Hachi : Percik Kesetiaan yang Masih Tersisa

Junanto Herdiawan

Kesetiaan bagai percik yang sulit dicari di deru zaman ini. Zaman yang penuh dengan penelikungan dan pengkhianatan. Dan pekan lalu, saat menyaksikan film berjudul “Hachi”, saya diingatkan kembali akan makna kesetiaan. Cuaca di luar rumah pekan lalu memang tidak bersahabat, dan menonton Hachi menjadi pilihan tepat. Sejak saya menuliskan kisah patung Hachiko beberapa waktu lalu (Kesetiaan Hachiko) beberapa teman menyampaikan bahwa cerita Hachiko telah difilmkan di layar lebar dengan judul “Hachi”. Dan baru pekan lalu, saya sempat menonton film ini. Hachi dirilis pertengahan tahun 2009, dibintangi oleh aktor ganteng Richard Gere (saya tidak tahu apakah film ini diputar di bioskop Indonesia).

Film Hachi adalah sebuah tragedi tentang persahabatan, kematian, dan kesetiaan. Hachi mampu membuat anda berderai air mata merenungkan makna cinta yang tak pernah mati (undying love). Bagi yang memiliki jiwa sentimental, siap-siaplah membawa sapu tangan sebelum menyaksikan film ini. Kisah Hachi, aslinya berasal dari sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Mungkin demi komersialisasi, kisah itu diadaptasi dengan gaya Hollywod dan mengambil setting di Amerika.

Tokoh Profesor Ueno di Jepang, digantikan perannya oleh Profesor Parker Wilson (Richard Gere) di Amerika. Ketika Parker Wilson pulang bekerja, di stasiun kereta api, ia menemukan seekor anak anjing liar. Anak anjing berjenis Akita itu accidentally terjatuh di stasiun kereta api dalam pengiriman ke suatu tempat. Parker pun membawanya pulang ke rumah. Awal kisah film ini berjalan lambat dan menempatkan fokus lebih pada hubungan Parker dan si anjing, yang kemudian dinamakan Hachi (kalung di lehernya bertuliskan huruf “Hachi” yang artinya angka 8 dalam bahasa Jepang).

Semakin besar Hachi, semakin ia terikat secara bathin dengan Prof Parker. Setiap pagi, Hachi mengantar majikannya ke stasiun kereta api, dan setiap sore hari, tepat pada pukul lima, Hachi datang ke stasiun menantikan Prof Parker pulang. Begitu terus dilakukan hingga terjadi sebuah tragedi. Prof. Parker terkena serangan jantung saat mengajar di kampus, dan ia tak pernah pulang lagi. Namun Hachi tetap menanti dengan setia di depan stasiun kereta api, setiap jam 5 sore. Para sahabat Prof Parker menyampaikan pada Hachi bahwa majikannya tak akan pernah pulang lagi. Tapi Hachi tak peduli. Loyalitas dan kesetiaannya membuat ia tetap bertahan setiap hari menanti kedatangan majikannya. Hal iini menyentuh hati setiap orang yang bekerja di stasiun tersebut. Selama 10 tahun Hachi melakukan penantian, meski yang dinanti tak pernah datang, hingga akhirnya, Hachi menjemput kematiannya sendiri.

Max Scheller, seorang filsuf, pernah berkata, “Man can either more or less animal, but never animal.” Pada satu titik, anjing memang bisa lebih hebat dari manusia. Tak heran bila dikatakan anjing adalah sahabat terbaik manusia. Kisah di Kitab Suci juga menyebutkan bagaimana Anjing menjadi binatang yang dijamin masuk surga karena kesetiaannya mendampingi tujuh pemuda di dalam gua.

Hachi membawa kita pada sebuah persimpangan makna tentang sifat baik dari hewan. Para filsuf sejak jaman Aristoteles, Hegel, hingga Sartre dan Camus, berulangkali bertanya, apa yang membedakan manusia dengan anjing, atau hewan pada umumnya. Berbagai kekhasan khusus disusun untuk membangun sebuah filsafat manusia. Mulai dari hewan yang tertawa, hewan yang memiliki dua kaki tanpa bulu, sifat serigala melawan serigala (bellum omnes contra omnia), hingga manusia sebagai zoon politikon (political animal).

Manusia memang bergerak antara pendulum hewan dan malaikat. Ia bisa lebih nista dari binatang, tapi ia juga bisa lebih luhur dari malaikat. Tak pernah jadi binatang, dan tak pernah jadi malaikat.
Kisah Hachi membawa pesan moral itu. Kesetiaan anjing yang tak pernah mati menyentil penelikungan dan pengkhianatan yang terjadi di zaman ini. Manusia bergerak bukan atas dasar kesetiaan, namun lebih pada kepentingan. Janji untuk bersatu atau berkoalisi adalah satu sisi. Tapi kata kesetiaan kerap berbenturan dengan kepentingan diri (self interest), apalagi bila hal itu mengancam posisi dan kedudukan kita. Semua bisa dijustifikasi dengan akal manusia, arti kesetiaan menjadi banal.

Menjadi setia bukan hal mudah, baik bagi seorang sahabat, saudara, kekasih, suami, istri, apalagi bagi para politisi. Dan melihat Hachi, saya termenung. Mungkin kita semua termenung. Apakah kita termasuk orang yang setia? Hanya saya, dan kita masing-masing yang bisa menjawab di dalam hati terdalam.

Jadi, jangan marah kalau kita dikata-katai “Anjing” oleh orang. Karena anjing adalah makhluk yang berpegang pada cinta dan kesetiaan, plus dijamin masuk surga. Peace man…hehehe…

My verdict for Hachi : Must See


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.