Waroeng Eddi

Josh Chen – Global Citizen

 

Masih seputar kuliner! Seperti saya bilang sebelumnya, orang Semarang tetap akan mencari makanan Semarang, apalagi jika kangen akan originalitas citarasa Semarang tulen.

Semenjak kami sekeluarga kembali ke Jawa dan menetap di pinggiran Jakarta, sudah santer terdengar kabar yang namanya Waroeng Eddi adalah top of the top untuk kuliner Semarang tulen. Merasa penasaran, tahun 2006 membawa langkah ini ke Jl. Panjang untuk mencari Waroeng Eddi. Kesan pertama sudah luar biasa (bukan menggoda lagi), dan yakin lah, Anda pasti tuman (ketagihan) untuk kembali dan kembali lagi, terutama jika Anda adalah orang Semarang asli yang lahir dan besar di Semarang.

Mulai mengusung kuliner Semarang di tahun 2005, dari Foodcourt ITC Kuningan (Ambasador), pelahan tapi pasti Pak Budhi menemukan apa yang diangankan dan menjadi idealisme beliau kebanggaan akan kuliner dengan citarasa asli Semarang.

Berpindah di Jl. Panjang, dan kemudian membuka cabang di seputaran daerah Kedoya, buka tutup karena satu dan lain hal mengenai tempat dan beberapa masalah lainnya. Akhirnya Pak Budhi yang masih satu almamater SMP dengan saya (beda angkatan), mendapatkan tempat di Jl. Pesanggrahan dari tahun 2007 akhir sampai sekarang.

Pak Budhi ini sangat ketat dengan idealisme dan fanatisme makanan Semarang. Mulai dari rebung untuk lumpia Semarang, babat sapi untuk nasi goreng babat Semarang, kecap manis tulen Semarang – Miramar atau Cap Gotri, dan banyak lagi bahan yang “diimport” langsung dari Semarang, menjadikan citarasa sajian-sajian di Waroeng Eddi seakan berada di kampung halaman Semarang sana!

Tak kurang dari 40 menu diusungnya. Bondan Winarno sudah berkunjung dan meliputnya, beberapa stasiun TV dan media juga sudah mewawancarainya, menabalkan eksistensi Waroeng Eddi sebagai salah satu pilihan untuk petualangan kuliner asli daerah.

Sajian unggulan dari Waroeng Eddi ini menurut saya adalah nasi goreng babat! Sungguh luar biasa dah, sayangnya siang tadi saat berkunjung bukanlah jadwal perut saya untuk menerima nasi…jadi dipesanlah sajian unggulan lain yang hanya ada di Waroeng Eddi ini, Galantin…

Galantin adalah sajian khas dengan model bistik ala Semarang, kentang goreng, wortel, buncis, acar ketimun dan daun selada yang disiram saus kental khas beraroma tomat yang kuat. Potongan daging yang dicampur tepung, bersaput saus kental, dimakan bersama dengan pelengkap sayuran tadi sungguh membelai lembut lidah!

Sajian lain yang tak kalah nikmat adalah gudeg dan nasi ayam (mirip nasi liwet Solo tapi lebih berkuah). Dua sajian ini menjadi pilihan istri dan si Sulung.

Ngohiong yang digoreng garing sungguh mantap dan tak ada duanya di Jakarta dan sekitarnya, sebagai “pelipur lara” kangen ngohiong Semarang. Di sela-sela itu kerupuk gendar asli Semarang juga disambar sebagai pelengkap menikmati sajian utama.
Penyajian nasi bakmoy yang berbeda dengan tempat-tempat makan yang menyajikannya juga. Bakmoy (tahu, ayam dan kuah kecap encer) dipisah dengan nasinya. Si Bungsu menjatuhkan pilihannya untuk nasi bakmoy ini.
Sebagai penutup sangat direkomendasikan untuk yang dingin-segar, Es Campur ala Kelenteng Gg. Lombok dan untuk yang hangat-gurih adalah wedang kacang tanah.

Sungguh siang hari yang “indah”! Setelah jepret-jepret dan sedikit interview dengan Pak Budhi, kami pamit dan meninggalkan gelanggang perang dengan total kerusakan hanya sekitar Rp. 100.000.

Yang heran adalah, lha wong namanya Pak Budhi, kok warungnya jadi bernama Eddi…ternyata di balik itu ada kisah dari masa sekolah beliau di Semarang…hehehe…

Note: setelah membuka, membaca dan melihat foto-foto di artikel ini, jika kemudian terjadi “histeria massa” di luar tanggung jawab Penulis…

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.