Nasi Pindang

Josh Chen – Global Citizen

Masakan satu ini tak banyak orang tahu. Terutama yang di luar Jawa Tengah, dengar Sega Pindang (sega = nasi) hampir bisa dipastikan jarang sekali yang tahu. Pindang bukan seperti dalam bayangan untuk istilah yang lebih umum “telor pindang”, lain sama sekali.

Nasi Pindang lebih sering terasosiasi dengan Kota Kudus, sekitar 1-1.5jam perjalanan dari Semarang ke arah timur. Kota kelahiran Buto Kudus dan sekaligus Kota Kretek ini sering meng’claim nasi pindang adalah makanan khas Kota Kudus. Padahal di Jawa Tengah, Nasi Pindang dengan mudah didapat di mana-mana.

Di Semarang ada beberapa tempat jualan Nasi Pindang yang mak-nyus, mantep dan uenak tenan. Di Suyudi (seperti Lani bilang) dan di Mataram adalah 2 tempat yang bisa aku ingat. Sudah terlalu lama keluar dari Semarang untuk mengingat detail tempat makan Nasi Pindang yang enak.

Karena terkangen-kangen Nasi Pindang, once upon a time di Medan, waktu itu kedatangan tamu yang salah satu pembaca Baltyra juga sekarang, aku minta dibawakan resep pindang. Langsung praktek dan gagal! Tidak ketemu penernya di mana (pener = pas + bener).

Baru setelah balik ke Jawa lagi, lidah, mata dan feeling lebih terasah, sehingga berani mencoba lagi bikin pindang. Dan inilah ketiga kalinya masak pindang…

Bahan & bumbu:


  • Daging sapi (bagian apa terserah) 500 gr
  • Brambang – bawang (brambang = bawang merah, bawang = bawang putih)
  • Kluwek 7-8 butir (ini yang terpenting)
  • Kemiri 7-8 butir
  • Sereh 2-3 batang
  • Daun salam 3-4 lembar
  • Lengkuas secukupnya
  • Daun so (= daun melinjo) muda, ini adalah kunci terpenting juga berdampingan dengan kluwek.
  • Daun jeruk
  • Kunyit (seruas kelingking, kelingking masing-masing, jangan berpatokan kelingking Buto ya). Untuk kunyit ada yang pakai ada yang tidak, tergantung selera.
  • Santan encer (harus encer, jangan dan tidak boleh yang kental), walaupun kadar keenceran kembali lagi ke masing-masing selera.

Dua bahan terpenting: Kluwek & Daun So (= melinjo)

Cara memasak:

  • Rebus daging. Berapa lama terserah masing-masing selera kadar keempukan seberapa. Yang penting, busa yang timbul tepat sebelum air mendidih harus diangkat dan dibuang untuk menghasilkan kuah daging yang ‘light’ dan bening.
  • Haluskan brambang – bawang, kemiri, daun jeruk, kluwek, kunyit, boleh dengan blender, boleh dengan cobek, tambahkan garam.
  • Tumis bumbu sampai harum, masukkan sereh, daun salam dan lengkuas (sudah dikeprek), aduk-aduk.
  • Tambahkan santan encer.
  • Masukkan ke dalam panci rebusan daging, aduk-aduk.
  • Tambahkan daun so (melinjo) yang sudah dibersihkan dan dicuci
  • Setel rasa dengan garam dan gula (pasti ada yang frotes pakai istilah “setel rasa”…haha)

Hidangkan. Di Jawa Tengah, Nasi Pindang dihidangkan dengan nasi yang disiram langsung kuah pindang, istilahnya “campur”, sementara di tempat lain, ada yang lebih suka nasi dan kuah pindangnya pisah. Tambahkan sedikit jeruk nipis, cabe rawit yang dihaluskan sebelum dihidangkan plus kerupuk udang.

Note:

  • Daun jeruk ada yang suka diblender/diulek sekalian sama bumbu yang dihaluskan, ada yang suka dicemplungkan langsung ke masakan. Kalau aku lebih suka diblender langsung, karena wangi daun jeruk akan lebih terasa dan kuat.
  • Pilihlah kluwek yang bagus. Tandanya waktu dikocok akan terasa isi daging kluwek terpisah dari kulit kerasnya. Kalau yang matang dan pas, biasanya terpisah dari kulit keras, berwarna coklat tua berkilat sedikit berminyak dengan bau khas’nya. Kluweknya dipecah pakai palu dulu, jangan utuh dicemplungkan ya…haha…
  • Memang ada sedikit kemiripan citarasa dengan rawon, namun berbeda di bumbu dan kuahnya. Rawon tanpa santan, sementara pindang dengan santan.

Yang jadi masalah untuk yang tinggal di luar negeri mungkin cari daun so ini…good luck dan walahualam dah…haha…

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *