Josh Chen – Global Citizen
Seputar Ceng Beng
Ceng Beng dalam dialek Hokkian, atau Qing Ming (baca: Jing Ming, 清明) merupakan salah satu perayaan yang paling penting dalam serangkaian perayaan atau festival dalam setahun penanggalan China. Ada 3 perayaan terpenting dalam satu tahun penanggalan yang dihitung menurut peredaran bulan ini, pertama tentu saja Tahun Baru China, atau yang lebih dikenal dan salah kaprah dengan Tahun Baru Imlek, kedua adalah Ceng Beng ini, dan ketiga adalah Chit Gwe Pua. Sebutan salah kaprah Imlek, karena Imlek sendiri adalah dialek Hokkian untuk Yinli, alias Lunar Calendar.
Kata QING (清) dan kata MING (明) yang ditulis berdampingan dipercaya merupakan yang melambangkan terang dan bersih. Qing berarti bersih, resik, sementara Ming berarti terang. Kalau keduanya digabung akan berarti bersih dan terang, kalau dalam bahasa Jawa bisa disebut “padang njingglang”, terang benderang.
Perayaan ini konon berasal dari jaman awal berdirinya dinasti Ming, yang didirikan oleh seorang yang bernama Zhu Yuan Zhang dalam dialek Hokkian disebut Chu Goan Chiang. Zhu merupakan seorang anak petani miskin, yang saking miskinnya, orang tuanya tidak sanggup merawat, dan menitipkan ke sebuah biara.
Zhu kecil kemudian tumbuh menjadi seorang yang gagah tinggi besar, yang prihatin dengan penjajahan Mongol ketika itu. Akhirnya Zhu menanggalkan jubah biarawan, mengangkat senjata, menghimpun kekuatan, dan bertempur melawan penjajah, akhirnya Dinasti Goan (Mongol) tumbang, dan lahirlah dinasti baru yaitu Dinasti Ming.
Zhu kemudian diangkat menjadi kaisar pertama. Setelah menjadi kaisar, Zhu berusaha mencari pusara kedua orang tuanya, diperintahkanlah seluruh negeri kebetulan hari itu tanggal 5 April, untuk membersihkan dan berziarah ke makam leluhur atau orang tua rakyat seluruh penjuru negeri.
Pada akhirnya, hanya ada sepasang pusara yang letaknya berdampingan, tanpa seorangpun yang menyentuh. Kaisar Zhu percaya dan yakin bahwa itulah makam kedua orang tuanya. Semenjak itu tanggal 5 April ditetapkan sebagai hari Ziarah Makam Leluhur atau orang tua.
Ceng Beng sendiri merupakan salah satu perayaan dalam penanggalan China yang dirayakan sesuai dengan penanggalan Masehi, yaitu biasanya jatuh di 5 April, hanya di tiap tahun kabisat, jatuhnya pada 4 April. Walaupun demikian, pakem perayaan Ceng Beng ini biasanya diperkenankan sekitar 1-2 minggu sebelum dan sesudah 4 atau 5 April.
Nama resmi dalam bahasa Inggris disebut dengan Tomb Sweeping Day yang tepat sekali menggambarkan aktifitas pada hari itu, yang membersihkan pemakaman, mempersembahkan sesembahan (makanan, buah) dan mengirimkan uang, pakaian, dsb untuk para mendiang (leluhur atau orang tua). Nama lainnya: All Souls Day, Clear Brightness Festival, Festival for Tending Graves, Grave Sweeping Day, Chinese Memorial Day, Spring Remembrance.
Tradisi ini banyak sekali kemiripan dengan berbagai kebudayaan di dunia, di Jawa dikenal dengan tradisi Nyadran setiap bulan Ruwah, kemudian untuk umat Muslim, yang melakukan Nyekar menjelang Ramadhan. Ada juga di Jerman yang disebut dengan Totensonntag (Minggu Orang Mati), yang dirayakan setiap hari Minggu terakhir sebelum Minggu Advent pertama.
Tradisi Totensonntag sendiri bukan merupakan bagian dari perayaan Katholik atau Protestan, tapi sudah menjadi silang budaya antara kearifan lokal dengan agama. Perayaan ini merupakan amanat dari Raja Friedrich Wilhelm III pada tahun 1816. Demikian juga dalam agama Katholik dikenal dengan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman pada tanggal 2 November. Kebetulan juga tanggal 5 April merupakan hari libur nasional di Taiwan untuk memperingati hari berpulangnya Chiang Kai Shek.
Tanjung Kait Tangerang
Long weekend yang baru lewat kebetulan bertepatan dengan Ceng Beng. Menurut adat, sembahyangan atau upacara untuk Ceng Beng boleh dilaksanakan sekitar seminggu sebelum dan sesudah tanggal 5 April. Hari Jumat Agung yang jatuh tanggal 2 April sungguh pas untuk kami melaksanakan upacara sederhana Ceng Beng ini.
Rencana sudah dibicarakan antara saya dan istri beserta kakak yang memang tinggal berdekatan dengan kami. Diputuskan untuk mengirim bunga dan sembahyang sederhana di pesisir sekitar Tangerang saja. Setelah tanya sana dan sini, ada 2 tempat yang kelihatannya layak dikunjungi, yaitu Tanjung Kait dan Tanjung Pasir.
Karena asing sama sekali, aku berusaha mencari informasi dari internet bagaimana menuju ke 2 tempat itu. Setelah dipelajari lebih jauh dan tanya sana sini lagi, Tanjung Kait diputuskan menjadi tujuan kami. Tanjung Pasir memang lebih dekat dari rumah, jalanan konon lebih mulus namun tempatnya kurang bagus dibanding dengan Tanjung Kait.
Jumat pagi bangun santai, tidak terburu waktu. Malah sempat mencuci mobil dulu, ritual jalan pagi dengan Blacky (haha…) barulah kami berangkat. Sarapan Soto Kudus lebih dulu di Jl. Raya Serpong dan mampir di Pasar Lama Tangerang membeli bunga sebelum meluncur ke Tanjung Kait.
Berbekal print out peta dari Google Maps, mobil aku arahkan ke Mauk Tangerang. Melintasi kota Tangerang yang lumayan semrawut angkotnya dan jalanan yang tidak terlalu mulus sudah menyambut di awal perjalanan pagi itu.
Ternyata jarak ke Tanjung Kait memang tak seberapa. Tepat 44.5km point-to-point Serpong – Tanjung Kait. Tapi cukup “menyiksa” juga jalanan menuju ke sana karena rusak cukup parah, untungnya tidak hujan atau habis hujan. Jarak segitu ditempuh dalam waktu sekitar 90 menit sampai 2 jam, tergantung kecepatan dan jenis mobil. Kalau sedan hampir bisa dipastikan mendekati 2 jam atau bahkan lebih, karena kondisi jalan yang not-sedan-friendly, dibanding dengan katakanlah Toyota Fortuner, yang aku cukup yakin kurang dari 90 menit.
Di tengah perjalanan tiba-tiba nampak segerombolan bebek sedang asik bercengkerama di tengah persawahan yang baru habis dipanen. Langsung mobil aku hentikan di pinggir jalan, dan jepret-jepret sekadarnya para bebek itu.





Singkat cerita kami sampai di Tanjung Kait. Setelah parkir, kami mencari info bagaimana ke tengah laut untuk menabur bunga. Kebetulan berpapasan dengan tukang perahu yang sedang berjalan di jembatan bambu yang sama. Tak menunggu lama aku negosiasi harga untuk naik perahu menuju ke tengah laut. Ternyata sungguh murah, Rp. 50.000! Kami berlima segera menaiki perahu dan 2 tukang perahu tsb mulai menjalankan mesinnya.
Pemandangan laut yang indah menyambut kami. Pemandangan pesisir yang apik sungguh enak dipandang dari tengah laut. Alam yang masih sederhana, tidak tercemari bangunan modern, hotel berbintang dan fasilitas turisme modern masih belum kelihatan. Hanya bangunan sederhana dari bambu yang mereka sebut dengan saung, dan jembatan-jembatan bambu yang menjorok ke tengah laut untuk memancing dan juga beberapa “gubuk” beratap rumbia (apa sebutannya ya?) di tengah laut untuk para pemancing ikan.





Di tengah laut, aku minta tukang perahu berhenti sebentar, kami berdoa untuk mendiang Papa, Mama dan adik yang sudah mendahului kami, kemudian bunga kami taburkan ke laut sambil perahu berputar satu putaran. Kami berbalik menuju ke tempat di mana kami berangkat tadi.
Setelah sampai ke daratan lagi, kami berjalan-jalan sejenak. Di sana sini kelihatan penjual otak-otak dan seluruh warung di situ menjual menu yang sama, sea food! Berbagai jenis ikan segar tangkapan para nelayan setempat, cumi-cumi bahkan kepiting juga ada.
Hari belum begitu siang, jam makan siang belum tiba, namun untuk menuntaskan rasa penasaran akan rasa sajian setempat, kami mencari saung yang enak untuk nongkrong melihat laut. Kami hanya pesan otak-otak dan ikan bakar. Walaupun belum waktunya makan siang, tapi begitu ikan bakar dan otak-otak tersaji, belum sempat dijepret sudah diserbu oleh kedua bocah kami.
Sajian sederhana, hanya nasi hangat, otak-otak dan ikan bakar beserta lalap (ketimun, bawang merah mentah dirajang), sungguh luar biasa nikmat. Sepoi angin laut, bau laut yang masih alami, udara terbuka yang segar menjadikan sajian sederhana itu tambah nikmat.
Setelah perut terganjal, kami meninggalkan tempat dengan membayar hanya kurang dari Rp. 100.000 untuk nasi, 2 kelapa muda, ikan bakar ukuran besar 1 ekor, otak-otak 30 biji, tepatnya hanya Rp. 68.000!! Luar biasa murah!!
Kelenteng Tjoe Soe Kong Tanjung Kait
Dari tepi pantai, hanya sepelangkahan dari situ, terdapat kelenteng yang cukup terkenal. Kami sempat berhenti sebentar untuk melihat-lihat. Kebetulan ada 1 rombongan dengan bus besar dari Jakarta juga baru tiba. Para pengunjung tsb memang khusus datang ke Kelenteng Tanjung Kait untuk bersembahyang.
Lebih dari dua abad berdiri, lolos dari terjangan tsunami pasca letusan Krakatau 1883, itulah riwayat Kelenteng Tanjung Kait atau Kelenteng Qing Shui Zhu Shi (Tjoe Soe Kong dalam dialek Hokkian) di ujung utara Tangerang. Ketua Yayasan Tjoe Soe Kong, Lim Kin Siang (67), mengatakan, berapa persisnya usia Kelenteng Tjoe Soe Kong tidak diketahui pasti.
“Yang jelas, tahun 1792 Andries Teisseire, seorang pelaut Barat, mencatat adanya kelenteng ini. Kelenteng ini memiliki dewa tuan rumah, yakni Kongco Tjoe Soe Kong, seorang tabib yang hidup di zaman Dinasti Song. Beliau berasal dari Cuanciu di Provinsi Hokkian. Beliau kerap menolong orang tanpa meminta imbalan. Sewaktu beliau wafat, orang pun menghormati dengan memujanya untuk mengingat jasa-jasanya bagi manusia,” kata Lim Kin Siang.
Tjoe Soe Kong yang terlahir sebagai Tan Ciu Eng, lanjutnya, meninggal pada masa Kaisar Wi Cong pada Dinasti Song. Penghormatan terhadap Tjoe Soe Kong dirintis oleh para petani tebu Tionghoa yang kemudian bermukim di Mauk, Tangerang.
“Zaman kakek saya kuil ini masih berupa gubuk sederhana. Sudah ada pemujaan terhadap Empe Dato dan Dewi Neng,” kata Tan Kian Hok (69). Kelenteng Tjoe Soe Kong sejak itu menjadi awal pusat komunitas masyarakat Tionghoa di Mauk.
Ketika Gunung Krakatau meletus, banyak warga yang mengungsi di sekitar kelenteng. Mereka, lanjut Kin Siang, lolos dari maut. “Kisah kelenteng yang luput dari tsunami Krakatau diabadikan dalam lagu Gambang Kramat Karam yang masih dimainkan oleh kelompok gambang keromong hingga sekarang,” kata Kin Siang.
Kelenteng itu memiliki keunikan karena adanya tempat keramat yang menjadi tempat pemujaan terhadap tokoh lokal, seperti Dewi Neng. Warga Betawi dan Sunda pun kerap berziarah ke tempat itu.
Peneliti Perancis Clauine Salmon dan Denis Lombard dalam buku Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta mencatat, sosok dewa-dewi lokal seperti Dewi Neng menjadi bagian penting dalam situs kelenteng di Jakarta dan sekitarnya.
Cecep Ho (40), seorang umat, mengaku banyak orang dari pelbagai latar belakang kerap mencari berkah di kelenteng itu. Kelenteng Tjoe Soe Kong merupakan bagian dari bangunan ibadah Tri Dharma (Sam Kauw), yakni Buddhisme, Taoisme, dan Khonghucu yang tergolong relatif asli di tengah modernisasi Jakarta.
Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan, Kelenteng Tjoe Soe Kong harus dilestarikan sebagai bangunan cagar budaya. “Ini merupakan kekayaan wisata Provinsi Banten. Banten terkenal agamais, tetapi menjaga pluralitas,” kata Atut. (ONG)
(http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/29305)
Pages: [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 … 1 »
Pages: [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 … 1 »
April 13th, 2010 at 14:37
Wkwkwkwk… happy ghost itu film hantu jadul yang dulu diputer tiap sabtu jam 10 di rcti ya? Hahaha
April 13th, 2010 at 14:30
JC, kalo yang keluar kayak di Happy Ghost, bisa-bisa itu kuburan jadi tempat wisata, hahaha
April 13th, 2010 at 14:22
Linda, kalo peti matinya mecungul aku gak liat sih, tapi kok malah ingat film Happy Ghost ya…
April 13th, 2010 at 14:00
JC, masih mending kelihatan bong-nya. sampe peti matinya ada yang mencungul, kan, syerem. hehehe