Thursday, 8 April 2010
Handoko Widagdo – Solo
Ketika Jokowi-Rudi menjabat walikota dan wakil walikota Solo, penerbangan Jakarta-Solo hanya 3 kali sehari. Itupun tidak ruitn. Dua kali penerbangan Garuda, pagi dan sore serta Lion Air yang terbang sore. Ini sangat kontras dengan penerbangan ke Jogja. Garuda saja terbang 11 kali ke Jogja setiap harinya. Belum lagi maskapai lainnya. Bisa disimpulkan bahwa Solo adalah kota mati. Solo sama sekali tak dilirik oleh para pelancong.
Sedikit demi sedikit, dua pemimpin Solo ini membenahi pariwisata Solo. Awalnya, beliau bergagas membangun poros wisata Denpasar-Jogja-Solo. Berbagai upaya dilakukan untuk ‘menjual’ Solo bersama dengan Jogja dan Denpasar. Namun rupaya gagasan tersebut tak bersambut. Nyatanya, limpahan turis dari Jogja tak kunjung datang; apalagi limpahan dari Denpasar. Padahal kebanyakan turis yang datang ke Denpasar, biasanya singgah ke Jogja dan Borobudur. Solo? Diabaikan dan dicuekin!
Program pembenahan Kota Solo sebagai tujuan wisata terus dilakukan. Pertama-tama menata Solo menjadi kota yang tidak kumuh. Kawasan Monumen 45 dibenahi. Pedagang klithikan dipindahkan. Kawasan Ngarsopuro dibangun. Pasar Triwindu direnovasi. Rel kereta tengah kota, yang adalah peninggalan Belanda, dihidupkan lagi. Event-event international diselenggarakan di Solo. Batik Carnival dijadikan momentum wisata. Namun respon tetangga (Jogja dan Denpasar) tetap dingin-dingin saja.
Dinginnya respon tetangga ini tidak menyurutkan Jokowi-Rudi memromosikan Solo. Merasa tak mendapat tanggapan dari tetangga dekat, Jokowi-Rudi mencari terobosan. Singapore! Puncaknya adalah keikut-sertaan group Batik Carnival dari Solo dalam karnaval di Singapore beberapa bulan yang lalu. Solo menjadi dikenal. Promosi di Singapore rupanya membawa hasil. Ini terbukti dari pesawat Silk Air jurusan Singapore-Solo yang hampir selalu penuh. Batik tetap menjadi ujung tombak wisata Solo, selain dari wisata kuliner tentunya.
Setelah berhasil dengan Singapore, kini Beijing mulai digarap. Beberapa pejabat Beijing diundang ke Solo untuk meliput batik dan wisata kuliner. Beberapa pembatik Solo diberangkatkan ke China. Organisasi keturunan China di Solo dilibatkan dalam promosi wisata Solo ke China. Harapannya, turis China yang ke Singapore bisa singgah di Solo barang satu atau dua malam. Atau bahkan suatu saat akan ada penerbangan kota-kota di China langsung ke Solo.
Kini, setelah hampir lima tahun memimpin Solo, penerbangan Jakarta Solo, setidaknya sudah 7 kali sehari. Garuda, Lion, Sriwijaya dan Batavia telah menerbangi Jakarta-Solo secara rutin. Air Asia membuka jalur KL-Solo. Silk Air tetap membawa wisatawan dari dan ke Singapore. Hebat bukan?

Pages: « 24 … 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »
Pages: « 24 … 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »
April 8th, 2010 at 07:56
Mas Ilhampst, betul Jika dikau ke Solo tahun 2002 pasti kesan kekumuhan yang dikau bawa pulang. Namun cobalah untuk kembali kini. Citywalk sudah terhampar dari Purwasari sampai Gladag. Free wifi di jalur tersebut. Anda bisa menikmati cemilan Solo sambil buka Baltyra
April 8th, 2010 at 07:52
EIZT penerbangan Silk Air Singapore-Solo sudah cukup lama kok. Semoga China Southern juga segera terbang ke Solo.
Mawar, Solo sudah punya walikota yang sangat mumpuni. Pak Jokowi dan Mas Rudi itu sudah membuktikan selama satu periode membangun Solo menjadi BERSERI TANPA KORUPSI
April 8th, 2010 at 07:52
Pak Hand : tahun 2002 ke Solo, koq kesannya kumuh ya. Sekarang membaca artikel ini jadi tertarik ke Solo lagi
Mbak Lani : jangan lupa tante Cinde, biar premannya dibedil hihihi
April 8th, 2010 at 07:49
Pak Han: baca komentarmu jadi ketawa, kalau yg digiring mah yg berbuat mesum dong!! soalnya ketangkep hansip istilahnya. Ngga lucu juga lah kalau disweeping malam2 dan digiring ke Alun-Alun, buntutnya sih enak ditraktir makan swiekee/nasi liwet!! Ngomong2 aku disini jadi pinter masak nasi liwet, soalnya ngga punya rice cooker, lagian masak nasi cuma utk berdua. Gimana kalau Pak Han jadi walikota Solo sehingga bisa brantas tuh para preman yg ganggu turist??!!
April 8th, 2010 at 07:40
Pak Hand, informasi yg menarik, baru tahu kalau ada penerbangan singapore-solo, wah bisa jadi pertimbangan nih pas mudik, semoga saja kelak China Southern ada rute GZ-Solo, wah lebih enak lagi deh
April 8th, 2010 at 07:37
Mawar, aku tunggu dikau di Solo. Jangan khawatir dengan sweeping. Saya malah mengusulkan supaya sweeping menjadi salah satu atraksi wisata di Solo. Coba kalau malam-malam tinggal di hotel sedang tidur terus disweeping dan digiring ke alon-alon dan diajak makan swiekee atau makan nasi liwet. Pasti sensasional ya.
April 8th, 2010 at 07:34
Pak Han: sekali-kali buat article resep makanan dong…… resep seafood olahan istri Pak Han!!!
Kalau aku jadi ke Solo, pasti deh kabarin Pak Han biar bisa ketemu ya! tapi mesti lihat situasi dulu apa aman, soalnya takut juga kalau di sweeping. Sama dengan Imeii, kalau suami ikut aku mudik pasti kami pergi ke daerah-daerah, yg pasti salah satunya Bali.
April 8th, 2010 at 07:27
paling enak emang homemade food… thanks for the offer.. I really apreciate it.. moga2 suatu hari kesampean ya.. salam buat istri dan anak2mu…
April 8th, 2010 at 07:16
Imeii boleh juga ku ajak makan-makan. Jika dikau penggemar seafood, aku promosikan masakan istriku. Dia jago masak seafood lho.
April 8th, 2010 at 07:06
wah asyik bung Hand.. trus dibawa jalan2 dan makan2 yak (hihi..dikasih hati minta jantung
)
sayang tahun ini siakang ngga ikut mudik, biasanya kalo ikut kita musti ke daerah2..mungkin tahun depan… oh ya ponakanku juga dapat orang Solo, awal tahun depan kali bakal manten disana..