Camomile Plus

Josh Chen – Global Citizen

Emi Fujita: Camomile Plus

Note: jika ingin mendengarkan, dengarkanlah satu per satu, jangan Play berbarengan, nanti kacau bertumpuk suaranya…hehe…

Semua akan berbunyi berbarengan, PAUSE’lah yang di bawah-bawah, dengarkan satu per satu sesuai narasi.

Jika computer/laptop Anda terhubung dengan sound system lengkap (sub woofer plus satelitnya), akan lebih ciamik suaranya.

Salah satu hobby saya yang paling dalam saya geluti adalah musik, sedari dulu, mulai jaman kaset, kemudian CD, LD, bahkan sampai bergaul akrab dengan dunia rekaman juga pernah saya terjuni.

Range aliran musik yang saya sukai benar-benar sangat luas, dari klasik, jazz, pop, R&B, house music, disco dance, slow rock, heavy metal, lagu berbahasa Indonesia, Mandarin, Jawa, Jerman, Belanda, Italia bisa saya nikmati dan saya memiliki beberapa di antaranya, tidak perlu disebut lagu berbahasa Inggris, sudah menjadi santapan saya sejak kecil.

Sekarang ini saya lebih menyukai CD yang direkam dengan DSD, Direct Stream Digital yang menghasilkan reproduksi suara yang luar biasa. Spektrum suara yang lebar, transient yang dinamik dan kedalaman vokal yang mumpuni. Rekaman dalam format di atasnya ada juga, yaitu SACD murni dan SACD hybrid.

Kali ini saya ingin mencoba menuliskan pengalaman “spiritual” dalam mendengarkan album Emi Fujita Camomile Plus yang merupakan album kompilasi dan retro, yaitu dinyanyikannya lagu-lagu lama.

Cover yang menarik, elegan dan artistik menarik perhatian saya. Walaupun saya sudah pernah punya beberapa lagu dari Emi Fujita, tapi album ini kelihatan lain. Saya mengayunkan langkah ke salah satu toko di SMS Gading Serpong, dan mencoba di ruang khusus di bagian belakang, karena CD ini dikategorikan audiophile CD. Keping CD yang berlapis emas makin meyakinkan saya akan kualitas rekaman audiophile CD ini.

Denting piano segera menyeruak di ruang dengar khusus tsb, membelai pendengaran saya dan membuai hati. Suara jernih dari seorang Emi Fujita mengalun lembut dari speaker Bose di sana. Lagu lawas dari trio Gibb bersaudara, Bee Gees terdengar manis dilantunkan oleh Emi Fujita dalam aransemen yang minimalis dan suara yang sungguh pas. First of May mengalun halus. Tanpa berpikir panjang, segera saya minta yang masih bersegel dan menebus harganya di kasir.

Tidak sabar di rumah, segera saya siapkan audio set saya. CD player harman kardon, dikombinasikan dengan pre-amplifier dan power amplifier rakitan sendiri, dan dieksekusi dengan sepasang speaker mungil, yang juga rancangan dan perhitungan sendiri, @ 2 x 5” Sony mini woofer dan tweeter Audax limited edition menjadi corong reproduksi terakhir.

Denting piano kembali mengalun, dan saya segera mengambil posisi untuk mendengarkan hingga tuntas. First of May mengalun apik dan sempurna. Tepat di bagian reffrain: “But you and I, our love will never die……” pas di “I” dan bersambung di “our love will never die” itu merupakan improvisasi olah vokal yang luar biasa dari seorang Emi Fujita.

Denting gitar di lagu kedua menyeruak membuyarkan kesan mendalam alunan piano dan olah vokal piawai di lagu pertama. Fields of Gold dari jawara kawakan STING, mengobrak-abrik imajinasi saya akan kesan lagu STING. Denting gitar minimalis mengiringi alunan vokal Emi Fujita. Belaian dan kekuatan vokal luar biasa di bagian: “Will you stay with me will you be my love, Among the fields of barley? We’ll forget the sun in his jealous sky, As we lie in the fields of gold”….sungguh melambungkan banyak sekali memory dari masa lalu.

Dominasi gitar dalam album ini memang membuat nuansa tertentu, terutama di lagu ke 3 Today yang dibawakan dengan maut oleh Emi Fujita.

I’ll taste your strawberries, I’ll drink your sweet wine

A million tomorrows shall all pass away

Ere I’ll forget all the joy that is mine today

Bagian itu benar-benar melambungkan fantasi dan imajinasi romantis ke mana-mana. Luar biasa memang.

Dan lagu berikutnya yang saya suka adalah no. 8, Every Breath You Take. Lagu ini menyentak langsung dengan kualitas vokal jawara Emi Fujita dan segera diiringi dengan bass yang pulen. Lagu yang pernah dinyanyikan oleh STING dan pernah juga keluar di salah satu episode Ally McBeal. Penutup lagu ke 8 ini cukup asik, fading away dengan pelahan diiringi musik yang asik.

Secara umum, album ini sangat layak untuk dikoleksi, jika didengarkan bersama pasangan dengan peralatan audio yang cukup mumpuni akan membawa aura yang romantis. Total lagu sebanyak 16 lagu secara umum enak dinikmati dan sangat worth untuk dikoleksi. Jangan dengarkan album ini di computer Anda, baik itu laptop atau desktop, akan kurang terasa detail dari musik minimalis dan olah nafas Emi Fujita.


Range aliran musik yang saya sukai benar-benar sangat luas, dari klasik, jazz, pop, R&B, house music, disco dance, slow rock, heavy metal, lagu berbahasa Indonesia, Mandarin, Jawa, Jerman, Belanda, Italia bisa saya nikmati dan saya memiliki beberapa di antaranya, tidak perlu disebut lagu berbahasa Inggris, sudah menjadi santapan saya sejak kecil.















Sekarang ini saya lebih menyukai CD yang direkam dengan DSD (bukan DSD – Almere lho), tapi ini Direct Stream Digital yang menghasilkan reproduksi suara yang luar biasa. Spektrum suara yang lebar, transient yang dinamik dan kedalaman vokal yang mumpuni. Rekaman dalam format di atasnya ada juga, yaitu SACD murni dan SACD hybrid.




























Kali ini saya ingin mencoba menuliskan pengalaman “spiritual” dalam mendengarkan album Emi Fujita Camomile Plus yang merupakan album kompilasi dan retro, yaitu dinyanyikannya lagu-lagu lama.

Cover yang menarik, elegan dan artistik menarik perhatian saya. Walaupun saya sudah pernah punya beberapa lagu dari Emi Fujita, tapi album ini kelihatan lain. Saya mengayunkan langkah ke salah satu toko di SMS Gading Serpong, dan mencoba di ruang khusus di bagian belakang, karena CD ini dikategorikan audiophile CD. Keping CD yang berlapis emas makin meyakinkan saya akan kualitas rekaman audiophile CD ini.

Denting piano segera menyeruak di ruang dengar khusus tsb, membelai pendengaran saya dan membuai hati. Suara jernih dari seorang Emi Fujita mengalun lembut dari speaker Bose di sana. Lagu lawas dari trio Gibb bersaudara, Bee Gees terdengar manis dilantunkan oleh Emi Fujita dalam aransemen yang minimalis dan suara yang sungguh pas. First of May mengalun halus. Tanpa berpikir panjang, segera saya minta yang masih bersegel dan menebus harganya di kasir.

Tidak sabar di rumah, segera saya siapkan audio set saya. CD player harman kardon, dikombinasikan dengan pre-amplifier dan power amplifier rakitan sendiri, dan dieksekusi dengan sepasang speaker mungil, yang juga rancangan dan perhitungan sendiri, @ 2 x 5” Sony mini woofer dan tweeter Audax limited edition menjadi corong reproduksi terakhir. Denting piano kembali mengalun, dan saya segera mengambil posisi untuk mendengarkan hingga tuntas. First of May mengalun apik dan sempurna. Tepat di bagian reffrain: “But you and I, our love will never die……” pas di “I” dan bersambung di “our love will never die” itu merupakan improvisasi olah vokal yang luar biasa dari seorang Emi Fujita.

Denting gitar di lagu kedua menyeruak membuyarkan kesan mendalam alunan piano dan olah vokal piawai di lagu pertama. Fields of Gold dari jawara kawakan STING, mengobrak-abrik imajinasi saya akan kesan lagu STING. Denting gitar minimalis mengiringi alunan vokal Emi Fujita. Belaian dan kekuatan vokal luar biasa di bagian: “Will you stay with me will you be my love, Among the fields of barley? We’ll forget the sun in his jealous sky, As we lie in the fields of gold”….sungguh melambungkan banyak sekali memory dari masa lalu.

Dominasi gitar dalam album ini memang membuat nuansa tertentu, terutama di lagu ke 3 Today yang dibawakan dengan maut oleh Emi Fujita.

Today while the blossoms still cling to the vine
I’ll taste your strawberries, I’ll drink your sweet wine
A million tomorrows shall all pass away
Ere I’ll forget all the joy that is mine today

Bagian itu benar-benar melambungkan fantasi dan imajinasi romantis ke mana-mana. Luar biasa memang.

Dan 2 lagu yang saya suka adalah no. 8 yaitu Every Breath You Take dan no. 9 True Colors. Dua lagu ini menyentak langsung dengan kualitas vokal jawara Emi Fujita dan segera diiringi dengan bass yang pulen. Lagu yang pernah dinyanyikan oleh STING dan pernah juga keluar di salah satu episode Ally McBeal, sekaligus menjadi favorit Diva kita, Diva Langit KoKi. Diva Langit KoKi yang tidak perlu disebut namanya rasanya sangat mumpuni jika melantunkan tembang ini, dengan warna suara yang mirip, saya yakin akan pas sekali. (Serius tidak mengada-ada lho Lemb…). Penutup no. ke 8 ini cukup asik, fading away dengan pelahan diiringi musik yang asik.

True Colors sendiri yang pernah dilantunkan oleh Cindy Lauper dan Phil Collins, kali ini dibawakan oleh Emi Fujita dengan gayanya sendiri. Dentuman bass tepat di bagian reffrain sangat membuai telinga.

Secara umum, album ini sangat layak untuk dikoleksi, jika didengarkan bersama pasangan dengan peralatan audio yang cukup mumpuni akan membawa aura yang romantis. Total lagu sebanyak 16 lagu secara umum enak dinikmati dan sangat worth untuk dikoleksi. Jangan dengarkan album ini di computer Anda, baik itu laptop atau desktop, akan kurang terasa detail dari musik minimalis dan olah nafas Emi Fujita.

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *