Aku dan Indonesia

Anwari Doel Arnowo, 1 April 2010

Tanggal hari ini tidak ada hubungannya dengan tanggal tulisan ini yang juga bersamaan dengan April Fool Day.

Waktu aku lahir (17 Mei 1938) secara resmi Indonesia belum lahir, karena resminya Indonesia dilahirkan melalui Proklamasi Kemerdekaan yang dibaca pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai sebuah Repoeblik yang merdeka dan berdaulat.

Indonesia itu sebenarnya sudah ada secara mental dan telah dikenalkan kepada umum pada tanggal 1928 oleh Wage Rudolf Soepratman. Berikut ini ada di WIKIPEDIA:  Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kondisi dan situasi pada waktu itu, lihat Sugondo Djojopuspito). Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Waktu saya berumur tiga bulan, beliau ini wafat. Wage Rudolf Soepratman ini meninggal dunia di kota Soerabaia pada usianya yang masih muda belia, 35 tahun (lahir pada 9 Maret 1903 dan meninggal dunia pada 17 Agustus, 1938).

Tujuh tahun setelah Wage Rudolf Soepratman wafat, Repoeblik Indonesia berdiri melalui sebuah perjoeangan yang panjang dibawah opresi pemerintahan penjajah belanda. Ayah saya Doel Arnowo (lahir 1904) sempat dipenjarakan dua kali selama terjun ke dalam gerakan perjoeangan untuk menuju ke kemerdekaan Indonesia.

Salah satu dari “kesalahan” ayah saya adalah karena menerbitkan sebuah Kamoes Politik yang berjudul Kamoes Marhaen. Beliau ditangkap dan diadili oleh pengadilan penjajah belanda, di mana hakimnya, jaksa dan polisinya yang berada di dalam ruang pengadilan adalah teman-teman yang dikenal pribadi oleh ayah saya.

Vonisnya adalah dua setengah tahun lamanya. Mereka ikut Belanda, dan ayah saya adalah pejuang kemerdekaan. Berseberangan cara hidup. Penjara yang dihuni ayah saya di Soerabaia adalah Penjara Kalisosok dan untuk kasus yang lain dipenjara di kota Bandung adalah Penjara Soeka Miskin. Di dalam penjara Soekamiskin inilah ayah saya pernah satu sel dengan Meester Amir Sjarifoeddin dan sempat menjadi teman yang akrab.

Sampai akhir hidup ayah, beliau mempercayai bahwa tidak mungkin Pak Amir Sjarifoeddin ini berhaluan komunis. Beliau adalah Menteri Pertahanan di dalam Kabinet Pertama Pemerintah Repoeblik Indonesia, dihukum mati tanpa pengadilan pada peristiwa Madioen di mana PKI dituduh memberontak dibawah pimpinan Moeso yang kembali pulang dari Russia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan ayah saya menjadi Ketoea KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) untuk wilayah Jawa Timoer dan kemudian menjadi Wakil Gubernur Jawa Timoer. Gubernoernya pada waktu itu adalah R.M.Soerjo bekas Boepati Bojonegoro, beliau wafat dibunuh pada kerusuhan Madioen di desa Mantingan, di mana didirikan patung untuk menghormati jasa-jasa beliau.

Perlu saya berikan keterangan mengapa saya menuliskan belanda menggunakan huruf kecil saja. Hal itu saya lakukan semata-mata sebagai protes pribadi saya, oleh karena sampai dengan tulisan ini saya selesaikan, pihak pemerintah belanda belum mengakui kemerdekaan Repoeblik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selain menulis belanda dengan huruf b kecil, saya sudah berjanji tidak akan mau menginjakkan kaki saya di tanah negeri penjajah belanda, sampai pengakuan Proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, diumumkan secara resmi dan internasional, disertai dengan permintaan maaf kepada seluruh bangsa Indonesia.

Seperti diketahui, belanda dengan organisasinya yang bernama NICA (Nederlandsche Indische Civil Administratie) setelah pihak Militer Jepang menyerah kepada Militer Sekutu (America, Inggris dan sekutu-sekutunya termasuk belanda), Belanda merasa kembali ke Hindia belanda yang telah dijajahnya selama lebih dari tiga setengah abad.

Jalan pikiran belanda adalah, bahwa daerah kekuasaan Hindia belanda itu masih utuh dan intact milik Belanda. Meskipun Sekutu telah meninggalkan Indonesia tetapi belanda tetap ingin bercokol dan memerintah daerah yang dikenalnya dulu sebagai Hindia belanda meskipun telah diproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sejak saat ini mestinya sudah berlaku semboyan revolusi kita yang terpampang di mana-mana: Never Again Repoeblik Indonesia Will Be The Life Blood Of Any Other Nation. Tetapi belanda telah meng-agresi negara kita secara semena-mena, tanpa perikemanusiaan.

Berkat kelihaian dan keterampilan para pemoeda pejoeang yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta, mereka berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Begitulah Pemerintah Repoeblik Indonesia berdiri dan mengumumkan Undang-Undang Dasarnya hanya dalam tempo satu hari saja, yakni pada tanggal 18 Agustus, 1945. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia telah memulai mengisi kemerdekaan ini dengan sebuah peperangan melawan agresi belanda yang kekuatan militernya jauh lebih besar dan hebat, tanpa banding.

Kami Poetera dan Poeteri Indonesia menyebut belanda melakukan agresi, sedang Nica (sampai dengan hari ini, pemerintah belanda juga) mengatakan bahwa itu adalah aksi polisionil dalam upayanya memberantas para bandit dan teroris. Yang disebut bandit adalah Bung Karno dan Bung Hatta berikut tokoh-tokoh lain bangsa Indonesia, serta para teroris adalah rakyat pejoeang gerilya dan tentara kita.

Protes pribadi itu, saya wujudkan dengan keikut sertaan pada waktu umur saya sudah mencapai 70 tahun, dalam sebuah demonstrasi ke Kedutaan Kerajaan belanda di Jalan Rasuna Said, Jakarta bersama-sama puluhan para pendukung KUKB (Komisi Utang Kehormatan belanda).

Waktu itu juga ikut serta para korban yang masih hidup (survived victims) sebagai akibat penembakan semena-mena tentara belanda di desa Rawagedeh, tidak jauh dari Jakarta. dan membunuh semua laki-laki dan beberapa anak-anak laki-laki sebanyak lebih dari 400 orang.

Orang-orang Indonesia yang ikut belanda disebut dengan sebutan populer: Kaum CO (cooperative) dan yang setia kepada Repoeblik disebut: Kaum NON (non cooperative). Kaum Co ini demikian memujanya kepada belanda, melupakan penderitaan nenek moyang kita dan pengorbanannya.

Kaum Co itu tidak pernah mau menyadari bahwa kebesaran Indonesia itu sudah ada sejak dahulu kala dan belanda itu tetap kecil sampai hari ini. Lihat data di bawah ini yang saya kutip dari CIA The World Factbook yang memunculkan data tahun 2009 sebagai berikut:

Belanda: 41,543  Kilometer persegi

Land: 33,893 sq km  water: 7,650 sq km

Population: 16,715,999 (July 2009 est.)

Country comparison to the world: 59


Indonesia:  1,904,569  Kilometer persegi

Land: 1,811,569 sq km  water: 93,000 sq km

Population: 240,271,522 (July 2009 est.)

Country comparison to the world: 4

Panjang Pantai (Coastline) Belanda : 451 Kilometer dibanding Indonesia : 54,716 km. Panjang Ekuator :  40,075,016.686 kilo meter. Panjang Pantai Indonesia dibandingkan dengan panjang khatulistiwa (equator) lebih panjang sepanjang 14,641 (empat belas ribu enam ratus empat puluh satu) Kilometer.

Pantai Indonesia ini terbuka sepanjang hari, selama seminggu dan sepanjang bulan serta sepanjang tahun, untuk menunjang penghidupan ekonomi manusia Indonesia.

Ingat bahwa tidak semua negara mempunyai fasilitas seperti ini, Kanada mungkin hanya tiga empat bulan saja pantainya yang lebih dari 202.000 Kilometer itu bisa dikunjungi kapal, di luar itu hampir selalu tertutup oleh salju dan es. Meskipun demikian besarnya perbedaan panjang pantai Kanada dengan Indonesia ternyata total panjang pantai Indonesia itu nomor dua setelah Kanada seperti dalam daftar yang ada, dengan catatan panjang pantai negara Cile yang masih belum jelas.

Apa sebab saya kemukakan data-data di atas??

Itu semua akan membantu mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah hebat dan lapangan kerja masih mungkin sekali diciptakan dan dikerjakan di daerah lautan yang luas ini. Perlu anda ketahui bahwa hak-hak bangsa Indonesia ini telah diakui secara Internasional sebagai penguasanya dan pengelola lautan yang berada di dalam dan yang berada di sekelilingnya.

Harapan saya dan ambisi pribadi saya pada saatnya nanti lautan akan menjadi sumber kehidupan rakyat banyak.

Dalam kurun waktu setahun terakhir ini saja bertemu dengan orang-orang Indonesia yang masih lebih mengagungkan belanda daripada Tanah Airnya sendiri. Saya mengetahui bahwa itu adalah hak dia bersikap seperti itu, saya hanya amat merasakan terheran-heran tidak habis-habisnya.

Saya juga menyadari bahwa dendam itu tidak baik dan menggerogoti jiwa raga, akan tetapi bagi saya Indonesia sudah sepatutnya bangun dengan kekayaan alam dan sumber daya yang luar biasa besarnya. Sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya sungguh amat besar.

Sumberdaya alamnya berkualitas tinggi karena bisa digunakan utuk membantu negara lain, seperti nyata terlihat saat ini, menjadi hidup berkualitas dan berkelanjutan. Sayangnya sumberdaya manusianya sedang porak peranda saat ini, karena kita telah sengaja atau tidak sengaja kehilangan identitas dan penurunan tingkat moral; jelas kita tidak boleh abai.

Kualitas kepandaiannya tidak kalah dengan manusia dari bangsa lain, akan tetapi kualitas moralnya masih banyak yang sangat rendah. Yang berkualitas rendah biasa saja, sudah meluas kearah para penyelenggara Negara.

Ini memalukan, akan tetapi tidak perlulah kita menyembunyikannya sebagai fakta dan data. Itu semua adalah fakta dan harus kita benahi. Mari kita hadapi dan cepat meggunakan akal kita masing-masing agar kita bisa lebih baik dari keadaan terpuruk saat ini.

Hiduplah lebih sederhana dan jangan terlalu mengerjakan yang muluk-muluk yang di luar jangkauan. Kekuatan kita adalah sumber daya yang akan menyelamatkan diri kita sendiri, bukan orang lain.

Tidak mungkin keadaan yang memilukan ini akan berlangsung secara terus menerus dan saya percaya semua hal di dunia ini ada akhirnya. Jaman karut marut inipun suatu saat akan berakhir dan Indonesia akan jaya. Mungkin sekali saya tidak akan mengalami hal itu secara fisik, karena saya mungkin sudah tiada dari Planet Bumi.


Picture : goalku.wp, arsipjatim.go.id

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.