Junanto Herdiawan
Di tengah dunia yang bergerak cepat, arti kata lambat tak memiliki tempat. Arus modal, manusia, dan segala kebutuhannya ingin diperoleh dengan cepat. Mulai dari kereta api peluru berkecepatan tinggi, penarikan uang tunai dan transfer dalam sekejap, hingga makanan siap saji. The faster, the better.
Kehidupan serba instan, dan dunia lintang pukang. Itulah frase yang dikenal dalam dunia masa kini. Anthony Giddens bahkan menulis sindrom ketergesa-gesaan ini dalam bukunya The Runaway World.
Globalisasi juga menuntut kecepatan. Di bidang ekonomi, kecepatan adalah kata kunci. Mereka yang bisa cepat menyajikan sesuatu pada pelanggan, cepat memberikan yang terbaik, akan memenangkan persaingan. Namun krisis global membuktikan bahwa kata cepat tak selamanya berarti baik.
Dalam laporan International Energy Agency, kata lambat ternyata memiliki keuntungan. Hal ini berlaku di dunia pelayaran. Perusahaan pelayaran Maersk membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk membawa kargo dari Jerman ke Cina. Hal ini lebih lambat satu minggu dibandingkan dua tahun lalu.
Namun kelambatan ini justru dianggap sebagai sebuah kemajuan bagi perusahaan tersebut. Dengan mengurangi kecepatan kapal hingga setengahnya, perusahaan pelayaran telah mengurangi biaya bahan bakar sebesar 30 persen. Bukan hanya itu, beberapa perusahaan juga memperoleh pengakuan sebagai perusahaan perkapalan yang mengurangi emisi gas karbon dan menjaga lingkungan.
Dalam berita di harian International Herald Tribune disebutkan bahwa meningkatnya harga minyak dunia, dan berbagai kesadaran tentang lingkungan, telah mengubah perilaku bisnis perkapalan. Emisi karbondioksida adalah buangan yang dianggap merugikan lingkungan, dan berlayar lebih lambat adalah sebuah langkah maju. Menurut International Energy Agency, apabila semangat memperlambat ini juga dilakukan oleh pesawat dan mobil, maka akan ada pengurangan emisi karbon dunia global hingga 20 persen.
Baltic Dry Index / sumber : Bloomberg
Salah satu indikator yang kerap digunakan untuk memonitor pelayaran global adalah Baltic Dry Index. Indikator tersebut menunjukkan besarnya permintaan barang-barang antar negara. Kalau kita lihat, sejak krisis global tahun 2008, Baltic Dry Index mengalami penurunan drastis (lihat grafik). Hal itu bisa jadi karena perekonomian dunia terkena krisis sehingga menurunkan permintaan akan pengiriman barang antar negara.
Turunnya Baltic Dry Index itu juga meningkatkan biaya bagi industri pelayaran. Langkah “slow is better” merupakan salah satu cara yang dilakukan industri tersebut untuk mengurangi biaya tinggi. Selain itu, KTT Lingkungan di Kopenhagen Desember lalu juga mengangkat isu tentang carbon tax dan emisi lingkungan. Apabila ketentuan itu diterapkan, maka langkah mengurangi biaya melalui perlambatan kecepatan akan diikuti oleh banyak perusahaan pelayaran.
Tentu, langkah itu menuai debat dalam tuntutan dunia global yang bergerak cepat. Para pelanggan tentu menginginkan kecepatan. Di sini, upaya kompromi dan saling memahami menjadi kunci bagi industri pelayaran dengan para pelanggannya.
Terlepas dari itu semua, semangat “Slow is Better” dari industri pelayaran membuat kita perlu merenung. Bahwa di tengah dunia yang cepat, kita kembali diingatkan akan arti penting sebuah proses. Segala hal yang berlangsung terlalu cepat, kadang bisa juga hilang dalam waktu yang cepat. Dan sesuatu yang lambat belum tentu bermakna buruk. Di sisi pelayaran, telah terbukti bahwa lambat adalah sebuah keuntungan.
Di sisi lain, slow is better mengingatkan akan makna sebuah proses, perhatian pada efisiensi dan keseimbangan lingkungan. Semoga kita diberi kesabaran dalam membangun bangsa ini dan dihindarkan dari sikap tergesa-gesa. Salam…
Picture : stuff.co.nz
March 10th, 2010 at 21:46
JC : jadi kamsut-e kamu se7777777777 alon2 boleh tp asal klakon ngono taaaaaaa?????? heheheh…bentoel………..kdg alon2 kuwi malah lbh cespleng krn digatek-e tenan….halah emboh-ah………