Laptop Di Sekolah

Handoko Widagdo

Palabuhanratu, Awal Maret 2010

Berubah itu sulit. Namun jika niat membara, maka semua kesulitan akan diterjang. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung (semua rintangan akan dipatah, semua halangan akan ditebas). Demikianlah yang terjadi ketika guru-guru tua di SD pelosok belajar menggunakan laptop.

clip_image002

Adalah sebuah proyek pendidikan yang bertujuan untuk membenahi management dan governance (tatalayanan pendidikan). Proyek ini tidak sama sekali bersinggungan dengan intervensi proses belajar mengajar. Proyek hanya berfokus pada perbaikan pengelolaan (management) dan penatalayanan (governance). Salah satu bidikan dari proyek adalah perbaikan perencanaan dan pendataan. Setelah bekerja beberapa tahun di lebih dari 1500 SD/MI di tujuh provinsi, proyek berkesimpulan bahwa sistim pendataan dan perencanaan tingkat sekolah begitu lemah. Harus ada tindakan dalam penataan pendataan dan perencanaan sekolah. Hal ini wajar saja. Sebab sejak tahun 1975, sekolah dasar di Indonesia tinggal menuruti saja apa yang menjadi garis program dari atas. Akibatnya, data dari sekolah tidak menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan dalam perencanaan. Keadaan yang demikian sedikit demi sedikit menggerus kemampuan sekolah untuk membuat perencanaan sendiri. Seragam programnya!

Dalam tulisan ini aku tak hendak mendiskusikan hal serius, yaitu tentang data dan perencanaan sekolah. Biarlah itu menjadi kajian dari para pakar pendidikan. Dalam tulisan ini saya hanya akan mengajak teman pembaca untuk meneladani para tua yang penuh semangat belajar alat baru. Laptop.

clip_image004

Sebagai bagian dari penataan data dan perencanaan, proyek pendidikan ini mau tidak mau mengenalkan komputer kepada sekolah. Awalnya di internal proyek terjadi perdebatan sengit. Apakah SD dan MI di pelosok desa akan mampu menggunakannya? Sebab banyak desa yang bahkan listrik saja belum tersambung. Namun mengingat bahwa kebutuhan akan IT tak lagi bisa ditunda, maka mau tidak mau, bisa tidak bisa komputerisasi data dan perencanaan harus dijalankan.

clip_image006

Benar saja, ketika komputerisasi dikenalkan, maka antusiasme guru dan kepala sekolah desa begitu besar. Mereka menyambut dengan gegap gempita. Beberapa kepala sekolah bahkan membeli laptop sendiri, meski belum pernah mengoperasikannya. ”Tikusnya meloncat-loncat” demikian kata seorang kepala sekolah yang sudah berumur 50+ saat pertama mencoba memakai mouse. ”Lhaa….hilang….kemana tadi data yang sudah saya ketik?” Komentar seorang ibu guru yang bingung mencari file yang sudah ditutup.

clip_image008

”Ha…ha…ha… saya catat saja di buku supaya nanti tidak lupa bagaimana cara membukanya…”, komentar guru yang lain. Hal-hal demikian terjadi dalam proses belajar mereka menggunakan alat baru yang bernama komputer dan laptop. Namun akhirnya mereka menjadi mahir juga. Bahkan beberapa dari mereka berani presentasi rencana kerja sekolah di depan bupati dengan menggunakan powerpoint! Kemajuan bukan? Ternyata niat dan semangat yang menggelora menjadikan mereka pembelajar yang sukses. Selamat para guru, selamat para kepala sekolah. Memang anda layak mendidik anak bangsa untuk menatap masa depan.

clip_image010

Sejujurnya, saya juga mengalami trauma teknologi semacam ini ketika awal-awal menggunakan komputer. Awal tahun 90, saat saya pertama bekerja untuk suatu organisasi di bawah PBB, saat itu adalah pertama kali saya menggunakan komputer. Karena biasanya menggunakan mesin ketik, maka ketika huruf sampai di pinggir kanan layar, otomatis tangan kanan naik mencari panel untuk pindah spasi. Keanehan gerakan saya ini sampai menjadi bahan tertawaan teman-teman di kantor.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.