Pergumulanku Dengan Tuhan

R. Siska Perez

24 Desember 2007 hari minggu pagi.

Rio :  Kak Sis kita gerejanya jam 11 pagi saja ya?

Siska :  Ok, tapi aku dibonceng ya pake motormu (kereta), aku lagi malas bawa kereta.

Dan sebelum jam sebelas pagi pergilah kami ke gereja bersama -sama, dengan aku dibonceng oleh adikku itu. Tidak ada yang aneh tidak ada yang ganjil, dari kelakuannya ataupun sikapnya yang aku lihat, setelah habis kebaktian maka kamipun sama – sama pulang ke rumah dan itu kira kira jam 1 siang.

Setelah sampai di rumah dan menikmati makan siang bersama dengan keluarga, dia pamit keluar dengan alasan mau menjumpai temannya yang rumahnya ada di seberang jalan.

Selang setengah jam kemudian, ada seorang Bapak mendatangi rumah dan berteriak ” Sis, kamu ada liat si Rio ? “ langsung aku jawab baru saja keluar, dan Bapak ini pun pergi lagi. Aku curiga, kenapa Bapak ini mencari adikku walaupun aku kenal siapa Bapak itu (ternyata Bapak ini sudah melihat kecelakaan itu tapi dia ingin memastikan apakah itu memang adikku karena kebiasaaan adikku itu sering meminjamkan motornya pada semua temannya yang ada di kompleks kami itu)

Setelah beberapa menit kemudian Bapak ini datang lagi sambil berteriak teriak… “Riooooooooooo kecelakaan… Rio tabrakan”… spontan kami semua meloncat bak disambar petir. Aku menanyakan Bapak itu dengan tenang “ di mana Om, dah liat betul belum” .

Aku telp hp adikku itu masih nyambung tapi tidak ada jawaban, aku makin gelisah. Kuajak adikku yang bungsu untuk melihat kejadian itu benar apa tidak, kutinggalkan kedua orang tuaku yang sudah menangis sejadi-jadinya.

Kudatangi tempat kejadian itu, kuterobos orang yang berkerumun dan kutanya di mana korban. Semua hanya menjawab sudah dibawa ke rumah sakit. Kutelusuri beberapa rumah sakit di dekat kejadian itu untuk menanyakan keberadaan adikku itu setelah rumah sakit kedua yang kutanya, baru aku mengetahui bahwa adikku itu sudah dibawa ke rumah sakit umum terbesar di kotaku itu, karena kata perawat di rumah sakit itu keadaan adikku sudah parah jadi hanya di rumah sakit besar itu peralatan yang lengkap.

Sesampainya di rumah sakit itu, aku menjerit aku berteriak dokter..dokter… tolong bantu adikku itu tangisku sekuat kuatnya, dokter jangan takut biaya, aku punya tabungan dan uang kataku sekencang-kencangnya, walaupun aku tahu para dokter itu sedang bekerja buat menyelamatkan adikku itu.

Adikku si bungsu sudah pingsan duluan melihat darah yang menyelimuti adikku itu, sebenarnya aku juga sudah tidak kuat tapi aku harus, aku pegangin tangan adikku yang berlumur darah itu dan sesekali aku bisikan doa buat dia sambil kuucapkan “Rio kuat ya dek” mungkin juga dia dengar aku sehingga dia sesekali bergerak lemah.

Jam 5 sore dokter menyarankan bahwa adikku harus segera dioperasi karena adanya penyumbatan darah di otaknya, mungkin pada saat kecelakaan itu kepalanya terbentur ke aspal.

(Oh ya adikku korban tabrak lari yang mana sampai sekarang orang yang menabrak itu belum ketauan rimbanya). Aneh bin ajaib kejadiannya siang bolong tapi dia bisa dengan bebas lari tak satupun bisa mengejarnya.)

Setelah aku setujui dan tanda tangani surat perjanjian operasi, adikku lalu di operasi. Aku menunggu di luar dengan gelisah dan deraian airmata, berselang kemudian datanglah tanteku beserta ibuku mendampingiku, walaupun aku tahu tidak ada gunanya ibuku datang, karena hanya akan merepotkan saja dengan berkali kali dia pingsan.

Kupeluk ibuku dan kukuatkan beliau dengan kata – kata bahwa adikku akan selamat, padahal aku mengetahui dengan raut wajah dokter yang sendu saja, aku sudah mendapat jawaban bahwa hanya mujizat dan 30 % saja adikku bisa selamat, karena banyaknya pendarahan yang dialami.

Kami menunggu operasi itu bagai seabad lamanya, akhirnya dokter itu keluar katanya operasinya bagus tapi kita butuh darah, dan darah sedang diusahakan sekarang. Ohhh Tuhan jeritku dalam hati apa maksudmu ini ? Darah sudah ditransfer, operasi sudah dilaksanakan tapi Tuhan berkehendak lain, Dia menginginkan adikku itu berada di dekatNya bukan di dekat kami, berkumpul dengan keluarga kami lagi. Tepat 24 Desember malam pada pk 00:35 adikku dinyatakan sudah wafat oleh dokter.

Ibuku, adik bungsuku pingsan dengan segera. Hanya aku dan tanteku yang kuat walaupun sebenarnya aku sudah tidak kuat tapi aku harus. Entah kekuatan apa yang datang kepadaku, aku tidak menangis lagi, kudatangi dokter, kubereskan semua administrasi agar jenazah bisa segera di bawa pulang, kutelepon sahabat dekat rumah agar tolong rumah kami diberesi karena mungkin dalam sejam lagi kami akan datang bersama jenazah.

Setelah di dalam ambulance, aku menatap wajah adikku yang sudah memutih dan kaku itu, kutepuk-tepuk wajahnya berharap semua dokter itu salah, berharap adikku itu masih hidup, tapi tetap saja seperti itu lalu aku menjerit-jerit sekuatnya, aku panggil namanya berharap dia bangun dan menyapaku tapi sedikitpun aku tidak dijawabnya.

Aku menjerit Tuhan….Engkau bilang Engkau punya mujizat tetapi kenapa pada saat aku butuhkan Kau seakan menjauh. Bukankah dirimu mengetahui ya Tuhan dia pengikutmu yang setia, dia yang selalu mematuhi perintahmu dan berjalan benar di semua ajaranmu, mengapa? Mengapa? Mungkin hanya kau lentingkan saja tanganmu Tuhan adikku itu akan selamat tapi kenapa kau tidak lakukan itu Tuhan, jeritku sekuat-kuatnya.

25 Desember 2007 adikku belum juga disemayamkan, dikarenakan bertepatan dengan natal dan para penatua gereja sibuk dengan pelayanan akhirnya adikku dikebumikan 26  Desember bertepatan hari ulang tahunnya yang mana dia lahir tanggal 26 Desember 1982 dan dia diberi nama orang tuaku Rio Natal R.

Setelah kepergian adikku itu, rumah sepi, wajah kami selalu berduka walaupun sudah banyak penghiburan dan doa datang dari teman, tetangga dan saudara tapi yang namanya masih bersedih tetap saja bersedih. Khususnya aku yang selalu menemani adikku itu di rumah sakit dan aku melihat semua proses yang dilakukan dokter jujur aku trauma, aku takut dengan rumah sakit, aku takut melihat darah dan aku takut mendengar bunyi sirene dari ambulance, dan aku benci dengan Tuhan.

Lama aku tidak mau menginjakkan kaki ke gereja, buat apa? Lama aku marah dengan Tuhan, pikirku toh orang baik juga cepat kau ambil, kenapa bukan orang orang berandalan aja yang cepat kau cabut nyawanya biar tidak banyak orang orang jahat di bumi ini? Tapi tidak dengan orang tuaku mereka selalu membujukku agar sekali-sekali pergilah ke gereja, yang dengan lugasnya aku akan jawab “ma…… aku tidak butuh Tuhan pada saat ini” jawabku. Aku tidak mau membohongi hatiku memang aku marah dengan Tuhan pada saat itu, walaupun aku tau aku salah. Di saat aku mengingat kejadian itu, aku tidak bisa menahan air mataku, sakit, aku trauma dengan kematian.

Dua Tahun aku bergumul, aku belum bisa menerima dengan ihklas kepergian adikku itu, setiap aku ada waktu aku selalu mendatangi pusaranya menangis sejadi-jadinya di sana, karena hanya itu obat untuk menenangkan aku. Akhirnya aku menemukan tempat curhatku yaitu mertua perempuanku sendiri, aku cerita padanya, aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya.

Yang dengan lembutnya dia bilang menangislah kalau itu buatmu tenang tapi jangan lupa apapun yang ada di bumi ini segala yang hidup akan mati. Kita tidak bisa memilih kematian kita kepada Tuhan karena bukan kita yang mengatur Tuhan, jadi walaupun adikmu pergi dengan sebuah kecelakaan itu sudah bagian dari rencana Tuhan buat dia. Yang kita perlu lakukan sekarang hanya berdoa memohon diberikan ketenangan karena sudah ditinggalkan, dan dia juga di sana diberi ketenangan dekat denganNya.

Tidak segampang membalikkan tangan aku langsung bisa menerimanya, aku mulai lagi dengan  berdoa tapi kadang setengah jalan tiba-tiba aku tidak selesaikan doaku. Mertuaku selalu rajin bertanya bagaimana hari ini kamu berdoa tidak? Kujawab dengan jujur iya tapi separoh tidak abis jawabku, tidak apa-apa jawabnya. Dia sering mengajakku mendatangi temannya yang sakit di rumah sakit walaupun itu sangat berat kulakukan.

Dan sekarang dengan bergulirnya waktu dan pergumulanku dengan Tuhan, sedikit demi sedikit aku mulai bisa kuat tidak menangis lagi kalau mengingat memori itu, aku sudah bisa berdoa , dan aku memohon pengampunan atas khilaf dan marahku pada Tuhan.

Dan di setiap doaku ” Tuhan ajarku untuk selalu dekat denganmu di saat aku dalam senang dan sedih di saat aku sedang gundah gulana dan di saat aku mulai menjauh dariMu, jangan biarkan tanganku lepas dariMU”

Memori mengenang adikku Rio Natal. “Aku percaya engkau sudah dekat dengan Dia.”

picture : beliefwp, redsuitte.wp

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.