I (don’t) like Monday!

Alexa – Jakarta

Rasanya sudah kaidah umum bahwa  syndrome malas atawa capek selalu terjadi di  hari Senin, lha gimana lagi pas hari Sabtu dan Minggu pada habis-habisan bersuka rianya sih makanya capenya baru muncul pas Senin itu.  Begitu umumnya syndrome ini  sampai lahir lagu  “Tell Me Why I Don’t Like Monday”.  Untung Senin ini kami semua bersemangat, rencananya abis Monday meeting di kantor mau jalan bareng cari Properti Hidup. Nah apa lagi tuh….kalau ada yang hidup berarti ada yang mati juga ya.

Properti mati itu istilah kami untuk Properti yang dipakai sendiri – sebenarnya enggak tepat juga dibilang mati karena asset berupa Properti selalu naik nilainya (NJOP) tiap tahun dan ditempati sendiri  kan berarti  menghemat ongkos ngontrak. So apa maksudnya Properti Hidup?  Dibilang Hidup karena dia bisa memberikan penghasilan rutin kepada Pemiliknya dengan cara disewakan baik untuk usaha dagang, kontrakan atau kost-kostan. Kali ini temanku ingin mulai menyusun portfolio asset pribadinya dengan memasukan Properti Hidup.

Ada masalah disini yakni Budget….maunya di Jakarta tapi budgetnya cuman sekitar Rp.500jutaan dan jumlah kamar maunya minimum 10 kamar. Sebenarnya di Jakarta Selatan yang sedikit minggir macem Bintaro, Pondok Cabe – tempo hari sudah dapet  rumah-rumahnya, lha mikir untuk keputusan belinya lama beeng. Yang mengejutkan adalah ternyata  dalam bilangan minggu (bukan bulan), properti macam itu sudah berpindah tangan dengan cepat…berarti orang Jakarta banyak yang berduit ya.  Ya udah akhirnya kami putuskan untuk melihat-lihat properti di kawasan Jakarta Timur dan Pusat – tepatnya di daerah Pramuka dan Kramat.

Akhirnya setelah Monday meeting – kami bersiap berangkat dengn mobil pribadi (karena ini bukan urusan  kantor ), eh temanku yang lain menawarkan untuk pakai mobilnya aja dengan catatan anterin dia dulu ke daerah Benhill cari kost-kostan. Ya udah kami semua sepakat dengan asumsi Benhill dekat dengan kantor kami yang ada di Plangi.

Tapi ternyata sepanjang pencarian kami yang melelahkan itu  (untuk memudahkan kami memarkir mobil di jalan besar dan dari gank ke gank kami jalan kaki), temanku ngotot harus dapat kamar hari itu juga. Pas aku lihat bagian belakang mobilnya (Avanza) ternyata barang-barangnya sudah ada disana semua – bujubune temanku minggat dari rumah….dengan segenap pengertian yang ada akhirnya kami setia mendampingi mondar-mandir mencari kamar sesuai selera dan budgetnya.

Setelah dia mendapatkan kamar yang bisa langsung dimasuki -akhirnya kami mulai hunting properti di daerah Pramuka dan Kramat. Satu lagi pelajaran di dapat dari perburuan hari itu – harga Rp. 500juta itu di Jakarta Pusat jangan ngarep dapat bareng bagus. Yang ada malah rumah-rumah itu ada di dalam gang buntu tak bernama dan ternyata pemilik mengarang alamat sendiri…bayangkan memakai alamat Jalan Besar dan diberi nomor bagus, pas didatangi ya milik orang lain. Dan setelah kami mondar-mandir menyusuri jalan setapak, baru pemiliknya mengakui lokasi yang sebenarnya –itu terjadi pada tiga properti yang berbeda lho.

Temanku si calon investor properti akhirnya menyerah dan mengurungkan niatnya, saat itu sudah pukul 3 siang – kami semua berkeringat dan berdebu. Aku lihat dari Kramat itu langsung nyosor ke jln. Raden Saleh dan tidak jauh dari situ bisa langsung ke Manggarai. Akhirnya aku tawarkan untuk mentraktir teman-teman makan Gudeg Manggarai yang terkenal itu.

Lalu lintas lancar, begitu sampai tempat tujuan kami langsung memesan sesuai selera. Silahkan saksikan display dari gudeg itu. Pesanan segera datang dan kami terdiam menikmati hidangan yang ada, kutawarkan untuk nambah tidak ada yang mau sebab porsinya sudah nendang.

Akhirnya kubayar semuanya – kami berempat cuman habis Rp. 60 ribu, Jalil temanku langsung protes, “Alexa traktir kita kok yang murah-murah sih.” Belum sempat kujawab, teman-temanku yang lain langsung membela, “Daripada elo, Lil – minggu lalu nonton aja minta dibayarin. Udah gitu bilangnya mau beliin donut – kirain beli di Dunkit Donut eh gak taunya beli donut apkiran di Giant.” (Note: di Giant itu memang sering dijual dengan harga miring donut yang akan segera memasuki masa expire – pas Jalil bawain tuh donut emang kita langsung pada enggak mau makan). Jalil tertawa tersipu-sipu, kami langsung balik kanan dengan mesem-mesem.

Definetely We Like This Monday……membantu teman mencari “sarang barunya”, seru-seruan mengitari daerah Pramuka dan Kramat serta berakhir dalam kenikmatan sepiring gudeg.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *