Dunia Sudah Kiamat

Dewi Aichi – Brazil

"Sing", saking senengnya sudah bisa online!

siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line

verse 1:
tidur telat bangun pagi pagi
nyalain komputer online lagi
bukan mau ngetik kerjaan
e-mail tugas diserahkan

tapi malah buka Facebook
padahal face masih ngantuk
beler kayak orang mabuk
pala naik turun ngangguk-ngangguk

sambil ngedownload empitri
colok i pod usb kiri
ngecekin postingan forum
apa ada balesannye? belum

biar belum sikat gigi belum mandi
tapi kalo belum on line paling anti
liat friendster myspace, youtube
me and him, everybody you too

verse 2:
nah udah mandi siap berangkat
langsung cabut takut terlambat
tak lupa flash disk gantung di leher
malah lupa sepatu jadi nyeker

flashdisk isinya bokep atau lagu
kalau ada kerjaanpun gue ragu
kalo emang berani coba pada ngaku
cek isi foldernya satu satu

di kantor online pakai proxy
walau diblok server bisa dilolosi
namanya udah ketagihan internet
produktifitaspun kepepet

jam kerja malah chatting ym
ngobrol online sama ehehem
atasan lewat langsung klik data
pura pura kerja di depan mata

bridge:
makan siangpun aku cari sinyal wifi
mengapa ku kecanduan oh why why
kadang terasa bagai tak berdaya
ingin ku berubah. . eh ada e-mail dah dulu ya

verse 3:
cek e-mail spam semua
email benerannya cuma dua
yang satu email lama
yang satu forwardan yang sama

ngarep komentar buka Friendster
loading, gue tinggal beser
pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server

ya udah download lagu
bajakan gratis gak pake ragu
saykoji satu album
setengah jam bisa rampung

sore sore bosen hambar
ide nakal cari cari gambar
download video dengan sabar
ketahuan pacar digampar
Kalo mau liat clip nya di youtube di sini

Kenapa sih? Ada apa sih? Nah ini dia yang mau aku ceritakan. Inilah hebatnya kota Sao Paulo he he. . . . 4 musim dalam 1 hari! Akhir-akhir ini hujan selalu mengguyur kota Sao Paulo, kota di mana aku tinggal sekarang. Dengan berakhirnya jam summer yang dipercepat jam, maka tepat tanggal 20 Februari jam 12:00 WIB, jam kembali dinormalkan. Itu artinya summer telah berakhir.

Hujan dan suasana gelap selalu menggelayuti kota Sao Paulo. Bahkan hujan yang mengguyur selama 1 minggu terakhir ini, telah mengakibatkan beberapa jalan rusak berat, dan banyak bangunan lama yang roboh. Beberapa jalur lalu lintas dialihkan. Banyak tempat yang mengalami banjir parah. Metro tidak beroperasi sebagaimana mestinya, sehingga menjadikan masalah bagi para pengguna Metro.

Mati lampu hampir hampir setiap saat. dan minggu lalupun mati lampu seharian. Saluran telepon di rumah terganggu. Modem kena petir lagi untuk yang ke dua kalinya. Dengan demikian sejak tanggal 22 Februari tidak bisa mengakses internet. Ditambah mati lampu, tidak bisa berbuat apa-apa. Mau kerja tidak bisa, karena pekerjaanku yang membutuhkan internet. Menyalakan komputer tidak mungkin, mencharge handphone juga tidak bisa, mau nonton tv tidak bisa, mau mandi tidak ada air panas, memasakpun tidak bisa karena kompor di rumahku memakai tenaga listrik. Jadi lengkap sudah penderitaan kami he he he. . . .

Menderita? Ahhh. . . . tidak sama sekali. Malah aku menikmatinya. Aku tidak lagi menggunakan handphone seperti di Indonesia. Jadi handphone hanya nganggur saja. Kalau cuma tidak bisa melihat tvpun juga ngga masalah, malah ada waktu buat jogging he he. . , eh kalau jogging malah kebutuhan pokok ding! Paling tidak 40 menit/hari cukuplah. Tidak bisa memasak karena mati lampu adalah kebahagiaan lahir batin ha ha. . karena terus terang aku tidak bisa memasak, jadi kalau mau ganti-ganti menu, aku selalu buka-buka resep yang ada di Baltyra (terima kasih untuk para penulis resep di Baltyra)! Jadi selama tidak bisa memasak ya kami beli makanan siap saji. Yang repot tuh kalau urusan mandi, tanpa listrik, kami tidak bisa mandi, otomatis tidak ada air panas, memakai air dingin mana tahaaaannnnn, airnya dingin kaya air es, bisa mati beku dikamar mandi.

Telepon putus, modem kena petir. Tidak bisa mengakses internet, walahhhh. . rasanya seperti hidup di jaman batu (padahal tidak pernah tau rasanya hidup di jaman batu). Kadang bingung mau ngapain? Kalau pekerjaan rumah dan pekerjaan sambilan sudah beres, biasanya kan baca-baca berita tanah air, baca Baltyra itu pasti, baca gosip juga he he. . sehari tidak mengakses internet saja rasanya seperti ketinggalan banyak hal. Apalagi tidak membuka Baltyra, jika sehari ada 3 sampai 5 artikel baru, maka dalam 1 minggu paling tidak sekitar 30 artikel, jadi untuk mengejar artikel yang ngga sempat dibaca selama 1 minggu bisa megap-megap nih!

Luar biasa juga ya ketergantungan terhadap kemajuan teknologi jaman sekarang? Aku yakin, banyak orang akan merasakan aneh atau repot jika tidak ada listrik beberapa hari saja. Akan sangat kehilangan jika ketinggalan hp di rumah, atau kehilangan hp. Khususnya bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, yang kesehariannya tidak bisa lepas dari listrik, hp, ataupun internet.

Bayangkan jika anda seorang pegawai kantor, yang kehabisan baju untuk ngantor, mungkin dikarenakan hujan dan baju-baju tidak kering, dan yang keringpun belum sempat disetrika. Pas butuh untuk setrika tiba-tiba mati listrik, mana sudah mepet jam kerja, apa yang bisa anda lakukan? Nekat memakai baju yang tidak disetrika? Demikian juga halnya dengan hp, sepertinya akan lebih panik jika kelupaan hp dibanding kelupaan suami/istrinya he he. . . , memang manusia, sudah semakin aneh saja!

Yang sekarang sudah terbiasa mengendarai mobil, berjalan 2 km. saja sudah terasa sangat jauh, apalagi ditambah hujan atau panas terik. Maka yang sudah tidak biasa lagi jalan kaki akan sangat merasa repot. Jalan kaki jarak jauh memakai sepatu hak tinggi 15 cm, wah bisa-bisa ngga kerja sebulan gara-gara keseleo. Seandainya semua redaksi Baltyra tidak bisa online saja selama seminggu, pasti kita-kita pada tanda tanya, kok Baltyra ngga di update, kok ngga ada artikel baru, kok Baltyra mati suri dan sebagainya.

Ingatanku melayang pada saat aku masih kecil. Sampai dengan umurku 7 tahun belum ada listrik masuk desa. Jadi penerangan pada waktu itu memakai lampu petromak atau lampu teplok. Untuk penerangan di luar rumah, banyak yang memakai botol yang diisi minyak tanah, kemudian dikasih sumbu dari kain bekas. Boro-boro lihat tv, waktu itu belum punya tv, jadi kalau pengen lihat tv, bergabung dengan orang sekampung, waktu itu tv masih pakai aki, jadi hanya bisa bertahan beberapa jam saja. Salah siapa coba? Ini salah orang tuaku yang melahirkanku terlalu dini he he he. . . , coba aku dilahirkan di tahun milenium, pasti canggih, begitu lahir sudah punya akun Facebook.

Tapi dengan keadaan seperti itu, kita tidak akan pernah berkata, "yah. . mati lampu, yah. . ngga bisa lihat sinetron, yah ngga bisa sms, hp lowbat, ngga bisa online, dan lain-lain. Dulu, juga ngga ada rekening tagihan listrik, tilpon, kartu kredit, setiap hari bisa masak, belajar, setrika, tanpa terganggu dengan adanya mati lampu. Dulu bekerja, dapat gaji untuk membayar sekolah dan membeli sayuran, titik! Sekarang kerja lembur-lembur, dan kadang ditambah stress dengan kemacetan di jalan, giliran gajian, malah disetorin lagi ke telkom, ke PLN, ke bank. Kasihan deh lo he he. . . apalagi yang di luar Indonesia, rinduku terkatung-katung tidak bisa pulang kampung, tiket mahal ik!

Banyak dilema, tapi tidak bisa dipungkiri hasilnya dari kemajuan teknologi jaman sekarang ini. Benar-benar canggih. Sekarang segalanya online, apa-apa online, dikit-dikit online, bayar utang online, sekolah online, beli tiket dan belanja online, cari pasangan hidup, pacaran, menikah , sampai-sampai ML pun online . Nah. . . kalau lagunya Saykoji itu aku suka, itu lho yang" online-online", he he. .

Perkembangan teknologi ibarat lari, kita selalu mengejarnya untuk meraihnya, ternyata setelah bisa diraih, ada lagi yang baru, yang lama belum juga belajar, sudah muncul yang baru. Apakah kita selalu ingin berusaha untuk bisa meraih yang tercanggih? Silahkan saja. . . ! Yang penting sekarang aku bisa online lagi, mudah-mudahan modemnya ngga kena petir lagi, amin!

 

Ilustrasi: seeklogo.com

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.