56 Etnis Suku di China: Etnis Li

Josh Chen – Global Citizen

Hainan, sepotong wilayah China yang terbesar di luar Mainland. Kalau menurut Pemerintah China, Pulau Hainan adalah yang kedua setelah Taiwan. Tidaklah perlu mempersoalkan status Taiwan di sini, karena yang akan dibahas adalah penghuni Pulau Hainan.

Hainan dikenal cukup luas di Indonesia dan Asia Tenggara karena kuliner khas’nya, yaitu ‘nasi hainan’ ada yang menyebut ‘nasi hainam’. Letak perbedaan lafal “nan” dan “nam” hanyalah pengaruh dialek saja. Lafal Mandarin memang di sebut NAN yang berarti selatan (), yang pengucapannya menjadi NAM dalam dialek provinsi-provinsi Selatan China, terutama Hokkian, walaupun kadang diucapkan juga dengan LAM.

Pulau Hainan merupakan rumah bagi Etnis Li (黎族, Li Zu, baca: Li Cu), yang mencapai jumlah sekitar 1.247.814 jiwa, mayoritas bertempat tinggal di Tongze, ibukota Hainan Li-Miao Autonomous Prefecture. Selain di sini, Etnis Li juga tersebar di seluruh wilayah China, berbaur dengan etnis yang lain.

Terletak di kaki gunung Wuzhi, termasuk kawasan tropis dan sub-tropis sekaligus, menjadikan wilayah ini dikaruniai tanah subur dan banyak curah hujan. Wuzhi Mountain mungkin lebih terkenal dalam kisah “Perjalanan ke Barat” (Journey to The West, 西游记, Xi You Ji, baca Si You Ci), di mana si Kera Sakti yang dihukum oleh Buddha (atau Dewi Kwan Im?) ditindih oleh Wuzhi Mountain (Gunung Lima Jari) ini selama 500 tahun, sampai dibebaskan oleh Gurunya si Pendeta Tong Sam Cong.

Etnis Li berasal dari cabang turunan orang Baiyue dan Luoyue di West Han Dynasty, Li dan Man di East Han Dynasty, serta Li dan Liao di masa Sui dan Tang Dynasty. Semua kelompok masyarakat itulah yang menjadi cikal bakal Etnis Li sekarang ini. Kawin mawin, beranak-pinak, silih berganti dinasti, sampai sekarang inilah Etnis Li modern.

Karena keberagaman Etnis Li dalam keseharian mereka – dalam berpakaian, dialek, aksen, kebiasaan sehari-hari dan perbedaan tempat tinggal – di kalangan mereka sendiri berbeda penyebutan diri mereka. Nama-nama mulai dari Qi, Meifu, Run, dan Sai umum digunakan untuk penyebutan group satu dengan lainnya.

Bahasa

Rumpun bahasa Etnis Li masih dalam rumpun Zhuang, Tong dan Li, dan merupakan percabangan dari Han-Tibetan Language. Aksen dari satu tempat ke tempat lain berbeda. Mereka tidak punya bahasa tulis sendiri seperti beberapa etnis minoritas lainnya.

Bentuk Rumah

Etnis Li tinggal berkelompok dan membangun perkampungan mereka dekat dengan sungai dan gunung. Biasanya di sekeliling rumah ditanami pepohonan bambu untuk peneduh dan penyejuk. Rumah tradisional mereka berpagar dan berbentuk seperti perahu dengan penutup, berlantai 2, atapnya melengkung dan sebagian tertutup kaca.

Kayu gelondongan digunakan untuk penyangga, lantai dan dinding terbuat dari bambu. Seperti rumah-rumah tradisional suku-suku minoritas lain, lantai bawah digunakan sebagai kandang ternak dan binatang peliharaan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pengaruh modernisasi makin memengaruhi design rumah Etnis Li menjadi seperti rumah modern kebanyakan.

Pakaian

Warna favorit mereka adalah hitam. Teknik pemintalan dan penenuna mereka memiliki sejarah yang panjang. Kain brokat Etnis Li menjadi salah satu pilihan kaisar-kaisar yang berkuasa di China dari satu dinasti ke dinasti lainnya.

Berbahan katun dan linen, mereka memintal, menenun, mewarnai, menjahit dan membordir dengan tangan mereka sendiri, tidak ada campur tangan mekanisasi sama sekali.

Para wanitanya memakai mantel tanpa kerah dan berkancing, memakai baju yang pas dan sedikit ketat di tubuh. Untuk tata rias rambut, mereka biasa mengepang atau menguncir rambut mereka, ditambah dengan tusuk rambut dari tulang, terkadang ditutup dengan kain berbordir menjadi semacam konde.

Wanita Etnis Li sangat menyukai berbagai asesoris yang dikenakan di sekujur tubuh, mulai dari leher, tangan, lengan, kepala, telinga dsb. Di beberapa tempat malah masih memertahankan budaya tattoo mereka. Tattoo ini tempatnya di badan, muka, tangan dan pergelangan tangan. Motif tattoo mereka biasanya bercorak etnis dan tribal tradisional mereka. Namun, mayoritas wanita yang lahir setelah tahun 1940’an, mereka tidak melakukan tattoo lagi.

Untuk para pria, mereka tidak memiliki satu kekhasan berpakaian, kebanyakan biasa-biasa saja dan cenderung sama dengan kebanyakan pria Etnis Han. Untuk tata rambut, jika berambut pendek, seperti kebanyakan pria pada umumnya, yang berambut panjang, mereka ikat ke belakang kepala.

Salah satu yang paling khas adalah “nose flute” meniup seruling dengan hidung, yang mana pemain-pemainnya makin sedikit di dunia ini disebabkan karena generasi mudanya tidak begitu peduli dengan warisan budaya nenek moyang mereka.

Budaya Makan

Makanan pokok Etnis Li adalah nasi. Tomat dan jagung banyak juga dimakan menjadi pendamping nasi yang paling mereka sukai.

Salah satu makanan khas mereka disebut dengan Leigong Root, sejenis rempah-rempah liar, yang dimasak dengan ikan kecil dan udang yang ditangkap di sungai-sungai, atau bisa juga dimasak daging dan tulang, menjadikannya salah satu sajian lezat khas Etnis Li.

Etnis Li juga menyukai makanan yang terbuat dari ketan. Mereka juga membuat minuman dari hasil fermentasi ketan, serupa dengan arak beras atau tuak di Indonesia. Minuman ini dianggap istimewa dan digunakan untuk menjamu tamu kehormatan.

Makanan khas yang lain lagi adalah Bamboo Rice. Cara membuatnya, beras dan daging dicampur, dimasukkan ke dalam bambu yang berlubang di satu sisi, dan tertutup di sisi lain. Kemudian bambu ditutup dengan vanilla atau pisang raja. Setelah diisi air secukupnya, bambu-bambu tsb dipanggang di atas api. Bamboo rice ini merupakan delicacy yang sangat khas Etnis Li.

Kekhasan yang lain adalah kegemaran Etnis Li menginang/menyirih. Suguhan nginang untuk tamu adalah tanda penghormatan mereka terhadap tamu itu. (Selengkapnya: Nginang).

Etnis Li juga makan berbagai jenis tikus, tikus gunung, tikus sawah, tikus rumah dan beberapa jenis tikus yang lain, yang dimasak menjadi berbagai jenis hidangan.

Festivals

Spring Festival atau lebih dikenal di Indonesia dengan Imlek, merupakan hari penting juga untuk Etnis Li, sama seperti mayoritas penduduk China. Mereka akan menyiapkan Nian fan dan Nian jiu (hidangan dan arak Tahun Baru), dan juga Deng ye (semacam rice cake).

Hari pertama Tahun Baru Imlek, mereka tinggal di rumah dan bersembahyang kepada leluhur. Di hari ke 2, mereka akan keluar rumah dan berkunjung ke sanak saudara dan tetangga untuk saling mengucapkan selamat Tahun Baru.

Di hari ke 3 adalah khas Etnis Li. Mereka akan mempersiapkan acar-acaran dari sayuran yang dipetik dari lahan mereka, arak dan kue-kue untuk dibawa sebagai buah tangan kepada sesepuh desa di mana tinggal. Kemudian dilanjutkan dengan acara para pria muda berburu dan menangkap ikan, para wanitanya membakar ikan dan menanak nasi. Ketika senja tiba, acara tari-tarian dan menyanyi lagu-lagu daerah dimulai.

Acara ini sekaligus menjadi ajang mencari jodoh pria dan wanita yang masih single. Pria dan wanita muda yang menemukan pasangan yang dirasa cocok, mereka akan berbagi makan Deng ye (rice cake) yang diisi gula-gula di dalamnya. Si wanita akan memakaikan ikat pinggang yang berwarna cerah yang dibuat dengan tangannya sendiri ke pinggang si pria, sementara si pria akan mengenakan anting serta hiasan kepala ke si wanita.

Kehidupan Beragama

Etnis Li memuja Leluhur dan Alam, serta memiliki kepercayaan bahwa segala sesuatunya memiliki jiwa, roh dan kehidupan. Etnis Han memengaruhi mereka dengan ajaran Taoisme. Juga kekristenan yang menyebar sejak para misionaris mewartakan ajaran Kristen. Ada gereja juga di Panyang Region di Ledong County.

Tabu dan Pantangan

Pantangan mengerjakan lahan pertanian

Pantangan untuk mengerjakan pekerjaan pertanian pada Hari Persembahan Yang Meninggal dilaksanakan. Biasanya di keluarga yang baru saja mengalami kematian salah satu anggota keluarganya. Pantangan ini berlaku 3 tahun berturut-turut.

Hari Persembahan ini diperingati setiap tahun, yaitu hari di mana anggota keluarga tsb meninggal.

Pantangan seputar pernikahan

Sangat ditabukan perkawinan antara dua orang yang masih bersaudara, baik dekat maupun jauh. Sajian dari ayam yang berwarna putih dipantangkan, karena dipercaya kalau disajikan dan memakan sajian dari ayam yang berwarna putih, pasangan yang menikah tsb akan sering bertengkar di kemudian hari.

Pantangan seputar kematian

Dalam masa berkabung, keluarga yang ditinggalkan tidak diperkenankan mengenakan pakaian mereka seperti seharusnya. Pakaian harus dikenakan terbalik, dalam 2 arti, terbalik bagian dalam dan luar juga terbalik depan belakangnya. Tidak diperkenankan mandi dan keramas di hari-hari berkabung tsb.

Juga dilarang membunyikan bunyi-bunyian, bernyanyi bahkan bersenandung sekalipun, juga dilarang mengerjakan pekerjaan pertanian. Nasi juga tidak diperkenankan untuk disajikan kepada anggota keluarga, namun daging, arak dan jenis pangan selain padi diperbolehkan.

 

 

Referensi & foto:
chinatravel.com
china.org.cn
chinadaily.com
chinaculture.org
wikipedia
Catatan pribadi, buku, risalah, majalah
Chen Hai Wen

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *