Markus Rakus

Adhe Mirza Hakim

Berita yang kulihat dan kudengar melalui TV hari ini benar-benar membuatku miris, judulnya “Pengakuan Korban Markus”, di layar kaca tampak wajah seorang ibu usia sekitar 40 tahunan dengan 6 anak yang masih kecil-kecil terpaksa tidur didalam satu kandang kambing selama 6 bulan terakhir ini, karena rumah yang mereka tempati selama ini telah dijual untuk ‘mengatur’ vonis pengadilan agar suami dan bapak 6 anaknya, bisa dibebaskan dari tuduhan pembunuhan yang menurut pengakuan suaminya sama sekali tidak terlibat dengan kasus pembunuhan itu.

Tapi uang suap yang diberikan kepada oknum markus yang terdiri dari oknum Polisi dan oknum Jaksa tidak bisa membebaskan suaminya dari tuduhan pembunuhan tersebut, dia tetap dikenai vonis bersalah dan dihukum 7 tahun kurungan penjara.

Sejujurnya aku bukan melihat kasus hukumnya, karena kalau seseorang dituduh membunuh maka yang dibicarakan di sini adalah barang bukti dan kesaksian dari para pihak yang terkait dari kasus tersebut. Aku hanya bisa miris dan prihatin melihat istri dan anak-anaknya yang tidur di kandang kambing itu. Padahal mereka bukan tinggal di desa terpencil tapi ada di kota Indramayu Jawa Barat.

Keadilan itu memang mahal buat semua orang, apalagi buat wong cilik. Keluguan dan ketidak fahaman soal hukum membuat mereka ‘menurut’ bahkan termakan bujuk rayu dari para Markus untuk memalak siapapun yang ‘terjerat’ hukum. Iming-iming ‘pengaturan vonis’ selalu menjadi ‘objek’ empuk buat para Markus mendekati calon korbannya.

Sudah hal yang umum kalau jual beli perkara merupakan urusan biasa buat para Markus, tetapi hal ini tidak akan berjalan lancar jika para korban sadar akan tipu daya mereka. Hukum diciptakan untuk menjaga ‘ketertiban’ dalam masyarakat yang majemuk.

Jadi teringat dialog dengan salah seorang dosenku pagi tadi, substansi apa yang bisa didapat dari huhungan antara agama, adat dan budaya lokal dengan modernisasi hukum.

Dalam diskusi yang cukup singkat ini, aku menemukan substansi dari penegakan hukum itu sangat sederhana yaitu “Kearifan individu untuk mematuhi aturan hukum”, tidak usah jauh-jauh mulailah dari dalam keluarga kita sendiri”.

Jadi inget sama komen dari salah satu temanku, Yuni, terhadap keprihatinanku atas bencana alam dan bencana hukum di negeri ini, “Sistemnya yang harus dirubah…mulailah dengan membangun pribadi-pribadi yang baik lalu membentuk keluarga yang baik….akan tercipta masyarkat yang baik…ke depannya Negara yang baik”, subhanallah….dialogku dengan pak dosen pagi ini nggak sengaja terkait dengan komen singkat sohibku tersebut.

Minggu lalu aku membuat akta pendirian LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan, salah satu maksud dan tujuan pendirian dari LSM ini adalah memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para ibu-ibu di desa agar memiliki ketrampilan di luar tugas mereka sebagai ibu rumah tangga. Selain itu LSM ini juga mendidik para ibu-ibu yang buta aksara agar dapat membaca.

Aku menitipkan sedikit pesan kepada para pengurus LSM ini, seandainya mereka memerlukan nara sumber untuk memberikan konsultasi hukum kepada masyarakat, aku bersedia untuk membantu asal diberitahu jauh hari, insyaAllah ini gratis sebagai rasa syukur atas amanat ilmu yang di titipkanNYA padaku, dimana harus aku bagi dan transfer kepada pihak lainnya.

Kalau seorang Ustad bisa berda’wah soal agama, mungkin da’wahku mengenai penyuluhan di bidang hukum walau dengan cara yang sangat sederhana, karena kita bicara dengan wong cilik, jangan terlalu berharap banyak dengan memakai istilah-istilah hukum yang nyelimet, tapi beri mereka pengertian yang sederhana tapi tepat sasaran. Sebenarnya di kota-kota besar maupun kecil sudah bisa ditemui satu lembaga hukum yang khusus membantu masyarakat kecil, namanya Lembaga Bantuan Hukum (LBH), hanya saja tidak semua wong cilik faham keberadaan lembaga ini.

Padahal teman-teman di LBH sudah banyak yang membantu dan mengangkat kasus-kasus yang tidak terekspose media masa, yang berkaitan dengan wong cilik bisa terangkat dan menjadi perhatian untuk di selesaikan melalui proses yang ‘benar’.

Salah satu alasan kenapa wong cilik seperti alergi dan takut dengan masalah hukum, karena seperti perumpamaan yang sangat lazim terjadi di masyarakat, “Hilang ayam, kambing tergadai, hilang kambing, sapi tergadai,” maksudnya jika ada seseorang yang melaporkan kehilangan hewan ternaknya, ke aparat penegak hukum, hewan yang hilang tidak ketemu tapi si pelapor harus kehilangan uang yang lebih besar dari harga hewan ternaknya yang hilang, duuuh kasihan banget dah!

Pagi hari ini, sekali lagi berita bencana gempa menjadi headline news di layar TV semua rumah di pelosok penjuru Indonesia, rasanya belum hilang bagaimana besarnya bencana gempa di Sumatera Barat, dilanjutkan dengan bencana longsor di bumi Priangan dan musibah banjir dan angin putting beliung di seantero negeri, itu yang masuk katagori bencana alam. Lalu ada lagi bencana lain yang tidak kalah hebatnya, yaitu bencana hukum, banyak kasus-kasus besar yang mencuat secara bertubi-tubi, dari kasus Century Gate, Ancaman Terorist, Praktek Markus, terakhir Korupsi yang dilakukan seorang oknum petugas di Ditjen Pajak, benar-benar meriah menghiasi media massa dan layar kaca TV di seluruh penjuru negeri.

Yang bikin aku tersenyum sepet…saat baca running text Metro TV, “Gayus mentransfer uang sebesar 3,6 M ke rekening istrinya, sebagai uang belanja rutin,” huhuhu…aku hanya bisa mikir, jika dibandingkan sama uang belanja sembako di rumahku yang sebulannya cukup dengan 3 juta rupiah saja.

Dengan uang belanja rutin yang diterima istri Gayus, bisa mencukupi belanja sembako di rumahku selama berpuluh tahun, hahaha…., mungkin yang dimaksud belanja rutin versi istri Gayus itu untuk membeli satu Kelly Bag merk Hermes yang bisa mencapai ratusan juta rupiah per item! Ato sepatu merk Christian Louboutin yang harganya bisa jut-jut an… belum lagi busana merk perancang terkenal nggak usah jauh-jauh, yang di dalam negeri aja, khabarnya untuk satu gaun kebaya exclusive rancangan desaigner kondang Anne Avantie bisa mencapai 25 juta rupiah.

Nach…kebayang kan biaya belanja rutin yang seperti ini emang bisa bikin jebol kas Negara. Mudah-mudahan dugaanku ini hanya prasangka buruk yang timbul akibat ke gemasan dengan kasus-kasus korupsi yang marak dan menjadi budaya hidup para oknum pejabat, walaupun itu masih dalam golongan III B, dalam hal ini kita tidak bicara golongan lagi tetapi kembali lagi kepada “INDIVIDU”.

Kembalilah ke basic…”Berilah makan dan minum anak dan istrimu dari harta yang halal, halal disini bukan hanya dari cara mendapatkannya juga dicari dari sumber yang halal.” Biasakanlah kita berbicara dengan anggota keluarga kita, bahwa hidup itu bukan hanya sekedar mengejar uang semata, tapi hidup itu mengejar manfaat, seberapa besar diri kita ini bisa bermanfaat buat sesama? Kembali lagi jawabnya ke “INDIVIDU” , apakah kita sudah cukup bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki saat ini? Sehingga kita tidak perlu “memanfaatkan” yang bukan hak kita.

Segala sesuatu itu ada takarannya, Allah menciptakan manusia dengan segala keterbatasan, pikirin deh…sekaya apapun dirimu, kalau kamu makan paling kuat makan sepiring nasi, lebih dari itu bisa saja malah muntah, apa yang dimuntahkan itu sebenarnya bukan ‘hak’ kita, tapi hak kaum dhuafa yang ‘diamanatkan’ kepada kita.

Semoga apa yang sudah kutulis ini bisa ‘menenangkan’ hati bahwa uang memang kita butuhkan tetapi uang tidak bisa membeli ‘ketenangan ruhani’. Secara sederhana, bisa kita lihat para wong cilik yang bisa bertahan hidup di tengah gempuran dan himpitan beban hidup berupa tingginya tingkat inflasi serta naiknya semua kebutuhan hidup, jika ditanya koq mereka bisa bertahan hidup dengan hanya makan nasi aking?

Sederhana saja jawabnya “masih bersyukur bisa makan nasi aking dari pada nggak makan sama sekali,”….itulah intinya “rasa syukur”. Mungkin para petinggi negeri ini harus banyak belajar dari ‘kearifan wong cilik’ dalam menghadapi hidup yang keras ini. Filosophinya “cukuplah Allah yang menjadi pelindungku”, karena mau berteriak sekeras apapun atau memprotes sekuat apapun kalau ‘hati para petinggi negeri ini masih tertutup’ rasanya perubahan itu bagai fatamorgana.

Berubah itu dari diri kita dahulu, individu yang terkecil dari suatu Negara, berbuat dan berpikir positif serta selalu berdo’a kepadaNYA, agar membukakan hati para pemimpin negeri ini untuk amanat terhadap rakyatnya, sebelum ‘bencana’ yang lebih besar akan datang, ingatlah Allah itu Maha Adil, bencana itu tidak datang untuk menimpa sebagian umat tapi semuanya.

Sebelum itu terjadi, semoga rakyat negeri ini selalu mendo’akan yang baik buat para pemimpinnya. Aku tidak melihat keburukan dari sudut kelembagaan, tapi lebih ke arah oknum pelakunya. Pelaku itu berarti “INDIVIDU” , akhirnya kita semua kembali lagi Kediri sendiri, sudah bermanfaatkah diri kita buat sesame? Tidak usah jauh-jauh, buat keluarga kita saja dulu, jika sudah cukup baik cobalah keluar dengan hidup bermanfaat buat lingkungan, insyaAllah dengan menjadikan diri kita pribadi-pribadi yang bermanfaat dalam bidang apapun, mudah-mudahan negeri ini bisa bangkit dari keterpurukan….amien.

Quote: “Bicara hukum bukan semata soal aturan hukum tapi esensi nya kembali lagi ke budi pekerti individu yang terlibat didalamnya, dan sumber budi pekerti yang baik itu adalah iman”.


BDL, 07042010.


Picture : jakartapress

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.