My Spiritual Journey, Menjadi Tamu Allah (Part.12)

Adhe Mirza Hakim – BandarLampung

Dear Baltyrans, sesuai pesan di part 11 bahwa sambungan MSJ ini tidak terlalu lama jedanya,  karena akan segera berakhir di part 13, jadinya 3 artikel terakhir ini lumayan panjang, selamat membaca…

Ziarah di seputar kota Mekkah

Hari Sabtu, 12 Desember 2009, Sekitar pukul 7.00 pagi para jama’ah sudah berkumpul di Lobby hotel Grand Zam-zam. Kami akan berziarah ke tempat-tempat bersejarah di kota Mekkah, antara lain ke Jabal Rahma, Arafah, Masjid Ji’ranah, Jabal Tsur dan Gua Hira. Tempat ziarah ini sudah jadi itinerary wajib dari seluruh jama’ah haji atau umroh di kota Mekkah, ada juga sih tempat ziarah lain yang sebenarnya optional sifatnya yaitu Museum Ka’bah, Hudaibiyah (tempat peternakan dan pemerahan susu onta) dan Tempat pembuatan Kiswah, aku pernah mampir ke Museum Ka’bah dan Hudaibiyah, termasuk tempat pemotongan hewan qurban, akan aku tulis di part berikutnya ya… karena kalau ditulis selintas nanti kurang berkesan, hehe…

Papaku nggak ikut serta karena alasan kesehatan beliau agak flu, jadi aku, Mama dan Nenek Juhe ikut ziarah bersama rombongan dengan naik bus, hari ini bener-bener special banget buatku, karena aku sudah punya rencana lain juga.  Aku mau mendaki ke Gua Hira, suatu tempat bersejarah di mana Rasulullah menerima wahyu  Allah SWT untuk pertama kalinya, dengan satu kata yang sangat besar dan mendalam maknanya yaitu “Iqra” (bacalah), secara harfiah maknanya Rasulullah harus belajar membaca tetapi makna secara luasnya adalah Rasulullah harus mencari ilmu setinggi mungkin, bukan hanya membaca termasuk juga menulis.

Sebelumnya aku hanya berziarah sampai di kaki Jabal Nur saja (Gua Hira ada di puncak Jabal Nur), aku sempat mendengar kisah teman-temanku yang pernah mendaki ke sana, katanya kereeen banget diatas sana. Waduh jadi tertantang ingin manapaki anak tangga ke puncak Jabal Nur, kapan lagi kalau nggak sekarang, dulu aku tidak sempat melakukannya, kini dikesempatan yang ke 3 ini, don’t miss it again! Begitulah kira-kira bunyinya, hehe… mengingat factor U (umur yang tidak muda lagi), aku harus melakukannya sekarang sebelum fisikku tidak memungkinkan lagi buat naik, hiks…

Jabal Rahmah

Tempat ziarah yang kami kunjungi pertama kalinya yaitu Jabal Rahmah, suatu tempat di mana Nabi Adam AS bertemu kembali dengan istrinya Siti Hawa, setelah sempat terpisah jarak dan waktu. Di puncak Jabal (bukit) Rahmah ada satu tugu persegi empat bercat putih dengan tinggi 8 m dan lebar 1,80 m disetiap sisinya, sebagai lambang bersatunya Nabi Adam dan Siti Hawa. Nah…bagi yang jombloers (belum punya jodoh) bisa memohon do’a sekhusyuk mungkin disini. Yah…kita kan berikhtiar bukan melulu dengan perbuatan juga harus diiringi do’a-do’a, mudah-mudahan semuanya lancar dan segera terwujud, amien…seperti berjumpanya Nabi Adam AS dengan istrinya Siti Hawa. Posisi Jabal Rahmah terletak di Timur Arafah antara jalan nomor 7 dan 8 atau sekitar 1,5 kilometer dari masjid Namirah.*

Sekilas aku gambarkan suasana di atas Jabal Rahmah (pada saat kunjungan pertamaku di tahun 2005), anak tangga yang harus dilalui memang tidak terlalu banyak (sekitar 168 anak tangga) tetapi padat dipenuhi para jama’ah yang semuanya ingin mencapai puncak, baik tua atau muda, bahkan kita bisa harus sabar ngantri naik karena di depan kita ada onta hias yang juga mau naik, hehehe….ampuun deh, yang namanya onta hias ada di mana-mana.

Setelah sampai di puncak, yang terlihat para jama’ah ada yang khusyuk berdo’a (untuk dirinya sendiri, keluarga atau kerabat, ada juga yang baca do’a-do’a titipan melalui kertas yang tampaknya sudah dipersiapkan untuk itu), banyak juga yang sekedar berfoto-foto. Karena pelataran di puncak Jabal Rahmah tidak luas, agak sempit apalagi dipenuhi jama’ah yang mau berdo’a dan berfoto, saranku sebaiknya kita sudah mempersiapkan do’a sejak mendaki anak tangga, sehingga saat mencapai puncak tinggal membaca do’a pamungkas, lalu berfoto secukupnya, selalu ingat “bahwa kita harus berbagi kesempatan buat jama’ah yang lain juga”.

Sangat disayangkan, banyak terlihat coretan ballpoint yang menulis nama-nama jama’ah dari beragam Negara, yang sengaja menorehkan namanya di Tugu Jabal Rahmah, sebagai kenang-kenangan kalau mereka sudah pernah mencapai puncak Jabal Rahmah, atau bisa saja mereka berpikir nama nya dan pasangannya akan abadi dalam tali kasih.

Soalnya Jabal Rahmah kabarnya sebagai tempat yang makbul buat berdo’a khusus untuk mendapat jodoh, keturunan dan menguatkan ikatan keluarga bagi yang sudah menikah. Dulu saat berkesempatan berdo’a diatas Jabal Rahmah, aku hanya berdo’a buat adik-adikku dan teman-temanku  yang belum mendapat jodoh, Alhamdulillah…sekarang mereka sudah menikah semua, yang pasti bukan karena do’aku lho…tapi karena mereka juga berusaha dan berdo’a dan yang paling utama takdir dari Illahi Rabb. Itulah selintas pandang tentang Jabal Rahmah yang pernah ku kunjungi.

Jabal Rahmah

Aku dan Mama tidak berniat mendaki ke puncak Jabal Rahmah, selain sudah pernah aku harus menyimpan tenaga untuk mendaki Jabal Nur nanti. Nenek Juhe tidak berniat turun dari Bus, kata beliau agak pusing, jadi aku dan Mama memutuskan turun dari bus, sambil melihat suasana di sekitar Jabal Rahmah, yang lokasinya ada di dekat padang Arafah. Selagi turun dari bus, ada jama’ah haji yang berbaik hati memberiku 2  potong bakwan goreng plus cabe rawit, hehehe…serasa di tanah air aja, saat makan bakwan.

Mamaku melihat ada jama’ah haji yang asyik makan ice cream cone, sepertinya enak sekali, lantas Mama memintaku mencari si pedagang Ice Cream, ternyata tidak susah menemukannya, ada 1 mobil Ice Cream yang parkir di sekitar Jabal Rahmah. Harganya juga murah hanya 2 real /cone, rasanya hmmm….yummie!!! kalau dipikir toh sama saja dengan harga di tanah air sekitar Rp.5000,- (gara-gara makan ice cream di Jabal Rahmah ini, Mama jadi ketagihan makan Ice Cream sampai sekarang, duh semoga beliau tetap bisa menyeimbangkan gula darahnya ya…beliau menderita DM).

Ice Cream 2 real

Di pelataran Jabal Rahmah, banyak pedagang souvenir yang menawarkan accessories kalung, gelang, tasbih dan cincin yang aneka rupa semuanya imitasi, kalau bisa tawar dengan separoh harga, dijamin pasti dikasih, hehe…aku yang nggak niat belanja, melihat Mamaku memilih-milih kalung dan tasbih, hmmm….pasti Mama mau beli nih, langsung aku yang nawar, berhubung nggak minat beli, aku nawar 1/3 dari harga penjualan, dengan maksud agar Mama gak jadi beli, hehe…iseng banget ya, abis…waktu belanja kan bisa ditempat lain, tapi para pedagang asongan ini tampaknya faham betul dengan kebiasaan orang Indonesia yang hobby belanja.

Ternyata…1/3 harga penawaranku diterima juga, ya ampuun…berarti ini pedagang sudah naikin harga tinggi sebelumnya, hehe…yasud deh..Mama tampaknya senang banget bisa nambah beli oleh-oleh, tinggal aku aja yang mikir semoga Mama gak belanja lagi, hehehe….waktu yang diberikan untuk ziarah di Jabal Rahmah kurang lebih 45 menit, selanjutnya kami akan berkunjung ke Jabal Tsur.

Jabal Tsur

Suatu bukit di mana Rasulullah pernah bersembunyi dari pengejaran Suku Quraisi. Terletak kira-kira 4 km disebelah selatan Masjidil Haram, tingginya dari permukaan laut yaitu 748 m, sedangkan dari permukaan tanah sekitar 458 m. Sementara Gua Tsur tingginya sekitar 1,25 m dengan panjang dan lebar berkisar 3,5 m x 3,5 m, Gua ini memiliki 2 pintu di bagian barat dan timur.

Sebenarnya pintu sebelah barat itulah yang digunakan masuk oleh Rasulullah, yang tingginya kira-kira 1 m. Sedang pintu yang sebelah timur walaupun lebih luas, sengaja dibuat untuk memudahkan orang keluar masuk Gua. Untuk mendaki sampai ke puncak jabal Tsur ini diperlukan waktu sekitar 1,5 jam. * Hmmm….aku belum mencapai Gua Tsur, insyaAllah jika ada umur, kesehatan dan kesempatan mudah-mudahan aku bisa sampai di sana, amien…

Kami hanya meluangkan waktu untuk turun sebentar dan berfoto di sekitar kaki bukit Tsur, karena tidak ada anggota rombongan yang mau mendaki Jabal Tsur, kami hanya sebentar berhenti disini, kurang lebih 15 menit. Selalu ada onta hias disetiap objek ziarah buat jama’ah yang belum berkesempatan foto dengan onta hias bisa melakukannya di tempat-tempat ziarah, termasuk di Jabal Tsur ini.

Onta dikaki Jabal Tsur

Masjid Ji’ranah

Kunjungan selanjutnya kami berhenti di Masjid Ji’ranah, di daerah Wadi Saraf letaknya kurang lebih 24 km dari Masjidil Haram sebelah Timur Laut yang dihubungkan dengan jalan Ma’bad. Airnya dikenal dengan keistimewaan rasanya. Pada tahun 8 H, Rasulullah menggunakan Masjid Ji’ranah untuk berihram dan mengerjakan umroh.* Jadi miqot umroh dari kota Mekah ini ada di 2 tempat, yaitu Masjid Tan’im dan Masjid Ji’ranah, tetapi kebanyakan para jama’ah haji atau umroh mengambil miqot dari Masjid Tan’im karena lebih dekat jaraknya.

Masjid Ji’ranah

Sebagian besar anggota rombongan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ber-umroh kembali dengan mengambil miqot (niat berumroh) di Masjid Ji’ranah, mereka sholat sunnah 2 rakaat, bagi yang tidak mengambil niat umroh, bisa juga sholat sunnah 2 rakaat sebagai tambahan ibadah di tanah suci. Mama dan Nenek Juhe tidak ikut mengambil ibadah umroh, karena fisik yang kurang sehat, selain itu kan sudah mengambil umroh pada saat pulang dari Madinah, beberapa hari sebelumnya.

Cukuplah bagi mereka hanya berziarah, Allah Maha Mengetahui kondisi fisik hambanya yang sepuh. Aku sendiri tidak mengambil miqot umroh juga, karena aku juga sudah melakukan 2x umroh sejak pulang dari Madinah. Kunjungan ke Masjid Ji’ranah ini hanya sebagai kunjungan ziarah biasa.

Mama dan Nenek Juhe, memutuskan tidak turun dari bus, kulihat Nenek Juhe agak pilek dan batuk, kasihan sekali. Aku memutuskan untuk turun dari bus, karena disekitar Masjid, ada beberapa supermarket dan toko makanan, aku harus membeli makanan buat bekal pendakianku ke Jabal Nur, yang akan kami kunjungi setelah ini. Mama memesan buah-buahan terutama buah pisang, karena Papaku sangat suka, apalagi dalam kondisi kurang sehat sebaiknya banyak mengkonsumsi buah-buahan.

Belanja, belanja, ayo bapak bapak..

Persis di depan bus kami, lagi lagi terlihat kerumunan ibu-ibu dan bapak-bapak yang sibuk memilih dan belanja aneka assesories di pedagang kaki lima yang banyak mangkal di dekat Masjid. Aku jadi berpikir, inilah ciri khas jema’ah haji dari Indonesia, selalu menyempatkan diri berbelanja di manapun berada.

Sebenarnya aku juga berbelanja walaupun hanya membeli makanan dan buah-buahan. Aku membeli sandwich (roti isi daging) yang kukira shawarma, soalnya sekilas mirip banget, tapi kata Adib (mutawif) yang sedang antri beli, ini roti sandwich bukan shawarma, mungkin dari racikan bumbunya yang sedikit berbeda, walau menurutku pribadi rasanya samimawon, hehehe….kalau kita lagi lapar yang namanya makanan enak aja, harga setangkup sandwich ini 3 real saja. Sebaiknya para jama’ah haji memegang uang real pecahan kecil, ya tujuannya buat jajan buah-buahan atau makanan ringan, misalnya pegang uang 10 real atau 20 real.

Harga buah-buhan biasanya perkilo antara 5 – 10 real, tergantung jenis buahnya.  Aku membeli buah Pear Spanyol, yang bentuknya kecil-kecil seperti jambu air, rasanya manis banget sekilo 10 real saja (Rp.25.000), kalau pisang Cavendish sekilonya sekitar 7 real. Selain membeli roti isi dan buah-buahan, aku juga membeli sebotol juice mangga, buat persiapan naik ke Jabal Nur.

Aku sudah minta ijin sama Mama dan Papaku, mau mendaki Jabal Nur, mereka hanya ingin tahu aku akan pergi dengan siapa? Lantas aku bilang ada mutawif yang akan menemaniku, mendengar hal ini mereka tidak kuatir.

Kebetulan mutawif yang akan menemaniku ke Jabal Nur, namanya Mulyadi (pelajar Indonesia yang mukimin di Mekkah), dia ikut dalam bus yang aku naiki bersama Mama dan Nenek Juhe. Mama menyarankanku untuk membawa makanan buat dimakan berdua, sudah pasti Mom! Aku bawa bekal roti sandwich 2 tangkup, air mineral sebotol dan juice mangga sebotol, sengaja nggak mau bawa banyak nanti repot pas nanjaknya bakal keberatan makanan. Toh di puncak Jabal Nur ada pedagang minuman dingin.

Gua Hira di Puncak Jabal Nur

Rombongan jama’ah haji kami, sudah bergegas meninggalkan Masjid Ji’ranah, kini bus mengarah ke Jabal Nur, tiba-tiba HP ku berdering terdengar suara ayuk Thia diseberang sana “Adhe, sudah mendaki Jabal Nur?”, “Belum ayuk…ini baru aja bertolak mau kesana”, “Wah..siang sekali, apa nanti kamu nggak kepanasan, ayuk sangka kamu sudah berangkat kesana dari pukul 7 pagi tadi, kalau siang ini baru mau naik, bisa sore nanti baru pulangnya”, “Mau gimana lagi ayuk, ini sudah jadwal yang diatur oleh panitia hajinya, rute ke Jabal Nur di atur paling terakhir”, jelasku, “Bagaimana dengan jadwal makan siang di rumah ayuk? Apa mau diganti jadi makan malam? Sore nanti”, “Mending diundur sampai besok malam aja ya?” saranku, agar Papaku cukup pulih keadaannya, dan bisa diajak makan malam ke rumah ayuk Thia. Soalnya ayuk mau menjamu kami makan, hmmm….asyik.”Baiklah kalau itu waktu yang paling baik” kata ayuk Thia menutup percakapan.

Waktu sudah mendekati pukul 12 siang, cuaca cukup terik, saat melintasi Jabal Nur pemimpin rombongan Pak Ustad Nugraha, berkisah selintas tentang sejarah Gua Hira, yang aku yakin semua jama’ah yang ada dalam bus ini sudah pada mengerti semua. Aku mendekat ke Pak Ustad, sambil bicara “ Pak Ustad, saya mau turun disini dan mau mendaki ke Gua Hira dengan ditemani Mulyadi, mutawif yang ada dalam bus ini, pulang nanti kami akan naik kendaraan umum,” “Sudah ijin sama ibu?” tanya Pak Ustad, “Sudah pak,”jawabku, lalu aku pamit sekali lagi dengan Mama dan Nenek Juhe, mereka tersenyum melepas kepergianku, insyaAllah…jika ada ridho orang tua akan ada ridho Allah juga di sana.

Turun dari Bus udara panas menyambut kami, aku memandang ke Puncak Jabal Nur, sambil membathin “Ya Allah aku memohon ridhoMu untuk sampai ke atas sana, semata-mata untuk menyaksikan secara langsung tempat bersejarah yang mengawali turunnya wahyuMU yang pertama, kepada Rasulullah Muhammad SAW, yaitu awal surat Al-Alaq: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan.

Aku sangat sadar tanpa ridho-NYA aku tidak akan pernah sampai kesana. Sambil menyusuri jalan berbatu, sayup-sayup kudengar suara adzan dzuhur berkumandang, waktunya untuk sholat dzuhur dulu. Aku dan Mulyadi bergegas mencari masjid yang terdekat, kami menjumpai seorang bapak yang sedang berdiri didepan rumahnya, Mulyadi bertanya dengan bahasa arabnya yang fasih di mana letak Masjid terdekat yang bisa kami capai selain itu Mulyadi juga menanyakan arah yang paling dekat ke kaki bukit Jabal Nur. Ternyata Mulyadi ini baru kali pertama ke Gua Hira, hehehe samimawon dunk sama aku.

Masjid didekat Jabal Nur

Letak Jabal Nur sekitar 6 km sebelah timur laut Masjidil Haram, tinggi dari permukaan laut sekitar 621 M, sedang dari permukaan tanah kira-kira 281 M. Untuk mendaki sampai ke puncak dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam.*

Setelah sholat dzuhur aku menambah dengan sholat sunnah safar 2 raka’at, karena aku berniat melakukan pendakian ke Gua Hira, walau mendakinya melalui ratusan anak tangga, tetap ada sedikit kekhawatiran jika tiba-tiba aku terserang hipotensi, aku memohon kepadaNYA kesehatan dan kesabaran untuk mencapai Gua Hira. Setelah sholat, aku merasa mantab untuk mendaki anak tangga menuju Gua Hira.

AMH poto sebelum naik tangga

Pendakian dimulai dari kaki bukit yang kemiringan jalannya mencapai kurang lebih 30 derajat. Jujur aku akui, jika kita serius mau mendaki Jabal Nur, sebaiknya kita sudah membiasakan diri berjalan jauh atau naik turun tangga secara rutin, tujuannya biar nggak kaget aja itu kaki dan seluruh persendiannya. Aku yang tahu diri akan kelemahanku, selalu memberi kesempatan kaki dan nafasku untuk beristirahat selama 1 –3 menit, setiap aku melangkah beberapa anak tangga, nggak usah sungkan atau malu.

Tentu sambil membasahi tenggorokanku dengan seteguk air mineral. Menurutku biar nggak dehidrasi aja. Temanku yang pernah naik ke Jabal Nur berkisah (musim haji th.2006), pada saat dia meniti anak tangga sempat melihat keranda mayat diturunkan dari atas, beberapa jam setelah dia mengunjungi Gua Hira, tempat ziarah ini ditutup sementara, mungkin untuk membersihkan sekaligus mengamankan lokasi yang dianggap berbahaya untuk pendakian.

Naik ke puncak Jabal Nur

Sepanjang pendakian, aku menemui banyak pengemis yang meminta sedekah, bagusnya mereka tidak memaksa apalagi sambil menarik baju para peziarah. Para pengemis ini hanya berkata “sedekah…Indonesia baik”, mungkin kebanyakan orang Indonesia pada rajin kasih sedekah makanya dibilang Indonesia baik, hehe…, lalu ada juga juga pengemis yang menawarkan jasa menulis nama kita diatas semen basah, seolah-olah untuk mengabadikan nama kita di anak tangga Jabal Nur, jika kita bayar nama kita langsung di tulisnya, jika sudah lewat cepat-cepat nama kita dihapusnya, itu semen jadi mulus lagi, lalu cari lagi calon donatur nama selanjutnya yang bisa dikerjain.

Khusus untuk para pengemis ini, aku sudah menyiapkan uang pecahan kertas 1 real, beberapa lembar, jadi jika menemui pengemis yang cacat tubuhnya, biasanya langsung diberi, kecuali bagi si pengemis yang menjual semen basah, aku memberi dengan dasar bukan ingin ditulis namaku, tapi aku bersyukur si pengemis ini sudah membantu kelancaran jalan pendakian, dengan men-semenkan anak tangga yang belum di semen.

Sedikit-sedikit aku berhenti untuk menarik nafas sambil berfoto sekalian, asli teteup narsis.com ! aku perhatikan tidak ketemu sama jama’ah dari Indonesia selama aku mendaki naik ke puncak Jabal Nur. Mungkin waktu siang hari yang terik membuat jama’ah malas untuk mendaki, memang sebaiknya waktu yang tepat untuk mendaki Gua Hira itu pada pagi hari, saat cuaca masih sejuk terasa. Kalau sore hari juga enak, hanya kuatir saat turun hari mulai gelap. Kalau aku harus mendaki di siang hari karena jadwal kunjungan memang di set siang hari, jadi harus ikutin jadwal rombongan.

Aku melihat ada banyak jama’ah dari Negara timur tengan dan Hindustan (Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan dan India) aku hanya mengira berdasarkan busana yang mereka kenakan, yang sudah pada sepuh tetap semangat mendaki, jadi mikir koq fisik mereka kuat ya? Padahal sudah sepuh, mungkin di tempat asal mereka tinggalnya di daerah pegunungan jadi kalau naik turun gunung merupakan hal yang biasa.

Kalau yang seperti ini, di daerahku juga banyak nenek dan kakek yang biasa naik turun gunung sambil membopong kayu bakar atau hasil tanaman dari kebun mereka diatas gunung. Kalau mau dibuat adu ketahanan fisik antar nenek-nenek atau kakek-kakek boleh juga nih, hehe…sayangnya aku nggak melihat nenek atau kakek  asal Indonesia. Aku yang jauh lebih muda harus membuktikan bahwa aku juga bisa mendaki, jangan patah semangat, melihat kakek dan nenek yang pada semangat membuat diri ini jadi terpacu, jika mereka yang sudah sepuh aja mampu, apalagi kita yang masih muda usia.

Ada juga jama’ah dari Turki dan China. Aku sempat memfoto dua ibu-ibu dari China yang sedang makan buah apel di saat beristirahat di anak tangga Jabal Nur, jadi nyesel kenapa aku lupa bawa buah-buhan, walau aku juga sudah membawa roti isi dan juice mangga botolan, abis kesannya koq nikmat banget…sebelumnya mereka nampak malu-malu saat mau aku foto.

2 Ibu Haji dari China

Langkah meniti anak tangga untuk meraih puncak Jabal Nur sudah 2/3 kulalui, hm…tinggal sedikit langkah lagi nih pikirku, selagi menata nafas agar teratur mataku menangkap sosok yang selalu ada disetiap kunjuangku ke tempat-tempat ziarah siapa lagi kalau bukan dengan si ‘Onta Hias’ hahaha…. Bayangkan, ini Onta kuat banget bisa mencapai puncak Jabal Nur. Udah gitu si pemilik Onta menawariku untuk berfoto bersama dengan Onta itu cukup dengan 5 real saja, yaaah….nggak lah, lagian sudah ada fotoku sama Onta.

Selain Onta, ada hewan lain yang kujumpai di Jabal Nur, yaitu segerombolan kera/monyet yang mengais-ngais sampah sisa makanan yang ada disela-sela bebatuan Jabal Nur, ada juga jama’ah yang memberi buah-buahan pada mereka, tapi ingat jangan coba-coba mengganggu mereka bisa ngamuk, aku melihat ada seorang jama’ah yang iseng mengganggu seekor anak monyet, yang ada si induk semangnya malah mendekat sambil melotot matanya. Sangat disayangkan banyak tempat ziarah, termasuk Jabal Nur ini, lingkungannya tidak bebas sampah,  rasanya prihatin aja, melihat sampah ada di mana-mana.

Monyet

Setelah meniti ratusan anak tangga, tampaknya tujuanku sudah dekat. Akhirnya tiba juga aku di puncak Jabal Nur, dengan gaya sedikit menyelidik aku menatap keseluruh penjuru puncak Jabal Nur, lho…mana? koq tidak terlihat gua nya, yang ada malah warung minuman yang menjual beraneka minuman dingin dan panas, asli ada frezernya lho, mungkin pake Onta buat gotongin itu frezer ke puncak.

Disediakan satu tenda ala kadarnya buat berteduh dari teriknya sinar mentari, di lengkapi dengan hamparan ambal atau permadani yang cukup sederhana, buat kita duduk-duduk sambil melepas penat. Aku melihat ada juga jama’ah yang meluangkan waktu untuk sholat sunnah disini. Aku membeli air mineral dingin buat minum kami berdua, aku dan Mul, sambil menyantap roti sandwich yang rasanya mirip shawarma, Alhamdulillah….nikmat sekali. Rasa letih dan lelah…hilang sudah, yang ada rasa suka cita telah mencapai puncak Jabal Nur.

Penjual minuman dingin di puncak Jabal Nur

Lokasi Gua Hira ternyata harus turun lagi ke bawah, jadi setelah sampai di puncak, kita harus menuruni lereng sempit kurang lebih 20-30 meter kebawah, pokoke takjub deh…melihat tempat persembunyian Rasululullah ini.  Perlu ku tambahkan sedikit, bagi yang ingin mendaki anak tangga ke Gua Hira, nggak perlu kuatir karena lebar tiap anak tangga untuk titian kita naik dan turun cukup lebar, ada kurang lebih 50-100 cm lebarnya tergantung sudut kemiringan puncaknya, memang tidak ada pegangan di sisi kanan kirinya, jadi kalau yang rada phobia sama ketinggian sebaiknya nggak usah naik, kalau mau nekad silahkan, hehe….soalnya aku suka nekad juga.

Setelah naik kini aku harus turun ke bawah lagi, sambil memperhatikan apa yang bisa aku lihat, hiii…kalau yang nggak biasa melihat dari tempat tinggi bisa ngeri, apalagi kita harus cukup extra hati-hati menuruninya, mataku langsung tertumpu pada kerumunan orang-orang yang tampak antri berjajar di depan pintu sebuah gua, Subhanallah….itu Gua Hira yang aku impikan selama ini, tiba-tiba ada rasa haru berkelebat, Alhamdulillah…ya Allah syukur aku panjatkan padaMU, yang telah memberi aku kesempatan untuk menyaksikan KebesaranMU padaku, yaitu Gua Hira, suatu tempat di mana awal suatu ilmu pengetahuan dilahirkan.

“IQRA” bermakna “Bacalah……dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”, inilah awalnya ilmu pengetahuan, di mana kita diwajibkan untuk meraihnya sampai setinggi mungkin. Masih ingat kata A’a Gym, orang itu harus berilmu, kalau bertindak tanpa didasari ilmu yang tepat akhirnya jadi salah jalan, sama aja jadi kesasar. Makanya kita hidup harus dibekali ilmu yang cukup bukan hanya ilmu dunia juga ilmu akhirat, biar selamat keduanya. Iqra bukan hanya sekedar membaca tetapi juga menulis, inilah yang harus kita ‘niat’kan dalam hati, membaca dan menulis semata-mata untuk beribadah kepada-NYA, insyaAllah akan ada berkah-NYA di sana.

Antrian masuk ke gua Hira

Gua tersebut sebenarnya tidak terlalu besar, pintu guanya menghadap ke Utara, dan jika ingin kesana harus melewati jalan di antara dua batu yang lebarnya sekitar 60 cm. Panjang gua hanya 3 m, sedangkan lebarnya tidak menentu, tetapi paling besar ialah sekitar 1,30 m, dengan ketinggian sekitar 2 m. Jadi luas Gua Hira kira-kira cukup untuk sholat dua orang, sementara di bagian kanan Gua terdapat teras dari batu yang cukup digunakan shalat untuk satu orang.

Celah sempit masuk ke gua Hira

menundukkan badan saat masuk

Setelah tiba di depan celah sempit di antara 2 batu yang menjadi jalan masuk ke Gua Hira, aku berdiri memandang ke dalamnya, sambil berpikir seandainya ada tubuh yang lebarnya sama atau lebih dari 60 cm, dipastikan tidak akan bisa melalui celah sempit ini. Aku melihat badan laki-laki Pakistan yang besar tinggi ternyata masih bisa lolos, dipastikan lebar badannya tidak lebih dari 50 cm.

Sebelumnya aku sudah membekali diri dengan sebotol air mineral untuk berwudhu, aku sempatkan diri membasuh muka dan kedua telapak tanganku dengan niat untuk berwudhu, karena aku ingin melakukan sholat sunnah syukur di dalam Gua Hira nanti. Memang sih tidak ada perintah untuk melakukan sholat sunnah disini.

Jadi ini semata-mata hanya rasa syukur para jama’ah saja yang ingin berdo’a memanjatkan puji syukur kepada-NYA. Aku juga sudah membekali diriku dengan satu lembar sajadah untuk sholat. (sajadah ini aku simpan buat anakku, semoga dia juga bisa kesini kelak, amien.)

Aku dipersilahkan masuk duluan ke dalam, rupanya disini dikenal istilah “Ladies First”, memasuki celah gua yang sempit menimbulkan sensasi yang tersendiri. Udara pengap dan posisi terjepit di antara celah batu yang besar-besar membuat kita harus berhati-hati melaluinya. Sampailah aku ke ujung jalan yang ada celah terbuka, di mana sudah rapih berjejer jama’ah laki-laki semua yang kebanyakan dari Pakistan atau Afghanistan, soalnya gaya pakaian mereka seperti kaum Taliban begitu, dengan janggut dan berewok yang menutupi separoh wajahnya.

Melihat ada 3 orang perempuan di belakang mereka, aku dan 2 orang ibu asal Sri Lanka (maybe, soalnya pakai busana sari), mereka mempersilahkan kami maju ke antrian paling depan, Subhanallah….dimudahkanNYA, ada seorang jama’ah yang mengingatkan aku untuk melepas sepatu sandalku. Jadi aku lepas dan titipkan pada Mulyadi yang masih antri jauh di belakangku.

Aku tidak berani memotret keadaan gua dari dekat, karena kuatir kalau nanti dimarahin sama jama’ah yang lain, aku hanya sempat mengabadikan tampak muka Gua Hira, saat masih menuruni tangga menuju kebawah. Lalu aku juga ditegur jangan sholat pakai sajadah, sebaiknya muka kita bersujud langsung mencium dasar Gua, jadi sajadah yang kubawa kulipat untuk dijadikan alas duduk di saat aku sholat. Aku duduk sholat di shaf depan, dengan 2 orang ibu yang sholat di belakangku.

Aku berdo’a memanjatkan rasa syukurku karena sudah diberikan kesempatan untuk sampai ke Gua Hira, lalu aku  memohon do’a agar keluargaku yang lain juga bisa mendapat kesempatan yang sama. Tidak banyak do’a yang aku panjatkan, karena aku tahu yang antri di belakangku juga banyak. Pokoke baca do’a sapu jagat aja “Rabbana Attina Fi dunya Hassana Wa fil Akhirati Hassana Wa kina Azabannar”, Ya Allah selamatkanlah aku baik di dunia maupun di akhirat.

Di depan gua Hira

Ibu dari Sri Lanka yang sholat bersama

Setelah selesai sholat sunnah, aku langsung berjalan keluar gua, dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di depan celah jalan masuk ke Gua Hira, sambil membasahi mulutku dengan seteguk air mineral dingin yang isinya tinggal ¼ botol lagi, aku melirik ke ibu tua yang tadi sholat bersamaku, ada niat mau memberi air minum tapi apa dia mau lha wong tinggal sedikit, tapi aku cuek aja, kalau dia mau syukur kalaupun tidak juga nggak apa-apa. Saat kusodorkan air mineral itu dia langsung menerimanya tanpa bicara dan segera meneguknya. Ibu ini jauh lebih tua dariku, mungkin sekitar usia 60 tahunan, tapi tubuhnya masih kuat, dia bersama kerabatnya saat menaiki Jabal Nur.

Sambil menunggu Mul selesai sujud syukur di Gua Hira, aku mengambil video melalui my BB, lalu memotret melalui my digicam yang selalu setia menemaniku. Pemandangan di puncak Jabal Nur, sungguh sangat mempesona, aku melihat di sudut tebing yang mendatar kulihat ada 2 orang jama’ah perempuan yang sedang khusyu bermunajad ke Illahi Rabb, sambil memandang ke arah Masjidil Haram yang tampak jauuuh di ujung sebelah barat, tampak gumpalan awan cumulus berjajar rapih menahan sinar matahari yang jatuh menerobos melalui celah gumpalan awan menghasilkan frame keindahan alam yang ‘luar biasa’ indahnya.

Aku yang nggak punya basic fotografi hanya bermodal my digicam hanya bisa merekam sedikit keindahan dari yang kusaksikan secara langsung, semoga yang membaca kisahku ini bisa turut menyaksikan keindahan ini. Sekali lagi aku menyempatkan sholat sunnah di tebing yang datar ini, kalau masih ada waktu kenapa nggak kita berdo’a sebanyak mungkin, kalau di luar sini, kita mau duduk berjam-jam juga nggak ada yang protes.

2 Ibu berdoa di puncak Jabal Nur

Kota Mekah dari Puncak Jabal Nur

Masjid Haram di bagian barat Jabal Nur

Kaki Jabal Nur, Puncak ZamZam Tower dari kejauhan

Setelah Mul keluar dari dalam Gua Hira, kami segera memutuskan untuk turun ke bawah, perjalanan turun terasa lebih mudah dan menyenangkan, udara sudah tidak terlalu terik lagi, saat turun ini aku malah menemui rombongan jama’ah haji asal Indonesia, yang baru mulai mendaki, tampak di antara mereka khususnya jama’ah ibu-ibu terlihat kelelahan sambil bertanya “masih jauh nggak?” “tenang sebentar lagi juga sampai” kataku memberi semangat.

Saat aku mencapai kaki bukit, sayup-sayup terdengar azan Ashar berkumandang, Alhamdulillah….benar-benar diberkahiNYA, saat mau naik berkumandang azan Dzuhur dan saat turun berkumandang azan Ashar. Kembali kami sholat di masjid yang ada di kaki bukit Jabal Nur.

Selesai sholat, kami segera menuju tempat pemberhentian mobil-mobil angkutan umum, kalau mau naik taxi ongkosnya sekitar 20 real untuk sampai ke Masjidil Haram, lalu Mul menawari aku untuk naik angkot yang tarifnya jauh lebih murah hanya 4 real/orang. Lha…kalau ada yang murah kenapa harus pakai yang mahal? Hehe…kek slogan iklan obat nyamuk! Akhirnya dengan ongkos hanya 8 real kami tiba di Masjidil Haram. Selesai sudah….perjalanan ku di hari Sabtu 12 Desember 2009. Buat Mulyadi, terimakasih ya dik, semoga kamu selalu diberkahiNYA kesehatan dan kemudahan dalam segala urusanmu, karena sudah bersedia menemaniku ke Gua Hira.

Masih ada satu part lagi sebagai penutup mudah-mudahan pembaca Baltyra masih mau menunggunya…..

*Sumber Pustaka: “Sejarah Mekah” karya Dr.Muhammad Ilyas Abdul Ghani.

Foto-foto koleksi pribadi.





About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.