Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Hello Goodbye, Obama…

Tuesday, 23 March 2010

Viewed 3095 times, 8 times today | 59 Comments |

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

BARACK dalam bahasa Swahili berarti seseorang atau sesuatu yang diberkahi (blessing dalam bahasa Inggris). Kata aslinya /baraka/, yang berakar dari bahasa Arab, karena lokasi penutur bahasa Swahili tak terlalu jauh dari tanah Arab, yaitu seputar tanduk Afrika (Kenya, Somalia, Sudan, Jibouti dan sekitarnya).

Di Indonesia, yang sebagian besar akar katanya berasal dari bahasa Arab, punya perbendaharaan kata yang sama artinya, yaitu /berkah/. Nah… seharusnya orang yang punya nama pakai kata /baraka/ atau /barack/ (bentuk illiteracy dari /baraka/), menjadi orang yang diberkahi.

Tapi kenyataannya tidak selalu. Ya contohnya si Barack Hussein Obama itu, presiden Amerika Serikat yang punya bapak penutur bahasa Swahili, asal negeri Kenya. Namanya saja Barack (ada juga presiden yang pakai kata itu, yaitu Hosni Mubarak, presiden Mesir), tapi tidak diberkahi oleh sekelompok orang di Indonesia, sebuah negeri yang tak jadi dia didatangi, setelah ditunda-tunda 3 kali (November 2009 batal jadi ke 18 Maret, lalu ditunda 23 Maret dan akhirnya di tunda sampai Juni 2010).

Kasihan juga si Barack ini. Dia dihadang oleh rasa ketidaksukaan sebagian penganut agama tertentu di sini. Alasannya, ya dia itu dituding sebagai pemimpin sebuah negara besar yang membunuhi secara sistematis sekelompok pemeluk agama besar di sebuah negeri nan jauh dari Indonesia. “Kami tidak menentang Obama, tapi menentang presiden AS!”, komentar seorang tokoh sebuah organisasi keagamaan ternama.

Kedatangan Barack Obama yang punya masa lalu di negeri ini, menumbuhkan banyak pendapat di masyarakat. Ada yang tidak suka. Ada yang menyambut dengan syarat. Ada yang mengkritik pemerintah kita karena berlebihan menyambutnya. Ada pula yang menggelar karpet merah bak kedatangan tamu agung. Juga ada yang merindukannya, seperti orang mudik ke kampungnya. “Dia ‘kan waktu kecil pernah sekolah di sini!”. “Bapak tirinya itu orang Jogja lho!”.

Kalau menentang kedatangan seorang presiden AS dengan demontrasi, ya itu sih bukan barang baru bagi seorang pemimpin negeri yang disebut negara demokrasi terbesar kedua di dunia (Indonesia ketiga). Di sana sudah biasa seorang presiden ditentang, didemo, dicaci, disapa tanpa etika atau ditegur seperti menyapa supir bajaj. Bahkan mereka punya tradisi membunuh presidennya.

Tapi menentang pribadi Obama ketika dia datang ke sini, sebuah sikap yang sulit dimengerti dan mungkin dicari-cari. Kalau menentang pendahulunya, yaitu Presiden George W. Bush memang bisa dipahami. Di bagian dunia manapun setiap Bush injak kaki, seketika orang berdemo besar-besaran. Bush bagaikan anomali dunia, seperti minyak yang tak bisa bercampur air. Kebijakannya yang dituduh sering merugikan sebuah agama besar, juga dipandang sombong oleh banyak negara lain.

Contohnya ketika Bush melakukan kunjungan kenegaraan yang pertama kali oleh seorang presiden AS ke Inggris tahun 2003. Seharusnya Bush menghormati tata cara dan sopan santun protokol tuan rumah yang mengharuskan dia bersama Ratu Elizabeth II naik kereta kuda secara terbuka. Ini memang tradisi untuk menyambut tamu negara yang datang secara resmi ke London. Presiden Soeharto dan Ibu Tien juga disambutdengan kereta kuda seperti itu waktu datang ke London November 1979.

Tapi kenyataannya, Bush menolak menaiki kereta kuda tersebut, demi alasan keamanan. Memang sejak Kennedy dibunuh, sangat jarang presiden AS menaiki kendaraan secara terbuka di muka umum. Sikap ini bukanlah kesombongan atau arogansi seorang presiden AS, seperti yang dugaan banyak orang di sekitar kita.

Patut diingat, waktu Presiden Reagan datang ke Bali bulan April 1986, pesawat terbang marinir AS juga mondar-mandir sliweran di Bali. Toh, kita dulu tak menyebutnya sombong. Ya, memang demikian standar keamanan untuk seorang presiden AS. Sukur-sukur mereka mau membantu tuan rumah ikut mengamankan, kenapa kita selalu sewot?

Dulu juga waktu Pak Harto mau menghadiri KTT ASEAN III di Manila tahun 1987, kapal perang ALRI sudah pada datang lebih dulu ke Manila untuk mempersiapkan keamanan untuk Pak Harto selama berada di sana. Orang Filipina tidak menyebutnya sebuah kesombongan, malah mereka bersukur dan berterima kasih kepada Pak Harto, karena beliau kepala negara pertama yang menyatakan bersedia hadir dan datang ke Manila. Situasi keamanan Filipina saat itu sedang kritis karena isu kudeta. Sementara kepala negara ASEAN lainnya masih mikir-mikir sambil garuk-garuk kepala. “Datang nggak ya?”

Keruwetan mempersiapkan kedatangan seorang presiden AS ke sebuah negara, sering disalahartikan oleh banyak orang setempat. “Sombong kali bawa-bawa peralatan dan sistem keamanan sendiri? Emangnya ‘gak percaya sama tuan rumah?”. Bukannya begitu, keamanan pribadi keluarga seorang presiden AS adalah sebuah harga mahal. Mereka sudah berpengalaman dengan banyak kematian dan percobaan pembunuhan terhadap pemimpinnya.

Coba aja inget-inget waktu kita punya hajatan kedatangan presiden AS. Bulan September 1975 hanya dalam 3 minggu, Presiden Gerald Ford hampir mati mau dibunuh dua kali oleh dua perempuan yang kurang kerjaan di California. Akibat kejadian ini, ketika Ford datang ke Jakarta awal Desember 1975, tingkat keamanan sangat ketat. Para anggota Dinas Rahasia AS sampai menaiki mobil rombongan Ford dari bandara Halim Perdanakusumah ke Istana, seperti kenek Metro Mini yang berdiri di bibir pintu mobil.

Juga ketika Presiden Reagan mau datang ke Bali, keamanannya sangat ketat. Kenapa? Karena Indonesia adalah negara pertama yang dikunjungi Reagan setelah dia membom Libya tiga minggu sebelumnya di awal April 1986. Jadi bisa dibayangkan rasa kekhawatiran masalah keamanan yang dihadapi. Apa reaksi kita? Ya biasa aja. Nggak ada tuh bilang sombong dan arogan. Mungkin orang dulu lebih rasional dan lebih jernih melihat sebuah permasalahan, tidak seperti kita sekarang.

Tidak selalu presiden AS datang dengan arogansi keamanan yang berlebihan. Waktu Presiden Richard Nixon datang bulan Juli 1969 ke Jakarta, dia santai-santai aja. Da da da da sama orang-orang yang menyambutnya sepanjang jalan dari bandara Kemayoran, Gunung Sahari, Pasar Baru, Lapangan Banteng lalu ke Istana Merdeka. Nixon juga datang ke Pekan Raya Jakarta 1969 (dulu namanya Djakarta Fair).

Bahkan waktu Presiden Bill Clinton ke Jakarta dalam rangka ikut KTT APEC di Bogor bulan November 1994, dia lebih santai lagi dan banyak waktu luangnya. Belanja-belanji di Jalan Surabaya, makan di restoran Oasis di Jalan Raden Saleh, Cikini, sambil negur-negur orang saat dari toilet, lari pagi di sekeliling Gelora Bung Karno dan pergi ke Masjid Istiqlal (presiden AS pertama yang datang ke mesjid).

Reagan juga berleha-leha aja (bahkan terkesan liburan) selama 4 hari 3 malam di Bali waktu ke sana tahun 1986. Cuma nggak bebas jalan-jalan seperti Clinton atau Nixon. Beda dengan kedatangan Bush ke Bali (2003) dan ke Bogor (2006), yang banyak mengganggu aktifitas orang.

Kedatangan seorang presiden AS memang agak beda dengan kedatangan seorang kepala negara lainnya. Ada perlakuan khusus dalam soal keamanan. Bukan cuma saat datang ke sebuah negara saja. Waktu Reagan mau datang dan nginap di rumah stafnya, yaitu Howard Baker, waaaah…repotnya dan juga biayanya milyaran. Padahal itu di dalam negeri AS, bukan di negara lain. Nginapnya juga cuma semalam!

Agak lucu juga mengetahui komentar-komentar sumbang segelintir orang, bahwa kita seperti babu dan terkesan menjilat menyambut kedatangan Obama ke sini. Apanya menjilat? Lha wong yang datang seorang presiden AS! Asal tahu aja, seorang presiden AS itu adalah seorang selebritis top internasional. Di mana dia ada, di situ diberitakan. Mau nggak mau, tempat negara yang dikunjungi ikut kebawa ngetop. Hitung-hitung promosi gratis.

Beda tentunya dengan kedatangan kepala negara lain. Berapa kali Presiden Nauru Roburt Hammer datang ketemu Pak Harto, tapi kurang diberitakan?. Nggak ada yang tahu ‘kan Raja Swaziland (sebuah negara di dalam Afrika Selatan) datang menemui Presiden Megawati Soekarnoputri. Ya, karena mereka dari negara-negara kecil. Masa bodo amat, mau datang apa nggak. Beda suasanya dengan kedatangan seorang presiden AS. Ya, harus dimaklumi aja. Namanya juga negara besar dan super negara. Jadi, bukannya kita kayak babu dan terkesan menjilat Amerika. Terlalu berlebihan anggapan seperti itu.

Rasain ditunda! Kalau bisa nggak usah ke sini aja si Obama itu! Begitu kira-kira sebagian orang sebel sama plin plannya AS mempersiapkan kedatangan pemimpinnya ke Indonesia. Yaa, nggak bisa begitu cara kita berpikir. Soal tunda menunda itu hal biasa. Ada banyak masalah rumit dan sangat teknis di dalamnya, yang semua pihak belum tentu tahu.

Tahun 1963 Presiden Soekarno girang bukan main, sampai membangun sebuah gedung khusus mempersiapkan kedatangan Presiden John Kennedy tahun 1964 ke Indonesia. Padahal saat itu Indonesia sedang sebel sama AS! Dia bangun gedung besar di sisi barat Istana Merdeka, khusus buat nginap rombongan Kennedy kalau datang ke Jakarta. Tapi apa? Kennedy dibunuh dan ya nggak bisa datang. Lha wong udah mati…

Apakah ada reaksi keras menyesalkan persiapan Soekarno dengan membangun sebuah gedung? Mungkin ada, tapi tidak seperti sekarang. Buktinya gedung itu dipakai buat tamu-tamu negara yang datang ke Indonesia. Nama gedungnya Wisma Negara. Letaknya dekat Masjid Baitulrahim, sisi barat Istana Merdeka yang rimbun dengan pohon sengonnya.

Juga waktu Presiden Reagan dijadualkan mau datang ke Indonesia dan Filipina bulan Agustus 1983. Apa jadi dia datang? Nggak! Karena situasi di Filipina yang kacau setelah pembunuhan tokoh oposisi Ninoy Aquino pada Agustus 1983. Batal deh Reagan datang ke Jakarta. Apa kita ribut dan kesal kayak sekarang? Nggak sama sekali. Lha orang batal datang kok marah? Namun Reagan tetap menepati janji itu. Dia tetap datang ke Indonesia setelah 3 tahun ditunda! Coba bayangkan ditunda 3 tahun! Obama sih belum apa-apa… Cuma 3 bulan aja kok, pada ribut dan marah. Bahkan Filipina nggak jadi dikunjungi oleh Reagan, cuma Indonesia aja. Bayangkan, Filipina itu anak emasnya AS!

Buat apa menerima presiden AS? Mereka pembunuh pemeluk agama tertentu! Jangan terima dia! Kira-kira seperti itu komentar sebagian orang yang menolak kedatangan Obama ke Indonesia bulan Maret 2010. Kasihan sekali si Barack ini…

Coba inget lagi, betapa marah dan tersinggungnya waktu Soekarno tahu bahwa Presiden AS Eisenhower cuma datang ke Manila tahun 1960 dan enggan ke Jakarta. “Sombong sekali tuh orang, dia cuma lewat depan pagar rumahku”, kata Soekarno. Padahal kita tahu, beberapa tahun sebelumnya pemerintahan Eisenhower terang-terangan ingin menjatuhkan Soekarno dengan mendukung penuh pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958.

Berapa banyak nyawa melayang karena itu, termasuk nyawa Soekarno sendiri yang nyaris hilang? Apa Soekarno dendam? Ya…lihat aja sendiri, bagaimana bedanya cara pandang orang dulu sama sekarang. Jauuuuh… kalau kita sekarang lebih emotional, karena tidak punya kemampuan rasional yang cukup untuk melihat sesuatu masalah dengan jernih.

Kasihan saya lihat Obama, dia ditentang datang ke sini karena disebut sebagai pembunuh ribuan pemeluk agama tertentu di beberapa negara yang menjadi sahabat Indonesia. Padahal kita tahu, Obama datang ke Gedung Putih dengan niat tulus (wah kalau ini cuma Obama sendiri yang tahu sama Tuhan), untuk bersahabat dengan semua negara dan dengan agama besar yang selalu menjadi korban pendahulunya. Niatnya baik untuk itu dan dia sudah buktikan dengan ucapannya di beberapa tempat (Kairo dan Ankara), meski tindakannya belum jelas benar.

Untuk menghentikan sebuah perang di kawasan Timur Tengah tempat AS terlibat di dalamnya, memang bukan masalah mudah. Obama sudah menjanjikan untuk menghentikan perang yang tak berguna itu dan penuh dosa. Namun semua orang harus tahu, bahwa perang adalah sebuah disain yang rumit. Harus ada perhitungan kalkulatif yang njelimet. Nggak bisa terjadi, begitu Obama dilantik jadi presiden AS tanggal 20 Januari 2009 tepat pukul 12 siang, serta merta semenit kemudian perang usai dan seluruh tentaranya ditarik mundur, lalu penjara penuh durhaka di Guantanamo serta merta ditutup.

Ada tahap dan proses, meski perjalanan itu makan korban dan darah yang sangat disesali oleh banyak orang. Yang penting Obama sudah punya niat baik untuk menghentikan semua itu, namun sering disalahartikan sebagai omdo (omong doang). Dalam agama saya (Islam), orang yang sudah punya niat baik itu berpahala, meski dia belum sempat mewujudkannya. Sedangkan orang punya niat jahat itu tidak berdosa sama sekali, sampai perbuatan itu dilakukannya. Toh waktu minuman keras dan judi dilarang masa Nabi Muhammad, perlu waktu dan proses melarangnya. Tidak serta merta kaku. Aturan datang, hukuman langsung meregang. Pakai proses dan aspek sosiologis dalam menerapkannya.

Kita lihat nantinya, apakah itu hanya niat dan janji belaka? Rasanya sulit untuk negeri model Amerika. Di sini kita biasa obral janji (dan memang sering), lalu lupa melaksanakannya ketika sudah duduk di kursi empuk. Di sana seorang pemimpin berkerja berdasarkan janjinya waktu kampanye.

Nah, adalagi pendapat yang menurut saya aneh dan terkesan kurang masuk akal. “Ngapain sih kita bangga-banggain Obama pernah tinggal ke sini? Emang dia bangga apa tinggal di Indonesia?”, kata penentangnya yang bergaya nasionalis penuh harga diri. Lha? Yang tahu itu ’kan cuma Obama sendiri! Masalah dia terkesan atau tidak selama kecil di sini, ya cuma Obama yang tahu? Kenapa kita sewot dan membuat justifikasi seolah kita ini Obama?

Ngapain juga guru-guru sebuah sekolah dasar menyambut kedatangan Obama? Kayak ‘gak punya harga diri aja! Emangnya gara-gara sekolah di situ Obama jadi presiden AS?” Ya nggaklah, masak dari SD langsung jadi presiden? Wajarlah mereka bangga dan itu manusiawi sekali. Secara psikologis seseorang akan merasa senang dan bangga, bila ada sesuatu yang punya kaitan dengan dirinya.

Waktu Carlos Menem terpilih jadi presiden Argentina tahun 1989, banyak rakyat Siria bergembira dan Presiden Hafez Assad waktu itu mengirimkan selamat atas terpilihnya “putra Siria” menjadi presiden Argentina. Padahal kita tahu kedua negara saling berjauhan dan nggak penting-penting amat untuk bersahabat atau tidak. Menem adalah keturunan imigran Arab Siria yang menjadi presiden dari sebuah negara katolik dan istrinya masih muslim saat itu, sebelum mereka berpisah.

Saya saja yang berasal dari Gorontalo senang sekali waktu BJ Habibie jadi presiden tahun 1998. Ya karena dia satu suku dengan saya. Masalah suka tidak suka dengan kebijakannya, itu masalah lain. Ya bosenlah… kok orang Jawa melulu yang jadi presiden Indonesia… Masak sih orang nggak boleh menunjukkan ekspresi senang, seperti menyambut Obama?

Saya sih oke-oke aja kalau ada yang menyambut Obama dengan memperlihatkan ekspresi nostalgia bahwa dia pernah tinggal di sini. Saya terus terang bangga ada presiden negara adi kuasa yang punya masa silam di negara saya, dan punya bapak tiri orang Jawa, meski saya bukan orang Jawa. Masalah Obama berguna atau tidak buat kita, itu urusan lain.

Dia ‘kan bukan presiden saya! Dan bukan kita yang pilih dia jadi presiden AS! Biar ‘kan aja orang yang merasa punya kaitan emosional dengan Obama bersenang-senang, selama dia tidak pakai uang negara dan rakyat. Anda juga nggak ada yang larang kok mau adain hajatan berbiaya milyaran atau cuma sekedar antarin besek ke tetangga. “Itu ‘kan urusan kami mau senang atau nggak sama Obama?”

Biarkan saja ekspresi orang berbeda-beda menyambut kedatangan Obama. Itu hak mereka dan menurut saya masih dalam batas wajar ketika menyambut Obama. Waktu Presiden Lyndon Johnson datang ke Seoul bulan Oktober 1966, Presiden Korea Selatan Park Chung-hee “minta maaf” kepada sang tamu, karena orang yang menyambutnya cuma “sedikit”. Padahal lautan manusia sudah menyemut gempita menyambutnya.

Menolak Obama karena dia pembunuh pemeluk agama tertentu, sebuah alasan yang bisa pahami tapi sulit dimengerti. Kenapa waktu Presiden Cina Hu Jintao datang ke sini kita tidak protes? Toh pemerintahannya banyak menghabiskan nyawa orang pemeluk agama tertentu juga? Bahkan negeri Cina itu negeri tak bertuhan. Kenapa nggak ada yang protes?

Mengapa kita juga tidak berdemo besar-besaran waktu PM Israel Yitzhak Rabin datang ke rumah Pak Harto di Jalan Cendana pada Oktober 1993? Rabin itu ‘kan jahat sama orang Palestina? Kenapa kita tidak menentang keras waktu PM Inggris Tony Blair ke Istana Merdeka tahun 2007? Mengapa juga kita tidak marah waktu PM Australia Kevin Ruud datang ke Indonesia tahun 2008, toh Australia dan beberapa negara barat juga ikut aliansi perang yang membunuh pemeluk agama tertentu di sebuah perang nan jauh dari Indonesia.

Ada semacam pilih kasih setiap ada kedatangan seorang presiden AS ke sini. Kita tak pernah marah dan protes kalau PM Jepang datang ke sini. Padahal sejak Orde Baru berkuasa, hampir setiap PM Jepang berkunjung ke sini. Ada yang protes? Nggak ada kecuali PM Kakuei Tanaka didemo datang ke Jakarta bulan Januari 1974. Itupun demo penuh nuansa politis internal dalam lingkaran pemerintahan Presiden Soeharto.

Coba pikir, apa nggak jahat negara yang namanya Jepang sama rakyat Indonesia dulu? Yang jutaan orang mati sia-sia dengan menyedihkan? Apa kita protes setiap PM Jepang datang ke Jakarta? Nggak tuh! Begitu juga PM Belanda Andreas van Agt ke Jakarta tahun 1980, PM Ruud Lubbers datang ke sini tahun 1988 dan terakhir PM Jan Peter Balkenende tahun 2007 menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mana ada demo protes dengan spanduk, “BELANDA PEMBUNUH!”. Nggak ada! Semua adem ayem. Padahal, kejam mana Belanda sama AS terhadap rakyat Indonesia?

Nah, kayaknya dalam mendemo tamu negara, kita pilih-pilih untuk menentangnya. Kalau presiden AS kita demo, kalau kepala negara lain yang “sama jahatnya”, kita diamkan aja. Begitu juga mengenai alasan mendemo yang berkaitan dengan korban yang menjadi obyek. Kalau pemeluk agama tertentu yang menjadi mayoritas pemeluk di sini menjadi korban kekejaman negara yang pemimpinnya datang, kita akan marah, protes dan berteriak. Namun kalau yang korban manusia biasa dan bukan pemeluk agama mayoritas di sini, kita diam saja. Seolah ada kualitas nyawa yang menjadi korban. Ada nyawa KW1, ada KW2 ada KW3 dan seterusnya. Nah, nyawa pemeluk agama mayoritas di sini termasuk yang mahal.

Saya setuju saja orang men demo seorang pemimpin sebuah negara yang datang ke sini. Itu hak asasi seorang dan tidak bisa dilarang! Tapi kalau pilih-pilih obyek untuk alasan mendemo, prihatin juga… Presiden Suharto sering kok di demo kalau datang ke negara-negara tertentu karena masalah Timor Timur atau masalah lain seperti Maluku Selatan dan keadaan di Irian Barat.

Jangan-jangan karena presiden AS itu ngetop dan seperti selebriti internasional, kesempatan kita untuk menentangnya dan numpang ngetop. Pasti dijamin terkenal dan diliput oleh media secara luas kalau kita menentang kedatangan presiden AS. Mudah-mudah kedatangan Obama disambut dengan apa adanya. Kalau senang ya senang, kalau dia jahat, ya jahatnya juga masuk akal dan jangan pilih kasih mencari-cari alasan.

Waktu Presiden George Bush (tua) datang ke Australia akhir tahun 1991, dia di luar jadual kenegaraan minta diundang seorang warga negara Australia biasa untuk diajak makan bareng. Alasannya sederhana, waktu mobil kepresidenan AS melaju dari bandara Canberra menuju tempat penyambutan resmi, Bush tua melihat sebuah rumah yang mengibarkan bendera AS untuk menyambutnya. Nah, rumah itu bukan rumah instansi pemerintah setempat atau kantor misi diplomatik AS. Hanya rumah tinggal biasa milik warga Australia. Nah, pemilik rumah itu diminta Bush untuk makan malam bersamanya. Wuuuih… Mimpi apa tuh orang?

Dalam pergaulan manapun, kalau kita kedatangan tamu adalah sebuah kehormatan dan penghargaan dari sang tamu. Betapa tersinggung kita, kalau ada orang kita kenal hanya datang ke tetangga sebelah, tapi malas mampir ke rumah kita.

Obama datang atau tidak, kita tetap seperti ini. Kehidupan harus berjalan seperti biasa. Tak ada yang berubah berarti, kecuali pola pikir kita yang akan mengubahnya. (*)


picture : Nymag, NYdaily, theunspunblog, Life, koleksi pribadi penulis

Share This Post

Posted by Tuesday, 23 March 2010 on 00:10.

Categories: Ekonomi & Politik. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

59 Responses to “Hello Goodbye, Obama…”

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

  1. 59
    dhot Says:

    Cool…!!! dari pada cuma ngikut n sok tahu!! mantap lah…!!

  2. 58
    jufri Says:

    Wah keren banget, Mas artikelnya . memang sebagian penduduk di Indonesia masih belum dewasa fikirannya …

  3. 57
    Mr.Nunusaku Says:

    Anggap saja para garis keras menggongong di Indonesia utk kedatangan Barak Obama, tetap kafilah Barak Obama akan datang ke Indonesia. Dansus 88 dan pasukan USA bergabung utk amankan Jakarta dan Bali, agar kekuatan para penentang kedatangan Obama ke Indonesia tidak berdaya. Kalu perlu kedatangan Obama saat telah menginjak kakinya di Indoesia lalu ada yang membuat macam-macam..? tembak mati ditempat itu jalan pintas dan bertindak dengan tepat jangan macam-macam Densur 88 kita ada mempunyai kemampuan yang telah patahkan kekuatan teroris yang berlebel agama.

  4. 56
    Esti Says:

    mas ISK, as always….top banget articlenya.Lanjutkan mas…meluruskan yg bengkok “ngutip wordingnya sara jelita. Ditunggu yg lain ya….kalo perlu article dgn bahasa jadul ,hehehee

  5. 55
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Dewi, kebencian kita terhadap seseorang lebih banyak karena pengaruh sosial, bukan karena olah pikirnya. Kasarnya, ya…cuma ikut-ikuitan aja… Kasihan mereka.

  6. 54
    Su Says:

    Setuju sama “Obama datang atau tidak, kita tetap seperti ini. Kehidupan harus berjalan seperti biasa. Tak ada yang berubah berarti, kecuali pola pikir kita yang akan mengubahnya.”

  7. 53
    ESG Says:

    T.O.P. Bang Iwan!

  8. 52
    saras jelita Says:

    ISK…good artikel nih mas, membuat yg bengkok2 jadi lurus heeemmmmm…..dimana2 enak yg lurus2 kan ya? bukan beitu

  9. 51
    Dewi Aichi Says:

    Mawar: seharusnya ya, coba kalau yg demo itu rame2 bersihin kota, kan malah bagus tuh….

    HN: nanti kepilih kali ya tuh orang he he

    Imeii: iya hi hi, dimana saja, kapan saja, selalu senyum, aku juga suka tuh..

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)