Assassin, Pembunuhan Politik

Sophie’s note : ada sedikit ralat mengenai Pak Iksan, beliau ini hanya seorang jurnalis yang senang dengan dunia intelijen dan bukan “tentara”.

Iksan Purnomo

Hari pertama Agustus 1981, sebuah pesawat De Havilland Twin Otter (DHC-6) tiba-tiba menghilang dari pantauan radar Panama. Hingga batas waktu 24 jam, pesawat itu tidak melaporkan keberadaannya. Ternyata, belakangan diketahui pesawat jatuh dan menghantam hutan di pegunungan Cerro Marta, Panama.

Ini bukan kecelakaan pesawat biasa. Pasalnya, salah satu penumpang pesawat yang naas itu Presiden Panama, Omar Torrijos. Ia ditemukan tewas bersama beberapa penumpang lain beberapa hari kemudian.

Kematian itu menimbulkan spekulasi : Torrijos diduga dibunuh. Dalam sidang praperadilan di Miami 1991, pengacara Frank Rubino yang membela mantan Presiden Panama Manuel Noriega, menyatakan hal yang mengejutkan.

Menurut Rubino, Noriega memiliki dokumen berisi rencana pembunuhan intelijen Amerika terhadap dirinya dan Presiden torrijos. Namun hakim menolak dokumen sebagai barang bukti, karena Pemerintah AS mengklain bahwa hal itu melanggar UU Prosedur informasi Rahasia.

Belakangan John Perkins dalam bukunya, Confessions of an Economic Hit Man, menyatakan bahwa Torrijos dibunuh intel AS. Caranya dengan meletakkan bom di pesawat yang ia tumpangi.

Apa motif pembunuhan itu ? Menurut Perkins, beberapa politisi dan pengusaha AS sangat menentang negosiasi antara Torrijos dengan sekelompok pengusaha Jepang tang dipimpin Shigeo Nagano.

Dalam negosiasi itu, mereka sepakat akan membangun terusan baru yang lebih lebar bagi Panama. Hal ini sangat merugikan beberapa kalangan di Amerika.

Kematian Torrijos terjadi beberapa saat setelah Ronald Reagan dilantik menjadi Presiden AS. Persisnya tiga bulan setelah Presiden Equador Jaime Roldos Aguilera tewas dalam kecelakaan serupa. Mereka berdua tewas akibat operasi pembunuhan politik alias “assassin”.

Dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary, kata assassin diterjemahkan sebagai pembunuhan terhadap seseorang tokoh atau pemimpin dengan motif politik. Dari mana kata assassin ini timbul ?

Kata assassin memiliki akar sejarah yang panjang di Timur Tengah. Berasal dari kata “Hashshashin” (disebut juga Hashishin, Hashashiyyin atau Assassin), nama sebuah sekte Syiah Ismailiyah yang militant di wilayah Nizari. Merka diperkirakan aktif pada abad VIII-XIV M.

Kelompok mistik ini dikenal pada masanya sebagai kelompok yang selalu melakukan terror terhadap elit rejim Abbasiyah dengan pembunuhan bermotif politik yang dilakukan tanpa rasa takut.

Sebenarnya nama kelompok ini Ad Da’wah Al Jadidah yang artinya “seruan (doktrin) baru”. Mereka juga menyebut dirinya sebagai fedayeen yang bermakna orang yang siap mengorbankan diri demi sebuah perjuangan.

Pada masanya, kelompok muslim lain sangat curiga terhadap kelompok assassin. Mereka sering menyebut Assassin sebagai kelompok Batini, sebuah kata yang sering digunakan untuk menyebut orang-orang Ismailiyah yang berbeda dalam memahami makna esoteric Al Qur’an. Keterasingan religius ini membuat kelompok Assassin bersekutu dengan kaum Kristen Barat untuk melawan umat Muslim. Akibatnya, hubungan mereka dengan mayoritas Muslim tidak selalu baik.

SURGA DUNIA
Berbagai legenda mengenai kelompok ini menceritakan banyak taktik yang mereka gunakan untuk merekrut para anggota kedalam kelompok yang belakangan menjadi organisasi politik quasi religius.

Calon anggota Assassin menjalani ritus seperti yang dilakukan kultus-kultus misterius lain. Dalam ritus itu, calon anggota dibuat yakin bahwa ia berada dalam ancaman maut yang dekat. Setelah itu, si calon anggota melalui prosesi “sekarat” yang direkayasa sebelum akhirnya dibangunkan di tengah sebuah taman yang indah dan disajikan pesta anggur mewah oleh para pelayan yang perawan.

Para anggota baru itu diyakinkan bahwa mereka berada di surga dan pemimpin kultus itu, Hasan I Sabah, merupakan perwakilan Tuhan yang wajib ditaati seluruh perintahnya sampai mati. Legenda ini dibawa ke dunia Barat oleh Marco Polo yang mengunjungi Alamut, setelah negeri itu jatuh ke tangan bangsa Mongol pada abad XIII.

Dilaporkan juga bahwa calon Assassin dibawa ke Alamut pada usia muda. Saat mereka dewasa, mereka menghuni taman “surga” merupakan wewenang Sabah. Maka mereka harus mentaati sang pemimpin, termasuk ketika disuruh membunuh ataupun mengorbankan diri.

Kelompok ini melakukan pembunuhan terhadap para penguasa Muslim Seljuk yang mengejar-ngejar mereka. Dengan cermat, mereka membunuh sasaran tanpa ada korban lain yang jatuh. Assassin membangun citra mereka yang mengerikan dengan membunuh sasarannya di depan umum, seringkali di masjid. Biasanya mereka mendekati sasaran dengan menyamar, kemudian menggunakan senjata belati, racun, panah atau senjata lain yang memungkinkan penyerang melarikan diri. Namun, mereka siap terbunuh oleh musuh jika tertangkap.

Namun ada juga cerita yang menyebutkan mereka meraih tujuan politknya tanpa harus membunuh. Misalnya, seorang calon korban, biasanya berkedudukan tinggi, suatu pagi menemukan sebilah belati Assassin tertancap di bantalnya. Ini sebuah pesan yang jelas, si sasaran tidak lagi aman di manapun ia berada.

Bisa jadi si pembunuh telah menyusup di antara orang-orang dekat dan para pembantunya. Apapun yang ia lakukan dan bertentangan dengan kepentingan Assassin harus dihentikan jika masih saying nyawa. Para Assassin diselimuti kerahasiaan. Begitu tertutupnya kelompok ini sehingga sering dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi.

Para korban yang mereka bunuh antara lain Raja Nizam Al-Mulk (1092), Perdana Menteri Fatimiyah Al-Afdal (1122), Amir ibn Al-Khashab dari Aleppo (1124), Amir Al-Buruqi dari Mosul (1126), Reymond II dari Tripoli (1152), Conrad of Montferrat (1192) dan putra kedua Jenghis Khan, Jagatai (1242). Pangeran Edward, kemudian menjadi Raja Edward I dari Inggris, terluka oleh sebilah belati beracun milik kaum Assassin pada 1271.

Dipercaya pula bahwa Sultan Saladin, yang murka karena beberapa kali upaya pembunuhan terhadap dirinya, sempat mengepung benteng utama Assassin di Masyaf, Suriah.
Pengepungan terjadi saat Saladin hendak menaklukkan kembali wilayah Outremer pada 1176. Namun setelah terjadi perundingan, pengepungan dihentikan dan sang Sultan menjaga hubungan baik dengan sekte tersebut

Dalam salah satu upaya membunuh Saladin, konon anggota Assassin menyusup ke dalam tenda sang Sultan di tengah kamp dan meninggalkan roti dan secari catatan bertuliskan “Anda di dalam kekuasaan kami”. Roti dan surat ancaman itu di letakkan di dada Saladin ketika ia tidur.
Kelompok Assassin sering termotivasi pihak luar. Pembunuhan terhadap Walikota Yerusalem, misalnya, dihasut kelompok Hospitaller. Ada juga rumor pembunuh Conrad of Montferrat mungkin disewa oleh Raja Richard the Lionheart. Dalam banyak kasus, mereka bertujuan membuat keseimbangan di antara musuh-musuh Assassin. Kekuatan kelompok Assassin dihancurkan panglima Mongol Hulagu Khan. Namun beberapa sekte Ismailiyah masih mewarisi silsilah kelompok ini, termasuk sekte yang dipimpin Aga Khan.

Selama masa serangan Mongol terhadap Alamut pada 15 desember 1256, perpustakaan sekte ini turut dihancurkan bersama benteng mereka. Banyak dokumen milik sekte ini hilang, termasuk karya beberapa sejarawan arab terkemuka di masa itu.

Sementara cabang Assassin di Suriah dihancurkan pada 1275 oleh Sultan Baibar dari dinasti Mamluk. Sebelumnya, pada 1273, kelompok ini berhasil menguasai Alamut selama beberapa bulan. Namun kekuatan politik Assassin hilang. Sisa-sisanya melebur dalam kelompok-kelompok Ismailiyah lainnya. Tetapi jasa mereka sebagai pembunuh bayaran terus dipakai orang di masa Mamluk.

Menurut catatan perjalanan Ibnu Batutah, pada abad XIV Assassin dibayar dengan tarif tertentu setiap kali melakukan pembunuhan. Namun, terlepas dari berbagai kisah keji tentang kelompok ini, sebagian pembela mereka di jaman modern mengklaim cerita-cerita tentang Assassin banyak direkayasa.

Menurut mereka, sebenarnya yang disebut Assassin adalah sebuah sekte pribadi yang rahasia di Persia pada tahun 1200-an hingga 1600-an dan banyak kisah keji tentang Assassin adalah mitos. Di mata para pembelanya, kelompok Assassin yang berjumlah sedikit dan sangat merahasiakan diri menjadi korban kampanye negative para musuh mereka. Dan berbagai citra negative ini yang belakangan diterima sebagai fakta.

Sig Sauer 9mm

Picture : Iksan Purnomo

27 Comments to "Assassin, Pembunuhan Politik"

  1. Mea  22 March, 2010 at 22:38

    novel intelijen, keknya asyik juga baca The Ghost-nya Robert Harris (masuk kategori ga, soalnya ini ttg PM Inggris Tony Blair, tapi diganti nama menjadi Adam Lang)… Aku suka banget penulis yg satu ini. Karyanya IMPERIUM bikin aku ga berhenti buat lanjut baca sampai gregetan pengen tahu gimana Cicero berkancah melawan musuh2 politiknya di masa itu…

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 March, 2010 at 21:54

    Alangkah baiknya bila novel-novel tersebut tersedia dalam e-book atau PDF. Tinggal dikirim… hahahahaha,,,padangnya keluar…

  3. J C  22 March, 2010 at 21:50

    Mas Iwan, beneran novel intelijen kok…namanya sedikit diganti, tapi kita tau persis siapa yang dimaksud…yah lebih pas dibilang novel intelijen fiksi sejarah gitu lah…

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 March, 2010 at 21:48

    Om JC, itu novel intelijen atau novel biasa seperti ‘The Year of Living Dangerously”? Dulu juga ada sih, bukan trilogi, tapi tripitaka….upanishad… hahahahaha…kabur dulu ah. Mau makan malam dan mau lihat wawancara Obama dgn Nababan. Katanya Obama teriak menirukan tukang sate waktu dia masih kecil di sini… sate…sate..sate… Makanya saya penasaran. Aku shoot pakai N97ku. Jam 22.30 kalo gak salah ya.. malam ini. Mudah2an in

  5. J C  22 March, 2010 at 21:41

    Waelah, mas Iwan, Dewi Aichi, Alexa: sudah ada lho novel intelijen Indonesia, walaupun yang nulis bukan orang Indonesia, tapi mantan agent Australia yang pernah tugas di Jakarta. Namanya Kerry B. Collison, judul bukunya ada 3, trilogi: Freedom Square (Merdeka Square), Timor Man dan Jakarta. Ceritanya tentang seputar 1965, jatuhnya Soekarno sampai di kisaran dekade 90′an di mana wacana pembangunan PLTN di Muria…asik banget baca novel ini, sayangnya gak diterjemahkan ke bahasa Indonesia…hehe…

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 March, 2010 at 21:36

    Waelah, salam kenal… Waduuh, kalau saya disuruh nulis tentang novel intelijen harus di tune up dulu otak saya. Novel-novel Frederick Forsythe itu laku lho difilmkan, seperti ‘The Day of Jackal’, yang sudah saya nonton. Menarik sekali kalau baca novel intelijen. Berdebar-debar dan tidak bisa ditebak kemana lari jalan cerita. Andai dibuat novel intelijen, suasana di Indonesia sangat menarik dan penuh dinamika untuk dikait-kaitkan secara fiktif. Apalagi kejadian-kejadian politik di Indonesia sangat dinamis dan penuh historis. .

    Alexa dan Aichi, kalau Densus 88 rasanya masih terlalu dini untuk dibuat sebuah novel. Belum matang kata orang. Lebih tua abunya Mobil 88, tempat jual beli mobil bekas. Gimana?

  7. Dewi Aichi  22 March, 2010 at 19:52

    Alexa ha ha ha…ngakak aku tentang bintang2 pilihanmu….itu sih hijau daun…eh salah ya……daun muda maksudnya……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)