Mossad Gate

Sophie’s Note

Ada pesan masuk ke inbox dari teman “ada penulis bagus, nulisnya soal spionase, jarang-jarang kan ada penulis yang nulis gini”. Bikin penasaran, langsung kenalan..whuahh tulisannya memang lain daripada yang lain, bikin tegang. Jurnalis ini sering menulis di majalah militer. Pak Iksan, terima kasih ya..tulisannya sudah boleh disharing di Baltyra, mudah-mudahan seterusnya juga. Sobat Baltyra yang suka cerita spionase, dan politik, bacalah artikelnya…

Frederick Forsyth from Indonesia……

Iksan Purnomo

Tudingan Muhammad Nazzal (anggota biro politik Hamas) kepada komandan aparat keamanan Mahmud Abbas, Anwar Shuhaeber dan mantan anggota dinas intelijen Palestina, Ahmad Husnein sebagai anggota badan intelijen Israel, Mossad, yang merencanakan pembunuhan asy-Syahid Mahmud Mabhuh.

Tudingan mengungkap isu antek Israel dan koordinasi keamanan antara Otoritas Palestina (OP) dengan pihak Israel memberangus faksi-faksi perlawanan Palestina, semakin menjadi isu yang hangat. Israel telah menempatkan para anggota faksi perlawanan itu sebagai seorang petarung, baik pada level organisasi maupun individu.

Target Israel benar-benar tepat didukung dengan personil besar dan persiapan yang matang. Peran mata-mata, biasanya, memiliki peran yang penting, karena ia adalah orang yang paling tahu dengan target tentang kepribadian, gerakan, tempat tinggal dan pekerjaan serta segala perubahan yang mungkin terjadi. Israel berupaya keras untuk bisa merekrut orang Palestina sebanyak-banyaknya yang bertugas memberikan informasi detail tentang perlawanan dan orang-orangnya, tempat tinggalnya dan terkadang tentang peran serta rencana mereka.

Dengan banyaknya orang-orang dengan peran seperti ini, bisa mewujudkan keberhasilan dan mampu mendekati orang-orang yang menjadi target kemudian dibunuh.

Para pemimpin pertama Israel punya perhatian khusus dalam melakukan pembunuhan terhadap para pemimpin organisasi Palestina di mana saja mereka berada. Barangkali Golda Meir, PM Israel pertama, adalah orang yang paling terdepan dalam masalah ini. Di masanya, perintah membunuh para petinggi Palestina, baik pemimpin ideologi, militer maupun organisasi dikeluarkan dari kantornya. Ia juga mengeluarkan perintah membentuk unit-unit khusus dibawah komando Mossad, badan intelijen yang langsung dibawah kendalinya.

Sebagai contoh ia membuat unit khusus menggunakan kode, 100, 101 dan 131. Ada lagi unit yang menggunakan nama ”Kemarahan Tuhan”. Untuk membiayai unit-unit ini, ia tak segan-segan menggelontorkan dana besar, mengadakan latihan dan bantuan logistik apapun.

Dengan langkah ini, Meir berhasil mencapai dan membunuh lebih dari 40 pemimpin Palestina dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di tahun-tahun antara 1972 hingga 1991 di berbagai negara di dunia. Orang-orang yang berhasil dibunuh ini dimasukkan dalam daftar yang disebut daftar ”Golda”.

Hukum negara dan aparatnya tidak mampu menghadang para agen Mossad menerobos aturan-aturan tersebut dan berhasil membunuh targetnya. Mereka membunuh 9 petinggi Palestina di Beirut, 6 di Roma, 7 di Paris, 5 di Cyprus, 5 di Athena, 2 di London, 1 di Bruksell, 1 di Warsawa, 3 di Aljazair dan 4 di Tunisia. Ibukota-ibukota dunia itu tidak berdaya wilayahnya dijadikan tempat menumpahkan darah orang Palestina.

Di sinilah peran mata-mata atau antek Israel sangat besar dalam semua aktivitas intelijen Mossad. Dunia telah melihat sendiri konfrensi pers yang diadakan di Dubai dan dipandu langsung oleh Kepala Polisi Dubai, Letjen Dhahi Khalfan. Dalam konfrensi itu disebutkan bahwa aksi pembunuhan Mabhuh dilakukan secara terencana dan terorganisir rapi. Kelompok ini terdiri dari 11 orang, ditambah 2 mata-mata asal Palestina, yang namanya disebutkan oleh Muhammad Nazzal.

Daftar para pembunuh ini bisa saja bertambah tergantung penyelidikan selanjutnya. Kelompok ini dibagi menjadi 5 grup; Grup pertama bertugas sebagai pengatur dan pemberi bantuan. Mereka memboking hotel-hotel yang salah satunya akan disinggahi oleh Mabhuh. Ketika jelas bahwa korban menginap di hotel al-Bustan, mereka menginap di kamar bersebelahan dengan kamar Mabhuh. Alat transportasi juga sudah disiapkan menjemput dan melakukan pergerakan kelompok secara rapi. Untuk mengecoh, grup ini menggunakan seorang wanita bule agar tidak bisa dilacak.

Grup kedua bertugas memantau Mabhuh dan pergerakannya. Maka dipilihlah tempat-tempat strategis yang terbuka agar setiap saat pergerakan Mabhuh, di dalam hotel, bisa terpantau dengan detail, dimana ia duduk dan kemana ia pindah.

Grup ketiga bertugas melakukan eksekusi pembunuhan, mereka ini sudah terlatih dan profesional. Hanya dalam hitungan menit mereka sukses menjalankan tugasnya.

Grup keempat, bertugas di bidang komunikasi. Ada catatan bahwa grup ini tidak menggunakan alat komunikasi Dubai, baik menggunakan kabel ataupun non kabel. Menggunakan kartu chip khusus, terungkap berikutnya kartu chip ini berasal dari Swiss, dan kode-kode yang sudah disepakati oleh grup ini agar tidak mudah dilacak.

Grup kelima bertugas menjamin baliknya kelompok dan keluar dari Dubai.

Kelima grup ini telah menjalankan tugas dan perannya secara disiplin. Melakukan kejahatannya dengan menutup napas Mabhuh agar terlihat mati biasa. Namun apa yang terjadi di lapangan di luar yang mereka rencanakan. Mereka melakukan kesalahan telak, karena kecanggihan tekhnologi yang dialami kota Dubai, berhasil mengungkap kejahatan mereka. Alat pendeteksi canggih yang bisa memantau pergerakan pengunjung hotel, baik dengan suara maupun gambar sekalipun. Ditambah aparat keamanan Dubai yang sigap dan loyalitasnya kepada tanah air serta komandannya.

Peran ini yang bisa mengungkap kejahatan Mossad. Tidak seperti kota-kota lain, seperti yang disebutkan di atas, tidak mampu mengungkap pelaku pembunuhan para petinggi Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.