Thursday, 4 March 2010
Junanto Herdiawan – Tokyo
Sebagai anak Jakarta, saya meyakini bahwa keahlian tertinggi umat manusia dalam mengemudi mobil adalah di Jakarta. Kalau anda sudah bisa mengemudi di Jakarta, anda telah mencapai maqam (tingkatan) tertinggi dari ilmu mengemudi di jagat raya ini. Ibarat kata, if you can drive in Jakarta, you can drive anywhere in the world . Keyakinan itulah yang saya imani lebih dari dua puluh tahun lalu, saat pertama kali memperoleh SIM (tentu saja mendapatkannya dengan cara nembak).
Tokyo Light
Berbekal SIM Jakarta, saya telah merasakan berbagai dinamika lalu lintas ibu kota. Mulai dari berselancar bersama motor, bajaj, angkot, bis umum, gerobak, becak, hingga menyelip di berbagai jalan tikus ibu kota. Termasuk dalam keahlian itu adalah bagaimana mencari sela di kemacetan yang panjang, hingga skill menyerobot jalan dan tak mau mengalah. Sekali dua kali pernah lah menyerempet dan beradu otot dengan pengemudi lain. Itu hal biasa dari mengemudi di Jakarta. Bagi para homo Jakartensis (sebutan buat mahluk Jakarta), mobil menjadi dunia ketiga, setelah rumah dan tempat kerja.
Saat tinggal di Tokyo, saya menyadari bahwa jalan raya itu punya adab. Begitu pula kalau kita melihat jalan raya di negara-negara maju lainnya. Padahal di Jakarta, adab itu hanya terlihat di tempat ibadah, saat kita bersujud pada Yang Maha. Menangis di tempat ibadah, tapi bengis di jalan raya. Seballiknya di Tokyo, adab ada di mana-mana. Padahal orang Tokyo jarang pergi ke tempat ibadah. Menarik juga kalau dipikir-pikir. Apa itu berarti ibadah tidak ada hubungannya dengan adab di jalan raya ya. Tapi sebaiknya tidak usah kita pikirkan deh, karena sampai vertigo sekalipun kita tak pernah menemukan solusi yang memuaskan hehehe…
Mengemudi (SIM). SIM ini diperlukan bukan hanya untuk mengemudi, tapi juga sebagai tanda bukti diri dan keperluan administrasi lainnya, misalkan kalau mau berobat ke dokter atau rumah sakit. Meski demikian, membuat SIM nya tidaklah mudah. Kita harus mengikuti prosedur dan ikut ujian, baik tertulis maupun ujian mengemudi. Tidak bisa nembak, dan tidak pakai calo.
Meski tanpa calo, prosedurnya sangat mudah dan teratur. Semua prosedur tertulis jelas di papan pengumuman di Kantor Polisi "Samezu Driving Office" yang lokasinya berdekatan dengan daerah Shinagawa. Bahkan di lantai kantornya dipasangi panah warna warni yang menunjukkan prosedur yang harus diikuti. Para petugasnya tidak ada yang arogan atau “mupeng” (alias “muka pengen” mempersulit dan minta tip). Jadi meski prosedural, kita merasa lebih tenang mengikuti birokrasi.
Langkah pertama adalah mengisi formulir dan keperluan administrasi. Setelah beres, kita diminta mengikuti ujian tertulis. Apabila kita lulus ujian tertulis, akan diikuti ujian mata/penglihatan, dan membuat perjanjian untuk ujian mengemudi.
Saat ujian mengemudi tiba, saya cukup deg-degan. Maklumlah biasa mengemudi “semau gue” di Jakarta. Sebelum ujian mengemudi dimulai, para peserta dikumpulkan di kelas oleh seorang instruktur dari kepolisian Jepang. Hari itu ada empat orang yang ikut ujian. Kesemuanya wanita, kecuali saya. Entah mengapa bisa begitu. Instruktur polisi memberi pengarahan sembari mengoceh dalam bahasa Jepang yang sangat cepat. Dengan kemampuan bahasa Jepang yang minim, yang saya dengar di telinga hanya “kuruma!!..kuruma!!..”. Saya tahu itu artinya mobil. Jadi saya tebak-tebak saja maksudnya. Mungkin nanti tesnya sambil naik mobil ya (ya iyaa laaaah).
Satu hal lagi yang tersulit dari mengemudi Jepang adalah tanda peringatan yang kebanyakan menggunakan huruf kanji. Kalau kita buta kanji, akan seperti mengemudi “lost in translation”. Tapi prinsipnya ada beberapa tanda yang kita wajib tahu. Salah satunya adalah segitiga merah yang bacaannya “tomare”. Tanda itu artinya kita harus berhenti penuh, lalu memandang kiri dan kanan, sebelum melanjutkan mengemudi. Kita wajib berhenti walaupun jalanan sepi. Agak “silly” memang buat orang Jakarta yang meski ramai juga diserobot. Ini kok jalanan sepi malah berhenti hehehe. Tapi itulah adab.
Tomare sign, tanda stop
Tiba saatnya saya mengemudikan mobil. Mobil yang digunakan adalah Mistubishi Lancer edisi terbaru. Keren juga siy. Sayapun duduk di kursi pengemudi, penguji di sebelah saya. Seperti biasanya orang Jepang yang lebay kalau bicara, penguji ini nyerocos tak berhenti. Entah apa maksudnya. Saya langsung injak pedal gas, tapi mobil tidak jalan juga. Rupanya saking gugupnya, saya lupa menyalakan mesin. Polisi itu mungkin berteriak-teriak, “nyalain dong mas mobilnyaaaa…….”
Ujian berlangsung, mobil berjalan melewati tempat tes, ada ujian masuk jalan sempit, dan mengikuti rambu lalu lintas. Jalan sempit ini nampaknya yang paling sulit. Untungnya di Jakarta kita terbiasa menerabas jalan tikus yang sempitnya gak ketulungan. Belum lagi kalau papasan dengan tukang baso. Bisa lecet mobil kita.
Samezu track
Selesai ujian, pengumuman hasil ujian pun tiba. Peserta pertama, diumumkan, gagal. Wajahnya merengut dan sebal. Peserta kedua, wajahnya yakin bahwa ia akan lulus. Tapi, ia beberapa kali menabrak pembatas jalan. Gagal juga. Alhamdulillah tiba giliran saya dan dinyatakan lulus.
Moral of the story, adab dapat membawa kita menghargai makna perjuangan. Mendapatkan sesuatu sekecil apapun kalau diperoleh dengan usaha sendiri, lebih menyenangkan dan membawa kepuasan. Sementara itu, mendapatkan sesuatu, tapi dengan cara nembak, nyontek, nyogok, membayar aparat, ataupun menjilat, meski hasilnya bagus sekalipun di mata orang, tak akan pernah membawa kepuasan.
Tempat Tes
March 6th, 2010 at 11:41
Hahaha.. terima kasih atas berbagai tambahan pengalaman dan komentarnya. Memang kalau soal mengemudi ini lebih ke arah seni ya… Di Jakarta, its about survival… betul betul…
March 5th, 2010 at 21:44
Cinde : aku ngakak kemekelen tenan moco tunangan sing saiki dadi bojo? sport jantung tenan, la wong jelas rak iso nyopir kok wani nekad sabung nyawa tenan…..nek aku??????? lebih baik balik numpak bus……..emoh gak wanin main untung2-an…….
Pam-Pam, HN : wes, aku rak wani blasssssssss……..nyetir disini, NEK ORA NABRAK (emboh cm dengkule copot/mati) yo sebaliknya DITABRAK SAMPAI BABAK BUNDHAS/MODIAAAAAAAAAAAR awakku…..
dadi elink crita, dl ktk suami msh ada, ktk pul-kam dia bilang gini : well, I think I’m going to apply international drving licence so I could drive myself while we’re in Indonesia.
aku wes geli kemekelen…..kenapa? soale biar my baberroooooo…..udah pegang setir sejak usia 16 th, tapi kan di Amerika, dia don’t get it at all…….this is hutan belantara Indonesia bo……
laaah tenan, SIM international itu cm digegem thok, begitu sampai di Indonesia dek-e ngomong ngene: OMG! no way……I can’t and I won’t drive here………this is NUTS!…….I could kill in once second or I could kill somebody else right away…….
tanggapanku: cuma mlongo….ndlongop…..wes ngono ngikik2 bin ngakak2……geliiiiiiii banget, batinku: piye tah sampeyan iki? aku kan udah ngomong ber-kali2 rak percoyo……well, now you see it with your own eyes……karo ngomong ke diri sendiri KAPOKMU KAPAN………kkkkkkkkkkk
jd selama di Indonesia, kami sewa mobil/naik taxi…..dan jelas sll disopiri oleh orang lain……komentarnya: wooohooooo…this is nice, we have a driver all the time….I feel sooooo rich…GUBRAKKKKKKKKK!!!!!