Kecoaaaaakk…….!!!!

Dewi Aichi – Brazil

Pada tanggal 12 Maret 2010 ,sebuah restoran di Porto Alegre, Rio Grande do Sul, harus membayar ganti rugi sebesar US$ 2 miliar kepada seorang wanita, yang merasa dirugikan oleh pihak pengelola restoran.

Seorang wanita tersebut ketika sedang menikmati hidangan direstoran, tiba-tiba menggigit seekor kecoak dalam mulutnya. Di Brazil sudah umum bahwa wanita sangat pobia dengan kecoak. Begitu melihat kecoak, rasanya seperti ada monster di depannya. Begitulah kira-kira bagaimana takutnya para wanita di Brazil ketika menemui kecoak.

Wanita yang menggigit kecoak tersebut merasa ada yang aneh dalam mulutnya, seketika itu juga dia lari ke toilet dan membuang makanan yang sedang dikunyah ke dalam tissue. Ketika melihat bahwa yang digigit adalah kecoak, maka menjeritlah wanita tersebut, dan muntah-muntah di tempat.

Si wanita mengadu ke pemilik restoran tentang apa yang dialami, merasa jijik yang luar biasa, dan merasa sangat dirugikan. Akhirnya wanita tersebut mengancam pihak restoran untuk mengadukan kasusnya ke pengadilan sipil Rio Grande do Sul.

Beberapa hari berikutnya, wanita mengalami infeksi usus sehingga harus masuk rumah sakit. Di lain tempat, sedang disidangkan kasus tersebut yang dimenangkan oleh pihak wanita, sedang pemilik restoran harus mengganti kerugian yang sangat besar.

Kira-kira sebulan yang lalu, juga terdapat kasus yang dialami oleh restoran milik warga Cina di Sao Paulo. Awalnya, ada seorang pelanggan restoran yang sedang ke toilet. Tapi tiba-tiba ia melihat beberapa kepiting yang berkeliaran di sekitar toilet. Dia bilang ke salah satu karyawan yang kurang mahir berbahasa Portugues, tentang apa yang dilihatnya.

Hari berikutnya kepolisian setempat memeriksa seluruh sudut ruangan restoran dan bagian belakang yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan tidur para karyawan. Akhirnya diketahui bahwa banyak sekali terdapat bahan-bahan makanan yang tidak higienis cara menyimpannya, banyak yang sudah kedaluwarsa.

Lebih parah lagi, karyawan yang memang didatangkan dari Cina, tidak memiliki ijin tinggal atau visa. Lengkap sudah bukti-bukti yang mengharuskan ditutupnya restoran tersebut.

Di Brazil, kebersihan restoran sangat diutamakan. Pelanggan tidak sungkan mengadukan hal-hal yang kurang berkenan ke pihak yang berwajib, tanpa memikirkan akibatnya. Misalnya dipecatnya seorang karyawan, atau bahkan ditutupnya restoran tersebut.

Setiap pelayan, yang meracik dan menghidangkan sajian, wajib memakai kerudung, seperti di Mc’D, semua karyawan memakai penutup rambut. Jadi bagi yang akan bekerja di restoran, tidak usah mendandani rambutnya seindah mungkin, karena begitu sampai di tempat kerja, langsung memakai penutup rambut.

Pernah kualami kejadian di sebuah restoran yang berada di lantai dasar gedung Menara Mulia. Restoran elite dan pengunjungpun banyak dari warga asing yang bekerja di kedutaan. Ketika itu suamiku memilih menu spagetti . Pas hidangan sudah di meja, di resto tersebut kebanyakan hot plate, tiba-tiba suamiku melihat rambut panjang ditengah-tengah spagetti, aku panggil karyawan resto dan menunjuk rambut yang ada di spagetti.

Pelayan itu cuma mengambil spagetti, tanpa mengucapkan kata maaf. Beberapa saat kemudian, dia datang kembali membawa menu yang sama, dan baru mengucapkan kata maaf. Tapi aku ngga mau menerima, akhirnya aku menyarankan ke suami untuk ganti menu. Akhirnya suamiku setuju, siang itu makan steak dan salad. Pikiranku, pasti tadi cuma diambil rambutnya saja, terus dipanasi lagi. Jadi aku curiga, dan memilih ganti menu.

Kejadian ke dua kualami di sebuah resto di jalan raya Jakarta Bogor, tepatnya Cimanggis. Di situ aku sedang asik-asiknya menikmati es doger, setelah ku aduk-aduk, ternyata ada lalatnya di dasar mangkok, lalat itu ngga cuma 1, tapi 4 ekor lalat. Sungguh menjijikkan. Aku ngga mau bayar dengan kejadian itu, tapi aku ngga mau mengadukan karyawan tersebut ke pemilik restoran.

Satu lagi yang pernah aku alami, yaitu ketika aku membeli kue di lobi hotel Mulia, ketika itu aku memesan apple cream cheese cake dengan harga waktu itu Rp,70.000 per loyang dengan diameter 16 cm. Aku bersama beberapa teman kantorku segera menikmati kue tersebut. Tapi apa yang terjadi, temanku menggigit pecahan kaca ukuran kecil. Langsung seketika itu juga temanku mengadu ke pemilik resto. Kelihatan sangat kuatir dengan kejadian itu, berkali-kali minta maaf. Kami tetap membayar dan menerima maafnya.

Dari beberapa kejadian tersebut, aku tidak pernah melakukan pengaduan apapun ke pihak yang berwajib, dengan pertimbangan banyak hal, antara lain, sikapku yang terlalu bodoh mungkin, tidak tegas, bisa juga aku ini orang yang terlalu toleransi. Aku selalu berpikir seribu kali untuk mengadu atau mempublikasikan apa yang aku alami.

Bagaimana jika karena aduanku, restoran tersebut tutup, dan memberhentikan banyak karyawan. Di satu sisi, aku puas karena tindakan yang berwajib menutup restoran agar bisa dijadikan contoh oleh para pengelola restoran atau pengusaha makanan untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Tapi bagaimana dengan para karyawan yang kehilangan mata pencahariannya, sedang di Indonesia sangatlah sulit mendapatkan pekerjaan yang bisa dijadikan tumpuhan hidup.

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *