Hariatni Novitasari – Surabaya
Title : What I Talk About When I Talk About Running: A Memoir
Author : Haruki Murakami
Publisher : Vintage Books, 2008.
Pertama kali berkenalan dengan Haruki Murakami lewat Norwegian Wood. Yang menarik pertama kali bukan karena judul buku itu diambil dari lagu The Beatles. Tetapi justru karena covernya yang berwarna putih, dan ada lingkaran merah di tengahnya. Persis, seperti warna bendera Jepang, hinomaru.
Setelah itu, aku menjadi pembaca beberapa novel Murakami ini. Seperti, After Dark, Blind Willow Sleeping Woman, dan Kafka on the Shore. Meskipun sebenarnya aku tidak sepenuhnya paham, terutama Kafka on the Shore itu. Namun, setiap novel Murakami, selalu bercerita tentang kesepian, kesendirian, dan ke absurdan. Rasa-rasa yang kadang meninggalkan sebuah lubang di hati.
Membaca novel-novel Murakami, tidak saja kita diajak menjelajah sebuah dunia yang aneh, tetapi juga mengajak kita berkenalan dengan banyak penyanyi jazz, novel-novel klasik dan pengarang-pengarang kaliber dunia. Yang paling sering dia sebutkan adalah Scott Fitzgerald dan novel fenomenalnya, The Great Gatsby. Murakami ternyata juga ikut terlihat dalam menterjemahkan novel ini ke dalam bahasa Jepang. Kecintaan dia terhadap musik menjadikan beberapa novel dia bertitel judul lagu. Misalkan saja, Dance Dance Dance ataupun Norwegian Wood.
Judul memoir diinspirasi dari kumpulan cerita pendek Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love. Dalam memoir What I Talk About When I Talk About Running: A Memoir, Murakami berkisah tentang hidup dia sebagai seorang pelari dan penulis. Bukan sebuah memoir yang wajar, tentu saja.
Haruki Murakami memutuskan untuk berlari ketika berusia 33 tahun. Kala itu, dia baru saja menjual cafe jazznya, Peter Cat dan memutuskan untuk menjadi penulis novel. Selama tujuh tahun (1974-1981), dia memiliki dan mengola café ini bersama istrinya, Yoko. Murakami berpikiran, kalau tidak bisa membagi hidupnya dalam dua pekerjaan, mengelola jazz bar dan menjadi penulis novel. Dia juga tidak bisa menyerahkan pengelolaan café kepada orang lain. Sebab, dia akan cenderung menyalahkan orang lain kalau pekerjaan itu tidak berjalan dengan baik.
Keputusan untuk menjadi penulis novel muncul setelah dua novel yang dia tulis di sela-sela mengelola café terbit, Hear the Wind Sings dan Pinball 1973. Terbitnya dua novel ini menyakinkan dia, kalau dia bisa penulis. Kedua novel ini bahkan menjadi nominasi Akutagawa Awards. Haruki Murakami sadar bisa menulis ketika pada satu sore di tahun 1978 dia sedang menonton pertandingan baseball antara Yakult Swallow dan Hiroshima Carp di Stadium Jingu.
Pekerjaan sebagai penulis novel tidak lama kemudian membuat dia mengalami pertambahan berat badan, semakin memburuknya kebiasaan merokok, dan kebiasaan tidak sehat lainnya. Ketika dia masih bekerja mengelola café, dia banyak melakukan pekerjaan fisik. Saat itu, 1981, Haruki Murakami memutuskan untuk berlari, tanpa berpikiran dia akan menjadi pelari.
Bagi Murakami, menjalani kehidupan tidak sehat (sebagai penulis) perlu diimbangi dengan kegiatan yang sehat seperti berlari. Dia menarget dirinya sendiri, dalam satu hari, dia harus berlari sejauh 6 miles, enam kali dalam satu minggu. Seringkali dia berlari lebih dari 6 miles, sebagai cadangan apalabila dia suatu ketika tidak bisa berlari karena terlalu sibuk atau sedang dalam perjalanan.
Lari dipilih karena tidak membutuhkan dan tidak tergantung pada alat apapun. Dia hanya butuh sepatu yang nyaman, baju dan jalanan. Sedangkan olahraga lainnya membutuhkan bantuan dan ketergantungan terhadap alat. Misalnya saja bersepeda. Kalau kita bersepeda, paling tidak kita akan membutuhkan sepeda, sepatu bersepeda, kacamata, helm dan sebagainya. Bahkan olahraga seperti renangpun, kita masih membutuhkan kolam renang, atau laut.
Selain itu, lari adalah olahraga yang bisa dimainkan sendiri. Tidak harus menunggu orang lain (dimainkan dalam tim). Murakami mengakui, kalau pilihan ini berhubungan dengan status dia sebagai anak tunggal. Yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan ramai-ramai dan tidak suka bersaing sejak dia kecil. Haruki Murakami dilahirkan pada 12 Januari 1949 di Kyoto. Ayahnya berasal dari keluarga pendeta Budha, sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang dari Osaka. Haruki Murakami menempuh pendidikan tinggi di Universitas Waseda, dengan jurusan Drama.
Memoir ini ditulis antara Fall 2005 sampai dengan Summer 2006. Tetapi, ide penulisannya telah ada 10 tahun sebelumnya. Saat itu, dia serdang berada di sebuah hotel di Perancis dan membaca berita International Herald Tribune tentang wawancara dengan banyak pelari marathon.
Pertanyaannya sederhana saja, kalimat sakti apakah yang terus diucapkan oleh para pelari itu sehingga mereka bisa menyelesaikan pertandingan, berlari sepanjang 26,2 miles. Ada banyak jawaban yang berbeda dari para pelari. Bagi Murakami, tanpa adanya mantra itu, seseorang tidak akan berhasil menyelesaikan jarak lari sejauh itu. Dan, dia kemudian ingin menuliskan dengan jujur apa yang dia dipikirkan dan rasakan tentang lari.
Murakami sendiri, kadang melihat pelari (termasuk dirinya sendiri), adalah hal yang aneh. Para pelari marathon dan atlet triathlon, adalah mereka-mereka yang memiliki keluarga dan pekerjaan. Menjadi pelari, paling tidak mengorbankan apa yang mereka miliki. Misalnya, mereka harus meluangkan waktu untuk berlari, daripada waktu yang lebih banyak untuk keluarga.
Kembali lagi pertanyaannya, apa sih yang sebenarnya mereka cari? Apakah kebahagiaan ketika mencapai finish line? Sebuah garis yang bisa membayar rasa sakit yang selama ini mereka rasakan. Mulai dari berlatih sampai dengan berlari 26,2 miles non stop. Oleh karena itu, saya begitu tertarik ketika di bab pembuka dia menulis, Suffering is Optional.
Memoir setebal 180 halaman ini selanjutnya bercerita beberapa penggalan tempat, kejadian dan tahun yang berbeda. Seperti Cambridge, Tokyo, Hawaii, Hokaido, dan Murakami City (Niigata Prefecture) dan sebagainya. Dalam Tetapi semua ada kegiatan dengan aktivitas lari Haruki Murakami. Sebut saja, kerasnya latihan dia untuk mempersiapkan New York Marathon, lari marathon sehari di Lake Saroma, Hokaido pada tahun 1996 sepanjang 62 miles dan cerita dia untuk beralih menjadi atlit triathlon.
Aku sepakat, kalau menderita itu adalah sebuah pilihan. Penderitaan itu ada bahkan ketika kita pertama kali mengayunkan kaki untuk berlari pertama kali. Persis seperti yang dia rasakan. Nafas mau putus, haus yang amat sangat sampai dengan kram kaki. Bagi semua pelari, pada akhirnya akan mengalami penderitaan pada lututnya. Lutut menjadi organ yang sangat rentan dan mudah kapot karena ketika seseorang berlari, otomatis dia akan meletakkan beban tiga kali berat badannya ke dalam lutut.
Satu contoh penderitaan yang dia pilih adalah pengalaman lari marathon dari Kota Athena ke Marathon di Yunani pada saat musim panas. Kala itu bulan Agustus, puncak musim panas di Yunani. Penderitaan tidak hanya muncul dari sengatan matahari, tetapi juga tiupan angin dari Laut Mediterania yang kering. Waktu itu, Haruki Murakami sedang di Yunani untuk sebuah liputan traveling.
Ide itu, dia tawarkan ke majalah yang mengirimnya. Dan, pihak majalah setuju dengan ide dia untuk lari sepanjang 25 miles (jarak lari marathon sebenarnya adalah 26,2 miles). Siapapun yang tahu ide itu, menganggap itu ide gila. Berlari marathon dari Athena ke Marathon adalah hal mustahil dilakukan di puncak musim panas. Dia kemudian sadar dengan heat di Yunani dan lalu lintas semrawut akan menganggu rencana ini. Kemudian, dia mendapatkan ide. Bahwa dia akan berlari ketik matahari belum terbit. Sehingga tidak terlalu panas.
Haruki merasakan benar berlari di tengah musim panas. Ketika dia sudah berlari 12 miles, serta merta dia mudah sekali merasakan haus yang amat sangat sangking panasnya. Ketika dia berlari, keringat yang mengucur di dahinya tidak sempat mengucur, keburu tersapu oleh angin Mediterania yang kering. Seperti menjadi titik-titik garam. Dalam kondisi yang payah ini, Haruki hampir saja emosi ketika menyaksikan fotografer asyik menekan shutter sementara dia harus berjuang melawan panas dan haus.
Akhirnya, sekitar jam 9, dia sudah berhasil mencapai Marathon. Sebuah kota atau lebih tepatnya desa kecil nan indah dan tenang, tempat asal kata olahraga marathon ini. Seketika itu, dia merasakan capeknya telah terbayarkan.
Selain kejadian di Yunani yang menorehkan tekad dia sebagai pelari yang ingin menyelesaikan setiap jarak yang ditempuhnya tak jarang dia juga sering mengalami “cobaan” sebagai seorang pelari, terutama kram. Ketika dia berlari di Lake Saroma. 64 miles bukan jarak yang pendek. Dia harus berlari sepanjang hari. Dalam jarak tertentu dia tidak bisa dicapai dalam waktu tertentu. Kalau dia tidak mampu menepati memenuhi ketentuan itu, dia akan di diskualifikasikan. Saat itu, dia tiba-tiba merasakan kram. Sampai kemudian dia berbisik ke dalam dirinya sendiri “Kamu bukan manusia, kamu adalah mesin”. Cara itu, sehingga tubuh dan kakinya mau kembali berlari.
Hal yang sama juga terjadi di New York, ketika dia mengikuti New York Marathon yang diselenggarakan tiap November. Menjelang event ini, Murakami mempersiapkan dirinya dengan keras. Sehingga dia seperti mengalami over exercises. Sampai dia kemudian merasakan lutut kanannya sakit. Sakit ini menyebabkan dia tidak mampu untuk menyelesaikan pertandingan dalam waktu yang dia inginkan.
Berlari dan menulis, adalah dua hal yang dilakukan oleh Haruki Murakami saat ini. Bagi Murakami, dengan berlari, bukan berarti dia (dan para pelari lainnya), berlari karena ingin hidup panjang. Mereka berlari karena mereka ingin hidup dengan maksimal. Ingin mencoba sampai sejauh mana keterbatasan yang mereka miliki. Prinsip ini, juga digunakan oleh Murakami sebagai penulis.
Berlari memang kadang menyakitkan dan membuatmu menderita. Ototmu menjadi kaku dan kram. Tetapi, rasa sakit itu akan lenyap ketika menyentuh finish line. Dalam penutupnya, Murakami menulis, ketika dia meninggal kelak, hanya satu hal yang ingin dia tuliskan di atas nisannya: Haruki Murakami, 1949-20**, Writer (and Runner), At Least He Never Walk.
April 9th, 2010 at 01:07
ma Sumonggo: mlayu-mlayu dioyak kirik mergo awaké balung thok, otot kawat balung thok…!
April 8th, 2010 at 21:50
aku beli norwegian wood karena tertarik covernya. tapi sampai sekarang baca belum selesai2 hehehhehe
April 8th, 2010 at 18:24
Mbakyu Lani: wah, sudah cukup mbakyu dengan Mbak Xa. Sudah mampu mengatasi di Nev, meskipun selicin belut. Dicari saja kelemahannya…. ada di ujung jempolnya….
Mbak Rina: terima kasih sudah mampir. Norwegian Wood menurut saya menceritakan tentang “suara generasi” Murakami. Tahun 70-an adalah masa muda Murakami, di kala itu sedang maraknya Revolusi Bunga, Beatles, jaman dipujanya kebebasan dan sebagainya. Generasi muda kemudian pada “resah”. Tapi novel ini relatif lebih dipahami daripada yang lainnya kok.
April 8th, 2010 at 17:42
tiap di gramed liat dan balok-balik novel norwegian wood (terjemahannya) tapi kerap ragu mau beli…lain kali mungkin gak akan ragu. thank ya untuk ‘perkenalannya’ dengan murakami