Ketemu Banci, Siapa Takut?

Anoew – SumSel

[audio:http://www.bomb-mp3.com/index.php?search=johnny+iskandar+pengemis+cinta&p=2]

[audio:http://www.mainmusik.com/download/mp3/Johny+Iskandar.html]

aku bukan pengemis cintaaaaa…….

yang slalu harus mengalah

bila diputuskan cinta

dari sang kekasih

lelaki bukan engkau sajaaaa……..

yang ada dalam dunia

tampan bukanlah utama

menghiasi jiwa

icik… icik… icik…. (iringan ‘musik’ dari kepingan-kepingan tutup teh botol)

(Cuplikan lagu di atas adalah karya Jhonny Iskandar yang berjudul Aku Bukan Pengemis Cinta, di mana sebagian liriknya telah diganti semena-mena oleh sang penyanyi).

Jeritan suara yang jauh dari merdu itu persis di samping mobil yang saya tumpangi sore itu,  ketika berniat kembali ke basecamp dan sempat terhenti agak lama di lampu merah. Waduuuh…, mau menutup kaca jendela kok ya tanggung dan takut bikin dia tersinggung. Mau menolak halus kok nggak tega karena dia tetep menjerit-jerit sambil menggoyangkan badannya yang jauh dari montok apalagi mulus itu. Mau ngasih receh kok ya nggak ada seribuan di dompet..!

“Ndre, kamu ada receh?” saya bertanya ke sopir.

“Nggak ada pak”, sahutnya sambil cengar-cengir. “Kasih duit palsu aja pak..”, sambungnya.

“Kenapa?”

“Kan dia cewek palsu?!”, cengirannya tambah lebar.

“Hus!”, tukas saya cepat meskipun agak geli juga mendengar pendapatnya.

Hm, akhirnya dengan niat tulus sebesar 20% dan sisanya adalah niat nggak rela, saya angsurkan selembar limaribuan sambil mencoba tersenyum meskipun saya yakin garing! Coba tebak apa reaksinya?

“Endaaaaaaaaang…., ikke dapet limarebong booooooow…!!” kali ini dia menjerit girang sambil mengerling genit. “ Makasih ooomm…, titi dj yaaaaa…!”, sambungnya sambil tak lupa memonyongkan bibirnya membentuk kecupan genit.

Jijaaaay Bajay Markojay…, ujar saya dalam hati dan tak sadar bahwa apa yang terucap barusan adalah bahasa bances eh, banci. Berarti saya telah tertular “virus” banci? Waaaaah…., saya nyengir sendiri sambil geleng-geleng kepala sambil melihatnya kembali beraksi di deretan mobil berikutnya.

Dear Baltyrans,

Kadang kita suka langsung menghakimi tanpa melihat apa yang menjadi latar belakang persoalan dan lebih senang memposisikan diri layaknya ‘yang paling sempurna’ dan sering lupa bahwa mereka, para mahluk Tuhan  yang berperilaku ’berbeda’ dan juga ingin seperti manusia normal lainnya. Mereka memerlukan dukungan moral…bukan pujian, bukan pula cibiran apalagi cemoohan.

Seperti saya barusan yang juga secara tak sadar spontan mencelanya dan memandang ‘aneh’ atas perilakunya yang nyleneh dan eksentrik luar biasa. Kok ada ya, mahluk seperti itu?

Padahal siapa tau, bahwa mereka berperilaku seperti itu bukan atas kehendak dirinya sendiri dan berusaha menutupi kekurangan dan ketidakberdayaan mereka atas apa yang terjadi? Belum tentu saya sebagai ‘mahluk normal’ mempunyai akhlak dan berperilaku baik, begitu pula sebaliknya. Beruntung saya nggak sendirian sore itu hingga si Andre menyadarkan saya realita tersebut dengan mengatakan bahwa mereka itu sebenarnya mahluk tersiksa di dunianya.

“Kok bisa?” saya penasaran.

“Mereka kan nggak pingin dilahirkan seperti itu, pak”, jawabnya. “Jiwa mereka perempuan, hanya terkurung di tubuh seorang laki-laki.”, sambungnya.

Benar juga, sahut saya dalam hati. Apakah kita bisa meminta Tuhan agar menciptakan ciptaanNya sesuai dengan keinginan kita? Tuhan, saya ingin hidup enak. Tuhan, saya ingin jadi orang terkenal dan dikagumi. Tuhan, saya ingin berparas elok dan menawan. Dan sebagainya dan sebagainya. Nggak mungkin kan?

Ah, seandainya saya jadi mereka, tentu sayapun nggak akan rela jadi barang tontonan apalagi cemoohan. Tentu saya akan berusaha bermuka tembok demi tuntutan perut dengan mengamen di jalanan atau malah, berkeliling dari gang ke gang perumahan dengan menelan dalam-dalam rasa malu dan gengsi ini.

Tapi tunggu dulu, itu kan mereka banci yang kurang beruntung. Bagaimana dengan mereka yang bernasib baik dalam dunia hiburan? Tidak sedikit mereka yang bergelimang harta berkat bisnis salon atau usaha hiburan yang dirintisnya dari nol. Entah menjadi bintang film, presenter atau penyanyi. Dunia entertainment memang menjanjikan bagi mereka yang ‘nekad’ percaya diri penuh. Dan….., apakah mereka juga dibayar dengan duit palsu?

Lucunya, ada sebagian orang yang takut bila bertemu dengan banci. Kurang yakin, apakah mereka takut atau merasa jijik dan berusaha menghindar. Ah…, coba pikirkan, apa yang ada di benak mereka saat kita menghindar dari hadapannya atau malah mencemoohkannya? Mungkin dia bisa menerima atau malah sebaliknya, justru tersinggung. “Emangnya gue setan?”, mungkin itu yang terlintas di benaknya. Siapa tau?

Seandainya pulang sendirian di malam hari, jalan kaki dari suatu tempat dan kebetulan berpapasan dengan banci (yang tulen maupun setengah-setengah), lebih baik kita bersikap biasa dan jangan menhindar atau malah membuang muka.

(Tapi, ini nggak berlaku ya buat mereka yang memang sengaja ‘berwisata’ di Taman Lawang hihihi…).  Cobalah tip-tip berikut:

  1. Jangan putar arah dan lari menghindar jika kaget bertemu banci tiba-tiba, entah itu banci yang cuantik ataupun banci yang berpenampilan ‘apa adanya’. Ingat ini. Banci akan tahu jika kita menghindar dan ia akan segera mengejar dengan daya kecepatan dua kali lipat dari manusia biasa, berkat dari perwujudan mahluk wanita setengah pria. Sekali Anda tertangkap…, haaap! Resiko ditanggung penumpang. “Mau kemana bosssssss…?”, suara nge-bas yang keluar dari bibir mungil dan wajah cantik jelita itu.
  2. Tetaplah terus melangkah dan jangan hiraukan celotehannya yang menggoda, atau colekan tangannya yang kadang-kadang kurang ajar. Cukuplah pasang wajah dingin dan tetaplah melangkah, biarpun kata-kata puitis keluar dari mulutnya. “Huuuu dasar bencesss…., sama ikke aja takuuuuut….!” (kok nggak nyadar ya, siapa yang sebenarnya banci?!)
  3. Jika suatu saat secara nggak sengaja menabrak atau sekedar menyenggol banci, jangan pernah minta maaf tapi cukuplah diberi senyuman dan segeralah berlalu. Karena jika kita bilang minta maaf apalagi disertai senyuman, waaaah…, bisa-bisa dia malah kesengsem dan spontan mencium Anda. “Duuuuuuuuuh…., nggak pa paaaaa kok… ikke seneng ditabrak-tabrak… Mau dong ditabrak lagiiiiiiiii….. mmmuuuaach!” (halah…, mau dicium banci??!)
  4. Ketemu gerombolan banci. Naaah…, ini yang susah. Lain halnya kalau (sekali lagi) memang kita niat berwisata malam di Taman Lawang. Rasa grogi dan was-was menghantui (padahal belum tentu mereka jahil) melebihi menghadapi razia miras dan sajam. Dalam situasi ini lebih baik jika kita tetap melangkah tenang, usahakan bersikap wajar. Jangan grogi, karena itu malah akan menarik perhatian mereka. Atau bisa juga Anda berpura-pura menelepon seseorang ketika melewati gerombolan tersebut dan asyik berbicara dengan ‘seseorang’ disana. Yang jadi masalah adalah ketika mereka tau jika Anda sedang berpura-pura menelepon dan spontan menyaut, “weeeeeeeee…. Ganteng-ganteng kok bloon… ngomong sendiri di telepon.. Najong!”
  5. Ketemu Banci di Angkutan Umum, sok akrab pulak! Usahakan tetap ramah dan focus pada pembicaraan umum, bukan kepada pembicaraan yang sengaja diarahkan nyrempet-nyrempet kesukaannya. Bilang aja kalau saat ini Anda sedang dalam perawatan dokter karena penyakit menular dan umur tinggal dalam hitungan minggu. Alhasil, banci tersebut kontan menjauhi Anda dan bila mungkin malah langsung melompat keluar dari angkutan yang sedang ditumpangi.

Aih…. Baltyrans,  Ikke tuh yee…suka panasonic dalmatian kalo bahas dunia bences kelamaan.. Mending kita ikutan nyanyi aja boooow…

aku bukan pengemis cintaaaaa…….

yang slalu harus mengalah

bila diputuskan cinta

dari sang kekasih

lelaki bukan engkau sajaaaa……..

yang ada dalam dunia

tampan bukanlah utama

menghiasi jiwa

icik… icik… icik…


Ilustrasi: thailandmagic.com & missladyboys.com

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.