Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

The Broken Cobek

Tuesday, 16 March 2010

Viewed 3488 times, 2 times today | 70 Comments |

Junanto Herdianto

Beberapa minggu lalu, cobek di rumah pecah. Memang bukan cobek kualitas tinggi yang terbuat dari batu kali, tapi dari campuran semen. Oleh karena itu, wajar bila cobek ini lebih mudah pecah. Saya memang sengaja tidak membawa cobek saat pindah ke Tokyo beberapa bulan lalu. Menurut info teman-teman yang tinggal di Tokyo, di tempat tinggal saya sudah ada cobek. Jadi tidak perlu bawa lagi. Dan cobek itulah yang kini pecah.

Entah kenapa, saat dulu akan pindah, hampir semua orang yang saya tanya selalu mengingatkan akan pentingnya membawa cobek. Saat saya tanya soal tempat tinggal, pekerjaan, ataupun kehidupan lainnya, mereka menganggap itu hal mudah dan nanti bisa dipelajari. Tapi tidak demikian dengan cobek. Seorang teman bahkan sampai mengirim e-mail khusus pada saya, isinya kira-kira begini, “Mas, jangan lupa ya kalau ke sana nanti bawa cobek. Itu penting banget loh.” Bahkan ada yang menelpon saya dan berkata, “Mas, kalau baju gak usah bawa banyak-banyak, tapi yang penting bawa cobek. Itu susah dicari..”. Semua pesan pada saya adalah tentang cobek, cobek, dan cobek. Saya jadi berpikir, jangan-jangan bisa payah nanti kalau saya tidak bawa cobek. Sejak saat itu, pikiran saya melulu tentang cobek. Bagaimana membawa cobek dan bagaimana hidup nanti tanpa cobek.

Apa sih yang spesial dengan cobek? Bagi istri saya, cobek memang sebuah alat bertahan hidup. Pun begitu bagi ibu saya dan mertua saya. Mungkin kalau dirunut ke nenek saya, jawabannya akan sama. Kalau saya tak bisa lepas dari Blackberry, maka mereka tak bisa lepas dari cobek. Saya sendiri jarang sekali memasak. Kalaupun memasak, juga jarang menggunakan cobek. Jahe dan bumbu lainnya lebih sering saya “kepruk”. Kalaupun terpaksa harus mengulek bumbu, dapat dilakukan dengan blender. Tapi buat para punggawa dapur, rasa ulekan tak tergantikan. Mulai dari memasak gulai hingga sayur asem, cobek adalah sebuah prerequisite yang perlu ada. Blender secanggih apapun belum bisa menggantikan peranan cobek. Cita rasa bumbu dan kenikmatan tradisional hanya bisa didapatkan dari cobek.

Cobek yang patah

Dalam nomenklatur kuliner Indonesia, cobek memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai sajian makanan. Bahkan beberapa makanan menempatkan cobek sebagai landmark-nya, seperti ikan gurame sambal cobek, bebek goreng cobek, pecel lele cobek, dan berbagai menu lainnya. Di sekitar Padalarang, perajin cobek membuat aneka ragam cobek, mulai harga Rp 5000 sampai dengan Rp 50.000 dan disebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Cobek menjadi ciri dari setiap dapur orang Indonesia. Berbagai sajian dan kenikmatan kuliner Indonesia pada umumnya harus melewati proses “pencobekan”. Tak heran kalau ada orang Indonesia yang ke luar negeri, cobek menjadi “important list” yang tak pernah terlupakan.

Pagi ini, saya memandang pecahan cobek di dapur. Miris juga melihatnya. Tak lama kemudian, seorang kawan yang ingin sekolah di Jepang mengirim pesan di blackberry messenger. Ia bertanya apa hal yang perlu dipersiapkan di Jepang nanti untuk keperluan studinya. Saya punya segudang hal penting buat dia, mulai dari tema thesis hingga kehidupan di apartemen. Namun entah kenapa, yang terucap pertama kali adalah, ”Jangan lupa bawa cobek mas…..”

Share This Post

Posted by Tuesday, 16 March 2010 on 00:05.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

70 Responses to “The Broken Cobek”

Pages: [7] 6 5 4 3 2 1 »

  1. 70
    awesome Says:

    hwahahahaha….. *ketawa baca komentarnya Peony … cadangannya banyak amat …

  2. 69
    kembangnanas Says:

    mbakmi, salah… yg bikin tambah enak tuuu campuran baru yang tergerus, sampe bumbu warnanya jd sedikit gelap….

  3. 68
    P@sP4mPr3s Says:

    hohoho… cobek, walau jarang (hampir nyaris tidak) terpakai, tetapi harus ada. disini di singapura, kalo mama kemari, pasti yang pertama dicari si cobek.
    buat ngulek cabe…. buat makan…

  4. 67
    Me Says:

    Hehehe keluar negeri sampai bawa cobek ya???ternyata barang langka juga ya…

  5. 66
    Peony Says:

    Mas Junan… aku juga punya pengalaman dengan cobek pecah.. mana yg pecah itu adalah cobek andalanku… jadi sekarang aku punya banyak cobek dan sekalian ulekannya yg belom dipakai (kira-kira ada 5 pasang) sebagai back up / cadangan kalo-kalo cobek/ulekan yg sedang dipakai pecah.. hehehe…

  6. 65
    elnino Says:

    Ami: lha itu kan tambahan garam alami…

  7. 64
    Ami Says:

    @Yu Nut : Asline sing nggarahi enak selain mineral from cobek-e yo tetesan kringet Panjenengan yang bersungguh-sungguh mengerahkan tenaga dalam menguleg…..he he he

  8. 63
    Serena Safa'i Says:

    Demi kesehatan sebaiknya cobek yang dibuat dari cement yangan di-pakai buat makanan – Ingredients used in making cement process are typically materials such as limestone, marl, shale, iron ore, clay, and fly ash.

    The presence of some substances in concrete, including useful and unwanted additives, can cause health concerns. Natural radioactive elements (K, U and Th) can be present in various concentration in concrete dwellings, depending on the source of the raw materials used. Toxic substances may also be added to the mixture for making concrete by unscrupulous makers. Dust from rubble or broken concrete upon demolition or crumbling may cause serious health concerns depending also on what had been incorporated in the concrete.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Concrete#Health_concerns

  9. 62
    Imeii Says:

    Elnino, itu bumbu penyedapnya kali ya

  10. 61
    elnino Says:

    Bagi yang cobek mania seperti saya (dengan catatan jumlah bahan yang diulek tidak banyak ), terasa kok bedanya bumbu hasil uleg sama hasil blender. Aroma dan rasa (halah) waktu ditumis beda banget… Mungkin ketambahan ‘gripisan’ batu itu ya yang bikin enak

    Kadang2 kalo diperhatikan, di dasar panci kalo masak sop yang bumbunya diuleg ada endapan seperti pasir. Berarti ada tambahan mineral dari cobek yang makin lama makin tipis

Pages: [7] 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)