu dengan judul : ”Melihat Kepergianmu”.
Itu adalah kisah nyata dan pengalamanku sendiri tanpa ada aku tambah dan kurangi, murni apa yang terjadi dan kutuangkan dalam artikel. Seperti halnya tulisanku ini juga kisah nyata dan bukan fiksi atau hayalanku.
Salam persahabatan….
Ada rasa lain ketika menatap wajahnya, darahku mengalir kencang ke ubun-ubun manakala mata kami bertubrukan. Rasa lain itu begitu aneh seperti getaran kuat yang ada di dadaku dan juga kurasakan tatapannya begitu sangat berarti.
Sepulang dari sekolah menengah atasku sore ini aku melihatnya dilapangan bola yang ada dibelakang rumahku, ah begitu gesit dan lincahnya dia mengejar dan menendang bola yang menggelinding kearahnya. Dia memang hobby banget dengan olahraga itu.
Biasanya kalau dia melihatku berjalan menuju rumahku, dia akan menyempatkan waktu untuk sekelebat menatapku dan terjadilah tatap-menatap untuk beberapa detik, hingga aku tak kuasa dan cepat-cepat berlalu karena tak mampu membendung rasa deg-deg an.
Aku tidak tahu dengan perasaannya terhadapku, karena aku tidak pernah menanyakannya langsung. Yang aku tahu setiap kami bertemu di jalan dekat rumahku dia selalu tersenyum manis dan mengisyaratkan sesuatu yang sangat sulit untuk dicerna apa maksud dari senyumannya itu.
Hingga setelah dia lulus dari sekolah menengah atasnya, dia melanjutkan kuliah di Australia dan hanya sekali dalam setahun pulang ke Indonesia. Hampir 5 tahun kami tidak pernah bertemu lagi, tapi setiap detik yang kulalui aku tidak pernah bisa untuk melupakannya.
Hingga tiba-tiba di satu malam di saat aku berjalan menuju rumahku, sepulangku dari kerja aku dikagetkan dengan suara seseorang memanggil namaku. Sangat khas dan tidak asing di telingaku, ah aku terkulai lemas tak menyangka kalau dia ada di depanku saat itu. Dia menanyakan kabarku dengan pelan dan gugup lalu menunduk, dan sedetik kemudian diam membisu.
Entah karena perasaan ge-er ku atau karena rasa deg-deg ser maka aku tidak dapat berkata apa-apa. Dan aku berlalu meninggalkannya di malam yang pekat, sepekat perasaanku saat itu.
Sesampai di rumah aku masih tidak menyadari dengan ketololanku, sikap dinginku padanya. Kuguyur tubuhku dengan air hangat untuk membuka lembaran-lembaran pengharapanku padanya.
Ah..seandainya kau tau kalau aku mencintaimu, seandainya aku mampu berkata jujur malam itu…
Itu terakhir kali aku melihatmu, hingga beberapa tahun kemudian aku mendengar berita pernikahanmu yang megah, karena kau menikah dengan seorang putri pengusaha ternama di kota kita. Selanjutnya pabila kumerindukanmu aku cukup menyisiri di sekitar sepanjang jalan menuju rumahku dan kulihat lapangan bola itu, masih ada di sana sebagai saksi bisu tatapan mata kita.
Sesekali kutanyakan kabarmu dari sepupuku karena kau masih sering berbagi kabar dengannya, katanya kau belum juga mempunyai anak sampai saat ini 6 tahun pernikahanmu.. Hmm…kubayangkan keluarga kecilmu di sana, jauh di negeri seberang, bahagia selalu sekalipun kau belum mempunyai anak.
Aku di sini masih menyimpan rapat-rapat perasaanku padamu, entah kau juga…aku tidak tau karena kita tidak sempat untuk mengutarakannya di malam yang pekat di masa lalu. Biarlah kau tetap menjadi kekasih rahasiaku, sekalipun saat ini aku juga sudah bersama seorang lelaki yang menyematkan cincin pernikahan 3 tahun yang lalu di jari manisku.
Sudah lebih dari 30 tahun aku menyimpan rasa ini padamu, dan tidak seorangpun yang tahu dengan perasaanku ini. Yah lebih 30 tahun sudah sejak aku merasakan benih-benih aneh yang ada di hatiku ketika kita masih sama-sama bermain kelereng dan mengejar layangan yang putus di sekitar kompleks rumah kita.
Cukup pintar juga aku menyembunyikannya dari orang-orang terdekatku pun kakak sulungku. Biasanya tak ada yang terlewatkan untuk kuceritakan padanya bila kubersamanya..
Tapi rahasia yang satu ini aku menyimpannya rapat-rapat lebih dari 30 tahun. Sulit memang, tapi entah mengapa aku tidak mempunyai keberanian untuk menceritakannya.
Beberapa kali aku ingin mengutarakannya, bibirku keluh tak mampu untuk berujar. Hingga sampai detik ini aku tetap menyimpannya di dalam hatiku yang paling dalam, entah sampai kapan aku tidak tahu.
March 5th, 2010 at 13:32
@Chiko…hahahaha…se7 banget!!! koq sama ya…
March 5th, 2010 at 09:13
HN: Sayang ya mereka ga merawat diri baik2
Chiko: “….rata2x udah ga ada cakep2xnya lagi deh wakakakak…sampe kepikiran..untung aja kaga jadi kawin ama mereka huahahaha…*maap ya para mantanku…tapi buat istri2x kalian, kalian tetep nyang paling guanteng kok*”—————Asli ketawa terbahak-bahak baca kalimat ini.
March 4th, 2010 at 20:19
SU: hahahaha…iya iya bener banget…aku ketemu kecengan n mantan2x rata2x cuma liat fotonya di FB…ya ampyun…rata2x udah ga ada cakep2xnya lagi deh wakakakak…sampe kepikiran..untung aja kaga jadi kawin ama mereka huahahaha…*maap ya para mantanku…tapi buat istri2x kalian, kalian tetep nyang paling guanteng kok*
March 4th, 2010 at 16:28
tante SU: ho oh…. para idola2 jaman dulu saiki wes ga karu2an kabeh… Justru sing ora mengidola, jadi keren meren….wkwkwkwkwkkwk.
March 4th, 2010 at 16:23
HN: Ngakak karena mengalami yang serupa tapi tidak sama kan? Hehehe………