Rindu Jamu Gendong

Dewi Aichi – Brazil

Jamu gendong sepertinya hanya ada di Indonesia. Coba, negara mana yang ada penjual jamu gendong? Apalagi penjualnya secantik Julia Perez. Hmmm….bangga dong jadi orang Indonesia! Dengan ciri khasnya penjual jamu gendong memakai kain dan kebaya, menggendong bakul yang berisi botol-botol untuk jamunya , tangannya menenteng ember kecil berisi air untuk mencuci gelas.

Aku ingat salah seorang sahabatku sewaktu masih di SMP. Ibunya dulu adalah penjual jamu gendong. Tapi sekarang sudah berhenti karena memang usianya sudah tidak mampu lagi untuk berjalan jarak jauh. Sedangkan temanku sekarang sudah menjadi dokter spesialis di rumah sakit swasta di Jogja.

Dulu, sepulang sekolah aku sering bermain ke rumahnya, melihat ibunya membuat ramuan untuk jamu-jamu yang akan dijualnya. Di rumahnya terdapat papan yang terbuat dari batu, berbentuk persegi panjang, agak cekung bagian tengahnya, dan satunya lagi batu berbentuk bulat panjang sebagai alat untuk menumbuk dan menggilas ramuan. Semua dikerjakan dengan tangan, tidak ada blender, tidak ada mesin penggiling lainnya untuk membantu menggiling ramuan.

Masih agak ingat apa saja yang sering diramu oleh beliau itu. Kalau seingatku ada kencur, kunyit, jahe, beras, kapulogo, cabepuyang, jeruk nipis, madu, asam jawa, temulawak, temugiring dan bahan-bahan lain yang rasanya pahit mampus.

Tenaganya sangat kuat, menumpuk, meramu, menggilas sampai menjadi jamu siap minum adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tenaga yang terkuras untuk membuat ramuan jamu, masih ditambah berjalan kaki untuk menjual jamu tersebut ke setiap pelanggannya. Beliau tidak berjualan dikampungku karena memang bukan wilayah langganannya. Beliau meramu jamu-jamuan atas ilmu turun temurun yang diperoleh dari nenek maupun orang tuanya.

Semua ramuan tidak ada yang dikupas, hanya dicuci bersih, setelah itu baru ditumbuk. Tumbukan juga tidak sampai halus benar, kemudian di saring, air ramuan yang sudah disaring itu dicampur dengan air matang, sebagian dikasih gula jawa, tergantung dengan jenis jamu seperti beras kencur dan kunyit asem, akan ditambah dengan sedikit gula jawa.

Setiap pulang kampung, aku selalu menyempatkan diri menikmati jamu gendong setiap pagi. Sudah langganan keluarga sejak dulu. Mbak-mbak penjual jamu gendong yang setiap pagi datang ke kampungku adalah langganan orang sekampung. Sudah lebih dari 15 tahun semenjak meninggalkan kampung, masih eksis menjadi penjual jamu gendong. Dulu si mbak ini selalu jalan kaki dengan ciri khas berpakaian kebaya, pakai lipstick, menggendong bakul berisi botol-botol jamu. Aromanya segar menggoda.

Waktu lahir anakku, ibuku rajin membelikan uyub-uyub untukku. Uyub-uyub berguna untuk meningkatkan produksi air susu ibu pada ibu yang sedang menyusui. Tetapi karena aku ngga doyan jamu yang pahit, setiap ibuku tidak melihatku, uyub-uyub tadi aku buang dekat sumur. Kadang ibuku tanya, “kok dekat sumur bau uyub-uyub?” Ku jawab saja, “ya kan gelasnya yang tadi belum dicuci!” he he…sumpah, aku ngga doyan jamu pahit, aku cuma minum beras kencur atau kunyit asem.

Sekarang si mbak ini tidak lagi jalan kaki, sudah pakai motor supra x 125 lho he he…canggih ya? Tapi jamunya tetap jadi langganan orang sekampung. Yang berubah hanya penampilannya, tidak lagi pakai kebaya, tetapi pakai daster panjang.

Aroma jamu sudah tercium meski penjual jamu gendong masih jauh. Aroma yang sedap, sangat natural, dan membuat selera kita tergugah untuk segera minum jamu. Sekedar sharing, di kampungku, penjual jamu gendong dengan ciri khas seperti memakai kain kebaya, menggendong bakul dan menenteng ember kecil, sudah tidak sebanyak dulu. Kebanyakan sudah memakai sepeda motor. Masih ada sih beberapa yang tetap berpenampilan dengan ciri khas tersebut, tetapi kebanyakan sudah usia lanjut.

Masyarakat Indonesia, terutama di tanah Jawa, peminat jamu gendong masih sangat tinggi. Sehingga tidak saja di pedesaan, dikota juga masih banyak penjual jamu gendong. Justru di kota, penjual jamu gendong masih mempertahankan ciri khasnya. Dulu, di Taman Mini Indonesia Indah ada penjual jamu gendong yang berkain kebaya, seragam. Entahlah sekarang masih ada atau sudah hilang?

Herbal medicine ini sebenarnya perlu dipertahankan atau bahkan dikembangkan mengingat masih tingginya angka minat masyarakat untuk mengkonsumsi jamu. Sejak dulu masyarakat telah mempercayai bahwa jamu adalah obat alternatif atau preventif bagi kesehatan, yang tentu saja harganya sangat terjangkau.

Upaya pemerintah daerah (Jawa) untuk mempertahankan adanya jamu, terutama jamu gendong, sangat diharapkan. Selama ini belum ada perhatian dari pemerintah akan adanya penjaja jamu gendong yang sebenarnya merupakan aset. Bagaimanapun juga, jamu gendong tidak ada duanya. Misalnya saja diadakan pendidikan dan latihan (diklat) bagi para penjual jamu gendong, agar mereka lebih memiliki ilmu dalam meramu jamu sesuai dengan takaran yang pas.

Manfaat jamu gendong secara umum sudah dikenal oleh masyarakat, namun secara tertulis dari sudut pandang penjual jamu gendong, adalah hampir sama. Setiap penjual jamu tau akan manfaat atau kasiat jamu dan bisa menjelaskan kepada konsumen. Jenis jamu yang mereka jualpun sebenarnya juga hampir sama. Hanya saja, mereka tidak memiliki standar takaran untuk ramuannya. Apalagi untuk kualitas jamu itu sendiri, setiap penjual jamu gendong tidaklah sama.

Sangat disayangkan apabila penjual jamu gendong ini sampai diabaikan. Minat masyarakat masih tinggi untuk mengkonsumi jamu sebagai upaya perawatan kesehatan.Saya sendiri sebagai orang yang mengkonsumsi jamu gendong, sangat berharap bahwa para penjual jamu gendong semakin giat membekali diri dengan ilmu tentang jamu,demi peningkatan kualitas dan pengembangan diri. Sehingga bisa menjadi besar sebagai pengusaha jamu gendong, yang memberikan penghasilan.

Tentu saja ada uluran tangan dari pihak pemerintah akan hal ini. Segala bentuk penyuluhan dan pelatihan bagi para penjual jamu harus diperhatikan. masyarakat tentunya akan selalu mengkonsumsi jamu, yang telah diyakini secara turun temurun bisa menyehatkan, dengan harga yang terjangkau.

Disaat jauh dari tanah air seperti saya ini, barulah merasa sangat menginginkan untuk mengkonsumsi jamu gendong. Rindu untuk melihat dan menunggu kehadiran mbak mbak penjual jamu gendong yang lewat setiap pagi. Rindu mencium aroma sedap ramuan jamu-jamu. Apakah teman-teman suka mengkonsumsi jamu gendong?


Ilustrasi: indonesiamedia.com & pontianakpost.com

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

121 Comments to "Rindu Jamu Gendong"

  1. Dewi Aichi  17 May, 2011 at 16:07

    Salam kenal Allin, terima kasih yaaa…!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *