My Spiritual Journey, Menjadi Tamu Allah (Part 11)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Dear all Baltyrans….ketemu lagi di Part 11, setelah vacuum sampai 1 bulan lebih, ternyata susah juga ya untuk mulai menulis lagi kalau sempat berhenti, seperti harus mengeluarkan energy yang baru lagi,

Hehe…baiklah aku akan berkisah kembali pengalamanku saat berhaji 3 bulan yang lalu.

Selama berada di Mekah, kegiatan kami lebih di fokuskan memperbanyak ibadah sholat di Masjidil Harom dan jalan-jalan diseputar kota Mekah. Para jama’ah haji disarankan untuk mengambil ibadah umroh kembali, judulnya kan beribadah sebanyak-banyaknya selagi mampu melakukannya why not ? Miqot untuk mengambil umroh di dekat kota Mekah ada di Masjid Tan’im dikenal juga dengan nama Masjid Siti Aisyah.

Mekah, Jum’at 11 Desember 2009

Kami berkumpul di Saptco, terminal bus di daerah Masjidil Harom, selintas besarnya terminal ini, seperti Terminal Kampung Melayu (di Jakarta Timur) cuma bedanya nggak ada bau pesing di sini. Bus yang kami tumpangi memungut bayaran hanya 5 real/person PP, cukup murah kan?

Antre Naik Bus di Terminal Saptco

Masjid Tan’im

Tan’im, suatu tempat yang berjarak 6 KM dari Kota Mekah. Masjid Tan’im sendiri letaknya sekitar 7,5 KM di sebelah utara dari Masjidil Harom di pinggir jalan antara Mekah dan Madinah, kurang lebih 15 menit kalau naik bus. Rasulullah menetapkan Masjid Tan’im sebagai salah satu tempat memulai (Miqot) ibadah haji atau umrah sehingga dinamai Miqot Aisyah karena berdasarkan riwayat dari Rasulullah, pada saat selesai menunaikan ibadah haji perpisahan (hijjatul wada) bersama Rasulullah, Ummul Mukminin Aisyah RA melanjutkan ibadah umrah, Rasulullah menyuruh Aisyah RA pergi ke Tan’im dan memulai ihramnya dari sana.

Ini terjadi pada tahun ke 9 Hijriyah, inilah yang menjadi dasar penyebutan Tan’im sebagai tempat miqot haji dan umroh. Selain itu masjid ini disebut juga dengan nama Masjid Sayyidah ‘Aisyah.*

Masjid Tan’im

Setiba di sana, kami turun dan mengambil wudhu lalu sholat sunnah 2 rakaat untuk mengambil niat/miqot umroh dari sini. Hanya sekitar 15 menit waktu buat mengambil wudhu dan sholat, kami harus bergegas kembali ke Masjidil Harom, tapi aku masih sempat motret Masjid ini walau hanya pakai camera HP.

Saat ke Masjid Tan’im ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, jadi saat kami pulang ke Masjidil Harom waktu sudah mendekati Maghrib, otomatis jalan yang berhubungan ke Masjidil Harom di tutup oleh Polantas Saudi. Aku sempat melihat adegan pak Supir mencoba membujuk pak Polisi untuk memberi kesempatan sebentar saja biar mobil kami bisa masuk lalu mendrop kami sebentar di sekitar Masjid, tapi rayuan padang pasir pak supir (kalau di Indonesia, rayuan pulau kelapa nyebutnya, hehe) tidak mempan mengubah aturan yang sudah berlaku.

Kami semua pada ketawa, lalu ada yang bisik-bisik kalau di Indonesia dengan di lempari kotak korek api aja pasti lewat bus ini. Akhirnya bu Ustazah mengingatkan pak sopir nggak usah minta dispensasi sama pak polisi itu, salah-salah ntar bus kami dia tilang kan berabe, hehe…

Kami melaksanakan sholat maghrib berjama’ah dulu sebelum melaksanakan thawaf dan sa’i. Suasana di dalam Masjidil Harom tidak sepenuh saat hari-hari menjelang ibadah haji (wukuf di Arafah) berlangsung. Rombongan kami menyelesaikan semua prosesi umroh lanjutan ini dalam tempo 1,5 jam jadi sempat disela dengan sholat Isya dulu.

Ada sedikit saran dari rombongan jama’ah haji yang kuikuti, kalau memang ada niat membawa botol minuman yang berisi air zam-zam selama thawaf (cukup botol yang 500ml saja biar nggak berat) katanya sih bisa memperoleh berkah dari Allah yang mendatangkan khasiat lebih dari biasanya, wallahu’alam bissawab.

Ka’bah

Sesuai dengan Q.S. Al-Maidah 5;97 “Allah telah menjadikan Ka’bah, Rumah Suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia…”. Dinamakan Ka’bah karena beberapa sebab: (a) bentuknya yang persegi empat, (b) karena ketinggiannya dari tanah, (c) karena bangunannya yang terpisah dari bangunan-bangunan lainnya.

Ka’bah Dulu & Sekarang

Ka’bah juga memiliki beberapa nama: Al-Bait (Rumah), Baitullah (Rumah Allah), Al-Bait al-Haram (Rumah Suci), Al-Bait al-‘Atiq (Rumah Pusaka) dan Qiblat. Tinggi Ka’bah 14 m sedang panjang di setiap sisi berbeda-beda antara 11 m – 12 m, ketinggian Pintu Ka’bah dari atas tanah sekitar 2 m, di dalam Ka’bah sendiri terdapat 3 tiang penyangga.

Sebenarnya masih banyak keterangan yang ingin disampaikan, tetapi aku pikir para pembaca bisa membacanya melalui buku-buku yang khusus membahas tentang Ka’bah.

Adab berthawaf

Rasulullah SAW bersabda : “Thawaf di sekitar Ka’bah seperti halnya shalat, hanya saja kalian diperbolehkan berbicara di dalamnya, maka barang siapa yang ingin berbicara, hendaknya tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.”

Orang yang berthawaf hendaknya menghadapkan wajah dan hatinya kepada Allah SWT, sambil memohon kepadaNYA untuk kebaikan dunia dan akhirat dalam bahasa apapun, sebab tidak ada do’a-do’a khusus untuk tiap putarannya. Dan hendaknya tidak pula orang yang berthawaf disibukkan dengan pembicaraan masalah-masalah duniawi, mendorong atau menyakiti orang lain.*

Para jama’ah akan memulai berthawaf dengan melihat lampu neon sight warna hijau yang ada di sudut tembok Masjidil Harom selurusan dengan sudut Hajar Aswat, jadi kita akan memulai dan mengakhiri thawaf dengan melihat ke arah Hajar Aswat sambil mengangkat tangan dan mencium tangan kita lalu melambaikan kembali ke arah Hajar Aswat (seperti kalau kita mau Kiss bye) sebanyak 3x sambil mengucap .“Bismillahi Allahu’akbar” 3x juga, ini dilakukan saat memulai thawaf dan setelah para jama’ah haji selesai melakukan satu putaran, diulang sampai 7x putaran”

Tawaf Ka’bah

Hal ini berlaku pula bagi yang berthawaf di lantai 2 dan3 Masjidil Harom akan terlihat tanda yang besar dan jelas dari lampu neon sight untuk mengawali dan mengakhiri thawaf. Alhamdulillah…aku sudah merasakan berthawaf di setiap lantai ini, kalau mau lingkaran thawaf yang pendek dan singkat pilihlah di lantai dasar, tapi dengan resiko suasana lebih padat dan berdesakan.

Kalau mau lapang dan santai, pilihlah dilantai 2 dan 3 dengan catatan alur putaran thawaf lebih jauh, bagi jama’ah lansia yang tidak kuat berjalan biasanya didorong pakai kursi roda, nah untuk thawaf bagi mereka ini ada track/jalur tersendiri di lantai 2.

Pokoke nyaman deh tapi harus pakai ongkos dorong 300-350 real/orang, untuk thawaf dan sa’i , biasanya jasa yang suka mendorong kursi roda ini banyak ditemui di sekitar Masjidil Harom, mereka ini berasal dari warga setempat bahkan ada juga para mahasiswa dan pelajar Indonesia yang bermukim di sana.

Pemandangan yang bisa dilihat saat berthawaf tentu saja para jama’ah haji dengan beragam tingkah polahnya. Aku sempat menemukan anak2 batita (bayi tiga tahun ke bawah) yang digendong bapaknya ikut bertawaf 7x putaran, biasanya anak-anak kecil selalu dalam gendongan orang tuanya jika dibawa berthawaf.

Dalam pemahamanku, mungkin si ayah dan ibu ingin anaknya bisa merasakan ghirah (semangat) keimanan sejak usia dini. Belum lagi para jama’ah yang terang-terangan merekam prosesi thawaf dengan video hp atau mini handycam. Padahal dulu ketahuan bawa hp berkamera bisa disita. Tapi kini tidak lagi, sepertinya peraturan soal hp dan camera sudah lebih longgar tidak seketat dulu.

Ada pengalaman yang agak lucu selama thawaf, aku selalu didampingi nenek-nenek baik yang aku kenal maupun tidak. Kalau yang ku kenal sudah jelas Nenek Juhe, termasuk Mamaku dan Papaku, sedang yang tidak aku kenal biasanya suka megangin tangan atau bajuku di kala thawaf, saat aku lirik ke samping atau ke belakang, biasanya nenek-nenek ini suka tersenyum,

Subhanallah…ini juga titipanNYA padaku untuk membimbing mereka, agar bisa menerobos himpitan jama’ah-jama’ah yang lain.
Pada saat berthawaf, ada do’a-do’a yang dibaca melalui buku kecil panduan haji yang dikeluarkan Departemen Agama untuk 7x putaran, nah…kadang kita susah menghafal do’a-do’a yang panjang ini. Janganlah ketidak mampuan menghafal do’a-do’a yang panjang ini sebagai penghambat kita bermunajat kepada-NYA, ingatlah bahwa kalimat-kalimat talbiyah dan dzikrullah merupakan do’a-do’a yang suci dan disenangi-NYA.

Allah Maha Mengetahui kemampuan dan kesanggupan hambaNYA. Para jama’ah haji dari berbagai Negara biasanya membaca do’a sesuai dengan buku panduan haji yang mereka miliki, yang secara garis besar memiliki tujuan dan maksud yang sama yaitu mengagungkan kebesaran ALLAH SWT. Kalau tidak hafal bisa baca buku petunjuk do’a atau kertas contekan do’a (hehe…teteup susah hapal ya lihat kertas contekan), tapi di sinilah kita harus berhati-hati, di saat mata kita tertuju di kertas atau buku, di sisi lain kita juga harus konsentrasi mengikuti arus thawaf dari rombongan kita kalau nggak bisa terpisah atau tertabrak rombongan jama’ah dari Negara lain, ujung-ujungnya tersesat.

Bagi yang berpikir tenang tentu bisa mengatasi kepanikan, lha…kalau yang nggak biasa terpisah dengan rombongan bisa-bisa stress.

Pimpinan rombongan jama’ah haji dari berbagai Negara (termasuk Indonesia) akan membaca do’a keras-keras, jadi seperti adu kenceng do’anya, tujuannya agar anggota rombongannya tidak usah baca buku atau kertas contekan do’a, cukup dengan mengikuti do’a yang diucapkan secara keras oleh satu orang yang ditunjuk sebagai Mutawwif (pembimbing thawaf). Jama’ah haji yang badannya gede dan tinggi seperti dari Negara-negara Timur tengah dan Afrika, mereka berthawaf dengan berjalan cepat diiringi langkah yang panjang dan suka main tubruk.

Buat kita para jama’ah haji dari Asia Tenggara yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil biasanya lebih suka mengalah daripada ketabrak mereka, hehehe….

Soal busana yang dipakai, jika dalam niat umroh atau haji, jama’ah haji memakai kain ihram yang bewarna putih saat berthawaf dan sa’i, kalau hanya ingin melakukan thawaf sunnah tidak dalam niat umroh atau haji, para jama’ah bisa memakai baju biasa dengan warna tidak harus putih.

Aku sangat bersyukur bisa diberi kesempatan olehNYA berthawaf memutari Ka’bah, karena menurut riwayat dari para ahli hadist, selurusan langit di atas Ka’bah sampai lapisan langit ke 7 ada suatu tempat yang dinamakan “Baitul Makmur”, di sanalah para Malaikat-NYA berthawaf mengitari Baitul Makmur sebanyak 7x sama persis seperti umatNYA, manusia mengelilingi (thawaf) Ka’bah sebanyak 7x putaran.

Pengalaman Spiritual saat berthawaf dan Sholat Sunnah di Hijir Ismail

Sudah kujelaskan di atas , selama berthawaf aku dipegangin oleh seorang nenek rasta, aku nggak keberatan diikutin oleh nya, hanya saat terlintas di benakku ingin sholat di Hijir Ismail, aku langsung berpikir “Ntar gimana dengan si nenek ini ya?” kalau aku ngotot ngajak dia ke Hijir Ismail, jangan-jangan dia nanti sesak nafas? Duuuh pikiran negative berkecamuk, lalu apa yang terjadi sekejap kemudian?

Tiba-tiba si nenek rasta itu sudah melepas tangannya dari tubuhku, Subhanallah….cepat sekali terjadi begitu terpikir langsung terjadi. Ya Allah…aku mohon ampun bukannya tidak mau mengajak si nenek untuk sholat di sana, membawa tubuhku sendiri saja aku harus berjuang keras.

Setelah menyelesaikan putaran thawaf yang ke 7, kami di arahkan oleh Ustazah bunda Nurma, mendekati Ka’bah, tujuannya agar kita bisa menyentuh Ka’bah, hati kecilku tak lepas dari zikrullah, keinginan untuk sholat sunnah 2 raka’at di Hijir Ismail semakin dekat. Aku akan sedikit menjelaskan tempat yang disebut Hijir Ismail ini.

Hijir Ismail

Yaitu bangunan terbuka yang membentuk setengah lingkaran. Pada mulanya Hijir Ismail membentuk lingkaran utuh, tetapi saat renovasi pada jaman Quraisy, separoh lingkarannya terpotong (sehingga dalam bahasa Arab dinamakan Hathim, yaitu “yang terpotong”).

Di situ pula Nabi Ibrahim AS menjadikannya sebagai rumah kecil dari batang-batang pepohonan yang berdahan lebat yang diperuntukkan bagi Ismail dan ibunya, Siti Hajar.

Ini menunjukkan bahwa Hijir Ismail tersebut bukan merupakan bagian dari Ka’bah, sedangkan bagian lain yang terpotong dan yang dimasukkan oleh Quraisy ketika merenovasi Ka’bah, tidak diragukan lagi adalah justru bagian dari Ka’bah itu sendiri, dengan lebar kira-kira 3 m. Hal ini pernah ditanyakan Aisyah RA kepada Rasulullah tentang Hijir Ismail “Apakah ia bagian dari Rumah Suci ini?” Rasulullah menjawab “Betul”.

Hijir Ismail

Barang siapa yang tidak sempat sholat di dalam Ka’bah lalu sholat di bagian terdekat Hijir Ismail dengan Ka’bah (3 m), maka sesungguhnya ia telah sholat di dalam Ka’bah. Diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa beliau ingin sekali masuk ke Ka’bah dan sholat di dalamnya, lalu Rasulullah menarik tangan beliau dan membawanya ke dalam Hijir Ismail, sambil berkata “Sholatlah di dalamnya jika engkau ingin masuk Ka’bah, karena ia merupakan bagian dari Rumah Suci ini”.*

Nah…jadi faham kan, kenapa aku begitu ingin sholat di ½ lingkaran Hijir Ismail, karena sholat di sini di ibaratkan sholat di dalam Ka’bah. Bagi saudara-saudara seimanku jika berhaji atau berumroh, jika memungkinkan sempatkan untuk sholat di sini, kalau musim umroh relative lebih mudah untuk melakukannya, jika dibanding pada musim haji.

Pengalaman sholat di sini sudah pernah aku alami sebelumnya, termasuk mencium Hajar Aswat, tetapi keinginan untuk sholat sunnah di Hijir Ismail kembali merasuk jiwa ini.

Aku hanya membathin ingin sholat di sana, tapi melihat suasana yang penuh dengan jama’ah yang saling berdesakan untuk berebut sholat di sana, bener-bener bikin ngeri, salah-salah bisa keinjak atau sesak nafas.

Tiba-tiba aku merasa diri ini tertarik pusaran arus jama’ah yang sedang bertawaf, tubuhku terlempar mendekat ke batas Hijir Ismail, aku langsung menangis…bibir ini kelu sekali hanya bisa mengucap zikrullah, Allah telah mengabulkan keinginanku, aku mengikhlaskan diriku terdorong mengikuti arus ribuan jama’ah yang semuanya berkeinginan mencium Ka’bah Baitullah.

Saat itu aku sadar hanya sendirian terpisah dari rombonganku, tetapi aku sudah ikhlas hanya menyebut namaNYA aku bergantung nyawaku. Tubuhku terjepit di antara tubuh-tubuh para jama’ah yang lainnya, aku tahu sekali resiko yang aku hadapi. Pikiranku menerawang ke wajah anakku yang tertua, aku tidak faham kenapa saat itu aku begitu kuat memikirkannya….(ternyata firasatku tidak salah, walau aku tidak tahu kenapa, dua hari kemudian aku mendapat kabar tentang si Sulung yang sedang sakit).

Mendekati bibir pintu masuk ke Hijir Ismail, aku terus bertahan dan membiarkan tubuhku mengikuti arus yang menggeser tubuhku semakin masuk ke dalam, yang paling membuatku menangis, di antara himpitan tubuh para jama’ah aku melihat ada celah yang seolah-olah sudah dipersiapkanNYA untukku melakukan sholat.

Saat itu aku hanya sendiri tiada teman dari rombongan yang menemaniku, tetapi aku merasa jama’ah yang lain mempersilahkan aku untuk melakukan sholat sunnah 2 raka’at. Saat itu hanya 2 permohonanku, satu meminta diriku selalu dalam iman kepadaNYA sampai akhir hidupku dan yang kedua memohon kesembuhan sakitnya anakku, naluriku yang membimbingku untuk memohon seperti itu, memang my hubby tidak memberi tahu bahwa si Sulung sedang sakit agak parah.

Aku tidak berpanjang do’a karena sadar bahwa kesempatan ini lebih dari cukup, aku juga harus memberi kesempatan yang sama buat jama’ah lainnya yang ingin sholat sunnah di Hijir Ismail.

Keluar dari Hijir Ismail, sama sulitnya seperti saat memasukinya, tetapi dengan keyakinan kepadaNYA, semua terasa ringan.

Alhamdulillah… setelah itu aku bergabung kembali dengan rombonganku, sebelumnya aku sempatkan sholat sunnah 2 raka’at di belakang maqom Ibrahim, yang posisinya masih didekat Hijir Ismail.

Maqom Ibrahim

Arti harfiah “al-maqam” berarti tempat kaki berpijak dan Maqam Ibrahim ialah batu yang dibawa oleh Ismail ketika pembangunan Ka’bah yang digunakan untuk berdiri oleh Nabi Ibrahim AS. Di atas batu itulah, Nabi Ibrahim AS membangun Ka’bah dengan tangannya sendiri, yang batu-batuannya dibawakan oleh Ismail AS. Setiap kali bangunan bertambah tinggi, batu tempat Ibrahim AS berdiri (Maqam Ibrahim) pun ikut naik.

Keutamaan tempat ini ialah, pertama dijadikan sebagai tempat sholat (“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat sholat” Q.S. Al-Baqoroh 2:125). Kedua merupakan batu dari Surga. Rasulullah bersabda bahwa Hajar Aswat dan Maqam Ibrahim ialah batu-batuan dari surga, seandainya Allah tidak melenyapkan cahaya keduanya, niscaya ia akan menerangi Timur dan Barat seluruhnya. Ketiga tempat dikabulkannya do’a.*

Maqom Ibrahim

Sholat sunnah 2 raka’at dibelakang Maqam Ibrahim lebih lapang dan mudah, karena posisinya bisa ditarik garis lurus ke belakang, jadi kita bisa sholat di tempat yang tidak menjadi perlintasan jama’ah yang sedang thawaf. Jika kita berthawaf di lantai 2 dan 3 dalam Masjidil Harom, maka petunjuk yang sama juga dilakukan, menarik garis lurus dibelakang Maqam Ibrahim.

Shafa, Marwa dan Tempat Sa’i

Setelah thawaf 7x mengelilingi Ka’bah, aku melanjutkan dengan melakukan Sa’i yaitu lari-lari kecil antara Safa dan Marwah, sebagai bentuk pengulangan ibadah kepadaNYA yang telah dilakukan oleh Siti Hajar RA, istri dari Nabi Ibrahim AS pada saat mencari air untuk minum bayinya yaitu Nabi Ismail AS, harus mondar mandir sebanyak 7x antara bukit Safa dan bukit Marwa.

Sa’i

Para jama’ah haji seperti melakukan napak tilas spiritual dari bunda Siti Hajar RA, yang berjuang keras sendirian untuk mencari air kehidupan buat putra kesayangannya Ismail, dengan memohon do’a atas kasih sayangNYA akhirnya melalui perantara Malaikat Jibril ditunjukilah mata air Zam-zam (yang artinya gemericik air) kepada Siti Hajar.

Dalam Q.S. Al-Baqoroh, 2:158 “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah”. Shafa adalah bukit kecil yang berada pada jarak kurang lebih 130 m sebelah Selatan (agak ke kiri) dari Masjidil Haram, dari tempat inilah bermulanya Sa’i.

Saat Sa’i

Marwa ialah bukit kecil dari batu api, yaitu batu putih yang keras, berada pada jarak kira-kira 300 m arah timur laut dari Rukun Syami pada Ka’bah, bukit Marwa ini menjadi tempat penghabisan Sa’i sebelah utara.

Tempat Sa’i yaitu jarak antara bukit Shafa dan Marwa, panjang tempat Sa’i kira-kira 394,5 m yaitu mulai dari ujung dinding di atas bukit Shafa hingga ujung dinding yang ada di bukit Marwa. Lebarnya kurang lebih 20 m, sehingga luasnya mencapai 7890 m2 untuk satu tingkat/lantai , ketinggian dari lantai 1 ke lantai 2 sekitar 11,75 m dan dari lantai 2 ke lantai 3 sekitar 8,5 m, sedang saat ini tempat Sa’i terdiri dari 3 tingkat/lantai .* Jadi bisa hitung sendiri aja luas keseluruhannya, hehe…

Saat ini tidak terlihat lagi bentuk bukitnya karena sudah masuk dalam wilayah Masjidil Harom. Tetapi kita masih bisa menjumpai bagian kaki bukit yang sunnah kalau kita pijak dan berdo’a sebanyak-banyak di sana, InsyaAllah…semua tempat di Tanah Suci itu makbul buat berdo’a.

Hajar Aswad dan Sumur Zam-zam

Sebagai pelengkap tulisan, ada baiknya aku jelaskan sedikit tentang Hajar Aswad yaitu batu yang tertanam di pojok selatan Ka’bah pada ketinggian kurang lebih 1,10 m dari tanah, panjangnya 25 cm dan lebarnya sekitar 17 cm.

Awalnya hanya merupakan satu bongkah batu saja, tetapi sekarang berkeping – keping menjadi 8 gugusan batu-batu kecil karena pernah pecah. Rasulullah bersabda “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu dan dosa-dosa anak cucu Adam-lah yang menjadikannya hitam.”

Keutamaannya karena Hajar Aswad berasal dari bebatuan mulia (yaqut) dari surga yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS agar diletakkan di salah satu sudut Ka’bah. Lalu pada saat renovasi Rasulullah SAW mengambil dan meletakkannya ditempat semula dengan tangannya sendiri lalu menciumnya sebagaimana yang telah dilakukan Nabi-nabi terdahulu, sehingga Hajar Aswad menjadi tempat bertemunya bibir para nabi, orang-orang shalih, para haji dan mu’tamirin sepanjang sejarah.

Di samping itu, ia menjadi tempat permulaan dan berakhirnya thawaf, sekaligus tempat mustajab, yaitu tempat dikabulkannya do’a. Dan pada hari kiamat kelak, Hajar Aswad akan memberikan kesaksiannya bagi orang-orang yang telah menyalaminya dengan kebenaran. (Hadist Rasulullah diriwayatkan oleh Tirmidzi).*

Pengalamanku saat mencium Hajar Aswad terjadi di saat aku berumroh bersama orang tuaku dan berhaji dengan suamiku, cukup 2x aku merasakannya, perjuangan untuk mencium Hajar Aswad benar-benar bikin heboh, bagaimana kita harus menerobos di kerumunan dan desakan para jama’ah haji yang sama-sama punya tujuan sama, ingin mencium Hajar Aswad.

Antri Mencium Hajar Aswad

Bukan rahasia lagi, kalau sering ditemukan calo/orang yang membantu jama’ah untuk mencium Hajar Aswad tapi dengan membayar sekian real yang kisarannya puluhan bahkan sampai ratusan real/jama’ah.

Biasanya rombongan calo ini bekerja rapih dan terorganisir, mereka akan bertanya secara halus kepada siapapun yang ingin mencium Hajar Aswad. Jika sudah menemukan jama’ah yang dituju, mereka akan membuat barikade yang melindungi dan mengarahkan si jama’ah agar mendekati Hajar Aswad. Pokoke rapih deh….tapi kalau lagi apes rombongan Calo ini bisa ketangkap pasukan pengaman Ka’bah.

Kali pertama aku mencium Hajar Aswad saat berumroh di Juli 2005 yang lalu, saat itu aku ingin sekali mengajak mamaku mencium Hajar Aswad, karena saat mamaku berhaji yang pertama di tahun 1973, beliau belum berkesempatan melakukannya.

Nah…saat berthawaf bersama mamaku, tiba-tiba ada seorang bapak muda yang kelihatannya seperti orang Indonesia, memakai baju koko dan berpeci putih berkata kepadaku “Ibu mau mencium Hajar Aswad?” langsung kujawab “Iya”, “Mari ikuti saya” katanya, aku dan mama langsung mengikutinya dari belakang, Subhanallah….sangat mudah sekali menerobos kerumunan orang-orang tersebut, tau-tau aku sudah di dekat Hajar Aswad, rasanya….benar-benar unbelievable!

Langsung aku mencium dan berdo’a secepatnya di saat kepalaku mencapai Hajar Aswad, susah untuk melukiskan apa yang aku rasakan, hanya rasa syukur…bahwa aku bisa menciumnya. Lalu aku segera memberikan kesempatan kepada mamaku untuk melakukan hal yang sama, mungkin karena tubuh mamaku tidak setinggi aku, mama hanya bisa menyentuh dan sedikit mencium bagian bawah Hajar Aswad, tetapi hal ini sudah cukup buat mamaku.

Alhamdulillah, setelah berhasil mencium Hajar Aswad, aku langsung berpikir duh gimana mau bayar bapak yang bantuin buka jalan itu, sedang aku tidak membawa uang sedikitpun saat itu, aku sudah dengar tentang calo Hajar Aswad dalam pikiranku yang barusan menolongku itu adalah bagian dari mereka, aku bermaksud mengucap terimakasih sekalian mau memberitahu apakah uang jasanya bisa diambil di hotel saja.

Sejurus kemudian aku mencari bapak yang sudah menolongku itu, ternyata bapak itu sudah menghilang tanpa terlihat sedikitpun jejaknya. Kini giliran aku yang dibuat bengong, sepertinya bapak itu tadi masih ada di dekatku, padahal aku kan hanya nge-bathin nggak punya uang buat bayar jasanya, lha…koq tau-tau itu bapak sudah nggak ada lagi?

Aku hanya mengucap syukur Alhamdulillah pada-NYA, ini merupakan rizki yang tiada terduga. Itulah sedikit kisahku yang berhubungan dengan Hajar Aswad. Selanjutnya aku akan membahas sekilas tentang sumur zam-zam.

Sumur Zam-zam terletak kira-kira 11 m dari Ka’bah, sumur ini ditemukan oleh Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim) setelah bolak balik antara Shafa dan Marwa sebanyak 7x, pada putaran yang ke 7 akhirnya Siti hajar mendengar suara gemercik air , dari sanalah Siti Hajar minum dan menyusui anaknya, Ismail AS.

Zam-zam

Dahulu kala air zam-zam diambil dengan gayung atau timba, namun kemudian dibangunlah pompa air pada tahun 1373 H/ 1953 M, yang menyalurkan air dari sumur ke bak penampungan air dan di antaranya juga ke kran-kran yang ada di sekitar sumur zam-zam.

Berdasarkan penelitian dibuktikan bahwa sumur zam-zam dapat memompa air antara 11 sampai dengan 18,5 liter air/detik.

Sehingga permenitnya akan menghasilkan air (60×11) 660 liter, atau (660×60) 39.600 liter/jam. Dari mata air ini terdapat celah ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm yang juga menghasilkan air sangat banyak. Ada pula celah ke arah pengeras suara dengan panjang 70 cm dan tinggi 30 cm, di samping beberapa celah kecil lainnya kea rah Shafa dan marwa.

Dahulu di atas sumur Zam-zam terdapat bangunan dengan luas 8,3 m x 10,7 m = 88,8 m. Antara tahun 1381 – 1388 H (1961-1968 M), bangunan ini ditiadakan dalam rangka memperluas tempat Thawaf. Tempat minum air zam-zam dipindahkan ke ruang bawah tanah, di bawah tempat thawaf, dengan 23 anak tangga dilengkapi dengan Air Conditioner (AC), tempat masuk antara laki-laki dan perempuan dipisah.

Terdapat sekitar 350 kran air untuk minum yaitu 220 berada di ruang untuk laki-laki dan 130 berada di ruang untuk perempuan.*

Kini kemudahan meminum air zam-zam tidak perlu turun kebawah lagi, karena di setiap penjuru Masjidil Harom diletakkan ribuan gallon air zam-zam baik yang dingin seperti air es maupun yang sejuk atau netral, selain gallon ada juga ratusan sudut-sudut tempat yang dipasangi kran-kran air zam-zam, jadi nggak perlu turun ke bawah lagi.

Air zam-zam itu mengenyangkan, kalau nggak percaya coba aja, banyak aku temui orang-orang yang tekun beribadah di masjid tanpa makan dari pagi sampai petang, saat ditanya makan apa selama berjam-jam menunggu di masjid, mereka jawab hanya minum air zam-zam. Saat kita minum air zam-zam sebaiknya hadapkan wajah kita kea rah Qiblat/Ka’bah, sambil berdo’a “Ya Allah, berilah aku ketetapan iman, kesehatan jiwa dan raga serta ilmu yang bermanfaat”.

Provider Selular

Selama thawaf dan sa’i, ada sedikit kebiasaan para jama’ah yang hampir sama, mereka rata-rata membawa tas kecil yang disampirkan dibahu mereka, tas yang dibawa itu hampir semuanya hadiah dari Provider Seluler yang ada di Tanah Suci, yaitu STC, Zain dan Mobili. Para provider ini saling berlomba-lomba memberi hadiah gratisan kepada para jama’ah haji yang diterima dengan senang hati, berupa tas cangklong dan payung.

Tas ini biasanya dipakai oleh jama’ah untuk menaruh sepatu atau sandal jika tidak, biasanya dipakai buat menaruh sajadah atau kitab suci, bisa juga diisi dengan wadah air minum atau sedikit camilan berupa biscuit, kurma atau permen.

Tas Cangklong Mobily

Balik lagi ke layanan provider, sebenarnya ini memang tergantung like or dislike, nggak ada keistimewaan yang khusus, namanya konsumen akan mencari yang paling murah, tapi murah di satu sisi blum tentu murah di sisi yang lain.

Yang aku perhatikan sekilas kalau simcard Zain tandemnya di tanah air dengan provider Telkomsel, STC (Al-Jawwal) dengan Indosat, XL dan Axis.

Kalau Mobili kurang jelas tandem dengan provider apa di tanah air. Biasanya sih otomatis saat kita ke Tanah Suci, provider tanah air akan menyesuaikan diri dengan jaringan provider di sana, tahun 2005/2006 yang lalu aku pakai simcard Indosat yang langsung berganti dengan nama Al Jawwal.

Sekarang persaingan antar Provider semakin gencar, kalau dulu setahuku hanya Al Jawwal, tapi kini semakin banyak pilihan. Bagi yang seneng browsing, simcard Zain termasuk cepat untuk menjelajah jaringan social networking maupun website, termasuk Baltyra, hehe…, mau chaat via YM juga lancar.

Simcard Zain, akan otomatis mengaktivasi jaringan saat di masukkan ke Hp kita, bagusnya sih kalo Hp nya punya jaringan 3G. Hanya simcard Zain ini kalau kita pakai ke Modem USB, borosnya minta ampuun, jadi mending browsing via Hp aja deh.

Bagi yang pakai Blackberry atau iPhone, koneksinya bisa di setting via mobile browser, cuma di sini susah mau nemu hot spot gratisan, kalau di hotel kita harus tanya ke recepsionist dulu kode password nya.

Sebaiknya pemakai BB atau iPhone berhati-hati dengan pengenaan tarif roaming, bisa-bisa jebol itu tagihan, kecuali yang punya kantong tebel gak masalah kali ya, hehe…., jadi yang paling bijak itu sebaiknya beli simcard provider Saudi, mau merk apa aja nggak masalah, kalau yang di Indonesia pakai simcard Telkomsel, sebaiknya beli simcard Zain, jadi untuk sms ke nomor-nomor Telkomsel, pengenaan tarifnya lebih murah, dibanding kalau kita pakai yang STC/Al Jawwal.

Soal tempat beli pulsa bisa ditemui di toko-toko penjual souvenir, bilang aja pulsa atau vocher simcard provider yang kita pakai, nanti ada nilai-nilai pulsanya dari SR 10, 20, 50 dan 100. Seperti di tanah air, harga jual biasanya lebih besar dari nominal voucher yang tertera di kartu, tergantung pedagangnya, ada yang ambil selisih 1-2 real, bisa juga ketemu yang harganya sama persis dengan nilai vouchernya, untung kalau ketemu yang seperti ini.

Baik di Mekkah atau Madinah selain di toko, pedagang voucher ini suka pada mangkal didekat Masjid, biasanya mereka suka membawa satu kotak kaca kecil yang didalamnya berjejer kartu-kartu voucher, seperti pedagang asongan.

Ada kejadian lain saat aku sedang memegang my BB untuk sms ke tanah air, tiba-tiba didekati oleh 2 orang ibu dari timur tengan, bertanya berapa real harganya? Lha…aku nggak mudeng dengan harga BB di Saudi Arabia, dengan asalnya aku sebut aja 4000 real…tampak muka kedua ibu itu langsung kaget saat mendengar harga yang aku sebut, hahahaha…..dasar asaalll! Padahal harga BB di Saudi Arabia ada dikisaran 850 real s/d 1200 real tergantung typenya (info dari mutawif). Duuh sorry bu….slip the tongue!

Kalau yang pakai kartu XL, Indosat atau Axis, sebaiknya pakai STC/Al Jawwal, karena sesama tandem Provider jadi ada harga sms yang special, bahkan kalau sama provider Axis, bisa dapat tarif murah banget untuk panggilan keluar.

Khusus untuk musim haji, biasanya Provider kasih promo yang menggiurkan, misalnya kasih discount harga sampai gratis terima sms selama di Tanah Suci, biasanya sih kalau kita mengirim atau menerima sms selalu kena charge tarif yang tidak jauh berbeda.

Misalnya kalau kita kirim sms persatu sms kena tariff Rp.3000/sms maka menerima sms juga nggak jauh beda bahkan bisa aja samimawon, ini kalau kita pakai simcard provider dari tanah air. Jadi sebaiknya ganti dengan kartu local aja, murah dan mudah aktivasinya, yang harus selalu diingat sebelum pencet nomer Hp, harus masukkan kode +62….(lanjutkan dengan nomer simcard tujuan di tanah air, tapi angka 0 (nol) tidak dipakai, karena sudah diganti dengan +62),

Bagi yang sudah biasa bepergian ke LN tentu nggak masalah menelpon ke tanah air, hanya saja hal ini berbeda jika yang pergi haji itu para jama’ah dari pelosok Indonesia, yang megang HP aja baru pertama kali, itupun dipaksa pakai biar anak-anak mereka bisa menghubungi orang tua mereka di tanah suci,

Yang lucunya para orang tua ini kadang jengkel karena tidak terbiasa memakai Hp.

Aku pernah naik bus dengan seorang nenek dari rombongan yang berbeda, selama perjalanan itu alarm Hp nya terus menerus berbunyi, aku sebetulnya sungkan mau ngomong “beri ke saya Hp ibu, biar saya matikan alarm Hp ibu”, tapi lama-lama aku kasihan juga melihat nenek ini sangat terganggu dengan bunyi Hp nya sendiri, dia tampak kerepotan mematikan Hpnya, memang berhenti sejenak alarmnya, nggak lama kemudian alarm Hp nya berbunyi kembali, hehehe….capeek deh!

Akhirnya aku bantuin juga mematikan alarm Hpnya. Setelah alarm Hp nya benar-benar mati total, dia tersenyum padaku sambil ngomong “Ibu nggak ngerti pakai Hp, tapi anak ibu tetap memaksa agar ibu bawa Hp ini, agar mereka bisa menghubungi ibu, bunyi alarm ini memang mengganggu tapi ibu tidak bisa mematikannya”. Pengakuan yang sangat polos dari seorang ibu, jadi inget sama nenek Juhe yang dibawain Hp oleh anaknya, tapi tidak terpakai karena beliau tidak mau repot, kalau anaknya mau menelpon paling melalui Hp ku.

Nah, penjelasan seputar simcard selular segitu aja deh…yang pasti hubungan ke tanah air nggak akan putus, nyambuuung trusss…. Kek iklan salah satu provider aja, hehe.

Part berikutnya segera menyusul yaa….tenang sudah diedit, gak perlu nunggu sebulan kedepan hehehe…

*Sumber Pustaka: “Sejarah Mekah” karya Dr.Muhammad Ilyas Abdul Ghani.

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.