My Spiritual Journey Part.13 (The End)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Dear all Baltyrans,  di manapun berada semoga semua selalu dalam keadaan sehat, artikel ku kali ini merupakan penutup dari rangkaian serial artikel bersambung MSJ, yang dimuat sejak Desember 2009, Alhamdulillah rampung juga di akhir bulan Maret ini. Dari seluruh artikel yang ku tulis ini, mudah-mudahan ada sedikit manfaat yang bisa diambil buat bekal ke Tanah Suci kelak. Tidak berpanjang kata, silahkan dibaca artikel MSJ terakhir ini, mariiii…..

Minggu, 13 Desember 2009

Jamuan Makan Malam

Sesuai dengan schedule yang dibicarakan beberapa hari sebelumnya, Ayuk Thia menyampaikan keinginannya untuk menjamu kami berempat, Ayuk Thia dan om Zen menjemput kami di dekat Saptco, ba’da sholat Maghrib, kami (Mama, Papa, Nenek Juhe dan aku) berjalan menuju Saptco, untuk menanti jemputan.

Sebelumnya aku diminta Mama untuk membeli ‘buah tangan’ ya harap maklum deh kebiasaan orang melayu, kalo bertamu ke kerabat jauh suka bawa oleh-oleh, yang paling umum dibeli itu buah-buahan, jadi aku beli buah jeruk dan pear kalo nggak salah inget, hihihi…maklum sudah lama sih.

Setelah sholat maghrib, kami hanya perlu turun dari lift langsung ke lobby Zam-zam tower, berjalan sedikit ke terminal Saptco, dan tidak perlu lama menunggu mobil van Ayuk Thia sudah terlihat mendekat, kami segera naik ke mobil van, dan mobil segera meluncur ke arah Jarwal di mana ayuk tinggal. Aku  memperkenalkan Mama, Papa dan Nenek Juhe pada Ayuk Thia dan om Zen.

Papa bertanya sama aku, kenal ayuk darimana, aku bilang dari internet melalui situs jejaring sosial, ayuk dan aku sudah kenal sejak tahun 2008 yang lalu, jadi kami sebelumnya sudah akrab satu sama lain, walau via dunia maya.

Dalam perjalanan, ayuk banyak memberi informasi tempat-tempat yang kami lalui, misalnya di daerah Jarwal ke depan hari akan mengalami perubahan besar-besaran sehubungan dengan perluasan Masjidil Haram, di mana sebagian besar rumah-rumah milik warga (asli penduduk setempat) telah di beli oleh pihak Kerajaan, dan yang paling bikin aku iri bin sirik abizz….ternyata pihak Kerajaan sudah membayar ganti rugi pembebasan rumah-rumah milik rakyatnya senilai 10x lebih besar dari harga pasar, dan semua dibayar cash dimuka langsung kepada pemilik rumah!

Lalu pihak Kerajaan memberi waktu 8 tahun bagi warganya untuk pindah mencari tempat tinggal baru, jadi pihak pemerintah memberi tanda cat merah di nomor rumah warganya yang sudah menerima uang pembebasan, di sini jelas terlihat mana-mana rumah yang sudah ditandai berarti harus segera mempersiapkan keluarganya untuk pindah. Termasuk keluarga Ayuk Thia yang sudah mempunyai rencana untuk membeli rumah di satu daerah yang masih di seputaran kota Mekkah tapi di luar daerah perluasan Masjidil Haram.

Om Zen berkisah bahwa pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, sangat sayang pada warganya, mereka selalu memberi kebijakan yang menguntungkan buat rakyatnya, makanya hampir tidak ditemui pemberontakan terhadap pemerintah, inilah yang dinamakan pemerintah yang amanah terhadap rakyatnya.

Terlihat bahwa pemerintah itu pelayan dan pengayom masyarakat, kebalikan dari Indonesia, rakyat sebagai pelayan dan pemberi upeti pada para penguasa dengan membayar pajak sebesar-besarnya yang ujung-ujungnya buat kesejahteraan segelintir oknum pejabat. Contoh kecil ulah si Gayus Tambunan itu! Sorry to say…kalau aku terkesan ‘geram dan gemas’ terhadap kebijakan pemerintah negeri ku, karena kebijakan yang tidak pro kerakyatan, terdengar manis dan muluk saat berkampanye setelah menang…lupakan.

Semoga ini hanya sekedar mimpi burukku dan pemerintahan yang amanah akan terwujud di tanah air di kemudian hari.

Tak terasa kami sudah tiba di rumah Ayuk Thia, yang letaknya di atas perbukitan di daerah Jarwal. Malam itu kami semua di suguhi makanan khas Indonesia, ada pindang ikan, ayam goreng, soto ayam, perkedel daging serta nasi minyak (nasi kebuli), kalau mau nasi putih juga ada, wah…semuanya enak, Ayuk Thia emang pinter masak, kami sampai kenyang dibuatnya, hehehe…

Setelah makan kami berbincang-bincang dulu sambil berfoto bersama, sambil disuguhi makanan ringan ‘lumpia goreng’. Rasanya seperti di Indonesia aja, bukan di Mekkah, hihihi. Karena kondisi tubuh Papaku yang mudah lelah, kami memutuskan untuk segera pulang, duh smp banget deh judulnya, sudah makan pulang, hehehe….

Ayuk Thia dan om Zen paham dengan keadaan Papaku, kami segera di antar pulang kembali ke hotel, tetapi aku sempat di ajak mampir beli ice cream di gerai Movenpick Dan membeli coklat di gerai coklat yang cukup terkenal di kota Mekkah yaitu Al-Nukaly yang letaknya tidak jauh dari rumah Ayuk Thia, masih di seputaran daerah Jarwal.

Toko coklat dan aneka permen ini cukup besar tempatnya, benar-benar surga buat pecinta coklat dan permen, yang pasti halal semua…! Nggak takut atau was-was apakah coklat atau permen yang dijual di sini mengandung lemak babi. Ini yang aku suka dari kota Mekkah, makanan yang ada di sini bisa dipastikan semuanya halal.

Kalau nggak mikir budget kantong ato credit card yang terbatas juga pembatasan jumlah bawaan jama’ah haji yg dibatasi, hihihi…rasanya mau beli macam-macam coklat dan permen, jadi ingat sama My Mirza, saat ditanya “Mau dibawain oleh-oleh apa sama Ibu?”, “Coklat”, jawabnya singkat.

Akhirnya aku membeli coklat kerikil yang bentuknya asli mirip batu kerikil yang ‘khas’ toko Al-Nukaly, sekilo harganya 90 real kalau di kurs uang rupiah sama aja Rp.225.000,- semuanya punya harga kiloan yang berbeda, bahkan aku melihat ada yang mencapai 300 real/ kilo, huhuhu…..benar-benar bisa menguras isi kantong bagi yang punya budget pas-pas an kek aku ini.

Aku sempat berfoto dan memotret beberapa bagian dari toko ini, untungnya nggak dilarang oleh yang jaga toko, makasih ya…Abdullah, kan di sana kalau nggak tau nama, kita sebut aja Abdullah yang artinya hamba Allah.

Setelah beli coklat secukupnya di Al-Nukaly, kami kembali dibawa Ayuk Thia mampir ke Movenpick Ice Cream (kalo yang ini di Indonesia juga ada ya), hmmm….yang namanya Ice Cream siapa sih yang mau nolak? Kami hanya mampir sebentar soalnya Papaku sudah nggak bisa lama menunggu, dia ingin segera sampai ke hotel, om Zen mengarahkan mobil melalui underpass way di bawah Zam-zam tower.

Jadi kami berempat bisa langsung berhenti di pintu basement Grand Zam-zam Hotel. Buat Ayuk Thia dan om Zen, makasih yaaa…sudah menjamu kami , karena acara wisata kulinernya masih kurang waktunya, Ayuk Thia buat janji mau mengajak aku makan di Al-Baik Chickend Roasted Restaurant, semacam rumah makan cepat saji yang menunya ayam panggang serta nasi kebuli, hmmm…boleh di coba nih.

Senin, 14 Desember 2009

Ayuk Thia menelpon aku untuk bersiap-siap ba’da sholat Ashar, karena beliau bisa jemput aku jam segitu setelah urusan domestic dirumah beliau selesai, iya maklum deh aku juga faham ayuk kerja sendiri nggak ada khadimat yang membantu.

Kali ini aku pergi sendiri, karena kalau ngajak orang tua kuatir kelamaan di jalan nanti capek, Ayuk Thia mau anterin aku belanja makanan di salah satu supermarket di kota Mekkah, selama ini yang aku tahu paling juga Bin Dawood, kini aku diajak ke Dhiafa Mall. Seperti biasa aku di jemput di Saptco, ayuk ditemani sama Tamim (anak laki-laki ayuk yang tertua), karena Tamim masih ada keperluan lain kami hanya di drop sampai ke Dhiafa Mall.

Kata ayuk kalau di sini harga makanan lebih murah dibanding dengan Bin Dawood, sebelum ke supermarketnya, ayuk dan aku sempat berkeliling Mall, yah seperti kebanyakan mall yang ada di Indonesia, tetap barang-barang Made in China mendominasi isi gerai-gerai yang ada di dalam Mall.

Aku melihat ada gerai ‘Burger King’ langsung pesan Cheese Burger nya sama Pepsi Cola, ayuk nggak mau saat aku tawari, jadi aku makan sendiri nih judulnya, hihihi….kami duduk di cafetaria mall, sambil ngobrol ngalor ngidul, setelah burgerku habis, kami turun ke Supermarket yang ada di Ground Floor.

Aku belanja aneka makanan ringan seperti keripik kentang “Pringles” yang rasanya koq lebih enak, bubuk Tang rasa mangga jadi mau beli karena sempat merasakannya di rumah Ayuk Thia, coklat Lindt, Kinder Bueno dan Mackintosh, kacang Pistachio, Twinings tea dan madu Al Shifa. Melihat belanjaanku yang banyak, kata Ayuk Thia, mirip belanja bulanan aja, hihihi…. tapi masih dalam taraf wajar, aku sudah pikirkan semua belanjaan ini harus bisa masuk koper! Sepertinya aku nggak bisa jauh dari makanan ya.

Ada yang aku perhatikan saat belanja di supermarket ini, kalau membeli makanan aku paling duluan lihat adalah expired date nya, nah…kebanyakan item makanan expired date nya berkisar paling lama 1th dari tanggal produksinya, kecuali Madu khusus untuk yang satu ini lebih lama expired date nya dalam kisaran 3 tahun.

Saat kutanya ke Ayuk Thia, kenapa banyak produk makanan yang memiliki expired date dalam kisaran bulanan saja? Jawabnya, pemerintah Saudi Arabia sangat ketat mengawasi kesegaran dan kelayakan makanan untuk dikonsumsi, jika ada makanan yang expired date nya sudah tinggal satu-dua bulan lagi, biasanya sudah langsung ditarik dari peredaran.

Duh…lagi-lagi miris kalo mikir dengan pengawasan makanan di Indonesia, bahkan ada pengusaha yang spesialisasinya mendaur ulang makanan yang sudah kadaluwarsa dengan re-packing (aku melihat berita ini di TV, tempatnya di Surabaya, ini yang jelas ketahuan, nah yang tidak ketahuan?), lalu dijual di lingkungan SD yang konsumen terbesarnya anak-anak usia sekolah antara 6 – 12 tahun, hiks….menyedihkan!!! gimana mau pinter yang ada malah penyakitan, masih bagus kalau nggak sampai meninggal dunia.

Setelah beres belanja, kami menuju restaurant Al-Baik, Ayuk Thia mau treat aku nih, kami pergi naik Taxi, cukup singkat waktunya nggak ada macet sih, nah…ada yang unik di sini, kalau makan di restaurant di Mekkah, ada bilik-bilik khusus yang ditujukan buat keluarga, lalu di sisi lain ada ruang khusus buat kaum laki-laki yang tempatnya lebih terbuka.

Kenapa khusus buat keluarga ada bilik, karena bagi kaum perempuan kota Mekkah yang bercadar, bisa membuka cadarnya dengan tenang tanpa harus was-was dilihat oleh laki-laki non muhrimnya.

Ayuk Thia memesan paket ayam bakar dengan nasi minyak, kalau mereka bilang ini paket hemat, maksudnya nggak banyak porsinya, tapi saat aku lihat, waduh ini mah bisa dimakan orang 2 satu paketnya!

Nah ayuk beli 2 paket, jadi bisa buat makan 4 orang, ayuk pikir aku akan mampu menyantap habis 1 paket ayam panggang plus nasi minyaknya, yiaahhh….bisa mabok deh sama porsi orang Saudi, maklum kan mereka terbiasa makan dengan porsi besar dan kalori yang tinggi, bedalah sama aku yang biasa makan porsi anak kecil, untuk ukuran orang Saudi, hehehe….

Akhirnya kami makan satu porsi saja, sedang satu porsinya lagi dibawa pulang buat Papaku, siapa tau Papa suka. Kami makan sambil berbicara tentang masalah hidup, cieee…mumpung ketemu ayuk nih jadi bisa minta nasehat, apalagi beliau orang yang bijak bestari, nah…saat makan ini aku menerima sms dari hubby yang kasih tau kalau Hakim, anakku yang sulung, kena sakit cacar air, duh…

Pantes aja saat sholat di Hijir Ismail aku teringat wajah Hakim. Ayuk memintaku untuk bersabar dan selalu berdo’a, toh aku tinggal 2 hari lagi di Mekkah, setelah itu harus pulang ke tanah air. Semoga tali silaturahim di antara kita terjalin selamanya ya…bahkan sampai ke anak cucu kita, amien.

Kami pulang naik taxi kembali, ayuk mengantarku sampai ke kamar hotel, seperti biasa kami harus menaiki lift yang super cepat, ayuk sempat bilang ke aku bahwa beliau nggak berani kalau sendirian dalam lift, hihihi….

Kek aku dulu dunk, tapi kini sudah tidak parno lagi, maksudku paranoid dalam lift jika sendirian. Soalnya sering keluar masuk gedung bertingkat mau tak mau harus terbiasa. Ayuk ketemu sama Mama, Papa dan Nenek Juhe, sekalian kami mengucap pamit pada ayuk karena lusanya sudah harus pulang ke tanah air.

Ayuk menelpon Tamim untuk menjemput beliau dekat Saptco, aku turun menemani ayuk, sekalian mau membeli tali tambang plastik buat packing koper-koperku. Aku salam semut untuk terakhir kali sama ayuk, insyaAllah kalau ke Mekkah kembali, aku akan menemui ayuk lagi. Rasanya sesuatu yang didekatkan oleh-NYA tidak akan putus oleh jarak dan waktu, amien…

Kembali ke kamar, aku sudah menyiapkan tali temali untuk mempacking koper-koperku, nah….saudara-saudaraku ingatlah pelajaran basic saat kita ikut eskul Pramuka di SD dulu, jangan diabaikan ya…karena hal itu akan berguna sampai kapanpun, sampai kamu mempacking kopermu kelak saat naik haji, hihihi….

Asli lho, aku sangat terbantu dengan kemampuan tali temali ini, seharusnya aku membeli anyaman tali tambang yang ada di jual di tanah air untuk bungkus koper, biar lebih aman kondisi koper jika harus dibanting-banting, isinya nggak akan berubah posisi. Hanya saja, aku lupa membeli anyaman tambang buat koper, jadilah aku membeli beberapa gulung tali tambang plastik buat mengikat dan mempacking itu koper.

Urusan packing ini, aku sempat dibantu sama room service, hanya kalau minta bantuan mereka, dilakukan saat mereka sudah selesai dari waktu shift kerjanya, katanya sih biar nggak diomelin sama boss nya, tentu ada tips buat mereka.

Urusan packing koper sudah beres, maklum kalau bawa orang tua, kita harus kudu cepat bergerak soalnya bisa pusing sendiri, kalau selalu ditanyai “Adhe…sudah beresin koper belum?” hihihi…., sebagian besar teman-teman dari rombonganku sudah ada yang pulang.

Jadi aku yang sempat terpisah flight saat keberangkatan ke tanah suci, berusaha mengkonfirm pihak tour agent, agar kejadian saat berangkat tidak terulang kembali, bisa gawat nanti, kebayang Mama, Papa ditambah dengan Nenek Juhe, harus mengurus boarding pass sendiri, apalagi bunda Nurma sudah pulang duluan bersama rombongan jama’ah An-Nurmaniah.

Aku sampai mengkonfirmasi berulang kali soal jadwal kepulangan kami ini, kalau aku dianggap cerewet masa bodohlah, yang penting kami bisa pulang dalam satu pesawat. Alhamdulillah satu hari sebelum kepulangan, aku dapat kepastian kami berempat pulang dalam flight yang sama.

Sudah tenang hatiku, jadi masih ada satu hari tersisa, karena aku belum sempat berkeliling melihat gerai-gerai yang ada dalam Mall Zam-zam tower, bener-bener payah nih aku yang ada di depan mata malah nggak dilihat,  aku sempatkan untuk muter-muter bareng Mamaku.

Ada satu jenis oleh-oleh yang belum kutemui justru malah ketemu di dalam mall ini, yaitu buku Yassin, yang hanya memuat surah Yassin tapi dengan tulisan Arabic yang besar font nya, ini bagus banget kalau dibaca oleh para ibu atau bapak yang sudah sepuh, nggak perlu tambahan kacamata buat melihatnya, karena hurupnya gede-gede.

Aku membeli dalam jumlah banyak buat oleh-oleh jama’ah pengajian kantorku. Karena bukunya cukup tipis tapi dengan kualitas kertas yang baik, rasanya nggak bakal repot deh ngebawanya dalam tas jinjing. Sekalian membeli Ghamis buat hubby dan peci ala Pakistan buat my sons. Ternyata harga di mall ini nggak terlalu mahal asal bisa milih  gerai yang di masuki, kalau masuk ke toko yang ‘Branded’ yah…jelas mahal dunk.

Ada toko khusus souvenir namanya “Museum” yang menjual aneka pernak-pernik home decorator, dengan kualitas bagus tentu harganya juga bagus dong. Awalnya aku nggak minat masuk, hanya melihat dari luar, sudah tau sih ini pasti nggak ada barang murah, hihi…

Nah aku kan banyak bawa barang-barang belanjaan yang terbungkus dalam aneka kantong plastik, rupanya ini diperhatikan oleh seorang bapak berkulit putih kemerahan berbadan kurus tinggi asli orang Mekkah kelihatannya, yang berpakaian Ghamis putih yang sekali liwat aku perhatikan, gayanya bukan pelayan toko nih, lebih tepat ku nilai sebagai ownernya.

Ssoalnya terlihat well educated dengan bahasa Inggris yang baik dan santun pengucapannya, dia memberi aku tas kantong belanjaan merk Museum yang ukurannya besar, sehingga semua barang belanjaan ku bisa masuk dalam satu tas itu.

Perhatikan baik-baik cara si Bapak melayani orang yang hanya sekedar melihat tokonya, bukan mau belanja lho…, dia bersikap sangat santun bahkan memberi kemudahan buatku agar tidak kerepotan dengan semua barang belanjaan yang aku bawa, efeknya aku jadi simpati, hahaha….yang tadinya nggak mau beli jadi mikir, ini bapak koq baik banget, walau aku cuma melihat barang dagangannya.

Aku mengamati ada satu “wall hanging kaligrafi” dari bahan kain tenun ukuran 1 m x 1.5 m yang berisi Surah Al Fatihah dan awal Surah al-Baqoroh, seperti tampilan awal kalau kita membuka Al-Qur’an. Keren banget… tampaknya si bapak tau aku memperhatikan wall hanging itu, dia langsung memerintahkan pelayan toko untuk menurunkan dari gantungannya, lantas bapak itu bilang, “Ini harganya 450 real, tapi saya kasih discount jadi harganya hanya 350 real”.

Sebenarnya kalau di kurs ke rupiah termasuk mahal, mencapai Rp. 875.000,- mungkin melihat gayaku yang masih mikir, dia sedikit bergaya persuasive ngomong “Ini tinggal satu, nggak ada lagi dan hasil tenun dari Mesir”. Yah…makin buat aku mikir keras, beli…nggak…beli…nggak, akhirnya beli aja deh…hehehe daripada aku penasaran, dan kebayang terus, toh…buat beli Kaligrafi apalagi itu ayat suci Al-Qur’an kenapa harus pusing berhitung!

Orang beli mobil bisa ratusan juta, koq buat beli Kaligrafi yang ratusan ribu harus mikir panjang. Yups…bungkus deh pak! Si bapak tersenyum manis banget, ya iyalah…dia telah sukses membuat strategi memikat konsumen agar tertarik buat belanja.

Makanya buat para pelayan toko jangan pasang muka jutek kalo ada orang yang cuma melihat-lihat aja, kalau cara melayaninya sangat santun dan nggak marah kalo barang-barang tokonya di buka-bukain, tentu akan menimbulkan simpati yang tadinya nggak mau beli jadi terpikat buat beli deh.

Pada part sebelumnya aku pernah tulis beberapa tempat ziarah yang optional sifatnya, maksudku kalau kita mau kesana, bisa sewa mobil serta bawa seorang mutawif untuk menemani kita biar nggak salah jalan. Ini beberapa tempat yang sempat aku kunjungi, pada musim haji tahun 2005/2006.

Museum Ka’bah

Letak persisnya aku tidak begitu faham, yang jelas masih di dalam kota Mekkah, namanya “Exhibition of the Two Holy Mosques Architecture” bentuk gedungnya agak menyerupai pilar-pilar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Dalam bangunan ini tersimpan semua benda-benda yang bersejarah yang ada dalam 2 Masjid Suci, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Untuk masuk ke sini sebaiknya berombongan, kami hampir saja di tolak masuk karena hanya dalam rombongan kecil, cuma 7 orang (6 orang jama’ah haji dan 1 orang mutawif), untunglah mutawif kami bisa merayu penjaga museum, mereka bilang boleh masuk tapi sebentar saja, Alhamdulillah….yang penting boleh masuk saja sudah bersyukur.

Mutawif menjelaskan secara singkat semua benda-benda bersejarah di dalamnya, aku tidak bisa mengulas satu persatu karena hanya selintas mendengarnya, kan sudah dibilang waktu kami hanya sebentar. Kami di ijinkan untuk berfoto di dalam juga di luar museum.

Hudaibiyah

Kami diajak oleh Mutawif untuk melihat dari dekat tempat pemerahan susu onta, jika berminat bisa juga membelinya, hanya 5 real/ botol. Kami ditawari untuk mencobanya secara gratis, aku nggak tertarik buat mencoba, nggak tahan baunya, hehe…, peternakan ini terletak di daerah Hudaibiyah, hewan onta tampak bergerombol disatu tempat tanpa ada pagar pengaman layaknya satu peternakan. Aku hanya melihat satu orang yang menjaga di sana, kesannya koq santai amat. Sebelum kami ada satu bus rombongan haji yang sudah lebih dulu tiba, tapi mereka tidak lama berada di sana, bahkan hanya sebagian kecil jama’ah yang turun dari bus, males kali melihat suasana yang panas dan berdebu serta bau onta pula, hihihi…. Kami juga tidak lama berada di sini, yang penting sudah tau tempat pemerahan susu onta.

Rumah Nabi

Rumah Nabi ini letaknya berada disebelah timur dari halaman bagian timur Masjidil Haram, sangat dekat. Saat ini fungsinya sebagai Perpustakaan dibagian atasnya tertulis “Maktabah Makkah al-Mukarramah” (Perpustakaan Mekkah al-Mukarramah). Kita bisa masuk ke Perpustakaan ini kalau memang jadwalnya sedang dibuka. Aku hanya sempat melihat dari luar saja, sudah cukuplah. Bentuknya sangat sederhana jika dibandingkan dengan nama besar Rasulullah.

Tempat pejagalan hewan qurban

Pada musim haji 2005/2006, kami ditawari untuk melihat dari dekat suasana tempat pejagalan hewan qurban. Awalnya aku agak malas, apalagi udara cukup panas, di awal bulan Januari 2006, tapi ada rasa penasaran ingin menyaksikan bagaimana hewan-hewan qurban itu di sembelih. Aku pergi bersama suamiku dan beberapa teman dari rombongan haji, naik mobil ke arah Mina.

Tidak terlalu lama jarak yang kami tempuh dari maktab kami, kami melihat satu bangunan yang berbentuk segi empat dengan ukuran yang lumayan luas, dengan tiang-tiang besi yang tergantung di atasnya untuk menggantung hewan qurban, agar mudah dikuliti. Para petugas jagal berseragam serba merah, sama dengan warna darah, jadi tidak perlu khawatir jika pakaiannya terciprat noda darah. Aku melihat mereka bekerja sangat cepat, kami diperbolehkan untuk berfoto di sana, lumayan buat kenang-kenangan, jadi faham bagaimana situasi pejagalan hewan qurban di Mina.

Wisata ke Laut Merah

Jalan-jalan ke Laut Merah bagi jama’ah haji merupakan wisata tambahan jika mau, terletak di tepi kota Jeddah, tentu ada biaya tambahan kalau dulu sekitar 20 SR/orang. Jangan ngebayangin laut merah itu warnanya merah, asli warnanya biru, jika musim haji tempat ini lebih ramai dari hari biasanya, banyak pedagang asongan yang membuka tenda di sepanjang tepi pantai, menjajakan aneka makanan, kebanyakan para TKI yang berdagang untuk mencari uang tambahan.

Kalau malam hari di salah satu bagian pantai ada atraksi air mancur menari, walau hanya satu semburan air mancur tapi sudah cukup bagi wisatawan local dan para jama’ah haji yang menyaksikannya. Ada penyewaan kereta kuda buat anak-anak, yang mondar-mandir di tepi pantai. Kita bisa melihat tempat penyulingan air laut menjadi air tawar di dekat laut Merah, hanya bisa mengamati dari jauh, seperti kilang minyak kalau sekali lewat di amati, dari kilang ini disalukan ribuan kubik air/detik ke seluruh tempat di Saudi Arabia, termasuk 2 kota suci, Mekkah dan Madinah, jadi jangan heran kalau kita mandi dan gosok gigi, airnya terasa agak asin, lha wong emang air laut yang di ubah ke air tawar.

Di tepi laut Merah ini ada satu masjid, yang dijuluki “Masjid Terapung” karena jika air laut pasang, tiang-tiang pondasi masjid ini akan tertutup air laut, kesannya masjid ini mengapung di atas air. Bagi jama’ah laki-laki bisa sholat di dalam masjid, sedang untuk jama’ah perempuan disediakan tempat sholat di tepi sisi luar masjid masih dalam areal masjid. Kita bisa merasakan hembusan angin yang sepoi-sepoi saat memandang ke laut Merah dari teras masjid. Kunjungan ke laut Merah dan masjid terapung biasanya tidak lebih dari 1 jam, setelah itu para jama’ah akan melanjutkan wisata belanja di pertokoan di seputar kota Jeddah, di daerah Ballad salah satunya, sekedar informasi kalau mau beli farfume asli disini harganya lumayan murah jika dibanding sama Jakarta.

Cerita diatas merupakan sedikit kisah yang masih kuingat ketika mengikuti ibadah haji regular, kembali lagi ke kisah hajiku yang lalu, hari kepulangan ke tanah air sudah semakin dekat.

Rabu, 16 Desember 2009

Kami sudah bersiap-siap untuk pulang, dijadwalkan kami naik pesawat pukul 13.00 waktu setempat. Sejak usai sholat subuh kami sudah sibuk mengatur barang bawaan, khusus koper-koper besar sudah dikumpulkan melalui pihak tour agent sehari sebelumnya, setiap jama’ah dapat jatah quota 30 kilo/ orang.  Info dari Adib, salah satu mutawif, kalau Yemenia Air tidak terlalu ketat pengawasannya, jadi bila bawaan dalam satu kelompok berbeda-beda beratnya, maka jama’ah yang bawaannya kurang dari 30 kilo, kelebihan jatah quota barang bawaannya bisa di konversi ke jama’ah yang overload quota.

Kalau naik maskapai Emirates nggak bisa model konversi kek gitu, jadi hitungannya harus per jama’ah, jika jatah quota 30 kilo, harus sama dengan atau kurang dari itu. Kalau lebih ya harus dikurangi, caranya barang-barang yang dianggap penting atau yang tidak penting dipisahkan, ada yang lebih baik dibawa sendiri atau sebaiknya dikirim melalui cargo udara, tarifnya 10 SR/ kilo.

Jangka waktu pengiriman biasanya antara 7 – 10 hari, tergantung daerah tujuan, kalau dalam pulau Jawa biasanya hanya seminggu, luar pulau Jawa lebih dari satu minggu, tapi biasanya nggak sampai lebih dari 2 minggu sampainya. Para agent cargo ini biasanya banyak seliweran di maktab-maktab atau hotel para jama’ah haji.

Kami harus naik ke dalam bus tepat pukul 8.00 pagi waktu setempat, lagi-lagi aku melihat kegaduhan para jama’ah yang membawa aneka tas jinjingan turun melalui lift, jadi ingat kejadian di Madinah, yang sempat bikin aku capek badan sekaligus capek hati, melihat bagaimana tas-tas para jama’ah di lempar-lempar sesukanya.

Untungnya para room service yang membantu menurunkan semua tas-tas para jama’ah lebih tertib, tidak terlihat main lempar sembarang tas. Aku minta tolong sama room service untuk membawa semua barang jinjingan kami. Jadi kami bisa melenggang tanpa beban saat turun kebawah, tentu dengan tips yang wajar.

Kami naik ke atas bus dengan tertib, makan pagi kami diberikan dalam bentuk nasi kotak. Kami juga diberi air zam-zam 1 liter per orang, sayangnya air zam-zam botolan ini tertinggal saat aku minta tolong packing di bandara. Yasud deh… masih ada jatah air zam-zam isi 10 liter dalam dirigen yang akan kami terima setibanya di bandara Suta.

Kami tiba di bandara King Abdul Aziz, sekitar pukul 09.00 pagi, tapi menunggu pembagian boarding pass benar-benar bikin deg-degan, soalnya diberi nya secara bertahap. Kami kuatir aja, kalo salah satu dari kami berempat harus terpisah kembali. Syukurlah kami bisa segera berangkat, hanya urusan boarding pass milik Papa yang sempat agak lama keluarnya, membuat aku harus menemani beliau di counter ticketing. Tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi, nyatanya dari rombongan kami ada 3 jama’ah yang terpisah jam penerbangannya.

Setelah urusan boarding pass Papa selesai, masuk ke pemeriksaan imigrasi. Lagi-lagi Papaku yang penglihatannya sudah tinggal 10%, harus melepas sabuk/gesper yang dia pakai, entah alasan apa petugas imigrasi melakukan hal tersebut, yang pasti Papaku jadi lama sekali berada di pemeriksaan imigrasi.

Padahal semua jama’ah yang sudah mendapatkan boarding pass sudah dipersilahkan segera naik ke atas pesawat. Aku melihat tinggal sedikit orang yang tersisa di antrian penumpang di pintu keluar bandara menuju pesawat, belum lagi para petugas dari Yemenia terus menerus memanggil para penumpang yang harus segera naik ke pesawat.

Aku jadi agak panik dibuatnya, waduh…ini koq petugas imigrasi lama amat meriksa Papaku, aku meminta Mama dan Nenek Juhe untuk menunggu di departure’s gate, lalu aku segera menyusul Papa yang masih di tempat pemeriksaan imigrasi, untunglah beliau sudah selesai diperiksa. Aku cepat-cepat membawanya ke arah pintu keberangkatan.

Nah…saat Mamaku melihat Papa, ada assesories yang lupa Papa pakai, apa itu? Gesper/tali pinggang milik Papa tertinggal di tempat pemeriksaan imigrasi, ya ampuun…Papa lupa memakainya kembali setelah dilepas saat pemeriksaan.

Aku melihat Papa agak kebingungan saat Mama tanya mana gespernya, karena kasihan lihat Papa dan juga sayang sama gesper pemberian Mama itu, aku langsung lari ke imigrasi area, untunglah gesper itu ada di keranjang dekat counter pemeriksaan, aku jelaskan bahwa ini milik Papaku yang tertinggal, akhirnya kami semua naik ke pesawat rasanya lega banget, syukurlah kami bisa berangkat bersama-sama tidak sampai terpisah.

Di dalam pesawat, aku duduk terpisah dari Mama, Papa dan Nenek Juhe, nggak soal bagiku, yang justru bikin aku sebel banget itu saat melihat penumpang local yang menghidupkan hp padahal pesawat sudah mengudara, kacau ya!

Nggak heran deh kalau akhir-akhir ini banyak pesawat yang jatuh, mungkin salah satu factor pencetusnya gara-gara telpon selular yang tetap active selama penerbangan berlangsung. Aku duduk di belakang penumpang local yang asyik ngobrol lewat hp, herannya itu pramugari koq nggak menegurnya, aku yang mau protes jadi mikir kalau pramugari aja cuek berarti kalau aku protes nggak akan digubris.

Walau dengan perasaan kuatir, aku tetap berdo’a semoga penerbangan ini selamat sampai ke tujuan. Teman duduk di sampingku seorang ibu yang jadi TKI di Jeddah, dia mau pulang setelah 3 tahun bekerja di sana, dia minta tolong sama aku agar dibantu selama perjalanan pulang ke Jakarta, aku bilang nggak masalah, selama dokumen perjalanan dia lengkap.

Pesawat yang kami tumpangi Yemenia Air, harus transit di Sana’a dulu. Kami menunggu kira-kira 30 menit, lalu naik kembali ke pesawat yang lebih besar typenya, lagi-lagi aku duduk terpisah, ibu TKI yang tadinya duduk menemaniku telah berganti kursi, dia memilih duduk dekat TKI lain yang juga mau pulang ke Jakarta, gantinya aku ditemani seorang nenek yang akan menjadi teman ngobrol ku sepanjang penerbangan.

Teman duduk yang unik

Ibu tua yang duduk di sampingku terlihat sangat santun, beliau memakai abaya hitam (baju panjang seperti ghamis) tanpa cadar, senyum yang ikhlas tersungging dari wajahnya yang sudah berkeriput dimakan usia, aku tebak ini ibu usianya sekitar 70-an tahun.

Pesawat Yemenia yang kami tumpangi akan menuju Dubai, transit sekitar 1 jam baru melanjutkan ke Jakarta. Sana’a – Dubai jarak tempuhnya sekitar 2 jam penerbangan, awalnya aku lebih banyak memperhatikan saja teman duduk di sampingku ini, ucapan ‘Alhamdulillah’ terus menerus keluar dari mulutnya, aku pikir ibu ini orang yang selalu bersyukur.

Aku perhatikan lebih detail, sepertinya beliau ini bukan orang biasa-biasa aja, minimal berpendidikanlah, handbag yang dipakainya branded terkenal dari Amrik, dia juga memakai 2 hp yang dia off kan saat pesawat bersiap untuk take off. Sepertinya ibu ini bisa aku ajak ngobrol nih, aku bertanya dari mana beliau dan mau ke mana, dengan bahasa Inggris yang fasih beliau berkisah, bahwa dia berasal dari Baghdad – Iraq.

Percakapan mengalir dengan lancar, iseng aku tanya “berapa usia”nya ternyata beliau berusia 85 th, lima belas tahun lebih tua dari dugaanku, penasaran sama resep awet mudanya, soalnya beliau tetap terlihat energik dan gesit, buktinya beliau pergi sendirian tanpa ditemani, jawabnya “Kuftah dan Bekerja”, beliau menjelaskan kuftah itu sejenis makanan khas orang Iraq lalu teruslah bekerja, agar badan selalu sehat. Lagi-lagi senyum yang ikhlas tersungging di bibirnya.

Beliau berkisah, dia mempunyai 3 orang anak, 1 bermukim di Yaman bekerja sebagai enginer dan 2 lainnya bermukim dan bekerja di Detroit, US. Beliau baru saja menunaikan haji dengan di temani anaknya yang tinggal di Yaman, makanya beliau mau pulang ke Iraq melalui Yaman.

Beliau bertanya siapa namaku, karena kedengaran agak asing dan aneh, dia bertanya “siapa namaku dalam bahasa Arabnya?” hehehe…tuh kan biasa bagi orang Timur Tengah untuk memberi nama yang bernuansa Arab bagi orang yang namanya terdengar asing.

Aku menggelengkan kepala, tiada nama Arab yang melekat pada namaku, beliau tersenyum lagi melihatku. Beliau menyebutkan namanya yang menurutku simple tapi indah, sebut saja Aminah (sorry to say…aku pakai nama samaran saja, demi menjaga privacy beliau).

Aku tanya bagaimana keadaan di Baghdad, apakah sudah kondusif, beliau menggeleng pelan, sambil berbisik bahwa suasana di sana masih belum stabil. Dia balik bertanya kepadaku, apakah aku muslim Sunni atau Syia’ah? Aku melihat beliau dalam pandangan tidak terlalu memahami maksud pertanyaannya, tampaknya beliau sadar, lalu dia mempraktekkan cara sholat, sambil bertanya lagi apakah aku sholat dengan kedua belah tangan menangkup di dada atau kedua belah tanganku tetap berada lurus di sisi kiri dan kanan tubuhku, aku jawab bahwa aku sholat dengan cara kedua tanganku menangkup di dada. Beliau langsung bilang “You are a Sunni”.

Rasanya sebagai muslim di Indonesia kita tidak terlalu mempermasalahkan apakah kita Sunni atau Syi’ah, lha kalau ditanya “agamamu apa?” pasti jawabnya “Islam”, tanpa embel-embel Sunni atau Syi’ah.

Hal ini ternyata berbeda dengan pengertian be a moslem bagi sebagian saudara-saudara seiman kita di Timur Tengah, bunda Aminah juga menyatakan dirinya sebagai seorang muslim sunni. Di Iraq perbedaan Sunni dan Syi’ah benar-benar menjadi masalah yang serius.

Bahkan beliau memberikan tanda isyarat, tangannya bergerak ke arah lehernya dengan gaya seperti sedang memotong/menebas leher, hiiii….. aku asli kaget sambil mengucap, “seriuskah?”, dengan kalem bunda Aminah bilang ini hal yang biasa dari jaman dahulu kala. Bahwa ada sebagian orang Syi’ah yang sengaja mencari orang Sunni untuk di tebas lehernya, duuuh….seraaam amat!

Tolong bagi saudara-saudaraku yang membaca kisahku ini, jangan sampai berprasangka yang aneh-aneh ya, aku sendiri juga baru tahu soal ini, mungkin bagi orang yang asli bermukim di Iraq, Iran dan sekitarnya hal ini sudah jadi masalah turun temurun. Aku sempat membaca satu kisah pernikahan yang terlarang bagi orang yang dilahirkan dari keluarga yang berbeda faham keyakinan Islamnya, antara Sunni dan Syi’ah. Untunglah di Indonesia kita lebih memaknai islam sebagai agama yang tidak melihat perbedaan antara Sunni dan Syi’ah, wallahu’alam bissawab.

Tak terasa pesawat sudah mendarat di Dubai, bunda Aminah harus turun dan melanjutkan penerbangan ke Iraq melalui pesawat yang berbeda, aku menyalami tangannya dengan hormat, sambil berdo’a semoga beliau selalu dalam lindunganNYA. Pesawat Yemenia Air yang kami tumpangi mengisi bahan bakar sekaligus membawa penumpang baru yang sebagian besar kelihatannya seperti rombongan TKI, yang kebanyakan wanita, salah satunya duduk di sampingku mengisi kursi yang sebelumnya diduduki bunda Aminah.

Kali ini aku mendapat teman perjalanan yang ‘aneh dan lebih unik lagi, kalau mau dibandingkan dengan ibu TKI yang duduk dengan aku sebelumnya, ibu ini usianya jauh lebih muda dariku. Aku merasa ada yang aneh dengan teman dudukku kali ini, dia sering terlihat mendesah dan mengguman kata-kata yang tidak jelas, tampak seperti orang yang sedang menggerutu.

Aku tidak mau menegurnya karena terlihat dia seperti sedang kesal dengan sesuatu, kalau kutegur salah-salah malah dia tambah emosi. Ku diam kan dia dengan segala polahnya, yang sebenarnya jadi perhatian beberapa jama’ah yang duduk satu deret kursi dengan kami. Si mbak ini agak berkelakuan aneh dia tampak tidak betah duduk, beberapa kali mondar mandir bangkit dari duduknya. Aku menduga jangan-jangan ini TKI sedang stress, muncul berbagai analisa negative di kepalaku, jangan-jangan dia dipulangkan dari Dubai karena kerjanya yang nggak bener, atau bisa juga dia jadi korban pemerkosaan majikannya.

Saat Pramugari memberi kertas ‘dokumen kedatangan’ bagi para penumpang untuk diisi, aku langsung mengisi dokumen tersebut, setelah selesai aku melipat kertas tersebut, si mbak yang terlihat tidak pegang ballpoint, langsung mengambil ballpointku tanpa permisi lebih dulu.

Aku tidak mencegahnya, kubiarkan dia pakai ballpointku. Terlihat dia kebingungan mengisi dokumen itu, aku diam saja menunggu reaksinya, kalau dia mau bertanya dengan cara yang baik, maka akan aku bantu dia. Dia hanya memegang ballpoint tanpa menulis juga tidak bertanya, tiba-tiba dia bicara kepadaku “Bu, saya ini depresi! Bayangkan selama 12 tahun saya ini bekerja tidak pernah saya merasa bahagia, saya ini sakit, tapi tidak ada yang merhatikan saya,” aku memandang wajahnya, lantas dia ngomong lagi tanpa kuminta.

“Saya punya anak dan suami yang saya tinggal, semata-mata buat cari uang, kampung saya di Garut,” “Coba bu bayangkan, kepala saya ini pusing, saya stress,” aku membiarkan dia ngomong apa yang mau dikeluarkan, sejurus kemudian dia diam tampak menghela nafas panjang, “Do’a apa ya bu biar saya bisa tenang?

Saya sholat dan mengaji tapi tetap saya merasa masih sakit,” aku merasa prihatin dengan keadaan TKI ini, pasti dia sudah mengalami trauma yang cukup hebat sampai tingkah lakunya terlihat aneh. Karena dia bertanya do’a kepadaku, maka aku hanya menjawab yang kupikir dia bisa melakukannya dengan mudah “Baca Al-Fatihah dan Al-Ikhlas, sesering mungkin, tidak hanya saat sholat, ditambah kamu sebaiknya sholat sunnah Dhuha, biar pekerjaanmu dimudahkan oleh ALLAH,” aku hanya menjawab singkat.

Ddia tampaknya terkesan masah bodoh dengan jawabanku. Lalu dia mengembalikan ballpointku, setelah itu dia bergerak ke toilet, saat itulah ada salah seorang TKW yang duduk di belakangku, memberitahuku sambil menyilangkan jari telunjuknya ke keningnya untuk menggambarkan si mbak yang duduk di sampingku. Aku hanya bisa mengangguk faham dengan maksudnya.

Selanjutnya aku hanya diam, bukannya tidak mau mengajak dia ngobrol, tapi si mbak ini tidak tertarik untuk bicara banyak, dia lebih suka mengeluh terhadap apa yang dideritanya selama ini, aku seperti diberi ALLAH gambaran yang paradox antara bunda Aminah yang pandai bersyukur dengan si mbak TKW yang selalu mengeluh.

Perjalanan yang begitu panjang antara Dubai – Jakarta sekitar 8 jam, berakhir dengan selamat, kami tiba di tanah air dalam keadaan sehat wal’afiat pada pukul 11 siang wib pada Kamis 17 Desember 2009.

Terima kasih buat semua teman dan kerabat yang telah membantu kelancaran ibadah kami baik secara langsung maupun melalui do’a-do’a yang ikhlas terucap dan buat para mutawwif yang banyak menolong kami selama di tanah suci hanya Allah yang dapat membalas amal baik kalian.

Syukur Alhamdulillah tak putus kami ucapkan padaNYA atas segala kemudahan dan keselamatan selama melaksanakan ibadah di tanah suci…..semoga ibadah haji kami di tahun ini mendapat ridhoMU, amien…

Catatan yang tercecer….

Ada beberapa catatan kecil yang luput aku tuliskan sebelumnya, antara lain kejadian saat mencari toilet di terowongan dibawah Zam-zam tower ini , kejadian ini terjadi 2 hari sebelum prosesi wukuf di Arafah berlangsung, aku belum menginap di Grand Zam-zam saat itu. Pada waktu menjelang sholat Dzuhur, aku melihat ada tanda toilet di dekat tangga turun menuju terowongan bawah tanah yang berada di bawah Masjidil Harom dan Zam-zam Tower.

Aku turun ke bawah dan menyusuri jalan sepanjang terowongan, aku mencari toilet untuk sekalian berwudhu. Selanjutnya tanda toilet tidak terlihat jelas, aku tetap terus berjalan, walau sempat ragu apa bener ada toilet di terowongan bawah tanah ini. Aku berjalan melawan arus, justru semua jama’ah haji berjalan mengarah ke Masjidil Haram, karena waktu sholat Dzuhur sudah dekat.

Udara terasa pengap walau blower raksasa yang tertancap di ceiling terowongan terus berputar mengeluarkan suara yang menderu-deru bising sekali. Kalau mau dipikir itu udara penuh dengan berbagai macam virus, mana aku nggak pakai masker lagi, tapi sekali lagi aku berpikir ini tanah suci, segala sesuatu aku ‘pasrah’ kan ke Ilahi Rabb, jadi nggak pusing atau paranoid, bahkan aku menemukan para pengemis yang berkulit gelap seperti orang-orang ras Afrika, bersama anak-anaknya tampak duduk bahkan tidur di sepanjang jalan bahkan sambil makan nasi minyak yang gak jelas bersih atau nggak nya.

Aku hanya bisa melihat dengan prihatin, mereka nggak merasa kuatir akan terinjak jama’ah yang lalu lalang di sepanjang jalan, dalam jumlah yang banyak, maklum lagi puncaknya musim haji.

Akhirnya aku menemukan juga toilet yang dimaksud, jauh hampir mendekati ujung terowongan, aku segera berwudhu dan mencuci mukaku, aku masih menyimpan satu masker di dalam tas cangklongku, kali ini aku putuskan untuk memakainya.

Dengan agak tergesa aku berjalan cepat untuk mengejar sholat Dzuhur karena suara azan sudah berkumandang, tiba juga aku di pelataran Masjidil Haram, sejurus kemudian aku sholat dzuhur berjama’ah. Tiba-tiba di keheningan sholat Dzuhur karena suara imam masjid tidak boleh terdengar, Hp ku berdering melantunkan lagu “Indonesia Raya”, hihihihi….. waduuh…aku lupa men-silent hp ku.

Aku yakin sekali ini pasti telpon dari Indonesia, soalnya beda waktu yang hanya 4 jam, selalu membuat yang menelpon tidak faham kalau kita yang di Mekkah sedang sholat, dengan cepat aku injak tas cangklong yang ada di hadapanku, biar dengan sedikit sentakan akan mematikan hp ku, berhasil. Selang beberapa menit, hp ku berbunyi kembali, huhuhu….kacau nih, sekali lagi aku injak tas, syukurlah itu hp nggak bunyi lagi.

Antrian Al-Qur’an gratis

Saat mengikuti haji regular pada tahun 2005/2006, selepas sholat subuh di Masjidil Haram, aku tidak langsung pulang ke maktab, aku sengaja menunggu sampai tiba waktu sholat Dhuha sekitar pukul 7 pagi waktu setempat.

Setelah selesai sholat Dhuha, aku keluar dari masjid dan melihat antrian panjang kaum laki-laki, aku pikir apa ini mau antri dapat ransum pagi, hubbyku mendekati mereka dan bertanya ini antri apa, mereka menjelaskan sedang antri Al-Qur’an gratis. Mendengar ada yang gratisan kek gini, otomatis jadi minat mau ikutan antri, untuk jama’ah wanita ada tempat antri tersendiri, yang ternyata jumlah antriannya lebih panjang dari pada kaum laki-laki.

Jadwal loket pembagian Al-Qur’an gratis dibuka mulai pukul 8 – 10 pagi. Aku hanya ikut sekali antri, dengan jatah 1 Al-Qur’an. Ada temanku yang bisa dapat 2 kali, karena dia mensiasati ikut 2 kali antri di barisan antrian yang berbeda, dengan petugas loket yang berbeda pula. Aku ketawa mendengar kisah nya mendapat 2 jatah Al-Qur’an.

Aku hanya mikir koq dia bisa dapat 2 jatah Al-Qur’an, sedang aku yang antri lebih lama hanya dapat 1, rupanya pikiran selintas ini, dicatat Malaikat-NYA. Selang sehari setelah mengantri Al-Qur’an gratisan,  selepas sholat Ashar di Masjidil Haram, aku pergi ke toilet yang ada di samping Masjidil Haram, dalam ruangan toilet yang penuh dengan jama’ah haji, aku sempat bingung mencari kotak sampah, saat kepalaku celingukan mencari si kotak sampah, tiba-tiba ada suara yang menyapaku

“Itu kotak sampahnya ada di sudut bu haji,” sempat kaget aku dibuatnya, kupikir petugas cleaning service yang bercadar dan memakai abaya hitam itu orang setempat, eh…ternyata TKI asal Malang, akhirnya aku jadi berkenalan dengan ibu Sugiarti, begitulah namanya, beliau sudah bekerja selama 5 tahun lebih di Masjidil Haram di bagian kebersihan di bawah perusahaan Bin Laden (kek nya masih ada hubungan dengan Osama Bin laden kali ya? Hehehe).

Beliau bertanya aku tinggal di maktab mana, aku bilang di rumah nomor 47 di daerah Jarwal. Lalu tanpa kuduga beliau ngomong “Bu haji mau Al-Qur’an nggak?” “Mau kalau dikasih, kemarin saya dapat Al-Qur’an gratis tapi ngantri dulu,”

“Nah kalau yang ini nggak perlu antri bu haji, mari ikut saya,” ajak bu Sugiarti, sambil berjalan ke arah Masjidil Haram, aku mengikuti di sampingnya, lalu dia memintaku menunggu di satu tempat, tidak lama dia sudah membawa 5 buah Al-Qur’an ukuran sedang.

Alhamdulillah….rasanya senang aja, kemarin dapat satu kini malah dapat lima sekaligus. Aku mengucapkan terimakasih pada bu Sugiarti, sekalian bertukar nomor telepon, syukurlah hubungan silaturahim kami masih terjaga sampai hari ini. Sayang saat aku haji kemarin, tidak sempat menemui beliau. Tapi kami masih suka berhubungan lewat telpon. Ibu Sugiarti berniat untuk pensiun dari tugas cleaning service di Masjidil Haram walau jabatannya sudah sebagai pengawas unit kebersihan, katanya dengan jabatan yang dipegangnya dia diberi fasilitas penginapan gratis oleh pihak perusahaan.

Beliau mau beristirahat di kampung halamannya, apalagi anak-anaknya sudah pada menikah semua. Jadi selama ini beliau bekerja untuk membiayai sekolah dan kehidupan keluarganya.

Pada musim haji 2009 yang lalu, aku tidak lagi antri meminta Al-Qur’an gratisan, justru sebaliknya, membeli Al-Qur’an untuk di wakafkan buat 2 masjid suci yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Semoga dengan niat karenaNYA, segala kebaikan akan tercurah pada siapapun yang membacanya, amien…

Kisah-kisah yang tercecer di atas menjadi penutup dari seluruh catatan My Spiritual Journey, mudah-mudahan ke depan aku masih diberi kesempatan olehNYA untuk berkunjung ke RumahNYA kembali.

Ucapan terimakasih yang tulus buat semua teman yang sudah dengan setia membaca kisah perjalanan hajiku. Esensi dari ibadah haji itu terletak pada keyakinan diri kita sendiri, apapun pengalaman yang kita alami di sana, semuanya memiliki makna yang berbeda bagi semua jama’ah yang mengalaminya.

Semuanya mempunyai tujuan bahwa kita di harapkan makin bertaqwa kepadaNYA, tiada yang lebih istimewa dalam melaksanakan haji baik itu plus maupun regular. Semuanya kembali lagi kepada keikhlasan kita untuk menerima apapun pengalaman bathin dan spiritual yang dilimpahkanNYA pada diri kita. Haji itu perjuangan, semakin kita di uji olehNYA semakin DIA menyayangi kita.

Jadi jangan buru-buru mengeluh jika menemui hal-hal yang menjengkelkan hati, ingatlah kita sedang diperhatikanNYA, bukankah kita akan merasa lebih dekat jika kita selalu diperhatikan?

Bandar Lampung, 31032010.



About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "My Spiritual Journey Part.13 (The End)"

  1. effi  25 November, 2013 at 10:35

    sayang… saya baca ini pas baru pulang haji… tapi seru sekali… pengen baca serial lainnya. makasih ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.