Antre Sandal

Sumonggo – Sleman

Denmas Kemplu Batal Antre Sandal

Sore itu televisi di rumah Den Kendar menyala lagi. Bukan karena rusak, bila minggu-minggu sebelumnya puasa nonton televisi. Meski bukan puasa nonton betulan, toh waktu dinihari tayang sepakbola Liga Champions tak boleh ketinggalan.

Maklum, alergi nonton televisi ini sejak berita dipenuhi dengan carut-marut perdebatan dan saling tuding antar anggota dewan dan penguasa. Kurang jelas yang mana maling mana yang “agak” maling, lha wong semuanya bukannya menunjukkan tingginya wawasan kebangsaan, malah beradu mempertontonkan wawasan (maaf) ke-bangsat-an. Tinggal seperti iklan rokok saja, “Nggak ada lu nggak rame”.

Bila dulu jaman Orba yang berlaku adalah “damai itu indah”, sekarang “tidak rukun itu meriah”, biar jelas sekarang “koreng, kadas, kurap, panu, kutu air” masing-masing pihak terlihat oleh rakyat. Sayangnya, belakangan malah kelihatan gelagat untuk “barter obat panu”.

Celetuk Kang Koclok, “Sesama maling saling menelanjangi. Wis ora duwe isin…(tidak punya malu), urat malunya sudah putus.”

“Berlalu bulan Century, eh berganti dengan bulan Dulmatin. Besok apalagi menunya?”, sambung Den Kendar, sambil melirik tudung saji di meja yang kosong, dan berharap semoga istri tercinta yang sedang menengok mertua yang sakit segera pulang. Sebenarnya Den Kendar masih enggan menyalakan televisi, tapi daripada tidak ada suguhan, begitulah kedua konco-nya ini disuguhi sajian siaran televisi saja.

Denmas Kemplu menyambung, “Namanya jaman edan sing ora edan ora keduman. Sak bejo-bejone uwong edan, sing ora konangan edan, neng keduman” (jaman gila yang tidak gila tidak kebagian, seberuntung-beruntungnya orang gila, yang tidak ketahuan gilanya, tapi kebagian).

“Kalau begitu, sampeyan yang edan saja, saya ikut kebagian juga mau”, canda Kang Koclok.

Balas Denmas Kemplu, “Kebagian edannya saja ……”, sambil mengaduk kopi yang tidak lagi panas, tidak juga legi, bahkan tak kentel pula, nasib mertamu dilarang protes, meski dalam hati ingin “men-somasi” Den Kendar.

Ketimbang dijejali berita soal Dulmatin, sebenarnya Denmas Kemplu rindu pada Dul Anak Sekolahan, dan Dul Sumbang penyanyi yang sama sekali tidak sumbang itu. “Mau Umar Patek, Umar Pethak, Umar Pethok, gak patheken ….”, seloroh Kang Koclok. (pethak=bagian kepala yang tidak ditumbuhi rambut, pethok=bodoh).

Berita televisi sedang menayangkan kontroversi sebuah fatwa, ketika Den Kendar nyeletuk, “Saya juga mau mengusulkan fatwa baru, Ini penting dan sangat krusial.”

“Apa lagi itu?”, tanya Denmas Kemplu serius. Jawab Den Kendar sambil terkekeh, “Fatwa haram uthik-uthik hidung dan garuk-garuk ketiak sambil menyetir mobil.” “Lho apa relevansinya, nanti kalau fatwanya wagu dan ora mutu, saya judicial review pokoknya”, sahut Kang Koclok dengan gaya bahasa yang ndesit, mungkin akibat kebanyakan mengikuti tayangan sidang dari MK. “Ya jelas berbahaya tho, jika tangan yang satu di hidung, yang satu di ketiak, yang buat nyetir pakai apa? Apa pakai wudel? Kecuali kalau mobil jaman startrek yang bisa disetir pakai niat saja.”

Ndilalah, seekor “teroris bersayap” (kecoak) terbang dan hampir menclok di atas meja. Untung dengan sigapnya Kang Koclok melibasnya tanpa kompromi. Plok….. Dalam sekejap “serangan teroris” dapat ternetralisir. “Wah ini mesti kuwalat sampeyan gojegan soal fatwa”, kata Denmas Kemplu sambil menyingkirkan bangkai “teroris” tersebut, tentu saja tanpa berminat untuk memverifikasi DNA atau sidik jari-nya.

“Jadi ternyata masih banyak teroris yang berkeliaran di sekitar kita. Untungnya aparat sigap dan trengginas ya?”, ucap Den Kendar.

“Melawan teroris sih gagah perkasa, tapi menghadapi tekoris, kok impoten”, sindir Kang Koclok.

“Apa pula itu tekoris?”

“Nah tekoris itu mereka yang ulahnya bikin tekor negeri ini. Lihat gayanya kalau menangkap teroris hebat betul. Tapi menangkap tekoris, gojag-gajeg ingah-ingih mencla-mencle, nggah nggih tapi ora kepanggih, mengulur-ulur waktu cuma sibuk bikin konperensi pers. Apa kata dunia?” Belum hilang ingatan publik bagaimana ketidakberdayaan lembaga penegak hukum termasuk pihak istana dalam menghadapi kedigjayaan “super anggodo”.

Muncul seekor kecoak lagi berkeliaran dari dapur. “Mbok dibersihkan to, itu yang pathing umbruk-umbruk (berantakan) di dapur. Jadi sarang kecoa nanti”, protes Kang Koclok pada Den Kendar. Mentang-mentang sedang ditinggal istri jadi malas beres-beres.

Sergah Den Kendar, “Lho masih mending sarang kecoa, daripada sarang makelar kasus. Tuh lihat berita yang ramai sekarang, coba, 25 milyar kuwi duwite sopo (itu uangnya siapa)? Temangsang (nyangkut) di mana?”

“Halah, itu sih sesama makelar kasus saling meneriaki. Kita lihat saja nanti siapa yang bualannya paling besar”, Kang Koclok menanggapi berita “perang-jendral” yang sedang mencuat. Entah mengapa belum nampak suara dari istana menanggapi kehebohan yang makin benderang ini, mungkin masih pusing memikirkan reshuffle, setelah lama menimbun “stok kasus” untuk “serangan balik”.

Lanjut Denmas Kemplu, “Miris rasanya, kalau institusi terhormat penegakan hukum, malah jadi sarang makelar kasus. Rakyat sudah tidak tahu siapa yang bisa dipercaya, lha wong sama-sama juragan kriminalisasi”, teringat Denmas Kemplu pada berita mengenai rekayasa kasus yang menimpa dua wong cilik, yaitu seorang pemulung dan seorang pedagang asongan.

Tentu saja sebagai wong cilik bila sampai tersangkut kasus, kerap menghadapi interogasi yang penuh intimidasi plus bonus digebuki. Jangan tanya apakah dipedulikan hak mereka untuk ditemani para pengacara, seperti halnya para koruptor kakap. Lembaga penegakan hukum yang seharusnya memancarkan wibawa, cahayanya redup, seolah menjadi taman bermain bagi makelar kasus.

Den Kendar menyindir Denmas Kemplu, “Heh.. itu teman SD sampeyan yang mau datang ke Indonesia itu kapan jadinya?”

“Owalah, tahun kapan aku kok SD jauh-jauh ke Menteng, paling jauh ya Piyungan. Saya dengar sih tidak jadi bulan ini, apa jadinya bulan Juni atau Juli?”, tangkis Denmas Kemplu setelah berpikir cepat.

Serobot Kang Koclok, “Yang pasti, jadinya bulan …. bulanan. Lha belum apa-apa sudah didemo malah mau dibikinkan fatwa khusus segala.”

Sambung Den Kendar, “Malah bagus, bikin fatwanya yang komplit sekalian, sama fatwa tolak kedatangan istrinya, anaknya, atau kiriknya sekalian…”

Sejenak suasana hening, berita kali ini membuat mereka terdiam. Seorang suami ditemukan tergantung di pohon kelapa, diduga karena frustasi menghadapi tekanan ekonomi.

Sepasang bayi prematur, entah sampai kapan bakal bisa bertahan, karena orang tuanya tak sanggup membiayai kelanjutan pengobatan. Seorang anak buta dan lumpuh, karena semasa bayi ketika sakit panas, tak sanggup dibawa berobat oleh orang tuanya. Denmas Kemplu teringat riuhnya orang membicarakan film mengenai kiamat 2012, tapi bagi sebagian penduduk negeri ini, kondisi mereka setiap hari sudah seperti kiamat, jadi apa perlunya merisaukan tertimpa kiamat esok hari.

Berita berganti, nampak antrian orang menyemut. Pembaca berita menyatakan, sebagian besar bahkan sudah rela mengantre sampai lima jam.

“Ini antrean beras raskin apa operasi pasar minyak goreng bersubsidi ya”, celetuk Den Kendar.

“Heheh … ngawur… Mosok antre raskin kok di mall mewah seperti itu. Malah yang antre katanya sudah dari lantai 1 sampai lantai 8”, sahut Denmas Kemplu. Apalagi terlihat tampang-tampang yang antre sepertinya tidak terlihat kekurangan gizi, tidak lecek, dan mustahil pernah merasakan nasi aking.

Baru jelas kemudian, ternyata mereka mengantre sandal impor yang sedang diskon. Ucap Kang Koclok, “Halah… sudah diskon, kok masih ratusan ribu begitu, memang sandalnya seperti apa sih?”, mengomentari berita, untuk bayi saja sandalnya bisa berkisar seratus ribu.

“Wah pasti sandal seharga itu, enak sekali dipakainya”, Denmas Kemplu terbayang jika mempunyai sandal semahal itu. Tapi bagaimana saat dipakai jalan-jalan, sayang nanti kalau menginjak mbelek lenco (tahi ayam) atau tahi kuda. Apalagi kalau musim hujan begini, eman-eman sandal mahal-mahal kok sampai belepotan lumpur.

Kalau dipergunakan bertamu, nanti duduknya tidak tenang, sebentar-sebentar tingak-tinguk sandal yang dilepas di luar, takut hilang. Dan yang jelas, tidak bisa dipakai sembarangan untuk menampel kecoak atau mengusir ayam yang sering bludas-bludus ke dalam rumah.

“Bagaimana, mau ikut antre sandal”, tawar Den Kendar melihat Denmas Kemplu termenung.

Ndilalah, Denmas Kemplu teringat sesuatu, “Lho, sampeyan tadi nggebuk kecoak, pakai sandal siapa?” , ditujukan pada Kang Koclok.

“Sori… sori…., jelas sandal sampeyan toh. Terbukti efektif kok, atos tenan je (keras sekali) kecoaknya langsung kelenger..”, terkekeh Kang Koclok.

“Weee, lah iki kok sandal jepitku jadi pedhot (putus) begini…..”, Denmas Kemplu meringis melihat kondisi sandal jepitnya yang memilukan.

“Sudah, ikut antre sandal saja sekalian. Ke sananya nyeker saja, jadi begitu beli langsung dipakai, enak tho mantep tho”, hibur Den Kendar dengan gaya Mbah Surip.

Tolong… tolong…., Pembaca Baltyra, pinjami Denmas Kemplu sandal jepit atau teklek. Siapa bilang buat ke mall? Buat dipakai mbalang makelar kasus sama tekoris. Nuwun.


Ilustrasi: bOchun.com


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.