Nama Roppongi identik dengan ratusan night clubs dan bar. Selama lebih dari tiga puluh tahun, Roppongi memang menjadi satu distrik di kota Tokyo yang terkenal sebagai pusatnya para ekspatriat berkumpul.

Roppongi Art Night 2010 / JH
Namun citra itu berubah sejak kehadiran Mori Museum of Art yang berlokasi di gedung Roppongi Hills pada tahun 2003. Selain itu, hadir pula The National Art of Centre, The Suntory Museum of Art, dan 21 Design Sight, yang terletak di Tokyo Midtown, pada tahun 2007. Hadirnya berbagai museum seni tersebut mengubah wajah Roppongi. Kini, Roppongi berwajah artistik.

The Famous Giant Spider / JH
Semangat artistik tersebut juga semakin nyata dengan diselenggarakannya Roppongi Art Night pada 27-28 Maret 2010. Para pemilik gedung di seputaran Roppongi berkerjasama dengan Tokyo Metropolitan Government menyelenggarakan pameran seni selama satu malam saja, dengan menggelar puluhan karya instalasi di seputar area Roppongi.
Karya instalasi para seniman Jepang dan mancanegara itu diletakkan di luar gedung, menyatu dengan berbagai karya seni yang sudah ada selama ini, seperti “The Giant Spider” yang terkenal, dan karya lainnya di museum seni.
Roppongi Art Night 2010 ini adalah kali kedua diadakan di Roppongi, setelah pameran pertama cukup meraih sukses dengan dipadatinya Roppongi oleh pecinta seni.
Bila anda pecinta seni, tentu tidak akan melewatkan berbagai seni instalasi yang dipajang di seputaran Roppongi. Satu karya yang paling menonjol adalah milik artis Noboru Tsubaki yang berjudul “Before Flower”. Karya seni tersebut berbentuk UFO raksasa yang terinspirasi dari kisah fiksi tanaman gymnosperma yang memakan kehidupan di bumi.
Karya setinggi 13 meter ini terpasang di Roppongi Hills Arena dan menjadi pusat dari keramaian pada malam seni.
Selain itu, ada lagi yang menarik yaitu karya Jeong Hwa Choi yang berjudul “Lotus”. Karya ini dipasang di kolam, berbentuk bunga lotus raksasa yang mekar dan kuncup dengan digerakkan oleh robot. Ada lagi penampilan dari balloon man dari Perancis di Tokyo Midtown, yang disebut dengan “Reve d’Herbert”.
Selain berbagai karya instalasi tersebut, untuk menyambut malam seni, Musem Seni Mori secara khusus buka sepanjang malam, hingga pukul 6 pagi. Kalau kita kedinginan di luar, bisa menghangatkan badan sambil melihat berbagai karya seni yang ada di dalam Museum Seni Mori.
Roppongi Art Night memang telah mengubah wajah Roppongi. Menyaksikan berbagai karya di pameran ini tentu sungguh menyenangkan.
Demikian laporan dari pameran seni Roppongi 2010. Salam.

Ooki Cake di Tokyo Midtown / photo Tejima san

Before Flower / photo JH

The Ballad of Backyard / photo JH

Canebread by Takehito / photo JH

Photos / JH

… F**K / by JH

Yotta Groove / by JH

Lotus / by JH

Lemari kebalik / by JH

Sony Crystal Ball / by Jh
April 7th, 2010 at 17:52
Nev: itu yang pengen aku tau, kenapa, kenapa, kenapa???
April 7th, 2010 at 06:45
pak jun, sayang foto interiornya kurang ya… dr luar sih mobilnya cucok dijadiin “klangenan” tuh… thanks ya…
wah, terkait deflasi…gimana caranya ya itu bisa terus terjadi? lha klo di indonesia kan walaupun tercatat deflasi (BPS) tetap aja harga di pasaran masih sama…. (trus deflasi sebulan…yg 11 bulan berikutnya tercatat inflasi…waaaaa)
April 7th, 2010 at 05:57
Wah…ternyata hal ini yang tidak pernah terjadi di Indonesia ya…untuk bahan makan aja selalu naik harganya, sedang pengalaman saya tinggal di Jepang, untuk harga2 kebutuhan pokok, seperti minyak goreng atau susu misalnya, ngga pernah ada perubahan harga…atau bahkan turun harga seperti yang pak Jun ceritakan.
Sangat menarik sekali nih tentang harga turun di Jepang, terima kasih pak Jun atas penjelasannya, atau next time..kirim artikel pak Jun tentang ekonomi Jepang saat ini.
April 7th, 2010 at 05:47
@ Mbak Dewi, itu faktor deflasi yang terjadi di Jepang selama 10 tahun terakhir ini. Deflasi adalah turunnya harga barang-barang. Nah, di Jepang, hal itu terjadi dan mengakibatkan ekonomi lesu. Harga makanan, pakaian, turun. Laporan dari Menteri Infrastruktur pekan lalu menyebutkan, harga tanah di Jepang juga ikut turun, baik di Tokyo, Osaka, maupun Nagoya. Termasuk di Ginza
… Salam…
April 7th, 2010 at 05:01
Pak Jun, lho kok bisa ada harga tanah turun ya? gila…di Indonesia setauku ngga ada harga tanah yang turun. Itu faktor apa ya pak Jun kira-kira? Jadi pengen tau nih pak….!!!
April 7th, 2010 at 04:56
@ Terima kasih atas komentarnya ya …
@ Mbak Dewi, waah bisa sama niy temanya ya soal roppongi. Tapi soal tanah, harga tanah di jepang mulai turun loh. Ginza udah turun 25% malah harganya. Jadi udah bukan tempat paling mahal sedunia lagi di Jepang
@ Mbak Sophie, ayuk kapan main ke Roppongi. Nanti gantian ke beijing ya saya …..
@ Mas JC, .. iya betul mas. Tapi mudah2an aja ke depan kita bisa mulai bergeser pada peradaban seni yang lebih baik …
@ Nev, ini mobil Toyota gitu kayaknya deh … tapi dalamnya udah dirombak nyeni banget, isinya lampu neon nyala2 gitu hehehe….
@ elnino, canebread itu memang proyektor yang disorot ke dinding seluruh ruangan … menarik juga. Yotta groove kayaknya emang bercerita tentang mobil retro …
@ Mbak Nadette, ayuuk kapan kapan ketemuan kita, makan udon atau sushi bareng menarik juga kan… masa sama sama di Tokyo gak pernah ketemu yaa
April 6th, 2010 at 10:58
wajah Roppongi yang semakin semarak.
Tidak hanya kunang2 di malam hari, dan kupu2 di siang hari.
April 6th, 2010 at 08:13
lemari terbalik aja bisa dijadiin art… kreatip deh