Rasa Yang Getir

Alexa – Jakarta

Rasaku kali ini adalah rasa getir

Saat sosok wanita tua dan ringkih itu

Berdiri di pinggir jalan menatap jauh

Tatap itu bicara lelah dan putus asa

Seolah meneriakkan:

Gusti, aku lelah…

Sampai kapan aku harus begini,

Menggendong tenggok –

Berisi telur-telur yang jarang laku.

Dari dalam mobil kulihat perempuan renta itu begitu setia menjalankan ritme hidupnya…jika aku berangkat jam 09.00 pagi maka akan kulihat dia di sudut jalan itu siap melangkah ke tempat kesukaannya berdagang – juga dipinggir jalan. Pernah kumencoba menghampirinya dan bermaksud membeli dagangannya tapi melihat telur-telur itu tidak bersih maka akhirnya kuulurkan uang pembeli itu tanpa meminta sebutir telurpun, tanganku digenggam erat seraya mengucapkan terimakasih yang tulus.

Pernah suatu kali aku bersamanya di Mikrolet – waktu itu kami  usai belanja keperluan Lebaran di Pasar Kaget yang letaknya sepelemparan batu dari  rumahku. Aku terharu melihat dia hanya membeli 5  slongsong kulit ketupat dan seikat sayur kacang panjang, saat itu aku langsung mengabadikan sosoknya dalam memoriku – perempuan tua renta (mungkin sudah 70 tahunan), bertubuh kurus kecil dan sudah membungkuk, memakai kebaya dengan kulit yang sudah mengeriput serta seluruh giginya nyaris sudah tak ada. Aku langsung mengambil kesimpulan bahwa nenek itu hidup sendiri, sungguh miris setelah bertemu dengannya tiap hari bahkan hari Minggu…berjualan telor.

Suatu hari – aku sedang menebus resep di Apotik, seorang Ibu tua menyapaku dengan ramah, “Jeng, aku duduk di sebelahmu ya.” Tentu saja aku dengan senang hati mempersilahkan, Ibu itu memakai tongkat dan tanpa ditanya menjelaskan bahwa kakinya mengalami sakit asam urat yang kronis.

Si Ibu selanjutnya menanyakan umurku (wah kalau orang baru kenal langsung nanya umur biasanya pasti kusemprot) tapi dengan Ibu ini spontan kujawab pertanyaannya, matanya tersenyum dan tangannya memegang pipiku, “Hm kamu seumuran anakku.”Mulailah dia bercerita bahwa dia baru saja ambil uang pensiun di kantor pos, habis itu dia ke Pegadaian membayar bunga (belum bisa menebus barangnya), ke apotik buat nebus resep asam urat habis itu dia mau makan sate kambing yang dijual di depan apotik.

“ Aduh Bu, sakit asam urat kok malah makan sate kambing sih,” kataku.

“Ntar aku cuman makan dua tusuk kok, sisanya aku bungkus buat pembantu. Sementara buatku sendiri sebungkus nasi Padang,” katanya ringan seraya melanjutkan, “ Tenang Jeung, abis itu obatnya aku minum”.

Aku cuman geleng-geleng kepala. Habis itu dia langsung menceritakan bahwa barang berharganya yang sedang digadaikan itu karena dananya dipinjam oleh anaknya. Dengan ringan dia menceritakan bahwa kalau dipikir-pikir anak-anak sekarang dengan double income (suami isteri bekerja) belum bisa mandiri bahkan masih merongrong orangtua.

Dia menyentuh aku yang jadi tercenung dan aku jelaskan keherananku mengingat dulu waktu masih ada Ibu; kami- anak-anaknya rasanya kok berlomba-lomba bikin senang hati Ibu dengan menyediakan materi dan waktu dalam menemaninya, bahkan kemanapun beliau mau pergi kita selalu standby nganterin – walaupun kadang kita cuman nunggu di mobil aja. Ibuku tuh sebulan minimum bisa kelima acara  belum lagi kalau musim kawin…wew, heboh sareboh judulnya.

Mendengar ceritaku dengan ringan si Ibu menjawab,”Ah kamu sih pengecualian, buktinya teman-teman pensiun di kantor pos itu cerita hal yang sama (sampai orangtuanya pensiun gini masih minta subsidi).”

Aku jadi ingat bahkan klienku yang janda setengah tua dan tinggal  di Menteng masih mensubsidi hidup anak-anaknya yang lulusan Eropa dan bekerja di Jakarta. Kebetulan aku juga kenal dengan anak-anaknya nah pas si Ari (salah satu putranya) sekeluarga libur ke Disney Land, Hongkong –kunyatakan kekagumanku berhubung Ari kerja di perusahaan Asuransi. Eh si Ibu membantah, “Itu bukan hadiah perusahaan Xa, itu dari saya khan kasihan cucu-cucu lagi musim liburan.”

Suatu hari si Ibu membuka perhitungannya, nih hasil yang ini buat bayar listrik, pembantu dan supir. Hasil yang ini buat tunjangan ke cucu yang di Medan (anaknya bercerai – si Ibu yang membayar tunjangan cucu). Kalau masalah Hari – dia tidak memberi tunjangan ke saya tapi dia bisa mandiri aja saya sudah bersyukur. Putri Ibu yang ada di Eropa (katanya karirnya gemilang) ngirim dong ya Bu…barang 100Euro aja?, tanyaku. “Aduh, nggak ada itu….”, sahutnya.

Adikku bercerita, suatu saat dalam mikrolet ada beberapa Ibu-ibu, salah satunya ternyata Penceramah yang sering hadir di majlis-majlis taklim Ibu-Ibu. Dengan ramai mereka cerita kalau si Udztazah yang sudah sepuh itu masih memberikan tunjangan pada keluarga anaknya….mereka masih satu rumah. Dan yang mengherankan kok ya si Ibu yang sudah renta ini dibiarkan jalan sendiri turun naik angkutan umum, bahkan sempat si Ibu ini pingsan kelelahan.

Terus terang aku suka membandingkan bagaimana teman-temanku memperlakukan orangtuanya. Dalam hal ini sekedar mengambil kesimpulan – kelihatannya teman-teman yang  Cina kok ya lebih hormat kepada sesepuhnya dibandingkan teman-temanku yang Pribumi….

Temanku yang Cina dan berpangkat  GM di suatu perusahaan swasta besar, tiap Sabtu dan Minggu masih sempat jaga toko makanan mamahnya. Trus pemandangan yang sering aku lihat di Mall itu banyak orangtua yang  bahkan sudah duduk di kursi roda dan ditemani suster diajak jalan-jalan, membuat aku enggak tahan untuk nanya ke ‘Nti – temanku yang keturunan Cina-Betawi,”Nti, kok orang Cina suka bawa ortunya yang dah di kursi Roda ke Mall sih – kasihan khan mereka, ribet.” Menurut Nti yang pipi bulat dan halusnya sering kucolek sembari lewat, mereka mengajak para orangtua itu karena kasihan bakalan bête jika ditinggal di rumah aja…Hm bener juga ya.

“Trus kenapa Papahmu gak pernah ikut kalau kalian liburan keluar kota,” lanjutku. “Papah tuh baru ikut kalau rumahnya bisa dibawa – kayak Penyu gotong-gotong tempurungnya. Dia gak mau ikut sebab takut rumahnya hilang kali,”jawab Nti sembari ketawa.

Waktu Yudha temanku yang bujangan ditinggal selamanya oleh Maminya dan masih ada si Mbok –pembantu setia yang sudah berumur 100 tahun, Yudha yang pekerjaannya mobile sempat kerepotan mikirin nasibnya Embok.

Akhirnya setiap dia tugas ke luar kota maka dia minta tolong ke para tetangganya di Perumahan itu supaya memberi makan Mbok dua kali sehari ( sesuai frekwensi makan Mbok), tetangganya yang semua Cina  pada mau membantu tanpa mau dibayar. Secara giliran mereka membawakan sepiring nasi dan lauknya buat Mbok, Mbok itu masih bisa mengurus diri sendiri dan bersih-bersih rumah.

Frekwensi dinas luar Yudha yang nyaris tiap minggu membuat Yudha tak enak hati sehingga akhirnya dia mencari Panti Jompo. Persinggahan pertama bersamaku adalah Panti Jompo milik Negara di Cipayung, sebenarnya itu merupakan panti Jompo untuk menampung gelandangan-gelandangan tua yang terlantar, tapi karena waktu itu kami memaksa dan mengemis.com maka akhirnya Mbok diperkenankan tinggal sementara di tempat itu.

Yudha mencari lagi Panti Jompo dan akhirnya dia menemukan Panti Jompo di kawasan Mangga Dua, menurut Yudha di kawasan Kota ternyata banyak Panti Jompo Swasta. Panti jomponya bersih-bersih dan biaya tinggalnya murah bahkan kalau Yudha kelupaan dan telat bayar enggak pernah ditagih.

Pihak pengelola sangat siap menangani Senior Citizen ini, seperti kasusnya Yudha. Mengetahui Yudha tidak bisa menengok Mbok secara rutin maka saat Yudha menengok, dia dilarang bicara/ mengeluarkan suara – oh iya Mbok sudah buta. Karena untuk orang-orang seperti Mbok yang hafal dengan suara, bisa-bisa dia nangis kangen. “Mbak, orang Cina tuh sudah lebih siap menghadapi hari tua dibanding kita ya, aku mah enggak keberatan kok tinggal di Panti Jompo kalau dah tua. Enak malah ada teman-teman, coba kalau masih ngumpul ama anak…bisa-bisa dianggap beban,” begitu Yudha berpikir.

Heem sembari nulis ini malah jadi keingetan seorang nasabah lain – kali ini seorang Ibu sepuh yang keturunan Cina dan tinggal di Kebayoran Baru. Nih ibu duwitnya ember-emberan juga, tapi sekali waktu beliau stroke di airport Hongkong dan akhirnya dia pulang bersama anaknya. Si anak tidak bisa lama menunggu mamanya dan harus kembali ke Hongkong.

Anak-anak di sini juga pada sibuk semua sampai si mama mau kontrol ke daerah Pluit enggak bisa karena enggak ada supir dan anaknya tak ada yang bisa menemani. Akhirnya jadilah saya bersama supir yang mengantar beliau kontrol, betapa terkejutnya saya ketika si Ibu keluar dengan baju bepergiannya…(biasanya nemuin saya pakai daster)…bajunya itu cuman dari kain tetoron. Akhirnya biasa deh saya ajak ngobrol ngalor ngidul dan berdasarkan jawaban si Ibu saya bilang,”Ibu kok duit segitu banyaknya enggak dinikmati. Bajunya beli di Mall nape, trus mbok ya makan enak, jalan-jalan…ngapain kek Bu. Nih sekarang buktinya Ibu sakit, jadi duit segitu banyaknya enggak bisa dinikmati”.

Beliau membenarkan pernyataan saya – “Iya nih masih muda, duit dihemat-hemat. Pas tua badan penyakitan jadi gak bisa menikmati hasil keringat dari muda. Yang ada, duit dipinjam anak buat modal. Satu dikasih, saudaranya ngiri…minta juga…dilain pihak juga jadi dilemma- anak mau usaha kok enggak dibantu.”

Kesimpulannya:

  1. Kelihatannya kaum muda Cina lebih menghormati orangtuanya dibanding kaum muda Pribumi, tapi ini kesimpulan mentah aja karena dalam keseharian saya lebih banyak bertemu dengan kaum Pribumi dibandingkan dengan kaum Cina.
  2. Yang miskin, tua renta tentunya sangat menderita, tapi ternyata kaya raya pada usia tua juga belum tentu happily ever after, so gimana? Saya pikir persiapan materi untuk menghadapi hari tua itu penting, miris sekali melihat ibu tua itu dalam tubuh yang lelah dan renta tetap harus siaga mencari sesuap nasi setiap hari.
  3. Masalah menjadi tua, kaya raya tapi masih dirongrong…saya rasa tidak sedikit disebabkan oleh pola mendidik anak sewaktu mereka masih kecil. Menjadi orangtua sebenarnya seperti pekerjaan Petani – Tabur dan Tuai, Menabur Angin akan Menuai Badai. Si Ibu Menteng itu mengakui bahwa dia selama ini terlalu memanjakan anaknya. Sedangkan si Ibu Kebayoran bercerita bahwa anak-anak perempuannya sebenarnya sangat sayang padanya namun berhubung mereka tinggal di LN maka tidak bisa merawat dia, sedikit berbeda dengan kondisi anak laki-lakinya.
  4. Rumah Jompo Pemerintah seharusnya diperbanyak sehingga tidak ada Ibu Sepuh yang berjualan telur itu….tapi satu hal yang saya pelajari adalah si Nenek Renta itu manusia yang sangat memiliki harga diri…tak jauh dari tempatnya ada lelaki muda, segar bugar meminta-minta, sementara Nenek Renta memilih tuk berjualan….

Biar hidup ini susah sungguh,

Biar berat nian tulang tua ini…

Ntuk terus menapak,

Mengangkat beban tiap hari,

Demi menyambung hidup,

Tak pernah mati keyakinan dalam hati,

Gusti Allah mboten sare,

Di sini ku prihatin,

Tapi kelak surga kan menanti

 


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.