Pritha
Hai….
Setahun telah lewat, tanpa pernah halaman ini tersentuh. Atau bahkan namamu sempat terucap.
Apa kabar? Tak perlu dijawab kalau kamu tak ingin. Pun aku juga tak ingin sekedar bertanya kabar. Hanya untuk sedikit basa-basi, kamu tahu sendiri betapa kebiasaan itu tak bisa hilang.
Seperti juga rasaku yang tak pernah hilang.
Bukan tentang kamu, atau kita. Hanya tentangku. Aku yang merasa bimbang. Terdiam di ambang gundah dan tenteram.
Tenteram, sebab benar adanya aku tidak ingin kamu. Benar adanya pergi tanpa pernah kembali. Gundah, karena begitu banyak; nyaris terlalu banyak, hal yang kita tak pernah saling tahu, dan sebaiknya jangan.
Dulu sekali kubilang pada diriku sendiri untuk membiarkan waktu yang mengizinkan pertanyaan-pertanyaanmu terjawab, dan ternyata waktu bilang tidak.Mungkin salahku juga terlalu cepat menyadari: kalau ternyata bukan aku yang kamu cari. Kamu anggap aku mengada-ada?
Tanyakan pada dirimu sendiri.
Aku, atau diakah—dalam versi “lebih baik”—yang sebenarnya kamu inginkan?
Aku tahu, jari tanganku masih berjumlah lebih banyak dari gadis-gadis yang pernah kamu pacari—sebelum diputuskan. Tapi aku tak ingin berakhir sia-sia dalam rengkuhan tanganmu—bahagia, lalu sudah. Tak ada cerita lain. Aku lebih tak ingin, kamu terlelap, juga dalam sia-sia, di dunia khayal penuh mimpi indah tentang hidup yang kamu harapkan. Tidak. Bukan itu.Buka mata dan hadapi kenyataan.
Bahwa, tak selamanya tangan kita akan terus terjalin, bertemu tiap hari, dan berbagi apa yang ingin kita bagi sesukanya. Bahwa kita bisa saja hidup terpisah dalam dua dunia yang terasa sejauh andromeda dan bimasakti meski sebenarnya hanya berjarak dua senti.
Bahwa hidup bisa sedemikian kejam sampai apa yang sudah kamu raih terlepas begitu saja dari genggaman hanya karena kamu menunduk sedetik.
Bahwa, aku, sosok yang pernah begitu kamu puja, tidak sesempurna yang kamu bayangkan.Dan, bukankah sudah kamu lihat sendiri?
Buka mata. Jalani saja.
Satu hal lagi: aku mengerti benar sakitmu, sungguh.Aku cuma tak mau ikut menangis. Untuk apa? Untuk siapa? Untukmu?
Akankah berguna tangis itu bila sakitku sendiri pun tak bisa redam?










April 6th, 2010 at 20:09
thankieees semuanya… ini sebenarnya surat buat mutusin orang yang sekarang udah jadi mantan pacar, yang akhirnya malah ngga pernah di kasih hahaha…romantis? ehemm
March 14th, 2010 at 19:31
Hehehe….. Ternyata romantis lho…..
March 12th, 2010 at 21:53
sekarang cuma email cinta… Itupun gak pernah becus merangkai kata dan memilih diksi… Hiks
March 12th, 2010 at 21:41
to all : wakakkakak….ciamik..ciamik…….semua jd melu….kelingan bikin surat lagi………ayo….ayo keluarkan semua kemampuan, keahlian mu nulis surat…….lontarkan kegundahan hatimu……..keresehanmu………kebahagiaan serta kesedihanmu………sharing dgn sesama member baltrya dimana sj engkau berada………JC aku jd eling, zaman dl jg gila koresponden nulis surat sampai ber-lembar2 hampir tiap hari dan kegilaan itu msh melekat sampai skrg…………cm enaknya saiki cm nulis klik tekan………klu zaman sak-mono ngasek tiyeeeeeeeeel karo angoooop le ngenteni balesan….tp ada percik rasa cemas2 krn nunggu kedatangan pak pos klu dpt balasan……..indahnya koresponden……cieeeeeee
March 12th, 2010 at 11:35
Dear Pritha,
Mungkin aku hanya mengenalmu lewat karakter-karakter di layar komputerku. Tapi entah mengapa sepucuk surat tentang lukamu ini membuatku merasa begitu dekat denganmu. Empati, mungkin kasarnya begitu. Entah karena kemiripan cerita, atau hanya sekedar ingin berbagi cerita. Aku sama tak pastinya dengan risaumu kini.
Gundah yang merundung langit biruku beberapa waktu ini tak jua pergi. Seperti layang-layang hijau yang ditarik dan diulur oleh sang Tuan, lalu kemudian terhempas karena sang angin tak memberi bantuan, dan akhirnya ditinggalkan dalam hujan, tanpa pernah bisa melayang di angkasa.
Rapuh yang mendera jiwa mudaku masih terus mendekam di sana. Berulang kali kucoba mengabaikannya, tapi otakku kalah seiring perginya logikaku saat aku memutuskan buat mencintai dia. Kalau saja nurani yang selalu jujur itu punya kemampuan untuk memberontak, mungkin saat itu aku bisa berlari sejauh-jauhnya. Ah, penyesalanku terdengar seperti rengekan anak kecil yang tak berdaya…
Entahlah Pritha, entah apa yang ingin kukatakan padamu. Yang aku tahu hanya satu, aku tak ingin peduli semua itu…
Cold, March 2010
Meazza
March 12th, 2010 at 11:06
Pritha, aku suka tulisan2 kamu, salam kenal n apa boleh request buat koresponden? Email gw ada di redaksi…
March 12th, 2010 at 08:32
Ci, Sophie,
Demi kesetiaanku, aku berlari menghindar sopin
Aku tak mau melukai perasaanmu, atau membuatmu cemburu
Jika pada gajahpun kau masih cemburu, kebangetan lho
Sono, no coba rasain, serem tahu!!
Tdt. Jubir Menteri Tua Urusan Wanita Muda
March 11th, 2010 at 22:43
Wah jadi ingat jaman pacaran dulu……senang kalau lihat pak pos datang!
Sekarang pak pos datang cuma bawa surat tagihan hehehe.
March 11th, 2010 at 21:44
Surat…hhhmmm…jadi ingat jaman semono, nulis surat buat ngejar gebetan, tulisan tangan, bisa berlembar-lembar…bukan hanya satu “target” tapi sekaligus bisa 3-4 target…
kebiasaan berlanjut setelah ada e-mail…
Setelah sekarang ora ono sing ditulisi maneh…ya ginilah…jadilah Baltyra…surat cinta kepada seluruh dunia…