Danau Toba Berbenahlah!

Leidy – Anywhere


Siapa yang tidak kenal dengan Danau Toba, danau yang terletak di pulau Sumatera Utara itu dikenal sebagai danau vulkanik terbesar di dunia yang di tengah-tengahnya terdapat pulau Samosir. Keindahan dan keunikannya telah menyedot perhatian banyak orang di seluruh dunia. Ditambah lagi dengan ditemukannya teori terciptanya Danau Toba ini, semakin membuat orang-orang berdecak kagum dibuatnya sst..sudah pada tahu kan?

Banyak turis dalam dan luar negeri berbondong-bondong untuk menyaksikan keindahan alam Danau Toba. Ayo sahabat Baltyra siapa nih yang belum pernah ke sana?

Selain bisa berenang dan merasakan segarnya air Danau Toba ada banyak juga tempat-tempat yang bisa dapat dikunjungi di sana, seperti mengunjungi lokasi legenda batu gantung, belanja segala macam barang-barang khas yang dapat dijadikan cindera mata di Tomok, menginap dan mengelilingi Tuk-tuk, menikmati panorama keindahan Haranggaol, dll.

Beberapa hari yang lalu aku membaca berita di Kompas online yang memberitakan kalau jumlah turis, baik turis domestik maupun mancanegara merosot tajam bila dibandingkan dengan jumlah turis yang datang berkunjung ke sana sebelum tahun 1996, kira-kira 14-15 tahun yang lalu.

Sahabat Baltyra:

Lima belas tahun yang lalu kondisi Danau Toba sangatlah lain bila dibandingkan dengan saat ini. Aman, bersih, asri dan terasa sekali masih naturalnya semua lokasi-lokasi pariwisata di sekitar Danau Toba. Tak heran pada saat itu bisa dikatakan turis mancanegara apabila ingin bertandang ke pulau Sumatera selalu menomorsatukan tujuannya ke Danau Toba. Bisa ditanya sama Oom Djoko Paisan sepertinya. Benar tidak Oom?

Namun dari tahun ke tahun jumlah turis yang berkunjung ke sana mengalami penurunan yang sangat drastis. Infrastruktur yang tidak memadai dan kurangnya kesadaran masyarakat di sekitar untuk menjaga nama baik lokasi Danau Toba adalah sebagai contoh nyata penyebab turunnya jumlah turis yang datang.

Orang-orang yang notabene bekerja dan mendapatkan penghasilannya sehari-hari di area Danau Toba tidak menjaga atau melestarikan keindahan dan kemolekan Danau Toba itu sendiri. Jadi kalau menurutku hal utama yang membuat turis enggan untuk berkunjung adalah perilaku orang-orangnya yang membuat lokasi pariwisata menjadi “bad image”.

Banyaknya keluhan-keluhan dari orang-orang yang pernah berkunjung ke sana yang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan selama berada di sana. Banyaknya bule-bule yang mengeluh betapa tidak nyamannya mereka dengan ulah para guide-guide lokal.

Ketika para pemandu wisata melihat bule baru dan berjalan menuju kapal penyebrangan, mereka akan berbondong-bondong mengikuti dan mempromosikan tempat penginapan yang ada di Tuk-tuk. Memang benar mereka mempunyai tugas untuk menggilir turis ke hotel atau guest house tempat mereka mendapatkan fasilitas gratis kamar dan makan.

Namun alangkah baiknya apabila membiarkan dan memberikan keleluasaan kepada bule-bule yang datang ke sana untuk menentukan sendiri ke mana mereka akan menginap, karena mereka juga sudah mendapatkan semua informasi dari buku panduan Lonely Planet jauh sebelum mereka tiba di sana. Toh kalau mereka tidak tahu, pasti mereka akan bertanya bukan?

Sebenarnya masih banyak lagi penyebab-penyebab kenapa orang-orang sudah mulai malas dan enggan untuk berkunjung ke Danau Toba, seperti sikap tidak jujur dari para pedagang buah-buahan di sepanjang area Danau Toba, tutur kata dari masyarakat yang tidak sopan dan tidak senonoh kepada pengunjung yang apabila berpakaian “minim”, kotornya fasilitas toilet umum yang ada di dalam restaurant-restaurant dan juga sudah tidak layaknya kondisi sebagian kapal-kapal penyebrangan yang ada di sana.

Aku sendiri sudah mulai jenuh dan muak dengan perilaku orang-orang di sana. Banyak pengalaman buruk selama berada di Danau Toba. Aku yang pernah dibohongi menjadi sangat enggan dan malas untuk kembali ke sana. Oleh karenanya dalam beberapa tahun terakhir ini aku sudah tidak pernah lagi ke sana. Biasanya setiap ada waktu dan dana selalu menyempatkan diri untuk pergi ke Danau Toba. Jadi ke sana itu tidak terhitung sudah berapa kali.

Aku merasa tertipu pada saat membeli mangga Samosir di pinggiran danau. Ceritanya pada saat aku dan seluruh keluargaku jalan-jalan ke Danau Toba, kami menyempatkan belanja dan membeli mangga Samosir, buah yang sangat khas dan selalu kita lihat dipajang di toko-toko atau di sepanjang jalan menuju area danau.

Mangga ini sendiri bentuknya kecil dan rasanya manis sekali, dan sangat banyak kita jumpai apabila memang lagi musimnya, aku lupa bulan berapa musimnya, ada yang tau gak? Kalau ke sana pasti selalu tidak lupa untuk membelinya sebagai oleh-oleh khas dari sana.

“Inang-inang” penjual mangga tsb memajang mangga-mangga dagangannya dengan kondisi yang sangat bagus dan menggiurkan, sehingga setiap mata memandang pastilah ingin turun dari bus atau mobil untuk membelinya.

Kita juga diberi ijin untuk mencoba (icip-icip) mangga tsb. Jika kita ingin membeli untuk dibawa pulang, kita diijinkan untuk memilih-milih mana yang kita inginkan dan selanjutnya ditimbang sesuai berapa kilogram yang mau kita beli.

(Pada saat kita lengah beberapa detik saja) saat aku membuka tas dan membuka dompet untuk mengambil uang, maka secepat kilat si inang penjual menggantikan kantungan plastik yang berisi buah mangga atas pilihan ku itu dengan kantung plastik yang sengaja diisi dengan satuan mangga per 1 kg, 2kg, 3kg, dst dengan kualitas mangga yang sudah layu, jelek dan busuk pastinya (mangga yang tidak laku).

Pada saat kami pergi meninggalkan lokasi barulah sadar kalau mangga-mangga pilihan kami itu telah berubah menjadi mangga-mangga buruk rupa dan busuk. Mau kembali untuk menukar dan marah-marah, sepertinya tidak mungkin karena mobil sudah jauh dari lokasi dan sangat sulit untuk memutar arah.

Modus mereka ini sangat licik dan cepat, mereka mengisi kantung-kantung plastik dengan mangga atau buah-buahan yang tidak layak jual lagi dan menempatkan kantungan plastik ini di bawah meja tempat rak-rak dagangan mereka. Sehingga pada saat pembeli lengah sedetik saja, mereka dengan cepat menggantikan kantung plastik yang berisi mangga atau buah-buah an yang bagus itu dengan kantung plastik yang berisi mangga atau buah-buah an yang jelek dan busuk.

Untuk teman-teman hati-hati kalau mau membeli buah-buah an di pinggiran sekitar jalan menuju danau. Aku sarankan lebih baik belilah ditoko-toko yang terdapat di dalam area danau, walau harganya sedikit mahal tapi kita puas dengan hasilnya.

Contoh di atas adalah satu dari sekian banyaknya pengalaman-pengalaman buruk dan menjengkelkan ketika berkunjung ke sana. Bahkan semua orang hampir pernah sama mengalami seperti pengalamanku itu. Kalau sudah begitu, coba siapa yang mau untuk mempromosikan Danau Toba kepada orang lain? Yang ada merasa trauma dan pengalaman yang tidak terlupakan seumur hidup bukan?

Sebenarnya siapa yang patut untuk dipersalahkan atas kejadian tsb? Pihak Departemen Pariwisatakah? Atau SDM nya sendiri? Aku rasa kedua-duanya berkaitan erat, bagai mata rantai yang tidak bisa untuk dipisahkan satu sama lain bukan?

Memang sewajarnya Departemen Pariwisata untuk terus memberikan pengawasan atau pengarahan kepada pedagang atau orang-orang yang bekerja di sekitar lokasi Danau Toba.

Namun sudah tentu juga peran dari orang-orang tsblah yang paling utama harus menyadari kalau mereka mencari nafkah dari jumlah turis yang datang berkunjung ke sana, sehingga mereka harus berusaha memberikan kesan yang baik dan jujur pada setiap turis yang datang.

Tapi sepertinya mereka tidak mengerti dengan itu semua, yang mereka tahu hari itu mereka dapat keuntungan yang melimpah ruah dari hasil “curang dan berbohong” kepada turis. Mereka tidak menyadari lambat laun perbuatan mereka itu akan mengakibatkan kesalahan fatal dan akhirnya apa yang terjadi sekarang… turis-turis pada malas dan “ngeh” untuk berkunjung ke sana.

Di samping itu harga ongkos kapal penyebrang dari Ajibata ke Tomok atau Tuk-tuk tidaklah sama harganya dengan harga yang telah ditetapkan apabila si pemungut ongkos di dalam kapal melihat penumpang baru atau turis lokal dengan wajah “culun”.

Kalau dengan turis mancanegara atau bule mereka tidak bisa untuk menaikkan harga tarif ongkos karena para bule-bule pada umumnya selalu mendapatkan informasi dari buku panduan Lonely Planet. Mereka hanya akan atau berani memasang tarif ongkos lebih mahal dari tarif ongkos yang telah ditentukan kepada para pengunjung baru. Jadi teman-teman kalau pergi ke Danau Toba please pasang wajah serem dan “sok tahu” hehehe..

Begitu juga dengan harga sewa kamar hotel atau guest house. Para pemilik hotel dan guest house akan memasang tarif lebih mahal kepada wajah Indonesia atau biasanya mereka sebut “turis lokal” daripada kepada bule. Alasan mereka cuma satu karena bule akan memesan makanan yang harganya kadang-kadang lebih mahal dari harga kamar daripada turis lokal yang selalu membawa makanan dari luar (tidak pernah order makanan).

Ditambah juga dengan kondisi jalan-jalan di sepanjang pulau Samosir seperti Tuk-tuk dan Tomok sangatlah memprihatinkan karena tidak adanya niat dari dinas pariwisata daerah dan pusat untuk memperbaiki dan memuluskan jalan-jalan tsb. Sepertinya para “pejabat ini” seakan-akan menutup mata dengan kondisi yang sangat mengenaskan itu. Tahunya hanya mengeluh saja dengan “angka” tanpa mau memperbaiki dan membenahi kebobrokan yang ada didepan mata.

Namun alangkah baiknya juga orang-orang di sana memperbaiki tingkah laku mereka. Sudah sepatutnyalah orang-orang di lokasi Danau Toba itu sendiri yang paling utama mau berbenah diri dan membuka mata mereka lebar-lebar dalam melihat kesemrawutan dan ketidaknyamanan dari hasil perbuatan mereka itu sendiri. Jangan hanya bisa menyalahkan dari kinerja dinas pariwisata saja tapi mulailah memperbaikinya dari diri sendiri.

Seperti mulai sadar membuang sampah pada tempatnya, menyediakan toilet-toilet yang bersih dan layak pakai, berperilaku jujur pada turis-turis yang membeli dagangannya, memasang ongkos tarif kapal penyebrang sama rata dengan wajah pengunjung baru, memasang tarif kamar hotel dan guest house sama rata antara bule dengan wajah lokal. Bertutur kata sopan kepada turis-turis yang datang.

Sehingga turis-turis merasa aman dan bisa menikmati liburannya dengan santai dan ketika kembali ke rumah dan negaranya pasti mempromosikan semua itu kepada teman-teman dan semua keluarganya.

Dengan adanya promosi positif dari mulut ke mulut, aku yakin masa kejayaan Danau Toba akan bisa direngkuh kembali. Kalau sudah begitu siapa yang diuntungkan? Orang-orang yang mencari penghasilan dari Danau Toba bukan?

Aku berharap kiranya tulisan ini dapat memberikan masukan kepada mereka masyarakat Danau Toba. Berbenahlah untuk mengembalikan kejayaan Danau Toba!

Salam Persahabatan
Leidy in Anywhere

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.