Rasaku Ini Rasamu

Alexa – Jakarta

Saat itu kita sudah berkomitmen

Mengambil langkah perlahan, merajut pengertian,

Tuk menggapai cinta tak bertepi pada akhirnya,


Saat itu kau tidak keberatan jika aku “mendua”,

Akh….aku tak bermaksud memakai kata itu,

Siapakah aku ini berani-beraninya mendua,

Bak ratu sejagad yang dikelilingi pejantan tangguh,

Bukan -aku hanya wanita biasa, yang baru saja mengalami

Jadi sendiri lagi….

Aku hanya ingin bersikap hati-hati

Aku hanya ingin tidak bermain-main dengan hatimu dan juga

Tidak ingin ada lelaki bermain-main dengan hatiku.


Apa dikata…nasib berkata lain

Permainan nasib pula yang menjadikan kita selalu bersama tujuh hari

Tujuh hari yang makin membuatku mengenalmu

Tujuh hari yang membuatku terbiasa dengan senyum sabarmu

Dan pandangan teduhmu


Kesederhanaan kebersamaan kita,

Tanpa hingar bingar dan gegap gempita,

Bertukar pikiran dan berusaha memahami kesukaan masing-masing,

Memahami ketidak sukaan masing-masing,

Aku baru tau kalau kau itu cepat lapar

dan habis makan siang masih menambah dua bungkus mie instant,

Kau sudah tau aku suka menulis walau kau jarang baca tulisanku,

Tapi kau selalu membiarkan aku berjam-jam di depan laptop,

Bahkan kau mengirimkan secangkir blackcoffee kesukaanku,

Seraya sekali-kali mampir menyapa dan menyentuh perlahan rambutku.

Padahal kutahu biasanya kau orang yang bergerak cepat,

Tapi bersamaku, kau memperlambat langkahmu….

Makasih ya…


Tujuh hari kebersamaan kita menyemai putik-putik cinta di hatiku,

Dan aku yakin kalau kau juga makin sayang padaku,

Tatapanmu itu….hanya untukku padahal begitu banyak yang lain,

Senyumanmu….baru kusadari manis dan tulus …


Lucu banget mendengar perempuan-perempuan itu berteriak

dan berkata…”Pilihlah aku,  aku akan memanjakanmu, aku akan melayanimu….etc”

Tapi tak sekejappun kau lepas pandangan dari diriku sembari tersenyum

seolah tatapan dan senyumanmu itu berkata,

“Tenang sayang, aku hanya menyayangimu”.


Sumpaah, aku merasa nyaman dengan semuanya.

Aku merasa bisa menyayangi dengan utuh,

tanpa dibalur cemburu; tak sibuk merajuk hati

Kita hanya bicara Kita…


Sementara Kau …tau harus bersaing dengan yang lain,

Sikapku-pun bukan sikap yang supportive,

Walau kutahu kau sempat ragu

Tapi  perlahan dan pasti kau mengisi ruang hatiku.


Makasih ya ntuk Rasa ini, kutahu aku tidak perlu menyanyikan lagu

“Bila Rasaku ini Rasamu,” karena Rasaku memang Rasamu.

(A Note from Bandung Trip – End of March 2010)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.