Lelaki, Atau Perempuan?

Hariatni Novitasari – Surabaya

Ketika malam itu aku memeriksa Surat Keterangan Catatan Kriminal (SKCK) dari Polres Tulungagung, betapa terkejutnya aku ketika masuk di kolom Jenis Kelamin, di sana jelas terketik LELAKI. What? Sudah jelas aku PEREMPUAN. Di semua surat pengantar, mulai dari RT sampai dengan kecamatan, jelas tertera jenis kelaminku PEREMPUAN.

Aku panik tanpa ampun. SKCK dari Polda Jatim harus aku dapatkan keesokan harinya, karena lusanya aku berangkat ke Bangkok. Pada hari yang sama, SKCK itu sudah ditunggu agen yang mengurus beasiswa short course di Jakarta sebagai salah satu dokumen kelengkapan visa. Tetapi, aku tidak mau kembali ke Polres. Aku sudah cukup menghabiskan waktu seharian untuk mengurus dokumen itu. Beginilah, orang rantau dengan KTP tempat asal, kalau mau mengurus dokumen apa-apa harus pulang ke kampung.

Semalaman aku berdoa, supaya petugas bagian SKCK di Polda Jatim bisa aku jelaskan duduk persoalannya, Dan, syukurlah, mereka bisa memahami kondisi yang terjadi.

Yah, mengapa jenis kelaminku berubah menjadi LELAKI. Tidak cukup buktikah kalau aku ini PEREMPUAN. Toh, ketika aku datang ke kantor itu, aku membawa cukup bukti dokumen kalau aku perempuan. Secara fisik juga. Aku tidak datang dengan kepala yang botak, ataupun tubuh kekar penuh tattoo. Tetapi aku datang, dengan kemeja perempuan dan celana jeans. Dan, aku datang dengan suara (berusaha) lembut. Lalu, karena apa? Apa karena pas fotoku? Memang, fotoku berambut pendek. Tetapi, aku mengenakan pakaian perempuan? Apakah, tidak cukup bagi petugas untuk mengindentifikasi kalau aku ini perempuan?

Yeah, sebenarnya, aku sudah cukup sering dilihat orang sebagai lelaki. Dalam beberapa hal, itu memang satu keuntungan. Misalnya saja, kalau riset ke lapangan, aku selalu pergi sendiri. Kadang, pergi ke daerah yang belum dikenal, bisa “membahayakan” bagi perempuan. Apalagi dengan kebiasaanku untuk jalan malam dan mengenal kehidupan kota tersebut di waktu malam. Kadang, itu sedikit berbahaya. Sering aku temui orang bergerombol dan bersuit-suit kalau ada orang (terutama perempuan) lewat.

Biasanya, kalau jalan malam sendirian, aku selalu mengenakan jaket dan topi. Atau, jaket yang ada topinya. Jadi, mereka tidak bisa melihat, apakah aku ini lelaki atau perempuan. Hmmm…. Lebih banyak dilihat sebagai lelaki. Apalagi, banyak jalan terkandang gelap dan tidak ada cahaya lampu. Dengan menyamar ini, aku merasa aman, jauh dari gangguan orang-orang usil.

Namun, sering juga ada kejadian lucu. Waktu itu di Ponorogo. Aku ingin ngopi. Di Jalan Sudirman, kalau malam hari ada warung kopi dan jadah bakar yang lezat. Nasi bungkus dan tempe gorengnya juga nyampleng. Di warung pinggir jalan itu, telah duduk sekitar 15 orang lelaki. Mereka asyik makan nasi dan minum kopi. Beberapa mengunyah jadah. Mereka mengobrol keras-keras dengan berbagai topik. Mulai dari politik sampai togel. Malam itu, aku mengenakan jaket dan topi. Mereka cuek saja ketika aku masuk. Namun, ketika aku membuka suara “Bu, kopi tubruk satu…” Tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap. Hening seketika. Para lelaki itu berhenti bicara, sebagai gantinya memandangku dengan penuh heran. Termasuk, si ibu penjual warung. Sedikit kaget. Beberapa dari mereka berbisik. Aku sih cuek saja. Sebagai gantinya, aku mencomot beberapa potong tempe dan mencari tempat duduk yang nyaman.

Nah, kadang karena aku perempuan itu, biasanya sangat aneh ketika berada di tempat yang didominasi oleh lelaki. Pengalaman hampir serupa aku dapatkan ketika aku ngopi siang di Warung Phoenam, Makassar. Siang itu, sebelum kembali ke Surabaya, aku memang sengaja ingin ngopi di warung ini, tapi ingin mencoba yang di Jalan Jampea. Karena biasanya ngopi yang di Panakukang. Dari beberapa warung Kopi Phoenam di Makassar, warung di Jampea ini merupakan tempat aslinya. Menurutku, tidak lengkap kalau ke Makassar tanpa singgah di Phoenam. Meskipun kalau di sana paling ya hanya minum kopi dan makan roti bakar kaya.

Menjadi hal yang jamak kalau di Makassar (atau juga daerah lainnya di Indonesia), kalau warung kopi didominasi pengunjung lelaki. Siang itu, para pengunjung semuanya adalah lelaki. Mereka ada dari berbagai golongan. Ada orang biasa, pejabat ataupun pengusaha. Aku bisa mendengar dari topik pembicaraan mereka yang diucapkan dengan keras-keras. Ada berbagai macam suku juga di sana. Ada Tionghoa, Makassar ataupun Bugis. Dan, seorang Jawa diantara mereka.

Karena aku menjadi satu-satunya perempuan di Phoenam, semua mata memandangku. Aku pura-pura tidak melihat. Tapi, ada seorang bapak-bapak berwajah sedikit Arab dan mengenakan kopyah senantiasa memandangku. Bahkan setiap gerak-gerikku menjadi sasarannya. Seperti stalker gitu. Iihhh…. Akhirnya, aku cepat-cepat undur dari Phoenam. Padahal, masih ingin berlama-lama di warung kopi itu.

Bagiku, berada di tengah-tengah kaum lelaki bukan menjadi hal baru. Diantara teman-teman peneliti, aku hanya satu-satunya perempuan. Dan, tentu saja pekerjaanku sama dengan yang dilakukan kolega-kolegaku. Alasan bos dulu menerimaku, karena aku ber-casing perempuan (demi kesetaraan gender) dan bisa bekerja seperti lelaki. Wow… Aku jadi benar-benar speechless. Tapi ini bisa dimaklumi. Ketika, aku turun ke lapangan, bisa dua bulan non stop. Belum lagi, harus bawa data-data dari lapangan berkardus-kardus.

Sedikit menoleh ke belakang tentang penampakanku ini. Ibuku selalu menyalahkan Mbah-Dheku (kakak lelaki nenek dari ibu) kalau anak perempuannya cara berpakaiannya sangat buruk. Konon, ketika aku lahir dan ari-ari dikubur di tanah, Mbah Dhe ini yang bertugas untuk melakukannya. Nah, ketika melakukan tugas penting itu, Mbah Dhe hanya mengenakan sarung, dan itupun sarungnya kedodoran dan tidak pakai baju lagi! Well, katanya ibuku, kalau anaknya perempuan, maka adatnya si pemendam ari-ari haruslah berdandan layaknya perempuan. Misalnya saja, dengan menggunakan kebaya dan kain jarit, serta bertingkah agak kenes. Lha ini, Mbah Dheku, malah memendam ari-ari dengan hanya mengenakan sarung kedodoran. Ibuku, kadang-kadang juga masih sering mengungkit-ungkit masalah ini sama Mbah Dhe yang tidak juga mau disalahkan. Ya sudahlah… Tapi, kalau aku ingat-ingat, sejak kecil aku memang lebih suka mengenakan celana, karena lebih praktis. Tidak perlu bingung memegang rok ketika angin bertiup. Wusssss…. Yah, tidak apa-apalah kalau sedang shooting seperti Marlyn Monroe di Seven Years Itch.

Hmmm… Tapi, jangan kuatir dengan penampakan luarku, dalam diriku yang paling dalam, aku tetap seorang perempuan tulen dan murni.

Picture : biopedia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.