Keluar Negeri Murah Meriah

Nuri Eriksson – Kosovo

Banyak sahabat yang meminta saya menulis ‘trik-trik’ keliling dunia yang murah meriah. Ya, saya memang bisa dibilang sering ke luar negeri meskipun saya ‘cuma’ anak pensiunan guru. Saya nggak pernah punya banyak uang tapi toh saya lumayan sering jalan-jalan. Dan mendengar perjuangan saya untuk mengunjungi negara-negara yang kadang terdengar aneh di kuping sahabat-sahabat saya itu, mereka pun meminta saya menuliskannya biar banyak yang meniru. Baiklah. Saya juga senang bagi-bagi. Siapa tau, besok-besok saya punya teman untuk jalan-jalan murah meriah ini. Hehe…

Dan kalau ditanya kenapa mesti ke luar negeri dan bukan keliling Indonesia aja, jawabnya gampang: karena saya selalu (mencari dan) menemukan pekerjaan yang lokasinya di luar Jakarta (saya freelancer untuk bidang media-komunikasi). Jadi saya jalan-jalan keliling Indonesia lewat pekerjaan, sementara uang hasil kerjanya saya pakai ke luar negeri. Dengan kata lain, kadang saya emang nggak punya uang untuk sekedar ngafe. Lha wong habis untuk jalan-jalan. :-) Tapi kalau mau menerapkan apa yang saya tulis ini untuk jalan-jalan keliling Indonesia, ya monggo kerso (ih, Jawa banget, ya). Silakan. Nggak dilarang.

Jadi begini ceritanya.. eh, bayangkan dulu bahwa saya selalu pergi dengan satu ransel 10kg, ya. Mau seminggu atau sebulan, tetap ransel itu di punggung saya. Pulangnya bisa lebih karena saya selalu menyempatkan diri beli buku. Hehe. Oke, saya mulai.

Washington DC

Perjalanan pertama yang akan saya ceritakan adalah presentasi makalah di Washington DC. Ya, biasanya memang saya cuma pergi kalau ada tujuannya. Dan bila presentasi itu hanya memakan waktu 15-30 menit, kepergian saya ke luar Indonesia bisa sampai sebulan. Hehe..

Waktu itu saya ‘cuma’ mahasiswa S2 di Universitas Indonesia yang saat itu belum melakukan otonomi kampus jadi nggak punya duit untuk saya terbang ke Amrik. Nggak peduli saya orang pertama yang diterima untuk presentasi di konferensi paling bergengsi di Amrik itu. Saya bukan mahasiswa yang ‘dekat’ dengan jurusan dan fakultas jadi ya terpaksa menerima kenyataan pahit ini. Institusi donor di luar kampus juga banyak yang menolak, selain karena saya nggak punya koneksi dan back up dari kampus (bukan pengajar, ‘cuma’ mahasiswa, itu aja dengan nilai akademis yang ‘asal lulus’), juga karena bidang saya termasuk yang di luar jalur umum.  Ya, topik makalah saya Cyberculture, jadi waktu itu banyak institusi yang menjawab, “Rakyat Indonesia masih mikirin perut, kamu ngurusin internet. Nggak kompak amat.” Beda dengan sekarang, udah banyak yang ’sadar internet’ so mungkin lebih gampang dapat donor.

Dengan para mahasiswa yang juga presentasi. Postur dengan jaket  pinjaman warna biru menor itu saya. Iya, saya kecil banget, ya. Hehe..

Para presenter. Postur dengan jaket pinjaman warna biru menor itu saya. Iya, saya kecil banget, ya. Hehe..

Lalu apa yang saya lakukan untuk mengatasi penolakan-penolakan proposal permintaan dana itu? Well… saya ‘jualan’ tesis ke salah satu institusi komunikasi yang lumayan top di Jakarta. Makalah presentasi saya memang bagian dari tesis S2 yang waktu itu belum saya selesaikan. Negosiasi berakhir dengan si institusi membayar tiket pesawat Jakarta-Washington DC pp, sementara saya memberikan hak cipta tesis pada mereka. Jadi kalau tesis saya selesai, saya harus memberikannya pada mereka untuk diterbitkan dan saya nggak akan dapet untung dari situ (selain bahwa tesis saya diterbitkan). Sip, deh. Saya senang bukan main tapi masalah perduitan nggak berhenti di situ. Bagaimana dengan akomodasi di sana? Saya mengkontak teman-teman lewat internet, dan memperoleh seorang ‘temannya-teman’ yang tinggal di Maryland, lumayan dekat dengan Washington DC. Saya nggak kenal si ‘temannya-teman’ ini tapi beliau senang sekali menerima saya. Lalu somehow, pengurus organisasi yang milis-nya saya moderatori memberikan saya US$ 400 . Katanya, itu uang saku sebagai ganti jerih payah saya menghubungkan anggota organisasi yang tersebar di seluruh dunia, lewat milis. Asik, deh.

Singkat cerita, saya berhasil menikmati presentasi dan konferensi internasional pertama saya di Washington DC. Sekali lagi, presentasi memang cuma 30 menit tapi saya tinggal di Amrik selama hampir dua minggu. Uang US$ 400 dolar itu saya gunakan termasuk untuk naik bus ke Philadelphia menengok sahabat yang baru saja menikah dan pindah ke sana.

Di Jakarta, saya mampir ke institusi yang memberikan saya tiket pesawat. Laporan, dong. Dan ketika tesis selesai, saya kembali mampir menyerahkannya. Saya nggak tau bagaimana nasib tesis saya itu lagi karena beberapa ‘kali saya tanyakan, jawabannya adalah bahwa masih menunggu keputusan dewan buku mereka untuk kelayakan terbit. Nggak tau, deh. Saya sudah bersyukur mereka sudah memberikan saya kesempatan terbang ke Washington DC. Alhamdulillah.

Finlandia

Cerita kedua adalah ketika saya ke Finlandia. Seperti biasa, saya mengirimkan abstrak makalah untuk presentasi. Setelah ternyata diterima, saya kembali berkutat dengan keuangan untuk bisa terbang ke sana. Saya berkomunikasi dengan panitia konferensi mengatakan bahwa saya ingin ke sana tapi karena saya nggak punya back up akademis, saya akan kerja dan menabung. Ketika dekat waktunya dan tabungan saya cuma cukup untuk beli tiket, panitia bilang bahwa saya tidak perlu membayar biaya konferensi, sebagai ganti penghargaan mereka atas usaha saya bekerja dan menabung demi menghadiri konferensi mereka. Horeeeee…!

Tiket beres, saya pun berurusan dengan akomodasi. Saya nggak punya teman sama sekali di Pori, lokasi konferensi. Ngublek di internet, saya ‘nemu milis orang-orang Finlandia yang tertarik dengan Indonesia (termasuk yang menikah dengan orang Indonesia). Saya kontak mereka dan satu bule Finlandia memberi respon positif. Katanya dia tinggal di Tampere tapi dia punya kakak ipar di Pori. Esok harinya, emailnya masuk lagi ke inbox saya, “Nuri, kakak saya tanya kamu siapa. Saya nggak bisa jawab karena saya ‘kan juga nggak kenal kamu.” Hahaha…! Saya berikan alamat website pribadi saya dan esoknya lagi dia kembali dengan email lain, “Nuri, kakak saya akan dengan senang hati menerima kamu di rumahnya. Silakan kontak beliau langsung.” Horeeeee….!

Tiket beres, akomodasi beres. Lalu, karena Finlandia jauh banget, saya nggak mau rugi. Saya kontak teman-teman bule yang punya hubungan dengan Finlandia dan Skandinavia, menanyakan apakah rekan mereka di Skandinavia berminat menampung saya di rumah mereka. Hasilnya? Setelah presentasi di Pori, saya jalan-jalan ke Tampere mengunjungi teman baru saya itu, lalu ke Helsinki, terus ke Göteborg dan Kungsbäcka di Swedia, juga Kopenhagen dan Århus di Denmark. Total waktu kepergian: satu bulan. Ha…!

Di balik kenekadan

Dua cerita rasanya cukup untuk memberikan gambaran bagaimana saya bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan murah meriah. Kasus saya sifatnya akademis yang bandel karena saya pergi sebagai mahasiswa dodol dan kere tanpa back up akademis. Jadi akomodasi yang saya peroleh ya rata-rata rumah para profesor yang juga ‘adventuris’, yang kadang lebih menghargai ajaran yang diperoleh saat kontak orang per orang daripada yang diperoleh dari buku. Ya, saya tau bahwa saya sendiri lebih kaya pengalaman daripada kaya lewat buku.

Anyway, ‘kenekadan’ saya melakukan ini dan itu supaya bisa keliling dunia bukannya tanpa perhitungan. Kalau di klub pencinta alam jaman SMA dulu saya belajar untuk selalu punya satu set pakaian bersih (lengkap dengan baju dalam dan kaos kaki) yang ditaruh di tas plastik sebagai spare kalau hujan, saat keliling dunia itu saya selalu punya spare uang untuk beli tiket ke bandara, yang saya taruh di amplop di salah satu saku ransel. Kalau jaman naik gunung dulu ajarannya adalah bahwa tas plastik itu baru boleh dibuka bila memang saya sudah basah kuyup dan nggak ada alternatif lain, maka saat jalan-jalan ke negeri orang, uang itu baru saya buka ketika dua kartu kredit saya sudah pasang lampu merah.

Ya, saya punya dua kartu kredit yang berlaku di seluruh dunia. Tapi jangan salah, saya punya disiplin diri untuk selalu menahan diri nggak pergi ke luar negeri sebelum nilai di kartu kredit itu kembali nol. Jadi kalau pulang dari bepergian, saya tau bahwa saya harus kerja keras untuk membayar hutang di kartu kredit saya. Secepatnya, karena saya ‘kan pengen sering-sering ke luar negeri.

Kalau Anda merasa nggak memiliki disiplin diri untuk yang terakhir ini, yah… mungkin itu sebabnya saya bisa jalan-jalan murah meriah dan Anda nggak. Haha…! Piss, ah….. :-)

 

picture : d2zone

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.