Sophie’s note :
Tanpa sengaja melihat tulisannya di Wall FB AMH, setelah membaca notenya, dan menjelajahi blog serta web asuhannya, ternyata Ibu muda yang ini luar biasa. Lulusan S1 Universitas Andalas, S2 di Biokimia ITB, dan S3 di Tokyo Tech. Mendirikan ACI, aku cinta Indonesia Foundation, organisasi non Pemerintah yang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Saat ini ACI telah menerbitkan 5 buku. Mengenai ACI dapat dilihat di http://www.aci-foundation.org/. Ini salah satu tulisannya, selamat membaca.
Jumiarti Agus – Machida
Saat itu kami baru balik dari Indonesia, tepatnya September 2009. Mungkin anak letih dan lelah atau kondisi yang capek di Indonesia. Ditambah panas, dan cuaca kurang bersahabat dibandingkan dengan Jepang yang bersih dan segar. Sudah ada dalam dugaan jangan-jangan Rais pulang ke Jepang sakit. Ternyata memang benar. Sebab dulunya Najmi (6 bulan) saat pulang pertama kali, ia juga membawa oleh-oleh campak dari Indonesia.
Sampai di Jepang, batuk Rais makin menjadi. Saya baru sempat membawanya ke RS di depan rumah kami di Minamimachida setelah hari kedua. Dengan berjalan kaki selama 5 min kami bisa sampai ke RS. Dokter memberikan tiga macam obat, satunya alergi, bronkhitis, satunya obat batuk (pencahar dahak) dan satunya lagi antibiotik.
Karena antibiotiknya pahit dan teknik meminumkan obat tidak tepat, maka obat yang diterima, tak masuk ke dalam tubuh Rais. Saya pun tidak mengira kalau batuknya akan bertambah. Ternyata cek ulang, dokter menyesalkan, karena akumulasi dahak di dalam tubuh Rais, membuat badannya panas.
Rais dirontgen saat itu. Keputusannya ia harus dirawat, agar bagian dalam tubuhnya bersih dari kotoran batuk.
"Silahkan pilih, mau dirawat inap di RS mana? Macidashimin byoin atau Yamato Byoin?"
Saya masih bimbang, yang satu bisa gratis biaya berobat dan rawat inap, tapi tempatnya jauh. Sedangkan Yamato walaupun berbeda daerah dengan kami tapi dekat dan bisa dicapai dengan sepeda. Sebenarnya dua-duanya bisa gratis. Asalkan setelah keluar dari RS nanti, struk bayaran diserahkan pada pemerintah kota bagian kesehatan anak.
"Ya saya pilih Yamato Byoin saja"
Dokter segera menghubungi pihak RS di kota lain itu, beda kabupaten dengan tempat tinggal kami. Semua surat, kartu asuransi segera di faxkan oleh petugas administrasi rumah sakit ke rumah sakit yang akan kami datangi.
"Ayo cepat saja, agar bisa ditangani cepat di sana". Dokter itu pun mengatakan kalau nanti dokter di sana adalah Dokter Shinjou. Sebegitunya perhatian dan
kepedulian tenaga medis di sini. Semua segera melakukan tugasnya dengan cepat.
Dokter yang memeriksa Rais saat itu bahkan sempat berkomunikasi, dengan dokter di RS Yamato. Bahkan surat mengenai catatan pemeriksaan pun tak lupa dibuatkan. Semuanya serba cepat. Data-data sudah ada di komputer, tentang riwayat pemeriksaan.
Walaupun dokter yang memeriksa hari itu bukanlah dokter yang rutin menangani Rais, tapi ia masih bisa membuatkan surat riwayat kesehatan Rais. Lagi-lagi kemajuan teknologi menggampangkan semuanya.
Kebanyakan RS di Jepang saat ini bukan sistem catat di kertas lagi, tapi semua data disimpan di komputer. Canggih memang, dari satu bagian ke bagain lain, tak harus antrian mendaftar, cukup dari dokter peertama yang mendaftarkan ke bagian lain yang akan dikunjungi di RS yang sama.
Urusan di RS Minamimachida hampir selesai, hanya tinggal menunggu pembayaran print-nan hasil rontgen. Aduh bagaimana ya uang tidak ada, karena tak mengira kalau akan membayar.
Saat itu saya baru kehilangan dompet yang tersimpan di dalam tas yang berisi lap top. Uang sepersen pun tak dibawa, karena mikir kan hanya berobat Rais, yang biasanya gratis berobat dan gratis beli obat. Biaya berobat gratis karena sudah dicover oleh asuransi. Hingga anak umur 6 tahun semua gratis. hanya umur SD baru membayar sekitar 100 yen setiap kali berobat.
"Sumimasen (maaf) saya tak membawa uang, boleh bayarnya nanti saja? setelah saya antarkan anak saya ini masuk RS di Yamato? Atau mungkin besok pastinya"
"Ohya tak masalah, o daijini shite kudasai! (semoga cepat sembuh ya)." Kata-kata yang selalu diucapkan oleh para medis atau orang Jepang ketika mengetahui seseorang sakit.
Kata-kata penguat, penyejuk, dan penyemangat! Saya beergegas keluar. Segera terpikir ingin naik taksi, agar cepat sampai di RS Yamato. Tapi bagaimana, uang tak punya? Tak ada rasa takut dan cemas sedikut pun. Saya berkata jujur tak punya uang.
Sembari berurai air mata, karena sedih yang mendalam, saya menerangkan kepada supir taksi, kalau saya harus berada cepat di RS Yamato. "Berapa menit ke sana?"
"Dekat kok, cuman 15 menit." Jawab supir taksi,
"Kalau gitu, bisa antarkan saya dulu ke post? Saya mau ambil duit di sana, karena terus terang saya tak punya uang. Saya pikir anak saya tak akan masuk RS seperti
kejadian hari ini!"
"Baik saya mengerti."
Sopir taksi itu pun mengantarkan kami ke Post. Bahkan dia mempersilahkan saya pergi dengan tenang untuk mengambil uang. Kebetulan dalam dompet plastik kusus dokumen kesehatan keluarga yang selalu ada dalam tas saya, ada buku tabungan post. Kartu pos telah raib bersama dompet yang hilang di dalam tas berisi komputer kerja saya.
Alhamdulillah, dengan buku tabungan berhasil mengambil uang di ATM Japan post saat itu.
"Terimakasih" saya berucap pada supir taksi. Najmi dan Rais juga anteng di dalam taksi sepeninggal saya. Alhamdulillah tak ada kejadian jahat juga dari supir taksi. Ia mengerti dengan kondisi kami yang tengah dilanda musibah.
Kami pun diantarkan hingga ke pintu UGD oleh supir taksi. Barang dan baby car ia bantu menurunkan. Dan ia mengantarkan kami hingga depan pintu masuk. Ia juga yang memastikan bahwa pintu masuk UGD adalah tempat yang kami masuki.
Sampai di meja pendaftaran, dengan menyebutkan nama Rais saja, orangnya sudah mengerti, kalau Rais adalah pasien yang direkomendasikandas ikan dari RS Minamimachida. Semua proses pendaftaran dengan cepat dilakukan. Dan dokter yang akan memeriksa Rais pun segera datang setelah pendaftaran selesai.
"Shinjou desu, yoroshikuonegaishim asu!"
Dokter itu yang menyapa duluan, dan memberikan bungkukan badan yang dalam. Sementara saya antara terdengar dan tidak suara yang saya keluarkan, karena masih bercampur tangis.
Setelah diperiksa, dokter memberitahukan, bahwa kondisi Rais Insya Allah tidak apa-apa. Ia akan baik dalam masa 3 hari. Dokter menjelaskan , pertama ia akan berusaha membantu untuk menurunkan panas badan Rais hingga normal, setelah itu kotoran atau dahak yang tersimpan di dalam tubuhnya, akan ganbatte diatasi.
Alhamdulillah memang dalam waktu 3 hari semuanya jadi baik. Rais tak susah lagi bernafas, karena dahaknya sudah terurai keluar. Ia sudah ceria lagi. Dan bisa berkumpul bersama kami lagi. Sungguh pelajaran berharga buat kami semuanya.
Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kejadian ini. Pedulinya pihak RS, mereka memang menfungsikan dirinya sebagai orang yang memang tugasnya menolong yang sakit. Menyegerakan proses medis, dan membantu kelancaran semuanya.
Pihak supir taksi pun tak kalah penting pertolonganya. Sungguh semuanya berjalan baik. Saling bantu, saling kasihan dan iba, meskipun kami dan mereka berbeda bendera, berbeda aqidah tapi sungguh mereka tak membedakan manusia dari segi bentuk dan rupanya, warna kulit, agama dan bangsa. Sungguh suatu hal bijak yang patut ditiru.
Merujuk pada pemberitaan di Warta Kota tentang Bapak Supriono yang menggendong mayat anaknya, sungguh sangat memilukan sekali. Seorang yang pantas dikasihani, ditolong dan dibantu, tapi nyatanya tidak.
Apalagi ia berada di negerinya sendiri yang mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Ia berhak mencicipi kekayaan alam itu. Ia berhak diberi perlakuan yang sopan, ramah dan baik oleh semua pihak yang ada. Ia berhak mendapat fasilitas.
Berbeda sekali, di negeri kita pejabat yang difasilitasi. Orang yang sudah berduit malah dikasihani, dan ditanggung semua biaya biaya yang mungkin ia butuhkan. Di Jepang sini, pemerintah adalah pelayan rakyatnya. Pemerintah ganbatte untuk membuat umatnya hidup sejahtera, semua bisa makan makanan yang sama. Tapi tidak begitu dengan negeri kita Indonesia tercinta.
Sungguh menyedihkan. Memang sudah tak bisa lagi kita rakyat ini diam dan menelan kejadian demi kejadian sedih di negeri kita. Yuk bertolong-tolongan demi kebaikan. Kita adalah saudara. Semoga jayalah Indonesia kita.
Ilustrasi: southwestmichiganfirst.com











March 9th, 2010 at 08:08
Josh…thanks sudah mengutipkan. Artikel yang bagus sekali, biar kita semua bercermin (bercermin mlulu, gak berubah2 juga…he he he). Thanks juga link-nya. Waduuuuh….bagus sekali semangat ibu satu ini…..
March 9th, 2010 at 07:55
Dari dua hal saja, sopir taksi dan dokter, tergambar wajah suatu negeri. Terimakasih artikelnya
March 9th, 2010 at 07:53
klo kata orang..di indonesia kalo ga punya duit ya ga bisa berobat = koit… hikkz..kasian banget.. mustinya kan punya ga punya duit harusnya dilayani….namanya jg nyawa orang.. >__<
March 9th, 2010 at 07:47
Memang pelayanan kesehatan di Jepang sangat bagus.. Indonesia..oh indonesia…kapaan ya bisa seperti ini.. huh..
OOT dikit.. Ibu Jumiarti..kita tetanggaan neh..hahaha.. Saya sering maen ke minami machida..hahhaa…
March 9th, 2010 at 07:46
Mbak Ijum, welcome dan terima kasih sudah berbagi di Baltyra, make yourself at home ya, semoga kerasan…
Ngenes sekali kondisi di Tanah Air jika dibandingkan dengan di Jepang ya…
March 9th, 2010 at 07:29
*SIGH*
March 9th, 2010 at 07:17
Terimakasih tulisannya sudah dimuat di sini, asalanya saya nulis karena ada postingan Pak Supripto di milis AMII (Asosiasi Muslimah Indonesia Internasional). Jadi saya tulis cepat saja,.. dan posting. Jadi tulisannya nggak begitu baik, karena tak sempat saya cek EYD-nya.
Mohon maaf kalau ada salah tulis.
Terimakasih teman teman yng sudah komen;
ya itulah negeri kita, saya dan teman teman juga sedih yang mendalam. Tapi mari kita ikut dalam perbaikannya, jangan malah membuat tambah keruh, misal demo dan kekerasana yg juga merugikan negeri kita. Mari berbuat yg terbaik, dan jangan terapkan cara cara tak baik untuk setiap usaha dan kegiatan yg kita lakukan. Justeru itu kami bergerak di ACIKITA (ini nama yang sekarang) jadi bukan ACI lagi.
Ohya sebagai perbaikan, ACIKITA sudah menerbitkan 7 buku, yg bertema bagus untuk dibaca oleh seluruh rakyat Ina, di sana banyak masukan untuk negeri kita.
salam perjuangan
Ijum
March 8th, 2010 at 23:56
Jumiati: thanks ya sudah sharing disini. Ngga tahu mau ngomong apa deh, rasanya capek dengan segala hal di Indonesia, ngga pernah berubah dan semua pejabat cuma memikirkan kekuasaan dan uang tanpa peduli soal rakyat. Dari yg atas sampai bawa akhirnya semua sama, rasa sosial sdh hilang, yg ada … uang yg berkuasa. Salam prihatin!!
March 8th, 2010 at 23:29
Jumiarti : begitulah kenyataannya di negeri sendiri………kenyataan PAHIT……yg lbh pait dr jamu yg ter-pait, pil pait dan pare pait…….
March 8th, 2010 at 23:22
BU Jumiarti, pelayanan di negara yang dikatakan tak beragama justru lebih manusiawi. Di Indonesia Manusiawi dan pelayanan hanya dapat terlaksana bila berteman dengan duit. Salam!!