My Son

Dewi Aichi – Brazil

Note: tulisan ini sebenarnya sudah saya simpan sejak tahun 2006, ketika itu anakku masih berumur 5 tahun. Dan aku selalu bekerja 10 jam/hari. Itu berlangsung sejak anakku masih berumur 2 tahun. Dan ditambah lagi kehidupanku yang selalu pindah-pindah antara Indonesia dan Jepang, sehingga pendidikan anakkupun tersendat-sendat. Di saat hatiku galau dan bingung, akupun mencurahkan segala kerisauan ini dalam buku harianku.

“Ma, cape ya?”, tanya Nico, seorang anak yang baru berumur 7 tahun itu. Mamanya baru saja pulang dari kantornya. Malam itu jam menunjukkan jam 9 malam. Nico terbangun oleh suara pintu yang terbuka. Dan ternyata mamanya membuka pintu kamar Nico, hanya sekedar melihat dan mengecup kening anak semata wayangnya.

Nicopun kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan tertidur lelap. Sedangkan mamanya bergegas meninggalkan Nico untuk segera mandi, dan sekedar makan untuk mengisi perutnya yang sudah menahan lapar. Setelah segala urusan selesai, mama Nico pun kembali ke kamar Nico, membuka tas sekolahnya, melihat kembali apa saja yang telah dikerjakan Nico untuk esok harinya.

Seperti biasanya, mama Nico selalu puas dan bangga, dengan anaknya. Nico sangat pintar di sekolah, tidak nakal, dan tidak cengeng. Sangat mandiri, tidak pernah meminta apapun dari orang tuanya, tidak pernah merengek ketika papa dan mamanya pulang terlalu malam. Setiap harinya Nico berada di rumah dengan kakek dan neneknya yang begitu mencintai Nico, dan seorang pengasuh yang sudah sejak bayi, mengasuh Nico.

Nico menjadi anak yang menggemaskan, dan banyak teman. Ketawa, ceria, dan senang bercanda dengan teman-temannya. Sering manja dipangkuan kakek maupun neneknya. Kadang-kadang juga suka ngeledek mbak , ketika mbak  mengobrol dengan abang sayur. Kata Nico,”mbak , mama bilang kan ngga boleh menyuruh masuk abang sayur, tidak boleh mengobrol, kan abang sayur lagi kerja, kalau diajak ngobrol nanti sayurnya layu, dan abangnya rugi, karena sayurnya ngga laku!” mbak  cuma tersenyum geli mendengar kata-kata Nico.

Pada suatu siang, di hari Minggu, Nico sangat bahagia karena bisa bersama orang tuanya sepanjang hari. Nicopun kembali dengan cerita-cerita tentang teman-temannya di sekolah. Mama Nico juga tidak pernah lupa menanyakan apa saja yang telah diajarkan oleh bapak ibu gurunya di sekolah. Nico menceritakan semuanya, pelajaran apa saja yang sudah dipahami, dan tanya seribu kali tentang apa saja yang belum dimengerti. Kadang sambil menggelayuti mamanya tanya tentang ini itu tiada habisnya. Mamanyapun dengan senang hati memberikan penjelasan yang dibutuhkan oleh Nico. Walau kadang-kadang sampai kehabisan jawaban atas pertanyaan Nico.

Sungguh bahagia Nico mempunyai keluarga yang selalu mengasihi, memberikan kasih sayang, mendidiknya hingga menjadi anak yang cepat mandiri, pintar, dan tidak manja. Pernah suatu ketika Nico menulis surat buat mamanya, ketika itu bu gurunya memberikan tugas, agar setiap anak menulis surat untuk ibunya. Maka dengan polosnya Nico menulis sepucuk surat untuk mamanya di buku tulisnya. Seperti biasanya, mama Nico selalu membuka dan melihat kembali tugas-tugas sekolah Nico.

“Halo mama, selamat malam!

Ma…bu guru hari ini memberi pr, untuk menulis surat buat mamanya, maka Nico menulis surat di buku tulis ini ya ma!

Eh..tapi mama jangan marah sama Nico ya, janji ya ma..! Mama kan sibuuukkkk banget, tiap hari pulangnya malam. jadi aku tau, kalau mama cape sekali.

Makanya ma, aku pengen cepat besar, biar bisa apa-apa sendiri, tidak merepotkan mama. Jadi mama bisa tenang kerjanya, sampai rumah bisa cepat istirahat.

Mama kan kerja cari duit, duitnya untuk Nico. Terima kasih ya ma….muachhhh!

Ma, boleh ngga Nico cerita. Tapi rahasia ya ma, jangan bilang-bilang..! Kemarin mbak ngobrol di teras sama abang tukang sayur , Nico ngga di temani sama mbak, malah Nico sendirian saja. Si mbak itu kan harus menemani Nico, bukan malah ngobrol saja, bener ngga ma? Mbak jangan dimarahi ya ma, dikasih tau saja, nanti kalau dimarahi kan mbak jadi ngga mau kerja lagi. Kalau mbak ngga kerja kan Nico ngga ada yang jagain. Trus kalau ngga ada yang jagain, mama ngga bisa kerja.

O iya ma…nanti hari Sabtu temani Nico berenang ya ma! Nico ngga mau diantar mbak kali ini. Kan setiap les juga mbak terus yang nganter. Lagian aku mau kasih tau teman-teman kalau mamaku tuh cantik banget, jadi kan Nico bangga punya mama yang cantik. Apalagi mama jarang banget bisa menghadiri rapat wali murid. Setiap ada rapat, juga mbak yang hadir. Trus, kapan dong giliran mama?

Ma…bulan depan kan Nico ulang tahun, mama ngga usah beli hadiah buat Nico ya, lebih baik uangnya di tabung saja. Nico kan sudah punya banyak mainan. Nico juga akan jaga mainan agar tidak rusak. Nico juga akan rajin mencuci sepatu dan  tas Nico agar mama tidak beli yang baru buat Nico. Pokoknya Nico pengen mama punya duit, jadi kalau mama punya duit kan ngga perlu kerja lagi sampai malam. Kalau mama ngga kerja kan mama bisa menemani Nico setiap saat.

Nico senang kalau dirumah setiap hari ada mama, bantuin bikin pr yang susah-susah. Nico senang kalau mau beli buku, yang antar mama.

Salam kangen ya ma….sekian dulu surat dari Nico, udah ngantuk. I love you ma..!(hi hi hi….Nico tanya sama bu guru, katanya artinya aku cinta padamu). Boleh kan ma..Nico bilang i love you sama mama?

Sambil memasukkan kembali buku pelajaran milik Nico ke dalam tas , mama Nico begitu terharu oleh suara hati anaknya. Bagaimanapun Nico adalah anak kecil yang jujur dan apa adanya. Dan apa yang terungkap dalam surat Nico yang sederhana itu, adalah ungkapan hatinya tentang keinginannya yang terpendam.

sumber inspirasi: my son

sarikata.com

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *