Tuesday, 30 March 2010
Elizabeth – Zeng Cheng
Treat the earth well.
It was not given to you by your parents,
it was loaned to you by your children.
We do not inherit the Earth from our Ancestors,
we borrow it from our Children.
Ancient Indian Proverb
Hello sobat Baltyra, sudah lumayan lama saya gak menulis untuk Baltyra, sibuk banget ngurus anak (yg sudah 5 bulan gak masuk sekolah karena menunggu guru dan kurikulum khusus).
Kali ini saya mau sharing cerita mengenai anak saya, semoga bisa bermanfaat untuk teman teman yang memiliki anak Autis juga.
January kemarin, kami akhirnya memiliki kesempatan untuk mengambil hasil laboratium tes darah dan hasil Heavy Metal Tox Screen di Hong kong. Kami menunggu lumayan lama untuk memperoleh hasil tersebut dikarenakan di Hong Kong tak ada fasilitas medis untuk melakukan Heavy Metal Tox Screen, jadi dulu rambut anak saya harus dikirim ke laboratium di USA.
Sesampainya di kantor Dr. LK, beliau tersenyum dan memberitahu kami ada kabar baik mengenai hasil Laboratium tersebut. Beliau berkata bahwa hasil tes anak saya membuktikan bahwa anak saya memiliki allergi makanan dan keracunan heavy metal kronis.
Mungkin para pembaca bingung, mengapa kalau hasil tes ternyata anak saya keracunan kronis kok malah disebut kabar baik? Awalnya saya juga kaget dan bingung, yang terlintas di pikiran saya saat itu,“ ini dokter geblek apa ya…keracunan kok dibilang kabar baik!“ Lalu setelah dijelaskan saya jadi lega, dan bersyukur.
Mengapa? Karena sampai saat ini belum ada yang tahu penyebab Autis itu apa, banyak teori-teori mengenai penyebab Autis tapi belum ada yang terbukti benar. Dan kenyataan bahwa anak saya memiliki masalah alergi beberapa jenis makanan tertentu dan keracunan heavy metal kronis, justru menimbulkan sebuah ‘HARAPAN’.
Sebuah harapan bahwa jika alergi dan keracunan tersebut diatasi dengan diet khusus dan Detox, maka ada kemungkinan anak saya dapat memperoleh kemajuan / perkembangan lebih baik. Meskipun gak bisa 100% sembuh total, paling tidak ada kemajuan.
Sambil memperihatkan berlembar-lembar dokumen hasil laboratorium tersebut beliau menjelaskan jenis-jenis unsur logam yang meracuni anak saya. Dan setelah merunut dan mencocokkan cara hidup dan makanan yang dikonsumsi anak saya, termasuk yang saya konsumsi selama hamil dan masa menyusui.
Kemungkinan terbesar penyebab anak saya keracunan heavy metal adalah dari air minum dan makanan yang ia konsumsi.
Dari sejak lahir selain ASI, saya selalu memberikan anak saya air mineral (yang gallon’an itu ), termasuk memasak makanan dan membuatkan susu botol. Bahkan merebus untuk mensterilkan botol susunya pun saya menggunakan purified water botolan juga. Sedangkan makanan padat ya selain makanan bayi pada umumnya, dia makan buah dan sayur apa adanya (kadang organic kadang bukan), dan ikan.
Sungguh mengejutkan bahwa memberikan air yang saya sangka dan percaya lebih baik daripada tap water ternyata justru meracuni anak saya pelan-pelan. Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel di Koran online setempat yang mengatakan banyak purified bottled water di Guangdong province yang tidak memenuhi standar kesehatan, sampai ada yang mengandung bactery E coli juga.
Tapi saat itu yang ada dalam pikiran saya, “ah kali itu air yang mereknya gak jelas, masa sih merek yang saya pake yang termasuk 4 besar, terkontaminasi juga”.
Ternyata saya kecolongan juga. Dan setelah cek sana cek sini, ternyata di AS yang punya FDA juga tetap kecolongan. Jadi untuk mengatasi problem kebutuhan air bersih tersebut kami sekarang menggunakan water purifier.
http://www.ewg.org/reports/BottledWater/Bottled-Water-Quality-Investigation
http://www.associatedcontent.com/article/2511247/is_your_bottled_water_contaminated.html?cat=5
http://www.naturalnews.com/025993.html
http://www.polarisinstitute.org/ireland_health_warning_over_safety_of_bottled_water
http://www.mnn.com/food/healthy-eating-recipes/stories/5-reasons-not-to-drink-bottled-water#
Dan mengenai kemungkinan residu heavy metal dalam sayuran dan buah yang dikonsumsi anak saya, berasal dari pestisida dan fungisida yang digunakan para petani.
http://www.auroville.info/ACUR/documents/laboratory/report_heavy_metals_and_pesticide_in_food.pdf
http://www.autism-society.org/site/DocServer/EH_fish_and_toxins.pdf?docID=4749
Saya tidak tahu seberapa banyak obat-obatan kimia yang digunakan para petani di negara lain untuk memperoleh hasil panen yang maksimal. Karena saat ini saya tinggal di desa, dan banyak ngobrol dengan para petani, yang saya tahu mereka banyak menggunakan pupuk kimia dan pestisida dan fungisida untuk tanaman mereka, bahkan untuk sayuran yang bakalan mereka konsumsi sendiri.
Jadi untuk sayuran dan buah yang dijual di pasar gak kebayang apa aja yang dipakai agar bisa tumbuh cepat dan besar hingga menghasilkan banyak untung.
Saat ini memang sudah ada trend untuk mengkonsumsi makanan organic, tapi benar dan yakinkah apa yang di cap organic itu benar benar organic? Saya bukan ahli pertanian sih, hanya saja sepertinya petani yang mendadak bertanam organic harus benar benar jujur kalau lahan mereka benar benar bersih dari sisa sisa pestisida di lahan mereka.
Saya dan suami saya bertanam organic dalam pot di teras apartment, sejak 3 tahun lalu sekarang kebetulan boss suami saya baik, setelah mengetahui masalah keracunan yang dialami anak saya, kami dijinkan berkebun organic di lahan property perusahaan, karena kalau pakai pot di teras hasilnya sudah gak mencukupi. Dan saat ini kami sedang dalam proses pesan kambing, yang bakalan tugas mereka adalah potong rumput (he he he) dan menghasilkan pupuk, Eh maaf jadi ngelantur ke kambing :p
Terakhir, mengenai ikan dan seafood. Sejak kecil anak saya sering dikasih makan ikan, karena kupikir ikan itu baik dan menyehatkan. Lalu setelah diberitahu bahwa seafood di tempat saya tinggal banyak yang terkontaminasi akibat polusi, jadi saya ganti Atlantic Salmon. Eh ternyata dari kunjungan kami ke dokter, Dokter menyarankan agar anak saya tidak mengkonsumsi sea food lagi, karena sea food dunia sudah mulai parah tercemar. Jadi untuk melengkapi kebutuhan nutrisi, anak saya di beri purified fish oil.
http://www.eenews.net/public/25/10743/features/documents/2009/05/01/document_gw_03.pdf
http://www.edf.org/documents/7534_Health_Alerts_seafood.pdf
http://www.cec.org/Storage/49/4186_hotspots_en.pdf
http://www.nytimes.com/2007/12/15/world/asia/15fish.html
Ya begitulah sepenggal kisah tentang Tanah, Udara, Air dan Anak saya yang keracunan Heavy metal. Mungkin memang benar ya, seiring dengan semakin rakusnya manusia, ‘Ibu’ kita (Bumi) makin terpuruk, dan yang mengalami kerugian manusia sendiri.
Dengan cerita ini saya juga gak menyimpulkan bahwa Polusi menyebabkan anak saya Autis, Saya gak tahu apa yang menyebabkan anak saya Autis, dan mungkin tak akan pernah tahu juga. Mungkin hal yang sama ada di benak para orang tua yang memiliki anak Autis.
Dan tiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menangani anak mereka yang Autis, saya harap cerita saya bisa memberi sudut pandang lain bagi mereka yang memiliki anak Autis dan mungkin mau mencoba tes darah dan heavy metal tox screen dan juga menjalani diet khusus (konsumsi organic food dan menghindari sea food dsb) saat ini saya baru mulai menjalani pelan pelan dan belum tahu ada hasil yang signifikan apa gak.
Tapi mungkin bila diterapkan ke anak lain, bisa jadi anak tersebut memperoleh kemajuan yang signifikan, toh ga ada salahnya mengkonsumsi makanan organic (beli atau berkebun sendiri) dan menggunakan water purifier instead bottled water, eh malahan satu langkah untuk go green kan hehehe…
When all the trees have been cut down,
when all the animals have been hunted,
when all the waters are polluted,
when all the air is unsafe to breathe,
only then will you discover you cannot eat money.
Cree Prophecy
Green Regards
Picture : familyofautistickids, treehunger,hubpages.
April 6th, 2010 at 16:26
Kanakin, aku jadi penasaran sama coffee enema, apa boleh sih buat anak anak? bukannya cuman utki org dewasa? oh ya anakku baru 4 thn, skrg obatnya dia juga lagi dievaluasi lagi, soalnya ada yg bikin hiperaktif. anakku skrg baru program ngebersihin ‘yeast’ sdgkan utk detox, mulai bulan depan ikut programnya. makasih ya infonya, aku lanjut via email ya.
April 6th, 2010 at 16:24
@ Alexa, wah untung anak temenmu ketemunya org2 baik ga ketemu org jahat….lega banget donk ortunya.
anakku juga sering minggat dari kelas, apalagi sekolahnya kan sebelah danau gitu, dan dia suka banget maen air..aku sering dag dig dug mikirin dia. kalo tahun ke 2 dia sekolah (di lokasi baru) kebetulan ada danau juga, cuman sejak awal aku pake baby sitter buat ngawasin dia terus. soalnya dia dah bisa buka segala macaem kunci. jadi biar pintu kelas dan gerbang dikunci, tetep bisa kabur. sampai skrg kalau pergi bareng ya pake stroller juga, drpda kabur sih, larinya cepet pula.
April 4th, 2010 at 18:59
Elizabeth, berapa umur anak anda? Pernah tahu tentang detox dengan cara enema ? Yang paling umum dilakukan orang adalah coffee enema, coba search di internet ? Ini hanya salah satu cara untuk menghilangkan toxin di tubuh. Murah dan dapat dilakukan dirumah.Kalau tertarik saya bisa jelaskan lebih lanjut. Bisa check email saya dengan JC.