Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Sekali Lagi Tentang Ngoyo

Wednesday, 7 April 2010

Viewed 4434 times, 1 times today | 87 Comments |

Anoew – Sumsel

Gara-gara artikelnya Vicky Laurentina (haaaaiii…. Salam kenal yaaa ihik..) yang menyelipkan tentang kata ‘ngoyo’ dan malah ditambahi JC kosa kata dari ngoyo menjadi mengoyokan diri, mengoyo, terkoyo-koyo dan sekoyo-koyo, saya jadi gatel pengen ngutak-ngatik huruf ‘a’ yang bisa berubah menjadi ‘o’ atau sebaliknya dalam beberapa pengucapan. Memang saya juga bingung antara mana yang benar atau dibenarkan, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan dan terlanjur salah tapi tetap dipakai karena dianggap ‘sesuai selera’ sehingga menjadi wajar adanya.

Seperti contoh diatas, kalau mau jujur dan mengikuti kaidah bahasa jawa seharusnya ngoyo dibaca seperti kita membaca ‘loro’ yang artinya = dua (2) dan bukan ‘lara’ yang artinya = sakit. Justru sebaliknya jika ingin mengucapkan ‘ngoyo’ seharusnya ditulis ‘ngaya’. Kenapa? Karena penulisannya memakai huruf ‘o’ dan bukan huruf ‘a’, maka harus diucapkan seperti kita mengucapkan angka dua dalam bahasa jawa (loro) dan bukan sebaliknya.

Tapi yang membingungkan, ada dua kata serangkai yang kedua penulisan dan pengucapannya sungguh berbeda, dimana yang satu memakai huruf ‘o’ tapi yang satunya dengan huruf ‘a’! Contoh paling jelas dalam penggunaan adalah dalam pengucapan lagu yang berjudul “Bojo Loro” karya Didi Kempot.

Kroso Sepet Empinge Mlinjo

Sirah Mumet diek duwe bojo loro

Mikir sing enom

Mikir sing tuwo

Ro’ karone podo olehe tresno

Cekut-cekut mumet tumenan

Ati bingung diek olehe mbagi katresnan

Butuhe akeh duwit pas-pasan

Tanggal Enom wis kebingungan

Mrono-mrene sak bendino

Iki mrene sesuke mrono

Bojo Enom mung sedelo

Bojo tuwo Nggondeli Clono

Lebih jelasnya lagi dalam penulisan adalah:

bojo loro = istri dua

Bojo lara = istri sakit

Bojo tuwo = istri tua

Lihat, sangat jauh berbeda kan?! Dalam lafal Jawa, huruf dan tulisan ‘a’ seharusnya dibaca ‘a’ seperti contoh di atas. Begitu juga huruf ‘o’ akan dibaca ‘bulat’ seperti pada kata-kata ‘bakso solo’, bukan seperti ‘sala’ seperti kata ‘lara ati’ (sakit hati). Atau memang sudah menjadi kebiasaan orang Jawa dalam melafalkan ‘a’ menjadi ‘o’ dan juga sebaliknya ‘a’ menjadi ‘o’ seperti dalam kata-kata ‘nggodog’ (memasak air) atau sega (nasi)??

Sedikit Kuis untuk Baltyrans, mana yang benar dan mana yang dibenarkan karena kebiasaan:

Buta dibaca Buto (raksasa)
Kutha dibaca Kutha (kota)

Sedelo dibaca sedela (sebentar)

Atau,

Sumonggo dibaca Sumonggo (halo pak.. hehehe..)

Kelara-lara dibaca keloro-loro (tersakiti)

Bata Lima dibaca Boto Limo (batu bata berjumlah lima)

Kembali ke masalah ngoyo perngoyoan. Memang, akan menjadi aneh bila kata ‘ngoyo’ dituliskan sebagai ‘ngaya’, yang maksud dan tujuannya sama yaitu berusaha keras dan cenderung melampaui batas.

Pusing?

Hehehe…. Sama!

Dear Baltyrans,

Penulisan kata-kata seperti itu sering membingunkan saya ketika dulu, sewaktu SD diajarkan tentang HANACARAKA DATASAWALA PADAJAYANYA MANGGABATANGA, yaitu huruf Jawa yang mendasari penulisan dan pengucapan sehari-hari. Tapi, kok ada juga yang mengatakan bahwa pengucapan yang benar adalah HONOCOROKO DOTOSOWOLO PODOJOYONYO MONGGOBOTONGO, mesikipun penulisannya semua memakai huruf ‘a’?

Apakah bisa dipergunakan sesuai selera kita, sesuai dengan pengucapan bahasa jawa yang rata-rata memakai ‘o’ dan bukan huruf ‘a’? Malah ada yang bilang bahwa, pengucapan dengan huruf ‘a’ adalah biasa dalam bahasa Sunda, seperti dalam bahasa Indonesia yang dibaca apa adanya dan nggak ada perubahan suara?

Makin pusing??

Sama!!

Tapi ada kejadian tragis juga gara-gara huruf ‘a’ yang berubah menjadi ‘o’ ini, dan telah memakan korban tak berdosa di dunia kerja. Nggak percaya? Coba simak setelah yang berikut ini..

*Red, tolong selipin iklan dong… kalau bisa tentang dunia koyo perkoyoan, atau youtube Bill Gates / George Bush yang lagi ngomong jawa juga boleh*

Seorang calon pegawai baru ketika dinyatakan lolos tes wawancara diam saja ketika namanya dipanggil berulang kali, sehingga yang bersangkutan dinyatakan gugur. Merasa kurang puas, si calon pegawai tadi memberanikan diri menemui petugas yang mewanwancarinya tadi dan bertanya,

“maaf pak, nama saya kok belum dipanggil? Apakah memang saya tidak dinyatakan lulus?”

“Nama Saudara siapa?”, selidik petugas sambil membolak-balik berkas di mejanya.

“Cokro Birowo”

“Nama Anda sudah saya panggil berulang kali, tapi tidak ada respon”

“Lho?! Kapan, pak?”, dia terkejut.

“Tadi saya panggil Saudara Cakra Birawa berulang kali tapi tidak ada respon, maka saya nyatakan yang bersangkutan gugur.”

Wah! Kalau memang kejadian itu terjadi di dunia nyata, konyol juga kan? Bagaimana jika nama “Mawar” dipanggil “Mowor”, sesuai dengan aturan di atas? Atau kalau dibalik, Joko Paisan (hehehe…, ampuuuun Pakdhe, ampun duka nggih.. ~~> tranlet = maaf pakdhe, jangan marah yaaa..) dibaca Jaka Poison?

Masih Pusing??

Sama!!!

Untungnya, nama saya bukan Jaka Sentosa atau Agung Laksono yang kalau menurut kaidah othak-athik Jowo bisa saja diplesetkan menjadi Joko Sentoso atau malah Ogong Loksono…

Wislah… mendingan kita kembali kerja aja tapi jangan ngoyo yooooo….. Karena saya nulis ini juga nggak sampai ngoyoooooo, apalagi terkoyo-koyoooooo….

Salam ngeyel.

Sophie’s note :

Bang Anoew, memang ngeyel ja…itu menurut Bang Wiki, ngoyo adalah sebuah kerajaan di Cabinda, Republic of  Congo and Angola. Bentar lagi diserbu sama Raja Ngoyo, diangkat jadi mantu, ojo ngoyo Bang, kalau wis jadi menantu’e Raja..

http://en.wikipedia.org/wiki/Ngoyo

Picture : diviarsa.wp

Share This Post

Posted by Wednesday, 7 April 2010 on 00:03.

Categories: Budaya. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

87 Responses to “Sekali Lagi Tentang Ngoyo”

Pages: « 9 8 7 6 5 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    anoew Says:

    @Nev: heheheh… bukan ngoyo ah kalau memperhatikan jempole simbah, lha wong keliatan gitu kok.. Malu dong kalau diliat Rosa..

    Ssssst…, kalau ditelusuri logat ‘ngapak’ ini (seperti dialeknya Parto, Cici dsb) sebenarnya banyak dan (maaf) lucu didengar orang di luar daerahnya. Tapi yaaaaaaaah…, wajar aja kan. Sama dengan saya sendiri kalau di sumsel sini ngomong bahasa melayu pakai logat jawa medok, pasti diketawain sama mereka.

    Bagaimanapun, logat ‘ngapak’ adalah salah satu kekayaan bangsa ini. Jangan sampai nanti di-claim jadi milik bangsa lain.

    PS: saya malah nggak ngitung ada berapa kata ‘ngoyo’ berikut turunannya di artikel ini. Nah, sampeyan malah tau kalau jumlahnya 16? Berarti…., yang ngoyo siapa hayooooo…..!!

  2. 29
    elnino Says:

    ..endhog bebek ora diemek-emek mlethek dewek…

  3. 28
    ilhampst Says:

    Kalo di pwt sih salah satu pengalaman paling lucu yang saya ingat waktu ada imam yang baca surah al fatihah dengan dialek ngapak, alhamdulillah jadi ngalhamdulillah. Saya bingung, solatnya sah gak ya hehehe..
    No offense ya, cuma sharing

    Kalo yang lain mesti diinget2 dulu, udah 3 tahun gak ke pwt lagi.
    Anoew : mbayangkan orang banyumas ngomong bapake numpak sogun ra mudun-mudun dengan logat ngapak yang kental jadi ketawa sendiri hehe
    Nia : kalo gak salah sih bedanya di monyongnya bibir, kalo lara lebih lebar, kalo loro lebih monyong *native speaker bahasa jawa cmiiw ya*

  4. 27
    nevergiveupyo Says:

    kang anoew… klo saya paling berkesan dgn kalimat teman syaa yang ini (mohon maaf, ini bukan bermaksud melecehkan lho)

    ” inyong lagi nembe ngombe teh botol sak gendul ” (saya baru saja minum teh botol satu botol)

  5. 26
    nevergiveupyo Says:

    nia : saya juga bukan native mbanyumasan. ada teman saya orang banjarnegara… ternyata tidak semua diakhiri “k” lho (ada juga kan baltyrans asal tegal??)
    contohnya kata sira = kamu. di daerah jawa jadinya siro (bukan shiro-nya shincan)

    ilhampst kan lama di puertorico..hayoo sharing…

  6. 25
    anoew Says:

    @JC: wahahahah….. ngono yo? tetap ngoko tapi bisik-bisik lirih, biar terdengar halus? wakakaka… nggih mbaaah Jash… hihih….

    @Nia: iya bener, kalau jawa tengah ‘kesana’ dikit memang beda, termasuk banyumasan itu mungkin udah tercampur jawa timuran ludruk. (mungkin lho ya?!). Masalah loro dan lara ya memang beda pengucapan dan artinya.

    ngomongin logat banyumasan jadi inget temen yg suka bilang gini, ‘bapake numpak sogun ra mudun-mudun..’ dengan logat yg ‘keras / ngapak’, persis seperti (kalau tau) Artis Cici Tegal lagi ngomong.

  7. 24
    nevergiveupyo Says:

    lah… bukti bahwa njenengan ini termasuk geng ngoyo…itu ngapain sampai memeprhatikan jempol si- mbah??
    (oiya..dlm artikelmu ini ada brp kata ngoyo kang anoew??)
    16 bukan?? (termasuk turunan dr kata ngoyo lho ya..)

  8. 23
    nia Says:

    kang anoew… klo bhs jawa mbanyumasan kayaknya semua kata berakiran ‘o’ ttp dibaca ‘a’ misalnya ‘ngapa’ klo org jogja-solo bacanya ‘ngopo’ tp klo mbanyumasan ttp dibaca ‘ngapa’… nah klo mbayumas yg lbh medok lg malah ditambah ‘k’ jadinya ngapak…
    sy kurang ngerti klo ‘loro’ dua ato ‘loro’ sakit dibaca gimana soalnya bkn native speaker bhs mbanyumas sih hehehe…

  9. 22
    J C Says:

    Kang Anoew, ngomong Jawa halus sama tiyang sepuh kok bingung…tetep ngomong NGOKO, tapi ngomong’e lirih-lirih/bisik-bisik, rak wis dadi alus tho…

  10. 21
    anoew Says:

    JC & Soph: wehehehe….. siiiip markosip wisss…! cepet buanget tayangnya… apa ini termasuk program ngoyo tayang? wekekeke….

    sik sik sik…., aku kepuyuh nyawang gerobakmu kuiiiiiiiii hahahahah…..!!

    tengkiu yo.

    @DA: lha itu gerobak dari JC & Soph kok… apa jangan-jangan malah gerobaknya Sophie buat jualan Jamur kekekek…..
    Memang boso jowo itu ribet, aku aja gk mudeng kalau suruh ngomong jawa halus sama orang tua, suka salah-salah..
    Btw, lagunya jan cocok tenan wis! Jadi pengen duwe bojo DA eh salah, bojo loro halah.. ngoyooo!

    @Xa: ini lagi ke kota mlaku-mlaku tuku tahu entuk telu. Bosen di hutan terus, pliket.

    @Pak Han: Lhaiyo itu pak, masalah ‘a’ sama ‘o’ itu kok bikin bingung kalau ditelusuri, apalagi sampai ngoyo. Dari dulu kita kan terbiasa mengucapkan ‘baladewa’ dibacanya bolodewo, wong wedok wuda dibaca wudo dsb dsb. Aneh tho.
    Masalah mbah marijan itu kok saya malah tertarik sama tangannya pas memperagakan ‘rosa’ di bagian akhir scene iklan, jempolnya diselipkan di antara jari tengah dan telunjuk. Opo jal maksud si embah? Kalau ketauan Rosa kan repot..

    @Mawar: uuuuuupssss… aku lufaaaaa ambil contohnya hihihi…. mustinya jangan Mawar ya, tapi Kamboja aja. Kalau dibaca kan jadi Kombojo..

    @HN: nggak tau lah hahah… dik atau diek, yang jelas musti ada penekanan dalam pengucapan.

    @DJ: Pakde Dj, hahahaha… maap iki namanya tak pake contoh… Lha kalau namanya jadi Jaka Poison kan repot tho, disangka Jaka jualan racun.. Salam anget saking sumsel.

    @Sumonggo: heheheh… halo pak! Wakakaka…. mosok marijan jadi marry john! Jaka jadi Jacko? Kalao Djoko jadi Jack Dok? wakakaka!! Bagya –> Bagyo?! wahhh jiaaaan hahaha!

    Aku ndak mbayar royalti lho ya, nama njenengan mecungul disini..

    @Nev: hehehe…. tersentil tapi nggak ngoyo kok..

    @Imeii: kalau udah senyum habis baca, senyumnya jangan ngoyo yo…

    @Nadete: Betul itu yang dibilang Pak Han, mencari artikel sebelumnya termasuk upoyo yang ngoyo juga..

    @Tammy: iya ya, baru ngeh.. ternyata Tammy teliti banget.. Hayooo redaksi neh yang musti jawab… (penulisnya gk mau ngoyo kekeke)

    @Ilhampst: nah itu juga yg bikin ribet kalau dibaca di tulisan. Mustinya diucapkan biar lebih jelas. 22nya sakit –> loro-lorone lara / sedaya gerah.

    @El: itu gerobak jamurnya Sophie. *mlayu sik, ndak dibalang sandal*

Pages: « 9 8 7 6 5 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)