Upin, Ipin dan Unyil

Nyai EQ – di depan TV 14 inch

Menjelang jam tujuh malam saya sudah siap di depan TV 14 inch di kamar saya yang penuh sesak dengan barang dan buku. Chanel stasiun tv nasional yang lagi kinclong sudah siap di depan mata saya. Acara favourite saya, apa lagi kalau bukan “Upin dan Ipin”. Film animasi Malaysia yang lucu, segar dan mendidik. Sambil chatting (rutin) saya (hampir) tidak pernah melewatkan serial ini.

Dulu Upin dan Ipin tayang jam 3 sore, namun sejak minggu ini serial Upin dan Ipin pindah jam tayang menjadi jam 7 malam. Saya belum lama mengikuti serial ini, baru sekitar 1 bulan terakhir ini dan langsung jatuh cinta dengan tokohnya. Dua anak kembar laki-laki yang hidup bersama kakaknya yang baik hati tapi galak dan neneknya yang sabar. Upin yang memakai rambut seuncir dan Ipin yang suka mengulang satu kata menjadi tiga kali, misalnya (yang paling terkenal) : betul, betul, betul…

Upin dan Ipin dirilis pertama kali pada tanggal 14 September 2007 di TV9 Malaysia dan diproduksi oleh Les’ Copaque. Film animasi ini dibuat oleh Mohd Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim dan Usamah Zaid, para pemilik Les’ Copaque. Ketiganya merupakan bekas mahasiswa dari Universitas Multimedia, yang awalnya bekerja sebagai pekerja di sebuah organisasi animasi sebelum akhirnya bertemu dengan bekas pedagang minyak dan gas, Haji Burhanuddin Radzi dan istrinya bernama H. Ainon Ariff pada tahun 2005, lalu membuka organisasi Les’ Copaque.

Judul episode awalnya adalah Geng : Pengembaraan Bermula. Tokoh-tokoh utama Upin dan Ipin terdiri dari si Kembar Upin dan Ipin yang kompak, sederhana dan baik hati; Kak Ros, kakak si kembar yang berfungsi sebagai pengganti ibu yang sudah meninggal, sifatnya galak, tapi baik hati dan sayang kepada ke dua adiknya; nenek si kembar yang di panggil Opah; Datuk Dalang, seorang kakek-kakek yang baik hati, tinggal sendirian di rumahnya yang “modern“ karena mempunyai telpon dan computer/ internet (meskipun tayangan ini hanya muncul sekali dan tidak pernah lagi di kisahkan).

Lalu ada teman-teman Upin dan Ipin, ada Ehsan, anak orang kaya yang manja, gemar makan dan agak sombong; Mail yang sering terlihat murung, mempunyai pekerjaan membantu ibunya berjualan di pasar, itu sebabnya dia selalu menghitung sesuatu dengan uang, biasanya 2 ringgit; Mei-Mei, yang anak Tionghoa, cerdas, rajin, cantik dan gemar menolong; Jarjit Singh yang selalu membuat puisi 3 baris untuk segala hal, lucu dan kadang-kadang suka mengatakan mervelous!

Marvellous ! Ada juga Fizzy yang selalu mengikuti kemana pun Ehsan pergi, Ijad yang bisu, Susanti yang anak Indonesia (jarang nampak), dan tentu saja ibu guru atau Cik Gu Jasmin yang ramah, pintar dan sabar. Anak-anak ini adalah teman satu sekolah di Tadika Mesra.

Tokoh-tokoh lainnya seperti Kak Saleh yang genit, ayam jago datuk Dalang yang di beri nama Rembo, kegemarannya adalah mencuri sebelah sepatu, kucing kecil yang di beri nama Api, kadang-kadang muncul sebagai pendukung cerita. Tokoh-tokoh tersebut menggambarkan kebersamaan etnis yang ada di Malaysia, yaitu etnis Melayu, Cina dan India.

Pada awalnya Upin dan Ipin ditayangkan dengan durasi 4 menit, di gunakan untuk menyambut bulan Ramadhan dan dimaksudkan untuk memperkenalkan pendidikan Ramadhan kepada anak-anak.

Yang membuat saya jatuh cinta pada film ini adalah caranya memberikan pendidikan terasa sangat wajar, tidak menggurui dan tidak berlebihan. Tokoh-tokoh antagonis dan protagonisnya pun sangat wajar. Artinya semua tokoh bisa menjadi baik hati atau nakal.

Upin dan Ipin pun terkadang nakal, namun juga penuh akal dan suka menolong. Begitu pula yang lainnya. Hanya Mei-Mei yang tidak pernah nakal, namun juga tidak berarti tidak sangat baik, dalam arti dia juga pernah meledek temannya. Tidak ada kenakalan yang keterlaluan, namun juga tidak ada kebaikan yang terlalu baik.

Semua wajar, seperti wajarnya anak-anak. Kegalakan kak Ros pun sangat wajar. Semuanya serba wajar. Tidak seperti (maaf) sinetron anak-anak Indonesia, di mana yang jahat selalu jahat dan yang baik selalu baik. Yang nakal, sering (bahkan selalu) sangat nakal, sampai tidak masuk akal (menjerumuskan ke dalam bahaya, mengobarkan kebencian, melakukan hal-hal yang mustahil di lakukan anak-anak), sementara yang baik hati akan sangat baik hati, sopan, jujur dan seringkali malahan terkesan lemah dan lebay.

Film ini mengingatkan saya pada film boneka si Unyil, yang pernah saya tonton ketika saya masih kecil. Dalam film ini tokoh utamanya adalah Unyil, anak betawi yang memakai peci dan berkalung sarung, tinggal bersama ayah ibunya yang ramah dan baik.

Tokoh-tokoh utama dalam film Unyil yang saya ingat adalah Pak Raden dengan kumis melintang yang sangat galak, namun sebenarnya baik hati dan selalu ingin menonjol, feodal, temperamental dan sangat pelit, seorang keturunan ningrat Jawa , istrinya, Bu Raden adalah wanita Jawa tulen yang lembut, baik hati dan sangat sabar menghadapi suaminya yang pemarah.

Bu Bariah yang medok dengan logat Maduranya, pak Ogah dan pak Ableh, dua orang pengangguran yang sangat malas, tapi memberikan warna pada setiap episode. Teman-teman Unyil diantaranya adalah Ucrit, Usrok yang penakut tapi pantang mundur, si Endut, Cuplis yang berkepala gundul, Pesek alias Kendar, trio cewek Menik, Siti dan Meilani yang keturunan Tionghoa (seperti Mei-Mei pada film Upin dan Ipin). Karakter tokoh-tokoh anak-anak dalam film Si Unyil juga terasa sangat wajar. Meskipun Unyil hampir tidak pernah melakukan kenakalan seperti Upin dan Ipin, namun masih terasa wajar dan enak untuk di lihat.

Sama seperti film Upin dan Ipin, film Si Unyil pun di maksudkan untuk pendidikan anak-anak. Keberagaman etnis dan agama tampak menjadi satu harmoni yang indah. Pendidikan disampaikan dengan cara yang lugas dan mudah di terima oleh anak-anak sebagai sbeuah contoh soal yang menyenangkan. Saking beragamnya sampai-sampai orang gila, banci pengamen dan penjahat pun diusung masuk.

Jika film Upin dan Ipin dilatarbelakangi oleh sebuah kampung sederhana, maka film Si Unyil dilatarbelakangi oleh sebuah desa percontohan yang ideal, bahkan mempunyai hutan lindung yang asri. Desa ini bernama desa Suka Maju, dikepalai oleh pak lurah yang ramping dengan kumis tipis, berkacamata dan dagu runcing.

Kisah-kisah dalam film Si Unyil kadang-kadang mengangkat cerita rakyat sepeti misalnya (yang saya ingat) adalah kisah Atu Belah (batu berbelah) dari Aceh, juga mengangkat kisah-kisah agamis seperti Hijrah (kisah Nabi Muhammad SAW) dan Betlehem sebuah cerita untuk memperingati hari Natal.

Film Si Unyil beredar dalm kurun waktu 12 tahun dengan total jumlah episode sebanyak 603 episode, sedangkan Upin dan Ipin beredar dalam 4 musim dengan total jumlah 50 episode, dengan durasi 5 menit per episode. Dalam hal tayangan, Indonesia memang “hebat “ !

Kisah-kisah dalam film Upin dan Ipin sangat sederhana, mengangkat hal-hal penting yang juga disampaikan dengan cara yang sederhana dan khas anak-anak. Seperti misalnya pendidikan tentang pemeliharaan gigi sehat, mengupas cita-cita masing-masing anak-anak beserta alasannya, peringatan hari ibu, sama halnya dengan cerita dalam film si Unyil tentang gotong royong, anak sehat dan sebagainya.

Saya tidak terlalu ingat dengan film Si Unyil, yang saya ingat adalah film ini segar dan menarik. Saya tidak pernah lagi mendapatkan film anak-anak yang bagus dan wajar seperti ini. Film Upin dan Ipin memberikan kesegaran dan kegembiraan masa kanak-kanak yang ceria. Anak-anak Indonesia jaman sekarang sepertinya tidak lagi pernah mendapatkan konsumsi moral yang sesuai dan sesegar itu. Tidak ada lagi lagu anak-anak seperti lagu-lagu Bu Kasur dan Papa T. Bob, tidak ada lagi film anak-anak yang wajar. Sinetron Gathotkaca yang baru-baru ini muncul juga lebih berasa seperti film-film jagoan Jepang seperti Kamen Rider, Kesatria Baja Hitam dan semacam itu.

Semoga kelak akan ada sinematografis Indonesia yang memikirkan kepentingan anak-anak dan menciptakan film anak-anak yang benar-benar sesuai dan memberikan pandangan murni keceriaan kanak-kanak, seperti Upin dan Ipin (tetapi tidak meniru).

Betul, betul, betul…………….


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.