To Know What A Life’s Coming For

Pritha

Seringkali, gue dibuat curious oleh hal-hal sepele gak penting yang bisa membuat orang terheran-heran kenapa gue sampai memikirkannya. Kayak judul di atas ini nih.

Tapi bukan, bukan gue bingung pada diri sendiri buat apa sebenarnya gue hidup. Ayolah, gue nggak setolol dan se-desperate itu juga. Karena jawaban atas pertanyaan itu (seandainya benar gue tanyakan) terlalu banyak untuk disangkal. Nggak percaya, coba tanyakan pada Ibu gue. *ampun Bu ampun*

Memang sih, kadang gue berpikir, kenapa ya gue bisa terlahir sebagai orang Pritha dari Bapak ini dan Ibu itu, di Jakarta, Indonesia, dari suku Jawa, bla-bla-bla dan bukan yang lainnya aja? Jawabannya……., kenapa keek. Ya suka-suka Yang Mahakuasa dong, gimana seeh. Oke, gue sudah melantur. Back to the topic.

Hidup ini aneh, semua orang pasti setuju. Nggak ada satu hal pun yang pasti sekaligus mustahil. Meminjam bahasa seorang teman yang dipanggil Muba, hidup ini serba tergantung. Tergantung pada siapa yang menjalani. Tergantung bagaimana cara kita memandang.

Ada dua orang hidup bertetangga, yang satu kondisinya serba ada, satunya lagi harus mengikat pinggang setiap hari hanya untuk makan, adakah orang yang bisa bilang yang mana yang lebih bahagia? Nggak ada. Bisa saja keduanya mengaku sama-sama nggak bahagia dengan hidupnya sendiri.

Pada jam pelajaran Matematika seorang seperti gue mungkin bertanya, Tuhan, mengapalah Engkau memberiku cobaan seberat rumus-rumus ini? Tanpa menyadari bahwa pada saat yang sama, ada seorang anak jenius bersimpuh dekat rumahnya yang masih setengah bobrok setelah diguncang gempa, mencoretkan rumus-rumus cosinus dan berharap dia masih bisa dapat kesempatan untuk belajar lebih banyak karena dia ingin jadi seorang Matematikawan.

Seorang laki-laki yang lagi-lagi gagal dapat pekerjaan termenung di kamar sambil menggumam, ya Tuhan, saya mau mati aja, karena nggak ada lagi gunanya saya hidup. Melupakan fakta bahwa jauh di seberang lautan sana, seorang ibu di Kalkuta sedang mengais tempat sampah untuk menyambung nyawa anaknya yang kelaparan dan kekurangan gizi.

Kesimpulannya? Sekali lagi, hidup memang aneh dan serba tergantung.

Nggak pernah ada seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok hari, dan mengapa sesuatu mendadak terjadi hari ini.

Tapi apapun itu…., hidup ada, hanya untuk disyukuri.

Karena tanpa rasa syukur, manusia nggak akan pernah bisa merasa cukup.

Walaupun nggak ada yang sempurna.

Bersyukur. : )

picture : yobo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.