Selamat Jalan Ebet Kadarusman

Redaksi note :

Salah satu MC terkenal Indonesia, Ebet Kadarusman tutup usia pada hari Sabtu, tgl 20 Maret 2010, pk 06.00 pada usia 78.  Kang Ebet meninggal di rumah sakit Hasan Sadikin, Bandung akibat stroke. Beliau akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Cibarunai Sarijadi, Bandung. Masih ingat dulu jadul sering menonton acara Salam Canda di RCTI.  Kang Ebet sering mengucapkan kalimat yang bermakna dalam akhir acara, salah satunya adalah  ” baik memang menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik “. Selamat jalan Kang Ebet…

Iwan Satyanegara Kamah

Farewell, Mang Comel…

Saya sedih sekali mendengar kepergian Mang Ebet Kadarusman hari ini di Bandung. Kesedihan saya sangat terasa bila mengingat suara beliau semasa menjadi penyiar Radio Australia Siaran Indonesia, yang biasa disingkat RASI. Saat itu saya masih duduk di sekolah dasar di pertengahan tahun 1970an, ketika senang-senangnya ikutan kakak saya mendengar siaran radio luar negeri dalam bahasa Indonesia.

Dari beberapa stasiun radio luar negeri, ada beberapa yang terkenal di Indonesia dengan rentang pendengar tersebar di seluruh pelosok. Ada BBC London, VOA Suara Amerika, Deutsche Welle dan Radio Australia.

Nah, Radio Australia lah yang termasuk paling popular dan cukup lama jam siarannya mengunjungi pendengar di tanah air. Dari semua penyiar-penyiar RASI, Mang Ebet termasuk paling popular, juga Nuim Khaiyyath. Saya ingat kalau Mang Ebet yang siaran dengan suara yang berat dan kocak, selalu menghibur orang ketawa. Biasanya di akhir siaran, Mang Ebet yang punya nickname Mang Comel, selalu memberi nasihat tentang kehidupan dengan jenaka (saya sedih kalau mengingat ini).

RASI dan siaran-siaran radio luar negeri banyak memberi wawasan kepada saya sejak kecil dan mungkin juga banyak pendengar lainnya. Bagaimana saya bisa tahu lagu-lagu baru Queen, Rolling Stones, the Boomtown Rats, yang belum beredar di sini, ya dari mereka itu. Dari Mang Ebet dan rekan-rekannya seperti Istas Prastomo, Eddy Tando yang kocak, Pak Moenandar, Nina Yussac yang lembut, bahkan ada juga (saya lupa namanya), menantu bekas presiden pemerintahan darurat Indonesia Sjafruddin Prawiranegara yang menjadi penyiar di sana. Nah, penyiar ini yang melahirkan bayi tabung pertama orang Indonesia tahun 1981 (kalau tak salah). Juga kami terbius dengan cerpen-cerpen menarik yang dibacakan monolog oleh sahabat Mang Ebet, Pak Muhammad Diponegoro. Waduh, terhanyut saya dengan intonasinya. Berita-berita mereka pun tak disensor apa adanya, terutama tentang dari tanah air. Sering saya tahu kejadian di Jakarta justru dari Melbourne, London atau Koln (tempat Deutsche Welle), karena semasa Pak Harto semua serba tertutup.

Saya pun sering mendapat kiriman buku-buku pelajaran bahasa Inggris dengan kasetnya. GRATIS! Kadang saya minta langsung saja sama Mang Ebet. Eh, dikirimin. Makasih Mang atas kebaikanmu. Saya selalu akan ingat sampai kapanpun… (sedih lagi…) Apalagi kalau mengingat gaya Mang Ebet nyiar….penuh tawa, humor dan menghibur. Untunglah, saya bisa tetap bisa mendengarkan suaranya saat sebuah stasiun radio baru memakai Mang Ebet sebagai penyiarnya, ketika soft launch sepanjang bulan November 1987. Saya pernah sekali mengunjungi rumahnya Mang Ebet di bilangan Slipi sekitar tahun 1987.

Ada banyak penyiar-penyiar stasiun luar negeri yang akhirnya menjadi sosok yang terkenal. Sebutlah, Prahastoeti, yang juga istri Wahju Adhitama. Mereka adalah penyiar radio VOA Suara Amerika awal tahun 1970an. Prahastoeti kembali ke tanah air dan menjadi penyiar TVRI dengan nama Tuti Adhitama. Sang suami, pernah menjadi ketua persatuan radio swasta nasional pertengahan tahun 1980an.

Tuti Adhitama pernah bikin gempar dunia politik Australia, ketika di tahun 1986 dia mewawancarai PM Australia Bob Hawke. Dalam wawancara itu Bob menyebut Timor Timur adalah bagian Indonesia. Kontan Portugal marah dan protes keras kepada Canberra.

Ada juga penyiar stasiun radio luar negeri yang dipanggil pulang oleh presiden Indonesia! Namanya Inke Maris. Dia penyiar BBC London dan ketika Pak Harto pulang dari kunjungan kenegaraan ke London akhir 1979, Inke dipanggil pulang dan berkarya di sini. Begitu juga dengan Mang Ebet. Dia kembali ke tanah air tahun 1986 setelah puluhan tahun menghibur jutaan pendengarnya di tanah air. Dan tugas mulia itu dilanjutkan sampai akhir hayatnya… Mang Ebet ini memang sangat Kadarusman. Hello Goodbye Mang Comel…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *