Monte Alegre

Dewi Aichi – Brazil

Berangkat hari Jum’at siang setelah makan siang, kami bertujuh berangkat ke Monte Alegre untuk melewatkan weekend di sana. Memang bukan yang pertama kalinya kami berweekend di sana, ini untuk yang kedua kalinya setelah 3 bulan yang lalu kami juga ke Monte Alegre. Tempatnya masih hijau, serasa berada di tengah hutan belantara. Tanah yang berbukit-bukit dan masih banyak perkebunan kopi.

Dengan menggunakan 2 mobil, karena 1 mobil ngga muat untuk 7 orang. Aku, Prisc dan Bru berada dalam 1 mobil, Prisc sebagai sopir dalam kota, dan aku kadang menggantikannya sebentar kalau pas di jalur aman. Maklum, sampai sekarang aku belum bisa bikin SIM karena CPF ku belum jadi. Suamiku bersama suami Prisc berada dalam mobil satunya, anakku dan juga anak Prisc yang masih berumur 1 tahun masuk dalam mobil suamiku.

Perjalanan ditempuh dalam 2 jam lebih dari rumahku. Sebenarnya sih bisa ditempuh hanya 2 jam saja rada ngebut. Tapi karena tujuan kita santai, kenapa sih harus ngebut? Dengan santai, kami bisa menikmati panorama sepanjang jalan yang kita tempuh. Kadang kita melihat sapi-sapi yang jumlahnya ratusan, yang dibiarkan bebas di alam perbukitan. Dan kadang juga kita temuai pemandangan yang indah yaitu tampak sapi-sapi itu berbaris sambil menikmati rumput hijau, tampak diantara batas puncak bukit dengan langit yang memanjang secara horizontal.

Dalam pertengahan jarak tempuh, kami beristirahat sebentar untuk menikmati kopi hangat maupun camilan ala kadarnya. Kami berhenti di resto Frango Assado (ayam panggang). (gambar 1).

Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan hingga sampai tujuan. Sudah menjelang malam kami sampai di tempat menginap yang berada di atas bukit. Di lokasi perbukitan itu ada sekitar 18 rumah ukuran kecil , kami menempati rumah (chale) no 16 dan 17..rumah yang lokasinya berada di puncak bukit. (gambar 2).

Para suami sibuk mengambil barang bawaan kami dari mobil untuk dimasukkan ke tempat menginap, sedang aku, Prisc dan anak-anak sibuk menikmati panorama sekitar bukit.

Setelah selesai, kami sepakat untuk turun bukit melalui jalan setapak dan harus menyebrang sungai kecil . Kemudian kami menuju sebuah rumah kuno , disitulah kami makan malam, sarapan dan makan siang. Menu makanan luar biasa lengkap, dan semua bahan makanan adalah hasil dari sekitarnya. Segala macam sayuran dan buah, tinggal ambil dari pekarangan. Juga untuk lauk pauk seperti daging ayam, daging sapi, daging babi dan daging kambing adalah hasil ternak dari pemilik penginapan. (gambar 3).

Telur ayam kampung kita bebas ambil, dan tinggal menyerahkan ke bagian dapur untuk di masak. Susu sapi segar juga kita bisa memerah dari sapinya. Di rumah kuno itu juga terdapat tempat pembuatan licor dengan berbagai rasa, yang kami lihat ada rasa anggur, strawberry,kopi,nanas. (gambar 4).

Setiap pengunjung bebas menikmati licor sepuas-puasnya dengan gratis, dan juga setiap pagi kita bisa melihat para juru masak membuat bolu dengan berbagai rasa, desert dengan aneka buah. Yang mana setelah semuanya selesai, bolu dan dessert akan di hidangkan dalam sebuah meja besar, bebas untuk dinikmati oleh para pengunjung.

Para pengunjung bebas memberi makan pada ternak-ternak yang ada di situ. Aku sendiri tidak suka dengan aroma binatang ternak seperti babi dan kambing, baunya tidak tahan. Tapi anak dan suamiku enjoy saja ngasih rumput di kandang kambing. Aku jadi senyum-senyum, ternyata yang namanya kambing , entah itu kambing Brazil maupun kambing Indonesia, tetap saja tampangnya sama, ngga ada itu kambing Brazil hidungnya lebih mancung. (gambar 5).

Setiap hari kami bebas menunggang kuda .Jumlah kuda yang ada sangat banyak, memang disediakan bagi para pengunjung. Kuda-kuda itu bisa kita gunakan untuk naik turun bukit menikmati pemandangan yang ada. Disepanjang jalan juga kami saling menyapa ke mereka yang juga semuanya berkuda. Untuk sekedar berlari menunggang kuda, di tempat ini juga menyediakan lapangan. Pengunjung bebas berlatih bagaikan penunggang kuda yang sudah profesional he he…(gambar 6,7)

Kalau bangun pagi, dan begitu membuka jendela maupun pintu penginapan, sering kami temui monyet-monyet ukuran kecil, bisa dibilang hanya seukuran telapak tangan orang dewasa. Monyet-monyet itu sangat imut dan menggemaskan. Jinak, dan tidak akan pergi apabila didekati. (gambar 8.9)

Tentang rumah kuno yang sekarang berfungsi sebagai tempat untuk menjamu para tamu, dulunya adalah tempat untuk makan para budak yang bekerja diperkebunan kopi. Sedang di depan rumah kuno, terdapat hamparan tanah kosong yang sangat luas, dulu digunakan untuk menjemur kopi dan sampai sekarangpun tanah itu masih digunakan untuk menjemur kopi.

Jauh diseberang tanah kosong tersebut, terdapat bangunan ratusan tahun yang lalu, dan menurut cerita itu dulunya digunakan untuk tidur para budak. Ketika berada ditempat tersebut, bayangan dikepala jauh ke masa lalu, apa saja yang terjadi di tempat ini. Masih ingat dengan telenovela Escrava Isaura? Bayanganku seperti yang ada dalam novela tersebut.

Melewatkan akhir pekan di perbukitan hijau memang lebih segar. Apalagi saat itu cuaca panas, kami puas berenang, puas jalan-jalan mendaki bukit, puas berapi unggun di malam hari sambil membakar marshmallow, begadang main UNO.

Minggu sore kita pulang, dengan terlebih dahulu memesan oleh-oleh berupa beberapa botol licor dengan berbagai rasa, keju, bolu, aneka puding. Di Monte Alegre, selain tempatnya masih hijau, untuk semua biaya penginapan dan makan selama 3 hari di sana tidaklah mahal. Kami membeli licor yang tiap botolnya berisi 500 ml, harganya kurang lebih usd 6.00. Semua oleh-oleh tersebut pembuatannya satu tempat dengan lokasi penginapan.

Sangat disayangkan bahwa kalian tinggalnya jauh, coba kalau kita tetanggaan, pasti sudah aku kirimi berbagai aneka oleh-oleh dari Monte Alegre he he he. Dalam hatiku, untung kalian jauh, kalau deket kan aku harus berbagi oleh-oleh dengan kalian. Rencananya 4 bulan mendatang, kami akan ke sana lagi, untuk mengikuti pesta Morango atau pesta strawberry yang diadakan setiap musim strawberry.

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.