Sunday, 28 March 2010
Sumonggo – Sleman
Kembali penegakan hukum menjadi bulan-bulanan pemberitaan. Bila mencuat berita kasus kebobrokan aparat terbongkar, maka komentar yang muncul adalah, “Ini pasti ada yang tidak kebagian jatah…” Bila kasus tersebut diam-diam mengendap, maka komentarnya, “Nah, sekarang pembagiannya sudah merata…”
Denmas Kemplu sedang dibantu Kang Koclok memperbaiki motor bututnya. Menurut kabar burung motor itu sudah dari jaman Sultan Agung. Tapi karena Kang Koclok adalah penggemar serial Api Bukit Menoreh, Jalan Simpang (karya SH Mintardja), yang lakonnya Agung Sedayu dan Glagah Putih, menurut Kang Koclok motornya Denmas Kemplu diproduksi jaman Agung Sedayu belum disunat. Ha ha ha ……
Sudah pasti ditukar dengan pit onthel pun masih tombok. Jadi kalau suara motornya berisik itu bukan seperti anak muda sekarang yang dimodifikasi atau di-blombong, tapi ya dasar memang sudah “balung tuwo”. Biar begitu, Kang Koclok sering meminjam jadi harus ikut “tanggung jawab”. Den Kendar yang tidak paham soal mesin cuma ikut “memberi semangat” saja.
Dari dalam rumah Kang Koclok, anaknya keluar menanyakan salah satu soal di pekerjaan rumahnya, “Bapak, Mabes itu kepanjangannya apa sih?” “Markas Besar”, jawab Kang Koclok tanpa menoleh. Mungkin tertimpa suara “rintihan” motor Denmas Kemplu, anaknya kurang dengar, “Apa Pak, Markus Besar?” “Huss …. ngawur bisa diciduk nanti”, Kang Koclok lalu menjelaskan jawaban yang benar setelah mengecilkan suara motor. Jawab anaknya manggut-manggut, “Ooo… soalnya selama ini yang banyak kulihat di televisi itu ya markus, jadi kukira kepanjangannya ya markus besar….”
Setelah anak Kang Koclok masuk kembali ke rumah, Den Kendar berujar, “Kalau dipikir ya tidak terlalu salah juga ya …. Malah bila kebangeten bergelimang kebusukan, bisa jadi singkatannya jadi Mabus…”
“Opo meneh (apa lagi) itu mabus?”, tanya Denmas Kemplu sambil mengelap hidung yang kena oli jadi belang, takutnya dikira hidung belang, ha ha ha …
“Mabus itu ya tempat di mana makelar kasus bisa bebas bludas-bludus”, jawab Den Kendar.
“Lho mosok iso (masak bisa) kan tinggal dipasang CCTV?”, kilah Denmas Kemplu.
“Hari gini, mau menangkap makelar kasus pakai CCTV? Mimpi kali yee….”, sindir Den Kendar.
Kang Koclok yang sedang kerepotan membuka busi, nyeletuk, “Yo wiss… lanjutkan … “
“Lanjutkan opo?”
“Lanjutkan kebusukannya ….”
Para orang tua bilang, mengajarkan yang buruk itu mudah. Jadi “transfer of knowledge” kebusukan memang cepat menular.
Entah apakah prioritas sekedar melindungi korps, padahal seharusnya melindungi rakyat dari kebusukan anggota korps. Publik tak terlalu bodoh untuk mengetahui siapa sebenarnya yang melanggar kode etik dan mencemarkan nama baik. Semoga tidak ada skenario rekayasa busuk untuk melanggengkan kebusukan lebih sustainable lagi.
Denmas Kemplu berucap, “Lho, itu kan masalah internal mereka? Jadi media tidak perlu berkomentar macam-macam.”
“Masalah internal, dengkulmu? Lha wong duwit gaji dari pajak yang dibayar rakyat”, sergah Den Kendar.
“Wah, jadi ingat kata-kata iklan. Jeruk minum jeruk. Lha, ini jeruk memeriksa jeruk”, kata Kang Koclok sambil menggosok busi.
Sambung Den Kendar, “Jangan-jangan malah jeruk busuk memeriksa jeruk busuk …”
Beberapa bulan ini memang yang mencolok adalah banyaknya parade kebusukan di berbagai lini penyelenggara negara. Bagaimana pula kabar tim independen yang masih mbuh-mbuhan siapa orangnya? Informasi yang dilansir tiap hari pun tidak pasti, hari ini katanya tersangka, eh besok masih saksi? Benar-benar konsisten, alias konsisten plin-plan. Jangan salahkan bila kuntilanak yang sedang sariawan pun tertawa mendengar kalimat standar yang diulang-ulang, “Kami akan bekerja secara profesional”.
Kemarin Denmas Kemplu melihat berita seorang pegawai golongan tiga bisa memiliki aset milyaran. Tayangan iklan yang berbunyi, “Hari gini nggak bayar pajak apa kata dunia?” seolah terdengar menjadi “Hari gini masih ada makelar pajak apa kata dunia?” Padahal belum lama Denmas Kemplu bangga melihat iklan seorang pegawai pajak yang menolak sogokan, meski itu dari karib kecilnya.
Komentar Kang Koclok, “Tidak mungkin pegawai tersebut “bermain bola” sendirian, pasti ada guritanya …”
Den Kendar menimpali dengan iklan di televisi, “Jadi tak cukup lagi hanya awasi penggunaannya, awasi juga pemungutannya.”
Memang kasus “tersesatnya” uang 25 milyar, telah membuat kampanye pajak menjadi kontra-produktif. Di dunia maya bahkan muncul gerakan untuk boikot bayar pajak. Kasihan wajib pajak baru yang sudah semangat, semoga tak jadi mutung. Sejumlah slogan olok-olok yang banyak beredar:
1. Orang bijak boikot bayar pajak
2. Orang bijak kerja di kantor pajak
3. Orang bijak tilep pajak
4. Orang bijak bayar pajak, orang pajak makan duit orang bijak
Monggo silakan dilanjut sendiri, tapi Denmas Kemplu tidak menyarankan untuk tidak membayar pajak. Toh, motor butut Denmas Kemplu tidak pernah telat bayar pajak, lebih sering telat ganti busi. Namanya juga motor pakai bensin campur, maksudnya campur dorong, ha ha… Nuwun.
Picture : kontan
March 30th, 2010 at 09:48
semoga pelaporan pajakku digunakan dengan bijak dan benar..awasss klo enggak!!!
March 30th, 2010 at 07:36
@Den Mas Kemplu, suwun ya….artikel yg kritis.
@JC…., korupsi memang ibarat sakit kanker stadium akut! membunuh secara sistematis semua sendi Negara ini, sepertinya kita nggak tau mau ngobatin dari sisi yang mana.
March 29th, 2010 at 22:12
Ha ha ha ha…hallo den mas Kemplu ! apa kabar? rupanya sekarang di Indonesia banyak kus kus kus….!!!
Kalau di sri lanka, pegawai negeri kagak kena pajak….maksudnya tidak wajib bayar pajak! Kalau di indonesia pegawai negri kena pajak enggak sih ?
March 29th, 2010 at 18:18
Pak de Hand, khas Solo banget, ahli gathuk gathuk kata
March 29th, 2010 at 17:59
Saya kira suap meraja lela di Indonesia karena Indonesia hanya punya dua pendiri dan semua lainnya adalah penduduk. bukankah yang belum bisa berdiri memang harus disuapi?
March 29th, 2010 at 17:29
Lha bener kan, tukang suap nya dari luar negri. Orang Indonesia hanya terima uang suap kok
.
Hallo BUMN….
March 29th, 2010 at 14:30
Mbak Birah, tulung pencerahannya, entah Pertamina atau Mandiri atau dua-duanya (both Be U eM eN) ada simpenan BERAPA MILIAR di Bank Century ketika itu?
March 29th, 2010 at 14:25
TEMPO Interaktif, London – Perusahaan kimia internasional Inggris telah mengaku melakukan penyuapan terhadap pejabat Pertamina dan pejabat publik Indonesia dalam jagka panjang. Atas pengakuan ini, Perusahaan bernama Innospec itu didenda £ 8.3 million atau 112,3 miliar, Jum’at (26/3).
Innospec terbukti secara berkelanjutan melakukan pengadaan tetraethyl lead (TEL) dalam kurun waktu 2000-2006 yang nilainya diperkirakan mencapai US$2,88 juta atau mencapai Rp 261,8 miliar.
Bahan bakar berbasis timah berbahaya yang telah dilarang di Amerika dan Eropa ini bisa lolos ke Indonesia setelah »uang dollar ikut berbicara.” Dari pengakuan Innospec para pejabat di Indonesia telah menerima gelontoran dollar sebesar US$8,5 juta atau sekitar 77,2 miliar lebih.
Innospec diyakini mendapat keuntungan US$770 juta sebagai hasil dari suap yang dibayarkan antara Februari 2002 dan Desember 2006. Pembayaran tersebut terkait dengan pasokan bahan bakar Timbal (TEL), sebagai sumber utama pendapatan bagi perusahaan. Padahal sejak tahun 2000, Amerika dan Eropa telah menarik produk ini karena membahayakan kesehatan.
Hakim Lord Justice Thomas mengatakan bahwa meskipun Innospec Inc bermarkas di Delaware, yang juga memiliki kantor di Cheshire dan terlibat korupsi di Indonesia ini diselenggarakan oleh eksekutif Innospec Ltd yang berbasis di Inggris.
“Melalui agen-agen di Indonesia, mereka mengarahkan perusahaan bergerak secara sistematis dan berskala besar untuk menyuap pejabat pemerintah senior.”
Menurut hakim, jumlah 12.7 juta dolar dianggap “sepenuhnya tidak memadai” untuk mencerminkan kriminalitas ditampilkan, tambahnya. “Ini korupsi yang melibatkan pembayaran jumlah yang sangat besar kepada pejabat paling senior pemerintah Indonesia selama jangka waktu yang panjang.”
Sebagian besar tujuannya, lanjut Hakim Thomas, tidak hanya untuk mendapatkan kontrak-kontrak yang menguntungkan perusahaan, tapi untuk menunda pentahapan penghapusan Tel di Indonesia. »Oleh karena itu untuk memperpanjang kerusakan pada rakyat Indonesia dan lingkungan hidup.”
Sumber: http://id.news.yahoo.com/tmpo/20100327/twl-suap-innospec-ke-pejabat-pertamina-d-0c53687.html
March 29th, 2010 at 14:09
LHo lho… baltyra emang top tenan bisa membuat istilah Marni segala.