Tanah, Udara, Air dan Anakku

Elizabeth – Zeng Cheng

Treat the earth well.
It was not given to you by your parents,
it was loaned to you by your children.
We do not inherit the Earth from our Ancestors,
we borrow it from our Children.

Ancient Indian Proverb

Hello sobat Baltyra, sudah lumayan lama saya gak menulis untuk Baltyra, sibuk banget ngurus anak (yg sudah 5 bulan gak masuk sekolah karena menunggu guru dan kurikulum khusus).

Kali ini saya mau sharing cerita mengenai anak saya, semoga  bisa bermanfaat untuk teman teman yang memiliki anak Autis juga.

January kemarin, kami akhirnya memiliki kesempatan untuk mengambil hasil laboratium tes darah dan hasil Heavy Metal Tox Screen di Hong kong. Kami menunggu lumayan lama untuk memperoleh hasil tersebut dikarenakan di Hong Kong tak ada fasilitas medis untuk melakukan Heavy Metal Tox Screen, jadi dulu rambut anak saya harus dikirim ke laboratium di USA.

Sesampainya di kantor  Dr. LK,  beliau tersenyum dan memberitahu kami ada kabar  baik mengenai hasil Laboratium tersebut.  Beliau berkata bahwa hasil  tes anak saya membuktikan bahwa anak saya memiliki allergi makanan dan keracunan heavy metal kronis.

Mungkin para pembaca bingung, mengapa  kalau hasil tes ternyata anak saya keracunan kronis kok malah disebut  kabar baik? Awalnya saya juga kaget dan bingung,  yang terlintas di pikiran saya saat itu,“ ini dokter geblek apa ya…keracunan kok dibilang kabar baik!“  Lalu  setelah dijelaskan saya jadi lega, dan bersyukur.

Mengapa? Karena sampai saat ini belum ada yang tahu penyebab Autis itu apa, banyak teori-teori  mengenai penyebab Autis tapi belum ada yang terbukti benar. Dan  kenyataan bahwa anak saya memiliki masalah alergi beberapa jenis makanan tertentu dan keracunan heavy metal kronis, justru menimbulkan sebuah ‘HARAPAN’.

Sebuah harapan bahwa jika alergi dan keracunan tersebut diatasi dengan diet khusus dan Detox, maka ada kemungkinan anak saya dapat memperoleh kemajuan / perkembangan lebih baik. Meskipun gak bisa 100% sembuh total, paling tidak ada kemajuan.

Sambil memperihatkan berlembar-lembar dokumen hasil laboratorium  tersebut beliau menjelaskan jenis-jenis  unsur logam yang meracuni anak saya. Dan setelah  merunut dan mencocokkan cara hidup dan makanan yang dikonsumsi anak saya, termasuk yang saya konsumsi selama hamil dan masa menyusui.

Kemungkinan terbesar penyebab anak saya keracunan heavy metal adalah dari air minum dan makanan yang ia konsumsi.

Dari sejak lahir  selain ASI, saya selalu memberikan anak saya air mineral (yang gallon’an itu ), termasuk memasak makanan dan membuatkan susu botol. Bahkan merebus untuk mensterilkan botol susunya pun saya menggunakan purified water botolan juga. Sedangkan makanan padat ya selain makanan bayi pada umumnya, dia makan buah dan sayur apa adanya (kadang organic kadang bukan), dan ikan.

Sungguh mengejutkan bahwa  memberikan  air yang saya sangka dan percaya lebih baik daripada tap water ternyata justru meracuni anak saya pelan-pelan. Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel di Koran online setempat yang mengatakan banyak purified  bottled water di Guangdong province  yang tidak memenuhi standar kesehatan, sampai ada yang mengandung bactery E coli juga.

Tapi saat itu yang ada dalam pikiran saya, “ah kali itu air yang mereknya gak jelas, masa sih merek yang saya pake yang termasuk 4 besar, terkontaminasi juga”.

Ternyata saya kecolongan juga. Dan setelah cek sana cek sini, ternyata di AS yang punya FDA juga tetap kecolongan. Jadi untuk mengatasi problem kebutuhan air bersih tersebut kami sekarang menggunakan water purifier.

http://www.ewg.org/reports/BottledWater/Bottled-Water-Quality-Investigation

http://www.associatedcontent.com/article/2511247/is_your_bottled_water_contaminated.html?cat=5

http://www.naturalnews.com/025993.html

http://www.polarisinstitute.org/ireland_health_warning_over_safety_of_bottled_water

http://www.mnn.com/food/healthy-eating-recipes/stories/5-reasons-not-to-drink-bottled-water#

Dan mengenai kemungkinan residu heavy metal dalam sayuran dan buah yang dikonsumsi anak saya, berasal dari pestisida dan fungisida yang digunakan para petani.

http://www.auroville.info/ACUR/documents/laboratory/report_heavy_metals_and_pesticide_in_food.pdf

http://www.autism-society.org/site/DocServer/EH_fish_and_toxins.pdf?docID=4749

Saya tidak tahu  seberapa banyak obat-obatan kimia yang digunakan para petani di negara lain untuk memperoleh hasil panen yang maksimal. Karena saat ini saya tinggal di desa, dan banyak  ngobrol dengan para petani,  yang saya tahu mereka banyak menggunakan pupuk kimia dan pestisida dan fungisida untuk tanaman mereka,  bahkan untuk sayuran yang bakalan mereka konsumsi sendiri.

Jadi untuk sayuran dan buah yang dijual di pasar gak kebayang apa aja yang dipakai agar bisa tumbuh cepat dan besar hingga menghasilkan banyak untung.

Saat ini memang sudah ada trend untuk mengkonsumsi makanan organic, tapi  benar dan yakinkah apa yang di cap organic itu benar benar organic?  Saya bukan ahli pertanian sih, hanya saja  sepertinya petani yang mendadak bertanam organic harus benar benar jujur kalau lahan mereka benar benar bersih dari sisa sisa pestisida di lahan mereka.

Saya  dan suami saya bertanam organic dalam pot di teras apartment, sejak 3 tahun lalu sekarang kebetulan  boss suami saya baik, setelah mengetahui masalah keracunan yang dialami anak saya, kami dijinkan berkebun organic di lahan property perusahaan, karena kalau pakai pot di teras hasilnya sudah gak mencukupi.  Dan saat ini kami sedang dalam proses pesan kambing, yang bakalan tugas mereka adalah  potong rumput (he he he) dan menghasilkan pupuk, Eh maaf jadi ngelantur ke kambing :p

Terakhir, mengenai ikan dan seafood. Sejak kecil anak saya  sering dikasih makan ikan, karena kupikir ikan itu baik dan menyehatkan. Lalu setelah diberitahu bahwa  seafood di tempat saya tinggal banyak yang terkontaminasi akibat polusi, jadi saya ganti  Atlantic Salmon. Eh ternyata  dari kunjungan kami ke dokter, Dokter menyarankan agar  anak saya  tidak mengkonsumsi sea food lagi, karena sea food dunia sudah mulai parah  tercemar. Jadi untuk  melengkapi kebutuhan nutrisi, anak saya di beri purified fish oil.

http://www.eenews.net/public/25/10743/features/documents/2009/05/01/document_gw_03.pdf

http://www.edf.org/documents/7534_Health_Alerts_seafood.pdf

http://www.cec.org/Storage/49/4186_hotspots_en.pdf

http://www.nytimes.com/2007/12/15/world/asia/15fish.html

Ya begitulah sepenggal kisah tentang  Tanah, Udara, Air dan Anak saya yang keracunan Heavy metal.  Mungkin memang benar ya, seiring dengan semakin rakusnya manusia, ‘Ibu’ kita (Bumi) makin terpuruk, dan yang mengalami kerugian manusia sendiri.

Dengan cerita ini saya juga gak menyimpulkan bahwa Polusi menyebabkan anak saya Autis, Saya gak tahu apa yang menyebabkan anak saya Autis, dan mungkin tak akan pernah tahu juga. Mungkin hal yang sama ada di benak para orang tua yang memiliki anak Autis.

Dan tiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menangani anak mereka yang Autis, saya harap  cerita saya bisa memberi sudut pandang lain bagi mereka yang memiliki anak Autis dan mungkin mau mencoba tes darah dan heavy metal tox screen dan juga menjalani diet khusus (konsumsi organic food dan menghindari sea food dsb)  saat ini saya baru mulai menjalani pelan pelan dan belum tahu ada hasil yang signifikan apa gak.

Tapi mungkin bila diterapkan ke anak lain, bisa jadi anak tersebut memperoleh kemajuan yang signifikan, toh ga ada salahnya mengkonsumsi makanan organic (beli atau berkebun sendiri) dan menggunakan water purifier instead bottled water, eh malahan satu langkah untuk go green kan  hehehe…

When all the trees have been cut down,
when all the animals have been hunted,
when all the waters are polluted,
when all the air is unsafe to breathe,
only then will you discover you cannot eat money.
Cree Prophecy


Green Regards





Picture : familyofautistickids, treehunger,hubpages.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.